Showing posts with label anak-anak. Show all posts
Showing posts with label anak-anak. Show all posts

Tuesday, July 05, 2016

Farewell Party with Kiddy Cat

Sebelumnya diri juga pernah bercerita kalau diri memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengajar bahasa Inggris untuk anak - anak Jepang. Nama kursusnya adalah Kiddy Cat yang berdiri relatif baru di Akita sendiri. Lokasinya yang dekat dengan Menara Serion, diri berkesempatan untuk mengajar kembali sebelum akhirnya diri pulang. Ini juga menjadi semacam farewell party untuk diri dengan anak - anak yang diri pernah ajar sejak 2.5 tahun yang lalu. Meskipun tidak rutin, diri tetap senang dan selalu mendapatkan memori yang berkesan saat bisa mengajar ke Kiddy Cat.
Welcome to the party!
Setelah selesai sidang, diri berkesempatan untuk mengunjungi Kiddy Cat kembali. Waktu yang juga pas dengan kehadiran lelakiku di Akita sehingga diri bisa mengajak dia untuk dikenalkan kepada anak - anak didik diri. Anak - anak Jepang, bahkan ibu - ibunya selalu excited ketika tahu ada orang asing yang datang dan masih muda sudah menikah. Setidaknya itu kesan yang selalu diri dapatkan ketika datang. Mereka senang sekali menanyakan apakah diri sudah berpasangan atau belum, meskipun bertanya dengan malu - malu awalnya. 
Foto dengan calon model dan manga artist.
Farewell party yang diadakan oleh Futada Sensei kali ini masih mengangkat tema musim dingin karena waktu itu masih di sekitar Februari atau puncaknya musim dingin. Futada sensei menunggu sampai saat diri bisa datang di tengah semua persiapan diri untuk sidang sebelumnya yang cukup menyita waktu diri hari lepas hari. Setelah sepakat harinya, diri dan lelakiku datang ke tempat Kiddy Cat dijemput oleh Futada Sensei. Kami juga mengajak teman kami, Thomas dengan harapan dia akan menjadi next teacher di Kiddy Cat ke depannya menggantikan diri. Futada sensei menjemput kami di depan kampus dan langsung dengan kendaraan pribadinya meluncur ke Kiddy Cat. Seperti biasa, kami sampai selalu lebih awal untuk melakukan briefing dan persiapan acara. Saat itu masih pukul 13.00 sedangkan acara dimulai pukul 14.30 karena di hari sabtu, anak - anak ada banyak kegiatan extrakurikuler di sekolah. 

Hari ini, kami memulai tepat waktu acaranya. Satu per satu dari mereka datang diantarkan oleh orang tuanya. Wajah - wajah bahagia itu menyenangkan memang untuk dilihat. Awal mulai, kami melakukan perkenalan kembali untuk lekakiku dan Thomas. Rasanya senang sekali saat melihat anak - anak excited mengenal dua guru baru mereka hari itu. Acara utama dimulai. Kami membacakan buku cerit abergambar dalam bahasa Inggris bergantian dan dilanjutkan dengan permainan, juga membuat kerajinan tangan. Anak - anak dilatih untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris meskipun sederhana saat mereka membuat kerajinan tangan berupa pajangan kepala santa claus! Lelakiku sibuk membantu para anak - anak yang umurnya lebih kecil, sedangkan Thomas harus menjaga satu anak, Kenta, yang sangat aktif dalam mengerjakan bagiannya. Diri juga sibuk membantu anak - anak yang usianya lebih tua. hehehehee...
Foto dengan karateka dan balerina. Hana, akita bijin.
Selesai acara dan semua bersiap foto.
Selesai membuat kerajinan tangan, kami melanjutkan ke permainan BINGO dengan menggunakan peralatan mainan yang sudah disiapkan oleh Futada Sensei. Seperti sebelum - sebelumnya, anak - anak selalu senang belajar sambil bermain. Dengan setiap angka yang keluar, anak - anak diminta menyebutkan angka tersebut dalam bahasa Inggris. Juara permainan ini akan mendapatkan hadiah berupa stiker yang disukai kebanyakan anak - anak Jepang. Buat mereka yang tidak juara, seperti diri juga, tetap dapat stiker tetapi dalam jumlah yang berbeda dan bentuk yang berbeda pula. Selesai permainan, kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto dan membagikan bingkisan kecil untuk setiap anak yang sudah disiapkan oleh Futada Sensei. Anak - anak selalu senang saat mendapatkan bingkisan hadiah setelah selesai belajar. Lelakiku pun sangat excited untuk bermain dengan anak - anak, ia dengan telaten menjawab tiap pertanyaan anak - anak yang bertanya kepadanya dalam bahasa Inggris sederhana bercampur dengan bahasa Jepang. Luar biasa! Pengalaman hari itu yang membuat semua orang tertawa senang karena farewell party berjalan lancar. Kenta yang awalnya tidak nyaman pun karena kakak kesayangannya tidak bisa hadir bersama dengan dia pun bisa menikmati acara hingga selesai. Diri senang sekali bisa berbagi dengan anak - anak di Kiddy Cat, apalagi expresi bahagia lekakiku di sana. 
Lelakiku membagikan bingkisan kepada anak - anak.

Friday, October 10, 2014

Wajah anak - anak Afrika Selatan

Kesempatan ke Afrika Selatan bukanlah sesuatu yang bisa diri lupakan. Tuhan begitu luar biasa untuk membawa diri datang ke benua hitam, Afrika. Yeah!

Salah satu bagian yang luar biasa adalah bertemu dengan anak - anak di sana. Bagaimana tidak, anak - anak itu bisa mewakili wajah dari negaranya. Kesempatan untuk bertemu dengan anak - anak di sana juga lebih luas lagi dibuka dengan diri dapat pergi keliling dengan field trip yang bertema Northern Bushveld. Diri tidak akan membahas bagaimana field tripnya, tetapi lebih kepada bagaimana pengalaman diri bertemu dengan anak - anak selama berpindah tempat di saat field trip. 

Anak - anak di Afrika punya permasalahan yang sama halnya dengan Indonesia. Menurut diri, anak - anak kita jauh lebih beruntung secara umum. Diri masih ingat pertama kali tiba di Johannesburg dan diri langsung menuju Sandton. Diri sempat berpikir bahwa Afrika tidak seperti apa yang selalu diberitakan di televisi. Sandton memiliki wajah yang sangat mewah dan luar biasa elite! Menurut salah satu teman di sini, hampir 80% uang di Afrika, benua Afrika berputar di Sandton. Anak - anak yang berkeliaran di sini pun memang tampak jauh lebih terawat dan memiliki banyak kemewahan. Saat diri mengunjungi Mall Sandton City, anak - anak memiliki kesempatan yang luar biasa, dengan kemewahan yang dapat mereka terima dari keluarganya.

Nelson Mandela square, pemandangan yang berbeda dengan rural area sekitar Johannesburg.
Namun, hanya 10 km dari Sandton ini, diri langsung melihat hal yang teramat jauh berbeda dengan apa yang diri temui sebelumnya. Anak - anak di sekitar pinggiran Johannesburg, lebih memiliki kehidupan yang biasa atau lebih sederhana. Kebanyakan dari mereka pergi bersama dengan orangtuanya yang juga berpenampilan sederhana. 
Semua berkumpul dan bahagia. Lihat posenya.
Perbedaan 180 derajat selanjutnya, diri temui saat berada di area kota sekitar Johannesburg, terlebih anak - anak yang hidup di sekitar area tambang. Sebelum area tambang dibuka, kehidupan di sini jauh lebih buruk karena fasilitasnya yang lebih minim. Kehadiran pertambangan Chromite dan PGE, membuka kesempatan bagi para orang tua anak - anak di sini untuk bekerja lebih layak dan setidaknya anak - anak bisa merasakan fasilitas sekolah, air bersih dan lainnya untuk kehidupan yang lebih baik. Meskipun demikian, anak - anak di sini tetap berada pada kondisi yang memprihatinkan dibandingkan dengan mereka yang di pinggiran Johannesburg, apalagi Sandton. 
Rasa penasaran melihat foto mereka sendiri
Namun, ada satu hal yang diri sangat ingat dari anak - anak di sini saat bertemu mereka langsung. Kesempatan ini diri dapatkan ketika diri dan rombongan mengunjungi outcrop seam Chromite UG 1 dan UG 2. Dengan bahasa Inggris yang terbata - bata, mereka mengucapkan mimpi mereka kepada diri dan rombongan lainnya meskipun baru pertama kali bertemu. Sungguh ada keinginan besar dari mereka untuk menjadi orang lebih baik, dan itulah anak - anak. Kesempatan tidak pernah sama menghampiri mereka, tetapi mereka tetap ceria dan memelihara mimpi itu. Anak - anak perempuan di sana memiliki tanggung jawab lebih untuk menjaga adik bahkan sepupunya yang masih kecil. Mereka menggendong si adik selama mereka mendekati rombongan kami. Tidak ada rasa malu yang ada di antara mereka saat menghampiri, justru rasa penasaran terhadap kami dan apa yang sedang kami lakukan di tempat terpencil seperti itu yang jauh lebih besar. Mereka berusaha mendekat dan mengikuti rombongan. Bahkan sesekali mereka mengucapkan mimpi dan menceritakan diri mereka siapa dan apa yang mereka ingin lakukan di masa mendatang. 
Mereka ingin seperti model.
Satu hal yang membuat mereka semakin ceria adalah saat melihat kamera. Berbagai fose langsung saja keluar natural sekali. Sepertinya mimpi menjadi model atau berada di majalah sangat menghinggapi mereka. Bahkan saat ditunjukkan foto yang baru saja diambil, ada rasa bahagia, lucu, aneh, tidak percaya yang mereka tunjukkan. Sejauh itukah mereka dengan teknologi? Mungkin!
Anak - anak remaja sebagian sudah memiliki telpon genggam meskipun bukan yang super canggih seperti yang dibawa oleh kebanyakan rombongan dalam perjalanan diri. Mereka berusaha mengambil foto untuk ditunjukkan pada teman - temannya bahwa mereka bertemu orang asing dan ada kebanggaan untuk itu. 

Pesan terakhir saat kami akan meninggalkan bus yang sangat menyentuh. Mereka hanya ingin diingat dan sebisa mungkin kami kembali. Mereka juga meminta satu hal pada kami, yaitu makanan atau buku tulis. Diri terhenyu, dengan memelas mereka hanya meminta permen atau makanan kecil lainnya agar mereka dapat menikmatinya. Itu yang terjadi dan akhirnya diri hanya bisa terdiam karenanya. Selain itu, meminta buku tulis itu rasanya tidak wajar, tetapi hikmahnya adalah mereka sangat menikmati sekolah. Salah satu anak bercerita pada diri bahwa dia sudah menjadi juara kelas sejak kelas 3, dan sekarang ia berada di kelas 6. Dia pun dijanjikan akan disekolahkan di kota terdekat yang memiliki fasilitas memadai untuk SMP. Itu sangat dia ingat dan bangga! Anak ini berkata bahwa saya akan disekolahkan di SMP yang bagus di kota terdekat. 
Perempuan itu selalu menawan bukan meskipun masih anak - anak.
Diri sangat belajar bagaimana anak - anak ini dalam keterbatasannya pun masih bermimpi dan yakin akan mendapatkan mimpinya. Sederhana sekali tetapi seringkali orang dewasa sulit melakukannya. 

Wednesday, October 08, 2014

Apalagi yang berbeda dengan anak SD di Jepang?

Seperti postingan sebelumnya tentang pendidikan SD di Jepang, berikut ini beberapa hal lain yang anak - anak SD dapatkan selama pendidikn dasar 6 tahun mereka. 

3) Seragam bebas
Anak - anak SD di Jepang masih memiliki kebebasan untuk menggunakan pakaian kasual yang diatur sendiri dari rumah. Beberapa sekolah di daerah tertentu memiliki seragam khusus. Selama 6 tahun pendidikan dasar, anak - anak menggunakan pakaian yang mereka sukai dan tentunya disesuaikan dengan suhu, serta norma yang ada. Pada umumnya, anak - anak juga tidak memiliki selera yang aneh dalam berpakaian untuk ke sekolah, apapun latar belakang keluarganya. Pada musim panas, mereka cenderung untuk menggunakan celana pendek dan kaos, hanya pada kondisi suhu yang lebih tinggi seperti pada musim gugur atau musim dingin, mereka akan menggunakan jaket tambahan dan boots anti airnya. Pakaian anak - anak disesuaikan dengan kegiatan mereka dan tidak menjadikan mereka tidak bebas bergerak. Jangan kaget untuk melihat anak - anak menggunakan celana super pendek dan legging saat sekolah. Tujuannya bukan untuk gaya, tetapi legging yang digunakan sebagai pakaian hangat. Pada beberapa tempat di Jepang, seragam seperti topi juga disesuaikan dengan kondisi geologinya, seperti di sekitar gunung api Sakurajima, Kyushu. Anak - anak sekolah di sini menggunakan topi yang sebenarnya adalah helm safety untuk melindungi mereka dari kejatuhan kerikil yang secara berkala dimuntahkan oleh gunung api aktif tersebut. Jadi, pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kenyamanan gerak dan fisik pada generasi muda mereka.
Anak - anak SD di Sakurajima
4) Pelajaran bahasa Inggris
Beberapa postingan sebelumnya dalam blog ini, diri sudah menginformasikan bagaimana mereka belajar bahasa lain selain bahasa Jepang. Pendidikan bahasa Jepang telah diberikan sejak SD kelas 1 secara bertahap. Bahasa Inggris menjadi satu - satunya bahasa asing yang diajarkan di pendidikan formal Jepang. Porsi belajar bahasa Inggris bisa dikatakan hanya sebagai mata pelajaran tambahan saja di sekolah. Pada umumnya, bahasa Inggris hanya diajarkan 1 - 2 jam seminggu oleh guru yang telah ditunjuk. Di beberapa sekolah, guru bahasa Inggris yang mengajar adalah orang asing atau native english. Akan tetapi, kombinasi sifat pemalu siswanya dan keinginan belajar yang juga seringkali tidak tinggi, membuat bahasa Inggris memang menjadi kelas tambahan saja di Jepang. Anak - anak tidak diwajibkan sama sekali untuk mengerti atau bisa. Model pendidikan bahasa Inggris yang diberikan cenderung pasif, yaitu dimana guru meminta membaca dan menulis saja, Akibatnya, kemampuan percakapan anak - anak Jepang seringkali terhambat. Ketidakmampuan ini tidak menjadi masalah untuk mereka karena berbagai hal di Jepang baik buku sekolah dan bacaan lainnya sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang. 

5) Jam pelajaran dan buku sekolah
Jam pelajaran SD di Jepang bisa dikatakan hampir sama dengan Indonesia. Mereka memulai hari dari pukul 08.30 hingga menjelang pukul 15.00 setiap senin hingga jumat. Pelajaran yang diajarkan pun di SD tidak seberat apa jika dibandingkan dengan Indonesia untuk kelas yang sama. Anak - anak kelas 1 misalnya bertahap hanya belajar mencari perbedaan antara 2 gambar yang terlihat sama sebagai salah satu materi semester awal. Seingat diri, di Indonesia, semester awal saja, diri sudah harus belajar tambah, kurang dan perkalian. Mungkin sebenarnya tujuannya sama, hanya saja cara penyampaiannya yang lebih bertahap dan interaktif untuk siswanya. 
Buku - buku pelajaran mereka dibuat dalam bahasa yang sesederhana mungkin dan penuh dengan ilustrasi. Perbandingan tulisan dan gambar bisa dikatakan 20% tulisan dan 80% gambar ilustrasi. Sebagai contoh, buku pengetahuan alam siswa kelas 3, lebih banyak disampaikan dalam bentuk gambar yang interaktif untuk tiap tahapan pekerjaan sebuah percobaan dibandingkan tulisan. Hal ini sangat mempermudah anak - anak untuk mengikuti tahap demi tahap pekerjaan praktikum sederhana yang ada.

6) Usia sekolah
Di Jepang, sistem sekolah lebih awal atau lebih muda tidak dikenal. Setiap anak harus masuk sekolah pada usia yang sudah ditentukan, misalnya SD minimal 5 tahun pas, tidak boleh kurang bulan. Hal ini bahkan untuk masuk TK sekalipun berlaku. Sekolah PAUD di Jepang ada beberapa macam dan penerimaan umurnya pun disesuaikan seperti di Indonesia. Di kelas regular sekolah dasarnya pun, Jepang tidak mengenal sistem akselerasi. Berdasarkan buku yang diri baca, sistem sosial Jepang yang sudah terbangun sejak dulu mendorong segala sesuatu di Jepang diatur berdasarkan umur atau senioritas untuk mengendalikan kondisi sosial. Oleh karena itu, menurut diri, hal ini sudah ditanamkan kepada penduduk muda Jepang sejak mereka mulai masuk pada sistem sosial seperti sekolah. Hal ini juga berlaku untuk penduduk asing yang datang ke Jepang, seperti keluarga mahasiswa misalnya. Anak - anak yang masuk ke sekolah SD ataupun SMP dan SMA, harus mengikuti usia sekolah mereka di Jepang. Seperti contoh adalah anak teman diri dulu, di Indonesia sebelumnya anak pertamanya sudah bersekolah di kelas 4 dan berusia 7 tahun, lalu setiba di Jepang, anak ini harus turun ke kelas 2 karena masih berusia 7 tahun. Secara psikologis, model usia seperti ini juga memiliki pengaruh pada pertumbuhan mentalitas anak. Ini bukan berarti mereka yang sekolah di usia lebih muda tidak sanggup, tetapi akan lebih baik anak - anak bersekolah di kelas yang sesuai dengan umurnya agar mentalitas dapat tumbuh bertahap dan pada lingkungan yang tepat pula. Akan tetapi, banyak hal menjadi pengecualian pastinya.

Ada banyak hal lain yang juga menjadi sedikit berbeda antara anak - anak SD di Jepang dan Indonesia. Diri tidak mengatakan sistem ini baik atau buruk karena pada dasarnya semua sistem memiliki kelebihan dan kekurangan. Itulah yang berusaha diperbaiki terus menerus oleh pemerintah negara Indonesia juga. 

Salah atau tidak pendidikan itu, bisa kita lihat saja dengan produk di masa depan. Setidaknya diri juga adalah produk kurikulum lama di Indonesia, dengan kurang lebih yang ada, terbukti diri masih bisa mengikuti kelas di negara lain. Begitu juga jutaan mahasiswa lainnya yang sekarang sedang menerima beasiswa di negara manapun dalam mengikuti program sekolahnya masing - masing. Pada dasarnya, manusia itu mampu. Pola pikir dijadikan robot atau tidak, itu sangat terkait dengan bagaimana kita mengatur waktu dan berdisiplin di dalamnya. 

Tuesday, October 07, 2014

Apa yang dididik pada anak SD di Jepang?

Hasil pengamatan terhadap anak - anak SD di sekitar diri dan observasi bersama emak - emak di sini, banyak hal yang diri baru ketahui tentang apa yang anak - anak pelajari di sini selama sekolah dasar. Para pecinta Jepang dan segala pernak - perniknya pasti menyadari beberapa hal yang diinformasikan pada kita melalui komik atau majalah - majalah di Indonesia persis sama dengan apa yang ada di sini. Beberapa hal yang menarik dari gabungan pengalaman dan pembuktian dari cerita - cerita manga yang ada, diri melihat banyak hal positif tentang anak - anak SD Jepang dalam pendidikannya. 

1) Tas "Randoseru" atau tas nobita.
Tas yang dipakai Nobita dalam serial Doraemon memang seperti apa adanya di Jepang. Anak - anak SD mulai memakainya sejak kelas 1. Pemakaian tas seperti ini adalah kewajiban bagi seluruh siswa di Jepang, dimanapun kotanya. Biasanya tas ini merupakan hadiah dari nenek - kakek kepada para cucunya yang baru masuk SD. Pada musim ajaran baru, sekitar spring semester, kita bisa melihat tas - tas ini dijual dari berbagai merk dan warna di mal - mal dengan harga yang beragam. Harga sebuah tas randoseru di Akita sendiri berkisar 35000 yen hingga 75000 yen per buahnya. Tas ini cukup berat karena rangka dan bahan kulitnya yang sangat baik. Teman - teman kecil diri, Aufa dan Defa memiliki tas ini untuk bersekolah setiap harinya. Hasil obrolan dan searching di internet juga, diri dapat informasi bahwa tas ini didesain untuk membentuk postur tubuh anak - anak yang membawa karena bentuknya yang punya rangka massif dan rata sehingga baik untuk tubuh. Selain itu, tas ini juga didesain untuk melindungi para siswa SD jika terjadi kecelakaan. Maklum, anak - anak SD di sini tidak pernah diantar jemput oleh orang tuanya. Dilarang! Penggunaan tas yang hanya dilakukan oleh anak SD, menjadikan tas Nobita ini sebagai salah satu indentitas yang sangat jelas untuk anak - anak SD saat dalam perjalanan. Pertama, setiap hari anak - anak SD di Jepang dididik untuk memiliki postur tubuh yang baik dan menggunakan sesuatu untuk jangka waktu yang lama atau hemat!
caption gambar dari amaliaakusuma.blogspot.com
2) Tidak ada antar jemput sekolah
Salah satu kebijakan di Jepang, setiap anak - anak yang akan sekolah harus mendaftarkan diri pada sekolah yang terdekat dengan rumahnya atau masih dalam 1 area dengan sekolahnya. Seingat diri, jarak maksimal sekolah dan rumah sekitar 5 km. Beda sedikit saja, anak tersebut harus masuk ke sekolah di daerah yang berbeda. Ada satu cerita dari salah satu emak di sini, di mana anaknya bisa masuk di sekolah A, sedangkan tetangga depan rumahnya tidak bisa masuk di sekolah yang sama karena beda beberapa meter saja. Jadilah si anak harus masuk ke sekolah B. Tapi itu lah Jepang. Mengapa ini diberlakukan? Seperti judulnya, karena sejak kelas 1 SD, anak - anak tidak diperkenankan untuk diantar jemput sekolah seperti yang dilakukan di Indonesia. Anak - anak harus berangkat sendiri ke sekolahnya berjalan kaki pada musim apapun dengan membawa seluruh barang kebutuhan sekolahnya, seperti tas randoseru, bento (jika ada halangan dengan makanan di sekolah) ataupun pakaian ganti olahraga mereka. Para anak - anak ini pergi sekolah biasanya berbarengan dengan teman - teman lainnya dan berjalan kaki ke sekolah sekitar pukul 07.30 pagi. Kedua, setiap hari anak - anak SD juga dididik untuk mandiri dalam mengatur dirinya dan pulang pergi sendiri. Amankah? Ya! Pasti, mereka melakukan sendiri saat menyebrang, berjalan pada area yang telah ditentukan dan mengikuti rute yang sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh sekolah untuk pulang perginya. 

Anak - anak SD saat berangkat sekolah
to be continued...

Saturday, October 04, 2014

Mengapa sekolah di Jepang?

Kali ini, diri juga ingin membagikan mengapa memilih sekolah di Jepang. Pilihan untuk melanjutkan sekolah adalah bentuk yang tidak mudah dan sebaiknya mendapat dukungan dengan melangkahkan kaki yang tepat. Memilih dimana sekolah yang tepat memang tidak mudah karena setiap orang memiliki pertimbangan masing - masing di negara mana. Kesempatan juga bisa terkait dengan jenis beasiswa, bidang pendidikan yang ingin ditempuh atau bahkan siapa ahli di bidangnya. 

Berikut ini adalah alasan personal diri yang dapat diri bagikan mengapa diri sekolah ke Jepang? Beberapa alasan diri ada yang ditemukan selama di Jepang. 

1) Pola pendidikan
Pola pendidikan ini terkait bagaimana para mahasiswa Jepang bersikap atau berkelakuan. Dalam pendidikan Jepang, kerja keras dan disiplin sangat ditekankan. Penekanan ini juga ditunjukkan dengan bagaimana lingkungan kerja keras itu pun sudah dibentuk. Jam kerja di Jepang sebenarnya sangat fleksibel, semua mengikuti bagaimana aturan kepala lab yang juga biasanya professor atau supervisor kita. Pola didik tiap lab pun beragam, ada yang sudah ditentukan oleh kepala labnya atau ada yang bebas untuk menentukan jam kerja masing - masing. Mengapa kerja keras saja harus ke Jepang? Sebenarnya budaya kerja keras tidak hanya ada di Jepang, tetapi negara - negara lain, terutama yang sudah lebih maju. Pilihan ke sini adalah kita melihat bagaimana sifat disiplin dan kerja keras itu dibentuk bukan hanya di kampus, tetapi di semua elemen kehidupan orang Jepang. Apapun pekerjaannya, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk berdisiplin terhadap waktu dan bekerja keras dalam tanggung jawabnya. Jadi, perubahan bisa didukung oleh banyak sekali pihak, bukan?

2) Fasilitas pendidikan
Dalam kasus pendidikan diri, fasilitas yang didapatkan diri di Jepang untuk menunjang penelitian diri lebih banyak dan lengkap dibandingkkan dengan sekolah diri terdahulu di Indonesia. Jika tidak memiliki fasilitas yang dibutuhkan, kampus biasanya memiliki kolega lembaga lain dan universitas lainnya. Setiap professor di bidang apapun biasanya memiliki jaringan yang luas baik di seluruh Jepang maupun di luar negeri. Dengan demikian, fasilitas pendidikan apapun dalam hal ini lab bisa dipenuhi melalui cara yang baik seperti ini sehingga para mahasiswa dapat yang membutuhkan "ilmu"nya dapat belajar sebaik mungkin. Biasanya biaya seperti ini termasuk dalam biaya beasiswa atau kampus dapat membantu pembiayaan selama analisis dilakukan. Fasilitas ini tidak hanya terbatas pada bidang diri, tetapi juga ada di bidang lain seperti bahasa, pendidikan dan lainnya.

3) Biaya hidup
Biaya hidup di Jepang pasti tidak sama dengan di Indonesia atau Eropa. Akan tetapi, biaya hidup di Jepang sejujurnya sangat bervariasi tergantung dimana kita berada. Beasiswa yang diberikan oleh pihak manapun untuk sekolah di Jepang pasti sudah mengukur untuk hidup berkecukupan di Jepang, bukan untuk hidup mewah. Salah satu cara yang umumnya untuk mengurangi biaya hidup di Jepang adalah dengan memasak sendiri makanan kita untuk makana sehari - hari atau berbelanja di tempat yang tepat untuk beberapa kebutuhan tertentu misalnya dengan belanja di toko barang bekas atau di toko serba seratus yen, bisa juga berbelanja bahan makanan di hari - hari tertentu di supermarket yang ada di sekitar tempat tinggal kita. Dengan sistem transportasi dan sistem penunjang kehidupan lain di Jepang yang sudah sangat sistematis dan tertata membuat banyak hal bisa dikurangi dan tetap hidup lebih nyaman. 

4) Lingkungan tinggal
Hidup di Jepang juga memiliki kelebihan untuk tinggal. Kondisi yang tertata dan nyaman sangatlah membantu kehidupan kita. Secara administarasi misalnya, segala pengurusan yang dilakukan dapat dilakukan dengan cepat dan ringkas. Misalnya saat menyewa rumah. Ketika ada kerusakan dengan bagian tertentu di rumah, setelah melaporkan tersebut, pihak penyewa akan dengan segera memperbaikinya dan mengganti kerusakan yang ada agar kita sebagai penyewa tetap nyaman dan tidak menghabiskan waktu untuk menunggu kerusakan tersebut. Pemberitahuan terhadap perubahan yang terjadi secara nasional seperti kenaikan pajak pertambahan nilai (ppn) barang dari 5% menjadi 8% juga disosialisasikan dengan baik di seluruh tempat pembelanjaan. Dengan beberapa aturan tak tertulis yang dimiliki penduduk Jepang juga menjadikan Jepang sebagai tempat yang layak dan nyaman untuk belajar dan tinggal. Bagaimana dengan industri porno atau kebiasaan minum misalnya, itu semua kembali pada masing - masing pribadi. Bisa memilih untuk menjadi orang seperti apa di Jepang.

Setidaknya itu adalah sebagain dari apa yang diri alami selama di Jepang. Luar biasa sekali sebenarnya negara ini dengan segala kekayaan budaya dan karakter yang menambah lagi wawasan global terhadap suatu bangsa. 
Selamat memilih!

Wednesday, September 10, 2014

Some photos from Africa

Photos tell more stories behind it.
Here, some photos on South Africa time.

Beberapa cerita tentang selatan Afrika yang mungkin sudah seringkali terdengar.

Rumah di sekitar pinggiran Joburg
Desa sekitar outcrop UG1-UG2-UG3 layer kromit
What were they feeling at that time? Amazing? Yes!
They really love to pose like a model,
They are sweet beautiful children
Pergi kemana pun, selalu akan ada terlihat hal demikian. Kesenjangan sepertinya memang juga belum lepas di negara tersebut. Masyarakat tambang masuk untuk membawa lebih banyak berkat dan perubahan kepada pendidikan dan taraf hidup, tetapi memang tidak semudah itu. 

Friday, September 05, 2014

Senyum Resi

Resi adalah anak yang tidak pernah tersenyum dan selalu berpikiran negatif. Dia selalu berpikir bahwa hidupnya sulit dan tidak bahagia. Sifat selalu menyalahkan Resi sangat membuat ia tidak memiliki seorang teman. Ayah dan ibunya bahkan selalu dianggap Resi tidak memiliki kesempatan untuk membahagiakannya. Apapun yang diberikan oleh orangtuanya adalah bukan yang ia inginkan dan salah. Bagi Resi, apa yang dimiliki orang lain lebih baik daripada yang dimilikinya meskipun barang tersebut lebih bagus. Rasa iri hati Resi menjadikan dia seorang bocah perempuan yang sangat pemurung. Hingga suatu waktu, saat tertidur ia bermimpi bertemu dengan seorang ayah yang sangat lembut. Ayah tersebut bersama anak – anak lain seusia dia yang tengah bermain. Resi melihat semua anak memakai pakaian yang sangat indah dan mainan – mainan yang bagus. Ia sangat ingin melihatnya dan langsung mengingininya. Seorang anak dalam kelompok ini menyadari kehadiran Resi yang sedang mengamati mereka bermain. Anak ini pun menghampiri Resi dan dengan wajah bersinar dan senyum, ia bertanya pada Resi, “Kamu sedang apa di sini? Kami hanya menerima anak – anak suka tersenyum.”
“Aku ingin ikut main dan mau pakaian itu juga.”, kata Resi dengan muka yang tetap cemberut.
“Tidak boleh, kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, balas anak tersebut.
“Buat apa aku tersenyum? Aku hanya mau mainan dan pakaiannya, itu bagus sekali, aku tidak punya.”, jawab Resi.
“Tidak boleh, kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, balas anak tersebut lagi.
“Aku mau baju dan mainannya. Kalian tidak perlu punya itu.”, teriak Resi.
“Mengapa kamu berteriak? Kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, jawab anak ini dengan senyumannya.
“Aku mau mainan itu!”, teriak Resi yang kali ini membuat Sang Ayah melihat dan menghampiri keduanya. Melihat Sang Ayah datang, si anak berlari memelukNya dan pergi berkumpul bersama dengan anak – anak lain meninggalkan Resi. Sang Ayah dengan lembut menghampiri Resi yang penuh kemarahan dan kebencian.
“Mengapa Resi marah?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Loh, om tahu darimana nama Resi. Resi tidak bilang ke anak tadi nama Resi.”, jawab Resi yang mulai bingung.
“Siapa yang tidak kenal dengan Resi, anak gadis pemarah yang tidak pernah tersenyum?”, jawab Sang Ayah dengan lembut memandang Resi.
“Resi, bukan anak pemarah. Resi tidak suka tersenyum.”, kilah Resi setengah berteriak.
“Itu Resi berteriak lagi, hati Resi penuh dengan kemarahan. Apa yang membuat Resi marah?”, tanya Sang Ayah.
“Resi mau mainan dan baju itu! Itu bagus, Resi mau!”, jawab Resi lagi.
“Resi, mau baju dan mainannya?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Iya, mau.”, Resi melunak.
“Ayo, kita lihat di buku ini ya. Kita cari nama Resi ada atau tidak?”, ujar Sang Ayah sembari mengeluarkan sebuah buku indah dengan pita yang terbuat dari emas.
“Pasti ada.” Resi berujar santainya.
“Resi, tidak ada namamu di sini. Maaf Resi, baju dan mainannya berarti tidak ada untuk Resi.”, kata Sang Ayah lembut.
“Loh, kenapa tidak ada? Harusnya nama Resi ada di situ! Sini bukunya.”, Resi berteriak dan mengambil buku tersebut dari Sang Ayah. Sang Ayah pun membiarkan Resi mencari namanya dalam buku cantik tersebut.
Hampir seharian Sang Ayah sabar menunggu Resi mencari namanya hingga Resi mulai kelelahan dan menyerah.
“Mengapa nama Resi tidak ada?” tanya Resi hampir menangis.
Sang Ayah pun memeluk Resi yang menangis. “Resi, pernahkah Resi tahu kalau baju dan maianan itu punya Resi sudah habis diberikan kepada anak – anak lain?”, tanya Sang Ayah lembut Resi pun menghapus air matanya dan bertanya bingung “Mengapa dikasih ke anak – anak lain? Itu kan punya Resi.”
“Resi, ketika Resi mengingini punya anak – anak lain, maka apa yang Resi miliki di sini. Harus diberikan kepada mereka sebagai gantinya agar adil. Setiap senyum yang hilang dari Resi juga diganti dengan mainan dan baju Resi di sini.”, kata Sang Ayah.
Resi mengingat apa yang selama ini yang ia lakukan. Kebiasaannya iri hati dan tidak bersyukur terhadap apa yang sudah diberikan selama ini membuat dia kehilangan yang jauh lebih bagus dan sangat indah. Resi menangis kembali.
“Tapi Resi mau mainan dan baju itu.”
“Resi, bisa punya itu lagi selama Resi mau dengar – dengaran dan belajar bersyukur dengan apa yang Resi miliki.”, ujar Sang Ayah lembut pada Resi yang duduk di pangkuanNya.
“Resi bisa punya itu lagi nanti?”, tanya Resi lebih semangat.
“Iya, Resi. Resi mau tersenyum juga?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Resi mau!”, tawa Resi dengan riang untuk pertama kalinya keluar dengan alami.
“Pakaian dan mainannya akan disimpankan untuk Resi.”, kata Sang Ayah.
“Terima kasih, Om.”, ujar Resi yang sangat bahagia.
“Sama-sama, Resi.”, jawab Sang Ayah dengan senyum.
Resi pun kegirangan dan bahagia sekali karena ia tahu akan segera memiliki baju dan mainan yang sangat indah yang diingininya itu. Ia berjanji untuk mau dengar – dengaran dan bersyukur atas apa yang ia miliki.
“Om siapa ya tapi?”, tanya Resi.

“Saya Tuhan Yesus, Resi.”, jawab lembut Sang Ayah. 

Ana yang Menari

Ana adalah seorang anak petani miskin di Desa Meriah. Ia, anak yang rajin sekali membantu ayah dan ibunya. Setiap pagi, Ana berjalan kaki selama 1 jam menuju SD Terang Pagi. Sekolah ini adalah satu – satunya sekolah terdekat yang dapat Ana jangkau. Ketika sampai di sekolah, ia bergegas menuju ruang kelas 5, tempat ia menuntut ilmu. Meskipun seorang anak petani, Ana selalu mendapatkan nilai yang bagus di kelasnya. Ibu Ida, wali kelasnya selalu bertanya kepada Ana apa yang dapat terus memacu semangatnya belajar di tengah kekurangan yang ia miliki. Ana selalu menjawab dengan riangnya, “Tuhan Yesus selalu baik dengan Ana, Bu. Jadi, Ana mau kasih hasil yang terbaik juga.” Ana selalu jaid anak yang ceria di kelasnya dan dimanapun ia berada. Ketika jam istirahat, rasa lapar pun ia ganti dengan bernyanyi memuji Tuhan. Uangnya tidak cukup jika harus dibelikan jajanan di pagi hari dan makan siang sebelum pelajaran tambahan. Hanya saja terkadang beberapa temannya selalu memberi makanan pada Ana karena terdorong melihat keceriaan Ana di tengah kesulitan. Salah satunya adalah Rena. Rena sangat menyayangi Ana karena kejujuran hati dan kesederhanaan hatinya.

Namun dibalik keceriaan dan semangat, tidak ada yang pernah menyadari bahwa Ana memiliki sakit yang parah. Rasa sakitnya membuat Ana seringkali kehilangan keseimbangan saat bekerja dan berjalan akhir – akhir ini. Ana membutuhkan waktu 2 jam untuk sekali pulang atau pergi ke sekolah karena kakinya yang seringkali lemas tiba – tiba. Ana tetap tersenyum dan bersyukur. Dalam tawa dan senyumnya, Ia percaya bahwa kakinya sedang dikuatkan oleh Tuhan Yesus. Setiap hari, Ana hanya bernyanyi memuji Tuhan Yesus saat ia sedang terjatuh hingga dapat kembali berdiri untuk meneruskan pejalanannya. 

Hingga suatu malam, sebelum tidur, Ana terjatuh saat akan membereskan makan malam bersama ibunya. Sang ibu kaget dan ayahnya langsung mengangkat Ana. Saat itulah, orang tua Ana baru mengetahui jika selama ini Ana sudah mengalami hal yang sama berulang kali. Ana selalu mengatakan bahwa ia butuh waktu lebih lama untuk ke sekolah karena ingin menikmati hari – harinya yang indah. Ayah Ana hanya bisa menangis melihat putri kecilnya karena tidak mampu untuk membawa Ana ke dokter yang jarkanya saja 1 hari perjalanan. Ana dengan senyumannya dalam pelukan ibunya mengajak ayah dan ibunya berdoa.

“Ayah, ibu jangan sedih. ayo temani Ana berdoa kepada Tuhan Yesus.”, kata Ana dengan senyumnya. 
Lalu dengan tangan terlipat dan iman pasrah pada Tuhan Yesus, mereka berdoa bersama. Doa sederhana dari seorang anak kecil yang sangat percaya, sangat indah. “Tuhan Yesus, Ana terjatuh lagi karena kakinya masih belum kuat lagi. Ayah dan ibu Ana sedih ya Tuhan. Kami sekarang sekeluarga berdoa, percaya kalau Tuhan Yesus akan mengangkat Ana dan Ana akan berjalan dengan kuat lagi. Ana rindu menari selalu untuk Tuhan Yesus. Amin.”Ana pun berdiri kembali dan ia tidak pernah terjatuh lagi. Sakitnya hilang dan sembuh sepenuhnya. Seperti dalam doanya, Ana pun menari untuk Tuhan Yesus. Kini ia melayani Tuhan di gerejanya sebagai penari cilik. Kata Ana selalu, “Tuhan Yesus sudah kuatkan kaki Ana untuk menari bagiNya. Ana bahagia dipilih Tuhan.” setiap ditanya oleh teman – teman grup menarinya di gereja.