Tuesday, April 30, 2013

Untold Stories : Kebersamaan dan Romantisme

Beberapa foto yang diri ambil ini berharap dapat menunjukkan beberapa bagian dari keramaian dan keramahan masyarakat di sini. Menurut diri, ada banyak untold story di Akita, Jepang yang menarik untuk diketahui dan dipahami sebagai refleksi. Kebersamaan, kehangatan, rasa kasih lintas batas dan usia. Diri belajar dengan banyak hal yang ditunjukkan pada Festival Musim Semi di Senshu Park. Pengambilan foto dilakukan pada tanggal 29 April 2013 yang menjadi libur nasional di Jepang yang disebut Golden Week. Saat inilah, pada umumnya masyarakat mulai melakukan "hanami". Dalam bahasa Jepang, hanami berarti melihat bunga. Melihat bunga ini bisa dengan menikmatinya secara keseluruhan ataupun per bagian bunga tersebut saja. Semuanya indah. 

Diri kaget saat datang ke Senshu Park. Saat berada di bagian depan taman, diri mengira taman tidak ada orang. Akan tetapi, berjalan melalui tangga ke bagian atas, keramaian yang menjemput diri. Semuanya tampak berbeda sama sekali. Keramaian dengan keluarga - keluarga, remaja dan para lansia mengisi jalan - jalan setapak taman yang dibuat oleh pemerintah setempat. Di bagian atas bukit ini, banyak sekali pepohonan yang beragam, dengan dominasi sakura yang terasa sekali. Ada kebahagiaan. Ada keceriaan yang sangat terasa di sana. Itulah yang mungkin dikatakan kasih yang lintas batas. Di taman ini juga terdapat sebuah lapangan besar yang pada saat diri datang sedang penuh dengan keramaian panggung, penjual - penjual makanan, mereka yang lalu lalang hingga yang berpiknik menikmati hari. Banyak penjual makanan khas Jepang, dari kue, makanan kecil, gula - gula, takoyaki, daging tumis, dan lainnya yang bahkan diri tidak tahu namanya. hehehe. Maklum bahasa Jepang diri masih D. Semua orang sangat menikmati hanami dengan caranya masing - masing di Senshu. 

Banyak sekali jajanan di Senshu Park. Harganya dari 100 yen sampai 300 yen saja per porsinya. 
Diri lupa ini antrian makanan apa, yang jelas mereka menjual daging dan antriannya panjang sekali. PErhatikan, mereka mengantri dengan teratur sekali tanpa garis pembatas.
Suasana piknik masyarakat Akita. Banyak keluarga datang dan makan bersama dengan bekal yang dibawa.
Berjalan mengelilingi Senshu Park adalah hal yang menyenangkan. Diri banyak melihat dan merasakan bagaimana para bangsa Jepang menikmati libur panjangnya. Diri juga melihat bagaimana mereka menciptakan dan menikmati tiap detik kebersamaannya. Kegiatan piknik seperti ini adalah hal yang biasa dilakukan para keluarga Jepang saat menyambut musim semi maupun musim panas. Setidaknya itulah yang diri tahu dari keluarga Bu Yeni yang mengajak diri berpiknik ria bersama di Senshu Park. Diri menikmati hari - hari di sini dengan melihat tiap kebersamaan yang tercipta. Kebersamaan itu tidak hanya dalam keluarga kecil, yaitu ayah, ibu, dan anak; tetapi juga keluarga besar lainnya, seperti kerabat yang datang dari luar kota, kakek nenek dan semuanya. Kebersamaan yang terjalin juga di antara pemuda - pemudi dan sangat terasa. Pada saat libur seperti ini dijadikan ajang kebersamaan antar laboratorium universitas untuk berkumpul dan berbagi, terutama untuk menyambut dan berkenalan dengan mereka yang baru datang ke Akita. Diri juga punya sesi seperti itu, tetapi sayang diri tidak bisa datang saat itu. Melihat saat ini, seolah membantah ungkapan kalau kebersamaan itu hanya milik bangsa diri. Tidak. Semua bangsa ternyata punya caranya sendiri untuk merasakan kebersamaan itu.

Kebersamaan para muda - mudi Akita.

Kakek sedang memasangkan sepatu cucunya. Mereka datang dalam keluarga besar.
Selain kebersamaan, bentuk romantisme itu sangat terasa untuk diri. Di sini diri juga bisa melihat romantisme pasangan dan romantisme persahabatan itu. Mengapa? Banyak pasangan kakek - nenek yang berjalan bersama dan menikmati makanan bersama di Senshu Park. Berjalan bersama, kadang beberapa membawa anjing peliharaannya, menggandeng tangan pasangannya dan berfoto bersama. Romantisme dalam masa tua yang mungkin tidak semua orang bisa mendapatkannya. Itu yang diri lihat dan rasakan kebanggaan karenanya. Diri berdoa semoga diri pun bisa mengalaminya nanti. Romantisme tidak hanya terbatas dengan pasangan hidup, tetapi romantisme persahabatan itu juga terasa sekali. Diri banyak menemui di antara lalu lalang ini bentuk kebersamaan persahabatan yang tidak dimakan oleh usia, baik muda maupun tua. Semua orang berhak untuk punya sahabat dan menghabiskan waktu bersamanya.

Perhatikan romantismenya kakek - nenek ini. 
Kebersamaan keluarga muda yang membuat iri. 
Keluar berjalan dari Senshu Park di bagian selatan, diri diajak melihat bagaimana sisi lain wajah Akita. Di tengah kota, mengalir sebuah sungai dan kecantikannya pun tidak diragukan. Diri menikmati keramaian yang Akita sajikan. Saat libur, seolah semua Akita keluar menjadi di satu tempat keramaian.  Banyak penduduk Akita yang menikmati harinya di sepanjang libur ini. Burung -burung yang berterbangan di sekitar sungai dan lalu lalang mereka yang bergerak dari dan ke Senshu Park makin menambah semarak kota ini. Diri benar - benar menikmati waktu. Para polisi berusia lanjut pun demikian rasanya. Mereka membantu menjaga kelancaran di tengah keramaian manusia Akita. Sungguh waktu yang tidak biasa sebenarnya di Akita. Kota kecil yang biasanya sepi, seolah menjadi penuh dengan manusia - manusia tak biasanya.

Baiklah, pak polisi sedang mengatur lalu lintas. Terlihat muda dari belakang. 
Saat memberi makanan pada merpati di pinggir sungai. 
Burung Camar terbang tinggi, berpatroli ke seluruh bagian sungai. 
Setiap makhluk punya tempat yang sama untuk berlibur. 
Dari perjalanan ringan seperti ini, diri belajar banyak sekali. Kita kadang tidak tahu apa yang sedang diperhadapkan atau dipersiapkan oleh Tuhan untuk kita. Banyak hal yang mungkin dianggap ketinggalan, tetapi ternyata adalah suatu bentuk ketenangan. Beberapa untold stories tentang Akita dalam kebersamaan dan romantismenya. Diri dengan bangga mempersembahkan kota ini pada semuanya. Selamat mencintai Akita!

Edited a bit

Monday, April 29, 2013

Lagi, Mengejar Sakura

Beberapa foto di Pekarangan rumah hari ini. Beginilah mengejar sakura. Sakura ini ketemu di depan apartemen milik keluarga Indonesia lainnya. Sakura bersama pun adalah keindahan, bukan hanya berdiri sendiri. Mari menikmati keindahan. 

Sunday, April 28, 2013

Keluarga baru

Ini anak asuh baru diri. Kenalkan semuanya! Ramai di sini. Ada 12 saudara baru Mido. Kangennya sama Dodo dan Gogo. Mereka dibeli di second street semuanya dalam harga yang paling bersahabat buat diri. Itu kenapa bisa adopsi banyak. Diri sekarang punya anak asuh dari Rilakuma bersaudara, Pooh bersaudara, Baby Disney dan Teddy Bear. Mereka semua senang semua. Setelah berkenalan dengan Mido, kakak tertuanya di sini. Mereka keluarga diri di sini sekarang. Bahagia sekali!

Selamat datang semuanya.

Foto Sakura

Beberapa hasil foto yang diri ambil di taman dekat SMA. Semoga menambah keindahan sakura itu sendiri. Juga memberikan semangat tersendiri. Semoga keindahan itu menyatu dengan mata yang memandang. Sedikit informasi tentang Sakura yang diri potret. Sakura ini namanya adalah Somei Yoshino atau dikenal sebagai Sakura Yoshino. Tipe sakura ini memiliki 5 kelopak, berwarna putih-pink dan biasanya daun muncul belakangan. Selain Sakura Yoshino, diri juga menemukan keberadaan Sakura Yamazakura. Sakura ini hampir mirip dengan Sakura Yoshino. Sakura Yamazakura tumbuh bersamaan dengan daunnya dan berwarna lebih pink dibandingkan saudaranya. Jadi, bisa membedakannya kan? Ohiah, kedua sakura ini sangat umum tumbuh dan biasanya tumbuh liar di sekitar tetamanan. 


Masih banyak keindahan Sakura yang akan diri dapatkan. Sakura itu ternyata banyak jenisnya dan memiliki karakter yang unik. Seperti kita manusia yang banyak sekali karakter dan perbedaannya.

Akita : Foto

Beberapa foto yang indah dan diri rasa layak buat dibagi. Senangnya memotret dan berbagi. Esai bisa diterjemahkan masing - masing dan merasakan sendiri bahagianya dalam setiap foto.

Bus di Akita

Bagian ini bercerita tentang bagaimana sistem bus di Akita. Diri merasakan bagaimana berbedanya sistem bus di Akita dan Potsdam. Masih sedikit informasi yang bisa diri bagikan dulu di bagian ini. Pada umumnya, bus di sini sama dengan bus lainnya di kota - kota yang sistem busnya sudah lebih baik. Bus di Akita punya stasiun pusat yang dekat dengan stasiun kereta. Halte busnya hanya ditandai dengan keberadaan tanda bus dan jadwal busnya yang ditempel. Jadwal bus yang ada berbeda antara hari biasa (Senin-Jumat) dan hari libur (Sabtu-Minggu). Bus di sini tepat waktu sekali dan sang supir selalu mencoba memenuhi ketepatan waktunya. Tidak semua halte bus akan dilalui, terutama untuk halte bus yang terletak di pinggir jalan dan ditandai dengan tanda saja. Berbeda dengan halte utama, dimana bus pasti berhenti. Biasanya halte ini berada di akhir jalur bus. Kadang, beberapa halte tidak distop karena tidak ada calon penumpang ataupun penumpang yang menunjukkan tanda - tanda akan stop, serta alasan mengejar ketepatan waktu. Jika stasiun, tempat kita akan berhenti menunjukkan tanda tidak dihentikan, maka tekan saja belnya langsung sebelum sampai ke halte tujuan.
Tanda berwarna biru, kuning, dan merah adalah  tanda halte busnya. 
Ini jadwal bus yang lewat di halte ini. Ada nomor bus yang lewat. Kolom sebelah kanan adalah jadwal hari Senin-Jumat dan kolom sebelah kiri adalah jadwal Sabtu-Minggu. Kolom waktu juga dibagi menjadi kolom kedatangan bus dan berangkatnya bus. 
Ini bus yang melalui halte. Bus nomor 373. 
Tekan belnya yang ada dekat dengan kacanya. 
Halte terakhir bus 373 adalah rumah sakit umum yang digunakan mahasiswa  kedokteran di Akita University praktek. 
Ketika naik bus, ambil langsung tiketnya yang keluar secara otomatis. Tiket ini akan menjadi tanda dan memiliki nomor. Nomor yang ada akan membantu kita untuk tahu berapa harga yang harus dibayar. Harga tersebut berada di layar utama di bagian depan bus. Harga ini akan terus bergerak seiring dengan jarak tempuh yang dijalani. Misalnya saat pertama kali naik, nomor tertanda adalah 6, maka saat turun, perhatikan di layar harga yang harus dibayar pada bagian nomor 6. Biaya dasarnya untuk bus dalam kota ini adalah 160 yen. Terus bergerak sesuai dengan jarak tempuh.  Jika tidak salah, untuk sekali jalan pada jarak tempuh stasiun awal ke stasiun akhir, biayanya adalah 510 yen. Mahal? Mungkin bisa dikatakan demikian. Itu sebabnya banyak yang menggunakan sepeda atau kendaraan lainnya.

Layar yang menunjukkan pergerakan harga tiket bus sesuai halte. Pembayaran harus dilakukan sesuai dengan  nomor pada tiket. 
Pembayaran busnya seperti apa? Pembayaran bus harus dilakukan dengan uang pas dan menggunakan koin. Jika kita tidak memiliki uang receh dalam jumlah yang dibutuhkan, kita bisa langsung menukarkannya pada mesin penukar uang. Mesin penukar uang hanya menerima uang kertas yang bisa ditukarkan langsung. Ohiah, mesin penukar ini juga berbentuk satu dengan mesin penerima pembayarannya. Pembayaran ini juga yang terkadang membuat bus jadi lama bergeraknya sehingga terkadang beberapa halte yang tidak ada penumpangnya dilewati saja karena mengejar ketepatan waktu di halte terakhirr ataupun halte utama. Pembayaran untuk anak - anak dan para lansia adalah gratis. Jadi, para muda yang menolong para orangtua. Itu juga yang mungkin menjadikan adanya pembayaran tahunan untuk para pensiun yang diwajibkan oleh kota.

Mesin penukar uang dan sekaligus pembayarannya. Plastik bagian atas adalah bagian tempat  membayar dan  bagian hitam itu adalah bagian untuk menukarkan uang. 
Ohiya, bus di sini, ukurannya relatif hampir sama dengan bus yang ada di Potsdam, hanya relatif lebih kecil. Pak supirnya juga menggunakan jas, sarung tangan dan topi dalam mengendarainya. Mereka sopan dan baik sekali dalam menjalankan tugasnya. Hanya saja kurang bisa berbahasa Inggris. Tapi itu tidak menjadi masalah, merasakan sensasi keliling dengan bus juga menyenangkan di Akita, apalagi saat hujan dan angin yang luar biasa kencang. Akita, kota yang relatif kecil, jadi harap wajar sekali jika jarang menemukan bus di bagian - bagian halte tertentu. Selamat berkunjung ke Akita. Diri tunggu!

Minggu III : Mengejar Sakura

Baiklah, dengan hembusan angin yang sangat kencang hari ini dan dinginnya yang sangat berbagi untuk tubuh, diri pergi ke atas bukit di seberang dormitory. Dormitory diri memang seberangan dengan perbukitan dan diri senang sekali karenanya.
Diri akan berusaha cari namanya. Tunggu ya. Saat ini sebagian sakura masih berkuncup, meskipun lainnya sudah bermekaran. Kata teman di sini, sakuranya kurang oke tahun ini karena terlambat mekar. Definisi terlambat mekar adalah ketika bunga belum semua bermekaran, bagian daun sudah muncul. Tahapan bermekaran sakura adalah seluruh bunga dulu, berguguranlah mereka dan berganti dengan daun. Sakura sangat butuh banyak cahaya matahari saat akan bermekaran, tetapi tidak butuh banyak air. Berhubung seminggu ini, si kuncup sudah dihujani terus, mungkin itu yang membuat para sakura tidak bisa hadir bersama - sama seperti biasa. Tapi, tenang saja, kecantikannya tetap sama kok. 
Cherry blossom!
Beberapa keindahan yang lekat dan dekat di sekitar kita. Butuh sedikit kepekaan dan mau menghargai apapun bentuknya mereka. Mereka pun sangat senang karena bisa berbagi keindahan itu pada yang melihatnya dan menikmatinya. 
Selamat datang Sakura!

Tuesday, April 23, 2013

Minggu I : "Masih tidak percaya!"

Baiklah, diri kembali bercerita. Di sela waktu kuliah yang sedang kosong dan pekerjaan lab yang belum ada, ada baiknya dimanfaatkan diri untuk menuliskan beberapa pembelajaran yang diri dapat selama 2 minggu di sini. Minggu yang sekarang dijalani adalah minggu kedua di Akita University dan Akita City juga. Banyak hal yang sebenarnya diri pelajari dan sangat membuat diri jadi semakin giat belajar, juga semakin giat ingin tidurnya. Keinginan untuk tidur di sini sama besar atau berbanding lurus dengan keinginan belajar. Mengapa? Lingkungan Akita sangat cocok untuk sekolah maupun beristirahat ditambah dengan suhu yang oke punya, selalu di bawah 10 derajat celcius tiap harinya. Kalau di bagian ini tidak percaya, silahkan cek sendiri di berbagai website yang menyediakan jasa informasi suhu yang paling tidak mendekati kenyataan seperti http://www.weathercity.com/jp/akita/.Suhu tertinggi dan paling hangat yang diri rasakan selama hampir 2 minggu di sini adalah 13 derajat celcius plus anginnya yang dingin semerbak menusuk tulang.

Baiklah, cuaca bukan menjadi halangan seharusnya. Bunga Sakura dan kawan - kawan saja bisa siap bermekaran, mengapa diri tidak bisa menghadapi angin sedingin ini seperti mereka. Benar tidak? Tidak juga sih, tiap hari diri sejak pertama kali datang, diri sudah harus bisa memperkirakan setiap hari beberapa helai pakaian yang harus dipakai. Ternyata dugaan diri benar, hari kedua, percobaan dengan 2 lapis saja, yaitu longjhon dan kaos plus jaket biasa. TEMBUS! Dinginnya tembus. Pulang pada malam hari menjadi momok hari itu saat pulang, tangan full menjadi beku rasanya. Percobaan hari ketiga, memakai longjohn, baju, sweather, dan jaket. luar biasa, TEMBUS LAGI! Apa - apaan awalnya diri pikir. Diri sempat menyerah dengan kondisi ini, ditambah dengan ingus yang terus saja mengalir deras sejak pertama kali kena angin Akita di hari pertama kedatangan. Baiklah, perjalanan melanjutkan pada percobaan selanjutnya. Percobaan terakhir ini seolah menjadi tambatan akhir diri, yaitu penggunaan longjohn wol, sweater hitam full neck, baju formal di luar, jaket wol khusus, celana longjohn tebal dan celana resmi, sarung tangan, masker dan kupluk. Formasi ini adalah formasi pendukung terbaik hari - hari diri saat akan ke kampus. Saat datang dan pergi menjadi sangat berat, baik jalan kaki maupun naik sepeda, bukan karena capeknya, tapi karena dinginnya. 

Sudah dua minggu, diri tidak merasakan apa namanya keringat, tetapi membangun persahabatan dengan toilet karena sehari bisa sampai 10x ke toilet karena dingin. Ruangan diri memiliki 2 penghangat, yaitu penghangat konvensional dan AC yang bisa hangat juga sistemnya. Dengan dingin seperti ini, diri tidak mau kalah! Tidak mau! Bunga aja bisa melawannya dan membawa cerianya nanti kepada diri. Tiap hari diri berusaha menyapa mereka. Semilir angin yang menerpa pohon - pohon cemara dan pinus yang rapat di kampus ini sangat luar biasa. Nyanyian merdu hutan itu nyata di sini. Lingkungan kampus yang luar biasa buat diri. Menyerah ??? Rasanya harus berpikir ratusan kali. Mengapa makhluk lain yang katanya tidak lebih sempurna dari manusia pun bisa bertahan dan memberikan keceriaan ? Bagaimana dengan diri?

Bagaimana dengan kita? Masihkah tidak percaya kalau kita bisa? Masihkah harus mengeluh? 

Sunday, April 21, 2013

Sepeda baru!

Cerita hari ini adalah salah satu bukti kemurahan hati Tuhan. Di tengah ketidakpastian yang seringkali hati diri buat, diri mendapatkan berkat baru yang luar biasa. Diri dapat membeli sebuah sepeda baru. Mengapa sepeda? Sepeda menjadi satu - satunya transportasi yang ramah mahasiswa di sini. Masyarakat di sini, termasuk mahasiswa sangat memanfaatkan sepeda sebagai bantuan untuk berkegiatan sehari - hari. Diri tinggal di asrama dan cukup jauh jika harus berjalan untuk mencari makanan murah di supermarket lainnya. 

Sepeda di Akita, Jepang harus diregistrasi saat pembeliannya. Sepeda diri diberikan plat nomor yang menjadi identitas sepeda diri. Identitas seperti ini sangat penting untuk setiap sepeda. Sepeda yang tidak teregistrasi akan menjadi masalah loh. Diri membeli sepeda berharga 11.480 yen di toko berbahasa Jepang yang tidak dituliskan Romajinya. Pilihan jatuh ke sepeda ini karena harga yang masih paling murah dan cukup tinggi untuk menghadapi badan diri yang lumayan besar sebelum ditambah dengan beberapa pakaian yang tebal. Saat membeli, diri mengisi beberapa formulir identitas-keterangan dan kartu garansinya. Di sini sangat perlu kehati-katian untuk menjaga semua dokumennya setelahnya. Ibarat ini merupakan BPKP mobil. Sepeda yang dijual sudah lengkap dengan kunci, keranjang dan lampu. Sepeda berwarna hitam dengan merk BR (kalau tidak salah ingat). Sepeda menjadi sangat penting di Akita karena semua jarak tempuh akan menjadi lebih ringan dan biaya lebih murah. Transportasi seperti bus cukup mahal dan tidak semua line jalan yang mau dicapai dilalui bus. 


Sepeda diri namanya MIMI. Diri letakkan Mimi di depan asrama. Dia harus bermalam di bawah peneduh. Semoga dia baik - baik saja besok. Diri akan menjumpai besok dan memberikan identitas tambahan supaya Mimi terlihat cantik. Dia akan menjadi teman diri selama di Jepang untuk 3 tahun ke depan melawan dingin dan menemani penelitian. Kita bisa mimi! Jadi teman baik ya. 

Saturday, April 20, 2013

Wishes 7: Sekolah S3

Kalau dengar kata S3 pasti berlebihan yang akan muncul di otak. Paling tidak, hal pertama yang muncul adalah menjadi dosen. Terkadang mau jadi peneliti juga jadi opsi yang keluar saat mendengarkannya. Jawaban lainnya adalah mau jadi apa nanti setelah lulus. Tapi, siapa bilang seperti itu semuanya? Tidak ada yang menjamin masa depan seseorang selain dirinya dan Tuhan pasti. 

Kalau hari ini seminar, kata Profesor Mitsuo (semoga spelling namanya benar), the past and present is the key to future. Jadi, apa yang sekarang kita jalani akan jadi masa depan kita apapun bentuknya kan? Jangan berpikiran semuanya harus berakhir dengan kebanyakan apa yang selama ini menjadi opini publik. Diri memang belum menjalani ke depannya, tetapi setidaknya inilah yang diri bagikan berdasarkan cerita dan pengalaman bertemu banyak orang - orang hebat tak terduga. 

Cerita seringkali dimulai dengan ketidaktahuan memilih atau terhempas arus publik. Percaya atau tidak, terkadang pergaulan akan membawa kita dalam suatu pilihan yang tidak jauh berbeda. Seringkali akibatnya kita mendengarkan bahwa lingkunganmu adalah dirimu, meskipun TIDAK SELAMANYA opini seperti ini benar. Perjalanan untuk memilih juga diri sebut tidaklah semudah menentukan pakaian pesta. Diri belajar melalui banyak proses dan pengalaman pahit manis. Semuanya berjalan karena Tuhan mengizinkannya untuk mendewasakannya atas diri. 

Langsung, cerita sekolah S3 ini berawal dari pertemuan diri dengan calon professor (sekarang sudah professor diri loh. Puji Tuhan!). Pertolongan Tuhan begitu baik dan membukakan jalan yang luar biasa. Seminggu setelah berkenalan, diri dikirimi formulir sekolah. Diri tidak tahu apakah masih mau melanjutkan sekolah setelah selesai S2 yang rencananya waktu itu akan selesai Januari 2013 lalu. Pada akhirnya diri mencoba menolak tawaran sekolah ini dengan berbagai alasan. Saat itu, percobaan penolakan pertama adalah dengan mengatakan diri tidak mempunyai uang untuk pembayaran uang pendaftaran 30.000 yen; umur diri baru 21 tahun saat pendaftaran, sedangkan minimal umur untuk pendaftaran adalah 24 tahun; bidang penelitian diri adalah geotermal. Ketiga alasan ini menjadi semangat diri berasa akan ditolak seperti yang diri doakan pada Tuhan. Akan tetapi, diri diberikan rencana lain oleh Tuhan. Sekali lagi, dalam doa selalu ada jawaban yang pasti di dalam waktu Tuhan. Jangan pernah mengikarinya. Demikian, jawaban email yang datang adalah profesor memberikan kata "TIDAK APA-APA" dan "SAYA AKAN MEMBANTU KAMU". Jawaban yang tidak masuk akal awalnya, tapi itulah rencana Tuhan. Permasalahan keuangan ditanggung oleh profesor. Permasalahan umur pun diurusi oleh profesor sehingga pihak universitas tidak menjadi masalah untuk menerima diri. Meskipun hingga sekarang, diri masih seringkali dipertanyakan masalah umurnya saat mengurusi permasalahan administrasi (*update kondisi loh).

Dengan jawaban doa yang kata Tuhan, diri bergerak lagi kepada tahapan selanjutnya. Diri mengirimkan seluruh berkas dan kebutuhan tambahan dokumen ijazah sejak SD sampai S1 dikirimkan ke Akita, Jepang. Seolah semuanya bak sungai yang jernih, Tuhan melalui pihak universitas mengirimkan letter of acceptance. Jawaban doa seringkali tidak terduga dan terkadang tidak sesuai keinginan hati diri. Diri merasakan Tuhan sedang menuntun jalan diri. Sembari menyelesaikan penelitian S2, diri bergerak dan tetap berdoa pada Tuhan seperti apa rencanaNya. Diri seperti tidak tahu mengapa dan bagaimana. Dalam otak diri, S3 itu tidak semudah yang dipikirkan, diri harus jauh fisik dari lelakiku dan keluarga, belum lagi diri ingin sekali menikah, diri yang masih punya bekas sakit tulang belakang, diri yang blabalablaa.. Banyak sekali kekurangan yang terus saja diri jadikan alasan untuk tidak memikirkan S3. Akan  tetapi, sekali lagi doa itu adalah ketenangan.

Fase kedua, selepas menerima letter of acceptance dan beberapa dokumen lainnya, diri masih bersikap "ngeyel", berusaha tidak memutuskan kontak dengan profesor dengan alasan paling tidak masuk akal, yaitu mencari lapangan penelitian. Selain itu, berusaha bahwa profesor akan lupa tentang itu juga. hehehe. Selama itu juga, diri ditanya beberapa kali oleh lelakiku bagaimana ke depannya, mau seperti apa. Masa depan dan pilihan seolah gelap dan tidak ada jawaban. Diri sangat bingung. Kembali, doa yang menentukan. Setelah 2 bulan berpikir, sekitar Januari, diri menemukan alasan lain lagi untuk tidak sekolah S3. Email di pagi hari itu memberikan informasi tentang beasiswa yang sebelumnya diri kira ada dan sudah tersedia. Cara pikir yang benar - benar sedang tidak dalam kondisi baik. Diri diberitahu kalau beasiswa belum ada dan harus mendaftar terlebih dahulu. Dengan rasa bahagia dan mungkin ada sedihnya, diri merasa punya alasan. Diri mengatakan pada profesor dengan semangat bahwa diri tidak bisa datang karena tidak ada dana untuk sekolah. Tidak ada kepastian untuk beasiswa yang mungkin diri terima. Di saat itu, diri pun masih dalam kondisi bingung, antara sekolah atau tidak. Tidak semudah yang diri bayangkan untuk menghadapi pilihan. Sekali lagi, diri  diajari oleh lelakiku untuk menyerahkannya pada jawaban Tuhan. Support lelakiku sangat besar dan dia yang mendorong iman diri untuk terus bertumbuh. Diri selalu diingatkan untuk mengucapkan syukur dan meminta yang tepat pada Tuhan oleh lelakiku. Seperti yang selalu kami yakini bahwa doa adalah kekuatan kami. Tuhan menjawab dengan cara yang  berbeda dengan apa yang diri harapkan. Profesor mengatakan akan menjadi "sayang sekali kalau kamu tidak melanjutkan sekolah, apakah perlu saya kirimkan uang untukmu?". Jawaban yang luar biasa.

Diri shock dan tidak lagi tahu apa yang harus dikatakan. Diri bercerita pada lelakiku dan mendiskusikannya. Tuhan menjawab doa diri tentang apa yang harus diri lakukan. Sejujurnya, seringkali diri berdoa pada Tuhan dengan langsung meminta "ya Tuhan jadilah khendakMu, bukan khendakku". Tuhan mempersiapkan segala sesuatunya. Demikian semua berjalan, hingga saat semuanya dipersiapkan. Tuhan menyiapkan segala sesuatunya dari mulai tiket, kebutuhan menghadapi cuaca Akita, biaya hidup sementara dan semuanya. Seolah sungai, Tuhan mempersiapkannya. Tidak lupa juga Tuhan mempersiapkan penyelesaian penelitian S2 tepat pada waktuNya. Puji Tuhan, sekarang diri sudah berada di Akita. 

Fase terakhir dari fase paling awal ini adalah saat diri datang. Diri dipersiapkan untuk mengikuti tes beasiswa. Program yang diri ikuti pun adalah Leading Program Project. Diri tidak menyangka bahwa hanya diri yang menjadi satu - satunya kandidat doktor dan paling muda. Tuhan membiarkan diri mengikuti tiap langkahNya. JawabanNya yang tidak terduga adalah sesuatu yang terkadang dan memang harus terus diri pelajari. Selama seminggu (langsung setelah tiba), diri mempersiapkan tes beasiswa dengan harap - harap cemas. Tes beasiswa terdiri dari tes tertulis dan tes presentasi atau interview. Selama waktu itu juga, diri mempersiapkan kebutuhan diri tinggal di Jepang, dari urusan legal sampai urusan perut. Puji Tuhan, diri dipersiapkan secara mental dan pengetahuan dengan baik. Diri mempresentasikan rencana penelitian dan mengerjakan tes tertulisnya semaksimal yang diri bisa. Di akhir tes beasiswa, salah seorang Profesor berkata, "kamu jauh dari keluarga kan? Lakukan yang terbaik dan anggaplah kami sebagai keluargamu." Penutup tes yang begitu luar biasa. Kalimat ini setidaknya memberikan kesejukan tersendiri dan rasa terima kasih tersendiri meskipun jika nanti tidak diterima. Namun, jawaban yang keluar pada Jumat mengatakan diri diterima! Diri dianggap sebagai qualified student untuk menerima beasiswa. Betapa bahagianya diri. Betapa bersyukurnya diri. Puji Tuhan! Tuhan benar - benar menunjukkan jalan bahwa diri sekolah S3. Doa adalah jawaban yang terbaik dari semuanya. Dia menuntun kepada jalanNya untuk diri. 

Applicant 3.
Akhirnya, diri resmi menjadi MAHASISWA DOKTOR dengan beasiswa LEADING PROGRAM, bidang economic geology di bawah supervisor Prof AKIRA IMAI.

Rencana Tuhan itu indah dengan jalanNya yang tidak terduga. Doa adalah jawabanNya. Tuhan adalah pegangan kita. Pengharapan diri tetap berada pada Tuhan. Sekali lagi, masa depan itu ada di tangan Tuhan. Sekarang bagian diri adalah mengerjakan sebaik - baiknya apa yang telah Tuhan berikan. Jangan pernah takut ke depannya apapun jawabanNya nanti. Setelah S3, diri mau apa? Kita lihat nanti rencana Tuhan. Diri bahagia belajar. Diri bahagia bersama lelakiku sampai kapanpun yang banyak mengajarkan diri bagian kehidupan yang tidak pernah dilihat oleh orang lain proses dan tujuan baiknya, tetapi sebenarnya hasilnya sekarang bisa dilihat pada diri. Diri yakin Tuhan bekerja juga melalui dia dalam menghadapi ini. Seperti apa kata diri, lingkunganmu dapat membentuk seperti apa dirimu. 

Wishes 6: Graduation

It is sad story about mine. Made a big scar to me but it should be shared. Hurt is not bigger than happiness. 
Punya kesempatan wisuda bersama teman - teman adalah wishes yang tertunda tahun lalu. Tahun ini dengan segala praharanya, Tuhan berikan diri berwisuda ria bersama dengan teman - teman seangkatan meskipun saat ini berbeda lengan wisudanya. Diri wisuda S2 bersama kebanyakan teman wisuda S1. Wisuda juga menjadi seolah perpisahan dengan lainnya. Wisuda ini penuh drama dan cukup mengganggu jika diingat bagian sakitnya. Akan tetapi, diri berbahagia di wisuda ini dan itu cukup menjadi alasan kuat untuk membaginya bersama. Beberapa cuplikan foto bersama beberapa kawan baik diri. I missed this time. 
Janji Ka Lasma yang terpenuhi pada diri. Lulus bersama. 
Best friend never leave you alone. 
Aji-diri, kita wisuda bersama dengan lengan berbeda. I miss my time in caving.
We are beautiful right? We do!
We are sisters.
Every moments felt so special. Time was hard to me, but so meaningful for other things about FRIENDSHIP! as best gift in graduation day.