Friday, November 27, 2015

Pengalaman Sekolah dulu (1): TK, SD, SMP, SMA

Mungkin beberapa dari kalian pernah membaca bagaimana fase diri dalam menghadapi kehidupan. Setelah sekian banyak isi postingan blog ini yang ditulis, dihapus dan ditulis kembali, diri ingin berbagi apa yang menjadi pengalaman diri selama ini. 

Perkenalkan nama diri adalah Os, 24 tahun 1 bulan, hihihi karena memang diri baru berulang tahun bulan lalu. Diri bersyukur sekali kepada Tuhan Yesus untuk segala apa yang diri alami hingga sejauh ini. Segala pengalaman yang diberikan dari diri kecil hingga saat ini diri sedang menyelesaikan tahapan terakhir dalam pendidikan S3 yang tengah diri tempuh. 

Diri diberikan kesempatan oleh Tuhan Yesus untuk menempuh pendidikan di tempat - tempat yang luar biasa sedari pendidikan dasar. Diri lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana yang seringkali harus berpindah tempat mengikuti ayah bekerja. Diri pertama kali bersekolah saat usia 4 tahun kurang di TK Harapan Indah, Palembang. Jangan tanya diri apakah TK nya masih ada sampai saat ini atau tidak. Guru - guru di TK mengizinkan diri untuk mengikuti kelas di TK nol besar meskipun usia diri masih tidak mencukupi saat itu. Diri sangat suka belajar, menulis dan bermain dengan teman - teman sebaya. 

Satu tahun di TK, diri mulai merasa bosan, minimal itu yang diri tahu dari orang tua diri. Akhirnya diri memaksakan untuk belajar di sekolah dasar (SD). Pada zaman diri, sistem sekolah masih cawu atau caturwulan dan sekolah selalu buka pada awal Juni - Juli untuk penerimaan siswa baru. Sekitar tahun 1996 saat itu, diri masih berusia 5 tahun kurang, sesuatu yang sulit sebenarnya karena usia yang tidak mencukupi. Namun, puji Tuhan, SD yang membuka pendaftaran di dekat rumah diri menerima sistem semacam "rekomendasi" dari pihak TK, dimana calon siswa dulu bersekolah. Setelah hampir kesulitan mendaftar, akhirnya diri diterima di SD 636, Palembang sebagai siswa kelas 1. Yeay! Diri kembali mendapatkan tempaan pendidikan yang baru dan diri menyukainya, meskipun tidak mudah, tapi Tuhan selalu paling tahu bagaimana caranya membantu dalam perkembangan diri. 

Sampai akhirnya di sekitar tahun 1999 setelah cawu 1, diri sekeluarga harus berpindah ke SDN 01 Merauke, Irian Jaya saat itu. Diri bersekolah di SD ini selama kurang lebih 2 cawu atau sampai kenaikan kelas dari kelas 4 ke kelas 5. Di sini, diri belajar banyak tentang dunia baru. Diri sempat mengalami kultur syok karena seluruh teman - teman diri berasal dari suku - suku di Indonesia yang berbeda, mulai dari warga lokal Papua, Batak, Toraja, Jawa, sampai Padang. Sesuatu yang sebelumnya diri tidak temui di SD diri sebelumnya yang mayoritas adalah warga lokal Palembang. Akhirnya, di sekitar Juni 1999, diri pulang kembali ke Palembang karena terjadinya kerusuhan saat itu di Merauke. 

Sampai di Palembang, diri diletakkan oleh Tuhan di sekolah baru di SD Xaverius 7. Mengapa di sini? Diri juga tidak mengerti, tapi satu hal yang diri sukai dari sekolah ini adalah kondisi sekolah yang nyaman dan menyenangkan. Sekolah dan guru - guru yang menyenangkan meskipun saat itu fasilitasnya masih belum terlalu mumpuni, tapi diri senang sekali. Di sini diri akhirnya juga mendapatkan teman bermacam - macam latar belakang namun tetap asli kelahiran Palembang. Diri memulai sekolah di sini sebagai siswa kelas 5 sampai diri menamatkan SD di tahun 2001. Rasanya setelah sistem ini adalah semester di sekolah - sekolah di Indonesia. Puji Tuhan, Tuhan masih berikan prestasi sangat baik selama sekolah dasar. Diri masih dapat peringkat 1 sampai lulus selama di Palembang, kecuali 2 cawu selama di Merauke, diri diberikan peringkat 5 dan 3 oleh Tuhan plus pembelajaran di sekolah yang multikultural sekali. 

Lalu diri ditempatkan di SMP Xaverius 1 Palembang oleh Tuhan melalui jalur tanpa tes. Luar biasa! Sekolah ini adalah sekolah terbaik pada zaman diri di Palembang. Masa - masa SMP adalah saatnya diri belajar banyak hal baru lagi. Mungkin secara kultural tidak terlalu banyak karena mayoritas teman - teman diri yang warga lokal Palembang. Awal tantangan adalah penyesuaian dengan lingkungan belajar yang cukup berbeda dengan SD. Diri harus beradaptasi dengan berbagai macam tambahan pelajaran yang berbeda dengan SD dan beberapa di SD yang sebelumnya diri belum pernah terima. Menyenangkan sekali sebenarnya, namun tetap butuh kerja keras dan usaha yang lebih dari sebelumnya. Diri selalu melihat bagaimana Tuhan berkuasa untuk segala sesuatunya. Ora et Labora adalah pegangan diri selama sekolah. Bagaimana tidak, diri harus bersaing dengan banyak anak - anak pintar dari sekolah - sekolah sebelumnya dan ditambah dengan diri banyak harus beradaptasi lebih dahulu dengan banyak pelajaran. Diri juga tidak mengambil pelajaran tambahan di luar sekolah selain bahasa Inggris. Jadilah sejak SMP, jadwal sekolah diri mulai dari bangun jam 5.30, sekolah mulai jam 7 sampai jam 1, sampai di rumah jam 2; lalu tidur siang sampai jam 4. Jam 4.30 sampai 6.30 les bahasa Inggris. Setelah itu perjuangan dimulai, diri harus mengerjakan peer dari sekolah yang diberikan dan mempersiapkan bahan sekolah untuk esok harinya dari jam 7 sampai jam 1 malam. Diri mengambil libur di hari Minggu untuk gereja karena Sabtu, diri masih sekolah dan tetap harus mengerjakan semua tugas dan ekstrakurikuler. Capek?! Iya, tapi itulah pendidikan Tuhan yang luar biasa yang diri rasakan. Diri juga sempat diizinkan oleh Tuhan untuk mendapatkan kesempatan berada di kelas akselerasi dan kelas unggulan di SMP, hanya saja diri merasa itu bukan jalur diri. Tuhan mengingatkan diri untuk pindah ke kelas reguler yang telah dipersiapkan Tuhan. Bekal yang diri diajarkan sejak SMP ini sangat membantu saat SMA hingga diri sedang mengerjakan PhD diri di Akita University. Puji Tuhan, tidak ada yang sia - sia usaha dalam Tuhan, diri dipercayakan untuk mendapatkan peringkat pertama di kelas dari kelas 1 sampai diri lulus SMP. Tuhan itu begitu luar biasa, meskipun pendidikanNya awalnya diri keluhkan, tapi Ia memberitahu "mengapa" seiring waktu berjalan. 

Setelah 3 tahun berada di SMP, diri diizinkan Tuhan untuk masuk ke sekolah terbaik di Palembang tanpa jalur tes di SMA Xaverius 1 Palembang yang pada zaman diri juga sangat terkenal dengan banyak juara olimpiade tingkat dunianya. Puji Tuhan, diri ditempatkan di tempat yang terbaik oleh Tuhan. Di luar dugaan, Tuhan Yesus meletakkan diri di kelas khusus percobaan nasional dengan hanya 25 siswa di dalamnya. Luar biasa sekali! Tuhan Yesus berikan kesempatan ini. Di kelas 1 ini, diri mendapatkan tambahan kelas dan pendidikan dari guru kami di luar jam sekolah biasanya. Naik ke kelas 2, diri mengambil jurusan IPA dengan harapan diri ingin menjadi dokter nantinya. Pengalaman sekolah di Papua, memberikan diri semangat tersendiri untuk kembali ke sana memberikan pengabdian diri kepada mereka. Apa yang telah Tuhan ajarkan selama SMP, diri terapkan kembali di SMA. 

Diri masih mengambil pendidikan bahasa Inggris hingga selesai di kelas 2 SMA. Diri juga sempat mengikuti beberapa pelajaran tambahan di luar seperti A-Level dan persiapan SPMB, tetapi lebih banyak diri membolos kelas. Rasanya hampir 80% dari hari yang ditawarkan oleh pihak bimbel terbuang oleh diri. Diri lebih nyaman belajar di rumah sendiri dan ketika diri tidak bisa mengerjakannya, diri akan membawa soal tersebut ke guru diri di sekolah atau diri akan bertanya kepada teman - teman yang lebih mengerti di bidangnya, seperti fisika dan matematika. Puji Tuhan, pola belajar selama SMP yang diajarkan Tuhan membantu diri. Jadwal mulai bertambah di semester kedua kelas 2 karena diri mulai mempersiapkan diri untuk UAN. Diri diingatkan Tuhan untuk memperhitungkan bagaimana mengatur jadwal persiapan UAN dan SPMB. Akhirnya, diri menambah jam pelajaran diri di rumah pada hari Sabtu dan Minggu malam plus jadwal libur untuk belajar soal - soal UAN tahun - tahun sebelumnya. Mulai naik kelas 3, diri mempersiapkan diri untuk SPMB, dengan pola belajar yang sama, diri belajar soal - soal yang ada dan berlatih. Diri melihat bagaimana Tuhan bekerja luar biasa sekali dalam mendidik diri. 

Selama SMA, diri mempersiapkan kesempatan untuk UAN, UAS dan SPMB lewat belajar mandiri; diri masih mengikuti kegiatan pecinta alam yang sangat diri sukai; dan diri juga sempat masuk dalam tim olimpiade sekolah untuk biologi dan sastra. Puji Tuhan, selama di SMA pun Tuhan izinkan diri tetap mendapatkan hasil belajar yang baik dengan nilai pelajaran yang merata baik untuk semua mata pelajaran. Tuhan Yesus percayakan diri untuk mendapatkan peringkat 1 dari kelas 1 sampai lulus. Setelah 3 tahun, diri menamatkan SMA di usia 16 tahun dengan hasil yang memuaskan. Puji Tuhan!

Petualangan yang sesungguhnya Tuhan persiapkan setelah SMA. Selama di pendidikan dasar, pertolongan Tuhan begitu luar biasa. Diri belajar bahwa semuanya harus digabung dengan kerja keras dan disiplin terhadap waktu, termasuk keinginan bertanya dan semangat! Berserah dan berdoa adalah kunci utama untuk membuat kita mau bekerja keras dan mengerjakan bagian diri.
Seperti bunga, pendidikanNya memang berwarna - warni.

No comments:

Post a Comment