Jepang adalah salah satu negara dengan penduduk yang memiliki hobi berkebun. Hobi seperti ini dapat juga terlihat dari banyaknya taman - taman di Jepang, ada namanya tradisi ikebana atau merangkai bunga dan pastinya toko - toko yang menjual perlengkapan untuk berkebun melimpah. Hampir setiap toko serba adanya, semacam swalayan, pasti menjual bunga atau bibitnya, bahkan toko seratus yen, seperti daiso menjual tanaman.
Bagi penduduk Jepang, berkebun adalah bentuk kebahagiaan. Banyak orang - orang tua di Jepang memilih hobi berkebun setiap harinya dalam mengisi waktu luangnya. Pemandangan rumah atau apartemen dengan tanaman - tanaman atau kebun kecil adalah hal yang biasa. Masyarakat Jepang akan mengusahakan untuk memiliki tanaman di rumah meskipun mereka tinggal di apartemen yang bertingkat. Dengan adanya minat seperti ini, wajar saja toko - toko di sini juga mengikuti kebutuhan berkebun yang berbeda untuk tiap rumah tangga.
 |
| Cantik bukan?! |
 |
| Merawat bunga. |
Berkebun di Akita adalah sesuatu yang menyenangkan. Semua bibit, perlengkapan berkebun, air dan lahan tersedia lengkap. Diri bersama seorang teman baik, Pooh, memiliki lahan untuk berkebun yang dihibahkan oleh supervisor Pooh untuk kami. Selain itu, di rumah juga diri membuat kebun kecil dengan memelihara beberapa jenis bunga. Diri lebih memilih untuk menanam bunga di rumah dan sayur mayur di lahan yang kami miliki.
Bibit - bibit bunga, diri dapatkan di swalayan dan juga pertukaran dengan ibu - ibu di Akita. Diri memiliki beberapa bunga, seperti Asagao (bunga yang menjalar dan biasanya ada di musim panas) dan lainnya. Diri hanya cukup untuk membeli beberapa pot yang dijual cukup terjangkau di Daiso dengan ukuran yang diri butuhkan. Harga 3 pot berdiameter 15 cm dan tinggi yang sama, hanya 100 yen di sini. Dengan harga yang sama, diri masih mendapatkan pot dengan ukuran berbeda namun dengan jumlah yang lebih sedikit. Misalnya, pot dengan diameter 25 cm dan tinggi 20 cm, berharga 100 yen untuk tiap potnya. Daiso juga menyediakan kebutuhan lain untuk berkebun seperti sekop, sarung tangan, gunting tanaman, dan lainnya. Kebutuhan terhadap tanah untuk tanaman pun dapat diri dapatkan di Daiso dengan harga kisaran 100 yen untuk per bungkusnya (3.5 - 5 kg tanah per bungkus). Uniknya, tanah yang dijual pun berbeda untuk tanaman bunga dan tanaman sayur. Selain tanah, kebutuhan untuk kompos, batu dan pupuk cair pun juga tersedia dengan harga yang sama, yaitu 100 yen per bungkus dan per kotaknya. Dengan harga yang terjangkau seperti ini, berkebun menjadi hobi yang menyenangkan di Jepang. Selain itu, tanaman pun dapat kita beli di banyak toko sehingga memudahkan keinginan kita untuk merawat bunga atau berkebun sayuran. Kisaran harga tanaman bunga dan sayuran dimulai dari 70 yen hingga 20000 yen lebih, tergantung jenisnya. Bibit tanaman yang dijual juga berharga mulai dari 100 yen hingga 500 yen, lebih murah dibandingkan membeli tanaman yang sudah jadi. Selain Daiso, beberapa swalayan juga menawarkan penjualan tanaman dan peralatan berkebun yang harganya bervariasi.
 |
| Taman vertikal dengan Asagao. |
 |
| Taman kecil di depan apartemen diri. |
Bagaimana di lahan sayuran diri? Di lahan kami, kentang, cabe, sawi, pakcoy dan labu kuning ditanam di lahan ukuran 2.5 x 1.5 m di daerah Hiroomote. Lahan yang dihubahkan kepada kami lokasinya berjarak kurang lebih 3.5 km dari tempat kami tinggal di sekitar kampus. Sepeda sangat membantu kami untuk mencapai lokasi dengan lebih cepat dan ringan pastinya. Setiap kali berkebun kami harus membawa air dalam galon, cangkul, sekop dan lainnya, termasuk bekal untuk disantap setelah lelah berkebun. Memperhatikan curah hujan selama hari kerja sangat penting bagi kami terkait jadwal kami di kampus dan waktu untuk menyiram yang harus diatur. Beruntung, diri punya Pooh yang jadwalnya masih lebih fleksibel selama hari kerja hingga musim gugur awal. Berkebun sayuran lebih banyak tantangannya dibandingkan bertanam bunga. Akhir musim, sayuran kami banyak yang tidak berkembang baik karena sekitar satu bulan ditinggal di Agustus. Perjalanan 2 bulan, yang akhirnya ditutup kegagalan di akhir musim. hiks!
 |
| Kebun kami awal Juni lalu. |
 |
| Dengan Pooh di depan kebun orang! |
Dengan modal yang tidak banyak, tubuh segar dan pikiran lebih tenang. Hobi semacam ini bisa menjadi alternatif saat sedang menempuh pendidikan di Jepang atau untuk tinggal dalam jangka waktu lama di Jepang. Bagaimana dengan musim dingin? Jangan khawatir! Ada beberapa tanaman yang juga tetap hidup selama musim ini. Setiap musim biasanya akan memiliki primadonanya sendiri untuk ditanam. Keterbatasan lahan pun tidak akan menjadi masalah karena semua peralatan pendukung tersedia dengan harga yang relatif terjangkau. Yang pasti, namanya hobi harus sediakan waktu, sesibuk apapun pekerjaan di kampus atau di kantor jika tidak ingin berakhir seperti diri. hihihii...sayurannya pun tidak jadi! Tapi, itu namanya pengalaman. Kapan lagi bisa berkebun di negara orang. Diri bahkan belum pernah berkebun di negara sendiri sebelumnya. xixixixi...
No comments:
Post a Comment