Friday, November 27, 2015

Pengalaman Sekolah dulu (2): SPMB

Rencana Tuhan memang tidak akan ada seorang pun yang tahu. Itulah yang diri rasakan lewat perencanaan Tuhan Yesus untuk hidup diri. Dengan banyak pendidikan yang diri dapatkan selama sekolah dasar, akhirnya diri dibawa untuk melalu tahapan berikutnya untuk universitas.
Indahnya rencana Tuhan.
Penolakan diri dapatkan saat akan mendaftar sekolah lewat jalur tanpa tes di salah satu universitas negeri di Palembang. Memang bukan jalan Tuhan karena sudah diingatkan Tuhan dari awal untuk ambil SPMB saja, tapi namanya diri masih ngotot daftar. Selanjutnya jalur yang sudah disuruh Tuhan, diri ambil SPMB di Palembang. Dengan tekad untuk mengabdi di Papua sebagai dokter, diri memutuskan untuk masuk FK di salah satu universitas top di Indonesia agar juga bisa diri mendapat pendidikan dasar untuk kegiatan alam di kampus tersebut. Diri mengambil jalur IPC untuk formulir SPMB karena diri harus mengambil cadangan sekolah, jaga - jaga tidak diterima di kampus tersebut. 

Di sinilah mulai petualangan diri. Saat akan mengisi pilihan kedua dan ketiga, orang tua diri lewat dan berkata untuk tidak hanya mengambil FK, tetapi juga mengambil Teknik Pertambangan, FTTM, di ITB Bandung. Hanya dengan alasan sederhana sebenarnya, waktu itu orang tua diri hanya bilang "daripada kamu masuk keluar hutan buat jalan doang tapi tidak ada gunanya, mending masuk tambang ada yang dicari". Akhirnya pilihan kedua diri isi dengan pilihan orang tua tanpa berdebat apapun karena diri yakin akan masuk FK. Pokoknya harus FK dalam otak diri supaya bisa ke Papua dan mengabdi di sana dengan ada keahlian yang berguna. Diri tidak mau hanya datang tanpa bisa apa - apa. Diri bertekad bisa memberikan pengobatan dan mengajar di sana. Pilihan ketiga akhirnya dijatuhkan di Fakultas Hukum setelah diri berkonsultasi dengan paman diri yang juga seorang pengacara. 

Hari tes tiba, meskipun passing grade diri sempat dinyatakan tidak mencukupi untuk jurusan tersebut oleh bimbel tempat diri ikut uji coba, diri tetap berserah dan mau mendengarkan Tuhan. Diri mengerjakan setiap soal yang diri bisa di bawah bimbingan Tuhan. Benar - benar diri merasakan bagaimana Tuhan menolong. Ada banyak soal yang sempat diri tidak pahami, tapi tiba - tiba Tuhan beritahukan jawabannya. Setelah 2 hari tes, seluruh soal yang ada diri isi dengan keyakinan bahwa itu memang harus diisi. Diri hanya bisa menyerahkannya pada Tuhan Yesus dan menunggulah diri selama satu bulan sebelum pengumuman.

Selama menunggu pengumuman, diri lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku sastra Indonesia dan berdiam diri di rumah, belum boleh berangkat naik gunung saat itu karena orang tua diri khawatir diri tidak lulus SPMB akibat pilihan studi yang diri lakukan. Ada semacam kepercayaan yang dianut orang tua diri kalau di SPMB tidak boleh memilih dua universitas top sekaligus dalam pendaftaran yang mana jika dilakukan pasti sudah tidak akan lulus. Diri yang tidak mengerti dan tidak menerima logika tersebut hanya bisa diam dan berkata percaya sajalah sama Tuhan Yesus meskipun tetap harus mengikuti apa yang dikatakan mereka untuk mencari sekolah - sekolah cadangan yang masih membuka pendaftaran. 

Diri ingat pendeta diri berkata untuk tetap percaya dan Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan anakNya malu. Dengan semua inilah diri hanya tetap percaya dan berdoa. Tuhan membuktikan semuanya dalam 1 bulan menunggu.

Saatnya tiba pengumuman SPMB via online. Meskipun di tengah kedukaan karena kakek diri berpulang seminggu sebelumnya, diri mencoba mengakses hasil ujian di tengah keluarga yang berkumpul di rumah kakek. Saat yang ditunggu pun tiba, adik diri menelpon bahwa dia berhasil mengakses website dari rumah keluarga diri. Hasilnya puji Tuhan, diri tidak diterima di FK dan diterima di FTTM ITB. Seluruh keluarga sangat bergembira di tengah duka yang masih meliputi, termasuk orang tua diri. Namun reaksi berbeda yang diri berikan, yaitu kekecewaan! Ya, inilah bentuk orang tidak mengucap syukur. Awalnya diri syok karena diri harus belajar teknik dan semua hal yang terkait matematika dan fisika seperti yang diri pikirkan. 

Sekali lagi, Tuhan tahu rencanaNya yang terbaik untuk setiap anakNya bahkan untuk mendapatkan hasil pengumuman di tengah keluarga yang berkumpul. Paman bibi diri yang melihat kekecewaan diri yang tidak diterima FK dan menolak untuk melanjutkan di teknik, akhirnya memberikan pengertian dan memberi tahu bagaimana jurusan teknik itu, siapa kampus baru diri, bagaimana sekolahnya kira - kira dan bagaimana potensi masa depannya. 

Setelah semalaman berpikir, diri akhirnya minta ampun sama Tuhan Yesus buat segala kebodohan pikiran diri. Diri akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi di Teknik Pertambangan, FTTM ITB dengan segala ketidaktahuan diri tentang sekolah ini. Bahkan diri membuat persetujuan dengan orang tua diri untuk mencoba di tahun pertama dan melihat bagaimana perkembangan nilai diri. Namun, ada satu kepercayaan bahwa Tuhan akan memberikan jalan terbaikNya dan Ia tidak akan membuat diri malu. Itulah yang diri rasakan! Diri ke ITB untuk pertama kalinya 3 hari setelah pengumuman dan melihat bahwa inilah calon kampus diri dan kota Bandung yang menjadi tempat tinggal diri selama 4 tahun ke depannya. Tuhan membuka jalan untuk semuanya dalam persiapan sekolah, daftar ulang hingga mendapatkan tempat kos yang sangat cozy, tempat tinggal diri hingga lulus. 

Sekolah di ITB, bagaimana? Satu kata, yaitu menyenangkan! Lewat jalur ini juga, diri dibawa Tuhan Yesus untuk menyelesaikan pendidikan hingga PhD di usia yang sangat muda, 24 tahun. 

No comments:

Post a Comment