Friday, December 11, 2015

Leading Program Akita University (3)

Baiklah, sepertinya ini postingan terakhir tentang LP-AU. Selanjutnya diri ingin berbagi tentang apa itu rotasi lab dan summer camp, serta simposium yang juga jadi bagian dari program LP-AU. Rotasi Lab adalah kewajiban setiap mahasiswa yang berada di bawah LP-AU. Setiap mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti rotasi lab dari lab mereka bernaung dan setidaknya 3 lab lain yang berbeda dari lab mereka. Sebagai contoh, diri harus mengikuti rotasi lab economic geology, tempat diri bernaung dan diri memilih mengikuti rotasi lab dari lab center-envrionment, lab pertology-volcanology, lab mineral processing dan lab petroleum geology. Tujuan dari rotasi lab ini adalah pengenalan lab berbeda yang ada di bawah keilmuan resource science melalui kegiatan laboratorium langsung yang harus diikuti oleh mahasiswa dalam kurun waktu tertentu. Kurikulum singkat untuk tiap laboratorium diatur oleh masing - masing professor penanggung jawab dan jadwal untuk rotasi labnya. Satu laboratorium dan lainnya memiliki model belajar berbeda karena tujuan spesifik berbeda yang didukung dengan peralatan dan waktu pengerjaan yang berbeda pula. 

Rotasi lab economic geology di osarizawa mine.
Sebagai contoh, saat mengerjakan rotasi lab untuk economic geology, seluruh peserta rotasi lab harus mengikuti kegiatan lapangan selama 6 hari di Akita dengan mengunjungi beberapa titik manifestasi geotermal dan juga bekas deposit kuroko. Tujuan rotasi laboratorium ini untuk mengenalkan geologi aktivitas hidrotermal yang dapat diamati melalui air panas, silica sinter dan lainnya; juga mempelajari geologi deposit kuroko yang banyak terdapat di cekungan Hokuroku, Akita. Kegiatan lapangan juga akan didukung dengan kegiatan laboratorium melalui analisis sulfur isotope yang dilakukan dengan sampel dari lapangan. Setiap mahasiswa harus melakukan prosedur persiapan untuk sulfur isotope yang membutuhkan waktu sekitar 7 hari dan 1 hari untuk pengukurannya. Di akhir rotasi lab, mahasiswa memiliki ujian masing - masing yang ditentukan oleh professor atau asisten professor pendamping, seperti tes esai, laporan tertulis ataupun presentasi hasil kegiatan laboratorium yang dilakukan. Kegiatan presentasi di akhir rotasi lab misalnya yang diri pernah lakukan di kelas petroleum geology. Peserta rotasi laboratorium harus mempresentasikan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap sampel yang diambil sendiri dari kegiatan lapangan di Pantai Anden, Akita, dikaitkan dengan kondisi geologi dan kemungkinan biostratigrafinya. Mahasiswa tidak dapat mengatakan saya bukan dari lab ini atau berbeda lab, maka saya tidak bisa; tidak! Semua peserta harus mencoba yang terbaik dan menjadi catatan tambahan tersendiri untuk para mahasiswa peserta sehingga harus membaca paper ilmiah tambahan di bidang yang berbeda dengan bidang risetnya meskipun pasti ada tantangan.

Masih rangkaian rotasi lab economic geology.
Dengan rotasi lab, mahasiswa belajar untuk mengenal apa yang menjadi pekerjaan tiap bidang di bawah keilmuan resource science dan tahu bagaimana aplikasinya. Mahasiswa diajak berpikir secara luas dan berkaitan satu sama lain agar dapat terbiasa melihat segala sesuatu sebagai suatu kesatuan yang berdampak. Bidang resource science adalah bagain dari mining chain yang terkait satu sama lain dalam industri internasional. Seorang pemimpin yang baik pun harus mampu melihat berbagai sisi dan menganalisa dari berbagai pendekatan untuk mendapatkan kesimpulan dan menyusunnya dalam bentuk kebijakan yang bermanfaat dan bijaksana secara lokal maupun nasional kemudian hari. 

Rotasi lab mineral processing.
Selain rotasi lab, mahasiswa LP-AU juga diberikan kesempatan untuk mengikuti summer camp yang diatur oleh Leading Program dengan bekerjasama dengan pihak ketiga, baik universitas maupun industri di negara yang dituju. Sejak berdiri dari tahun 2012, LP-AU sudah melakukan tiga kali summer camp di Papua Nugini (2012), Mongolia (2013) dan Jerman (2014). Tahun selanjutnya akan dirancangkan di Afrika Selatan (Februari 2016). Tujuan summer camp sendiri memberikan pengenalan terhadap geologi, mineral processing, teknik daur ulang, tambang dan lainnya di bawah resource science melalui kegiatan kunjungan ke industri dan universitas di negara tersebut.

Kesempatan bertemu dan diskusi dengan walikota Freiberg!
Di kesempatan yang sama, mahasiswa LP-AU juga berlatih komunikasi ilmiah dengan melakukan presentasi riset yang tengah dilakukan di Akita University dalam sebuah konferensi kerjasama dengan universitas penerima di negara tersebut. Selain mahasiswa LP, presentasi juga dilakukan oleh mahasiswa dari pihak universitas yang menerima, sehingga terjadi forum komunikasi ilmiah antara kedua belah pihak. Hal ini sangat baik untuk mendukung kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dengan mahasiswa lain dan akademisi lain dalam sebuah forum khusus di sela kuliah lapangan. Seluruh pembiayaan summer camp diberikan oleh LP untuk setiap peserta yang berpartisipasi. Jadwal kegiatan yang diberikan biasanya dalam summer camp sangat ketat setiap harinya selama 7 hari kegiatan yang dirancangkan tiap tahunnya. 

Presentasi dalam forum ilmiah di summer camp.
Bekas tambang pegmatite di Gorkhi National Park, Mongolia.
LP-AU juga memiliki agenda tahunan untuk simposium dengan berbagai isu berbeda yang diadakan setiap bulan Februari, Oktober dan November. Simposium diadakan dalam skala nasional dan internasional dengan ditambah adanya kegiatan field trip untuk peserta dan pembicara. Simposium skala internasional biasanya dilakukan pada bulan Oktober dengan mengangkat tema khusus, seperti REE atau PGE; dan mengundang pihak pembicara dari ahlinya di universitas, industri dan pemerintahan. Di ajang inilah, para peserta LP-AU harus mengikutinya dengan mempersiapkan presentasi poster terkait riset yang sedang dilakukan di bawah program ini. Di sisi lain, simposium yang dilakukan pada bulan Februari dan November lebih kepada skala nasional dan biasanya akan diberikan dalam bahasa Jepang. Mahasiswa di bawah LP-AU umumnya tidak diwajibkan untuk berpartisipasi karena keterbatasan pemahaman terhadap penggunaan bahasa. Sebagai catatan, hampir seluruh mahasiswa asing di bawah LP-AU tidak memiliki kemampuan berbahasa Jepang yang cukup untuk komunikasi ilmiah atau proses belajar mengajar. Hal ini juga ditunjang dengan kelas yang diberikan seluruhnya dalam bahasa inggris. Pemahaman bahasa Jepang mahasiswa asing di LP-AU cenderung hanya terbatas pada komunikasi sehari - hari. Namun, ini tidak menjadi persoalan.



Summer camp, kunjungan ke Solar World.
LP-AU memberikan kesempatan dan tantangan untuk belajar menjadi seorang pemimpin di resource science untuk masa depan. Dalam mengikuti LP-AU, ada beberapa kemungkinan beasiswa yang dapat diberikan, misal dari MEXT ataupun langsung dari Leading Program tersebut dalam bentuk grant. Program kurikulum yang diberikan oleh LP-AU adalah salah satu contoh upaya pendidikan yang terintegrasi untuk menciptakan SDM berkualitas dan memiliki kepimpinan yang bertanggung jawab, jujur, disiplin dan percaya diri. Leading Program menjadi suatu bentuk investasi jangka panjang yang dilakukan oleh masyarakat Jepang (masyarakat dan industri) melalui pemerintahnya untuk kemajuan bangsa dan hubungan internasional Jepang di masa depan. Suatu langkah berani yang diambil pemerintahnya untuk membuat sebuah perubahan demi kemajuan bangsa. 

Testimoni tentang LP-AU:
Menurut pangalaman diri selama di sini, LP-AU merupakan program yang tidak mudah tetapi begitu menyenangkan dan baik hati dalam mendidik diri. Betapa tidak, diri "dididik" keras dalam berpikir, bertindak, mengatur dan mempersiapkan segala sesuatunya (riset, kelas dan lainnya) agar dapat terselesaikan dalam waktu 3 tahun dalam mencapai pemahaman di bidang resource science secara terintegrasi. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan semua karena kemurahan Tuhan Yesus. Diri merasa sangat terberkati untuk dapat pengalaman luar biasa di Leading Program Akita University. 

Leading Program Akita University (2)

Leading Program Akita University (LP-AU) merupakan program yang relatif baru dan memberikan banyak kesempatan bagi setiap mahasiswa di bawahnya. Mengapa?

 Forum di Shinjuku, Tokyo dengan seluruh mahasiswa LP di Jepang.
LP-AU menyediakan model pendidikan aktif yang berbasis pada resource science. Kegiatan belajar terdiri dari riset, rotasi lab, student meeting, special lecture dan juga summer camp. Selain itu, LP-AU juga memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan, konferensi dan field trip (untuk mereka yang sekolah di bidang earth science, terutama). LP-AU juga memberikan kesempatan untuk mendapatkan tambahan funding untuk riset yang diberikan melalui seleksi kepada setiap mahasiswa yang mengajukan dengan besarannya hingga 500,000 yen per tahun.

Riset adalah keharusan untuk setiap pesertas didik, baik yang mendaftar lewat master (S2) maupun langsung dari doktor (S3). Pengerjaan riset dilakukan secara mandiri dan disusun secara teliti berdasarkan kebaharuan yang ingin dicapai. Peserta didik mencari tahu atau memiliki ide tertentu di bidangnya untuk didiskusikan dengan pembimbing masing - masing dan dieksekusi dalam suatu penelitian. Tahap riset seorang master (S2) dan doktor (S3) sendiri pun berbeda. Menurut pengalaman diri, pada tingkat S2, mahasiswa dituntut untuk mengenal lebih dalam ilmu yang sedang ditempuh dan riset yang dilakukan masih lebih bersifat umum dibandingkan dengan S3. Mahasiswa lebih banyak mendapatkan bimbingan dan arahan yang sifatnya lebih pada mengarahkan untuk melakukan sesuatu dan mendalami apa yang menjadi riset di bidangnya dengan sistem mengaplikasikan.

Pekerjaan riset diri saat olah data.
Di sisi lain, seorang S3 dihadapkan pada kemampuan untuk menganalisa dan membawa kebaharuan dalam hasil riset yang dilakukan. Tentu saja setiap bidang keilmuan akan berbeda dan tidak bisa disamakan. Mereka yang sedang melakukan S3 di bidang ekonomi tidak bisa disamakan dengan mereka yang mengerjakan di bidang geologi misalnya. Bidang keilmuan akan mempengaruhi bagaimana mahasiswa menganalisa kondisi permasalahan yang dihadapkan dan mencari jawaban, serta menjadikannya solusi yang aplikatif di bidangnya masing - masing. Dalam hal ini, bidang keilmuan yang ditempuh diharapkan sudah dipahami secara umum dan mendalam, sehingga dalam pengerjaan risetnya, mahasiswa melakukan pengembangan yang lebih baik untuk masalah yang diangkat. Apabila ditinjau dari sisi mahasiswa dan pembimbing, seorang mahasiswa S3 lebih banyak dihadapkan dalam proses diskusi terhadap apa yang menjadi idenya, menyusun ide itu menjadi suatu prosedur, eksekusi dan aplikasinya langsung. Jadi, menurut diri, pembimbing lebih menjadi kolega dalam berdiskusi untuk ide - ide yang sedang dikerjakan. Hal ini perlu dilakukan pembimbing untuk melatih calon lulusannya karena seorang doktor harus mampu memperhatikan argumentasinya berdasarkan apa yang dikerjakan sesuai data, fakta dan dapat diuji kebenarannya.

Oleh karena itu, setiap mahasiswa LP-AU juga melakukan hal yang sama sesuai dengan tingkatannya masing - masing. Pembimbing melakukan bagiannya untuk menjadi teman diskusi, komunikasi ilmiah tentang apa yang akan dijadikan materi riset selama 2 tahun (S2) atau 3 tahun (S3) ke depan. Total waktu yang diberikan untuk riset ini berjalan paralel dengan seluruh kegiatan lainnya di LP-AU. Dengan demikian, setiap mahasiswa LP-AU dididik untuk mampu lebih baik lagi dalam disiplin waktu dan kegiatan selama program pendidikan berlangsung.

Riset memang menjadi syarat utama untuk menyelesaikan pendidikan master dan doktor, namun mahasiswa juga harus menyelesaikan program kelas yang telah disediakan dalam kurikulum LP-AU. Total ada sekitar 42 sks kelas yang dibagi ke dalam sekitar 5 kategori kelas yang tersedia di LP-AU. Kelas - kelas yang ditawarkan memiliki kredit 1 - 2 per kelas yang diambil dengan jangka waktu kelas yang berbeda, mulai dari satu semester aktif penuh hingga 12 jam kelas intensif yang dibagi ke dalam beberapa kali pertemuan tergantung pada jenis kelasnya. Kelas reguler (Common Course) memberikan 1 - 2 sks untuk tiap kelasnya, sedangkan kelas khusus (Special Lecture) memberikan 1 sks saja tiap kelasnya yang memiliki beberapa pertemuan.

Sesuai dengan nama dan tujuan dari LP-AU, maka kelas yang diberikan tidak hanya kelas yang menunjang riset mahasiswanya, tetapi kelas yang sifatnya interdisiplin. Mungkin beberapa orang akan berpikir mengapa seorang yang risetnya geologi harus mengambil kelas di mata kuliah metalurgi? atau orang ekonomi harus mengambil kelas pembentukan deposit? Nah, di sinilah letak interdisiplin yang diberikan. Mahasiswa di bawah LP-AU dibekali ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang resources science (ilmu tentang sumberdaya alam; mulai dari explorasi, extraksi/tambang, pengolahan/metalurgi, keekonomian, lingkungan hingga daur ulang/3R design) yang dibangun tidak hanya melalui kelas biasa, tetapi juga dalam praktiknya di rotasi lab, diskusi dengan para ahli di bidangnya di kelas khusus dan simposium yang diadakan oleh LP setiap tahunnya. Pengetahuan dan pemahaman ini akan menjadi bekal untuk para lulusannya di depan dalam bergerak untuk tidak hanya memperhatikan bidang keilmuan yang ditekuni mereka melalui riset, tetapi lebih melihat semuanya dalam satu kesatuan. Sebagai contoh adalah diri yang saat ini memiliki riset di bidang economic geology atau geologi explorasi. Diri harus melihat bagaimana pekerjaan diri ini tidak hanya bermanfaat untuk bidang geologi, tetapi juga bagaimana dapat diaplikasikan kepada bidang pengolahan dan bagaimana secara nilai keekonomiannya. Dengan demikian, diri diharapkan mampu memberikan saran dan masukan yang tidak hanya berhenti di bidang keilmuan diri, tetapi dapat diaplikasikan nyata di tempat di mana industri tempat diri sedang melakukan riset saat ini. Menarik bukan?!

Salah satu suasana kelas khusus yang diberikan.
Kelas Sulfur isotope di Lab Kinsho.
Kelas khusus yang ditawarkan terdiri dari kelas - kelas yang diajar oleh dosen tamu dari professor dari universitas lain, industri dan pemerintah, seperti kementerian atau lembaga lainnya. Kelas khusus memiliki pengajar yang berbeda setiap kelasnya dan tiap tahunnya untuk mata kuliah yang sama. Ada sekitar 8 kelas khusus berbeda yang ditawarkan, mulai dari mining engineering, international issues on mineral resources, Russian coal and industry, REE processing dan lainnya. Selain common course, terdapat kelas khusus MOT (management and technology) yang mencakup kelas untuk international business, international affair analysis, managemen migas dan tambang, hukum dan kontrak, sosial masyarakat di daerah pertambangan dan lainnya. Seluruh kelas yang diberikan di bawah MOT mengajarkan pemahaman berbeda selain bidang kemampuan teknis yang dimiliki mahasiswa LP-AU. Sebagai contoh saat belajar hukum dan kontrak, seluruh mahasiswa, termasuk diri saat itu harus belajar membaca contoh - contoh kontrak, menganalisanya dan belajar untuk melihat bagaimana kontrak tersebut. Diri juga harus belajar bagaimana bahasa sebuah kontrak dan membuatnya sendiri. Banyak cara berpikir yang berbeda dengan kemampuan berpikir teknis diri yang diri peroleh dari kelas ini.

Apakah ini akan berguna? Menurut diri, ini akan sangat berguna, tetapi sejauh mana kegunaannya akan kembali kepada SDM yang menerimanya. Diri percaya setiap yang masuk di bawah LP-AU telah melalui banyak hal dalam bidangnya masing - masing dan mampu untuk terus belajar hal baru. Itulah yang menjadikan pemimpin, salah satunya.

Selain kelas, LP-AU juga memberikan rotasi lab, student meeting dan summer camp kepada mahasiswanya. Bagian ini akan diri jelaskan lebih lanjut di posting berbeda ya :)

Mahasiswa LP-AU juga diberikan banyak kesempatan untuk mengikuti kegiatan di luar risetnya, yang tentunya atas seizin oleh supervisor masing - masing. Kesempatan ini digunakan untuk mendorong komunikasi ilmiah dan industri para pesertanya. Setiap mahasiswa LP-AU juga diharapkan mampu berkomunikasi secara ilmiah untuk masyarakat akademis, namun juga mampu menyampaikan atau berkomunikasi baik untuk aplikasi yang dimiliki untuk masyarakat industri dan pemerintahan. Ini juga yang dapat dilatih dengan berpartisipasi aktif dalam konferensi ilmiah, kegiatan kursus dan field trip. Biasanya mahasiswa pergi secara mandiri mengikuti kegiatan di negara lain dan kondisi ini menjadi tantangan tersendiri untuk mampu berkomunikasi, berpartisipasi aktif di konferensi atau trip dan pastinya menyerap ilmu - ilmu baru langsung dari ahlinya. Hasilnya dapat dilihat dari kegiatan sehari - hari mahasiswa tersebut yang dievaluasi dari pembimbing melalui pekerjaannya dan juga langsung dari laporan perjalanan detail yang diberikan untuk kegiatan tersebut. Mahasiswa LP-AU juga dididik untuk bertanggung jawab dan jujur untuk tiap sen uang masyarakat Jepanag yang digunakan selama perjalanan dilakukan.
Di depan outcrop Chromite, Dwars River.
Perjalanan diri di Bushveld, South Africa untuk belajar tentang Cr-mine dan geologinya.

Wednesday, December 02, 2015

Leading Program Akita University (1)

Leading Program? Pasti bingung dengan ide tentang apa ini sebenarnya. Tidak banyak yang tahu program apa ini dan seperti apa bentuknya, termasuk mengcover bidang apa saja. Pasti! Leading Program adalah program 7 tahun yang dibentuk oleh pemerintah Jepang yang bekerja sama dengan universitas dan industri. Pembiayaan untuk program ini berasal dari pajak warga negara Jepang yang disalurkan lewat departemen pendidikan Jepang dan juga berasal dari industri terkait di Jepang. Seperti namanya, Leading Program memiliki tujuan jangka panjang untuk mendidik dan menghasilkan pemimpin - pemimpin di masa depan yang akan mengembangkan industri dan pemerintahan. Program ini dibagi di masing - masing bidang dan diberikan menurut proposal pengajuan yang tidak mudah. Ada sekitar 50 bidang penelitian seperti earth science, astronomi, biologi dan lainnya yang memiliki banyak sub dan dibagi lagi ke bidang yang lebih spesifik. 

Universitas diberikan kesempatan untuk membuat dan menyusun proposal untuk bidang yang akan diajukan kepada kementerian pendidikan. Melalui seleksi yang tidak mudah, pemerintah akan memutuskan pihak universitas mana yang berhak menerima pendanaan untuk bidang proposal yang diajukan. Sebagai contoh, Akita University yang mendapat kesempatann untuk menerima bidang Earth Resources Science di bawah nama "New Frontier Leaders on Resources". Di tiap sekolah yang menerima pendanaan yang sama namun untuk bidang yang berbeda akan memiliki nama yang berbeda. Akita University hanya menerima satu program untuk dikembangkan di sini, sedangkan beberapa universitas lain menerima 3 hingga 5 kesempatan program di bidang lainnya, seperti biologi atau fisika. Pada dasarnya, Leading Program menyediakan kesempatan program 5 tahun dari master hingga tamat doktor di bidang yang dipilih. Beberapa universitas mensyaratkan untuk mengambil program hingga selesai jika kita menerima beasiswa dari program tersebut, tetapi beberapa tidak mensyaratkan yang sama. Pelaksanaan program ini beragam di setiap universitas. Diri tidak terlalu paham mekanisme di kampus lainnya di Jepang, tetapi diri bisa memberikan gambaran sedikit bagaimana dengan yang tengah diri jalani di Akita University. 

Nah, bagaimana dengan New Frontier Leaders on Resources?
Leading Program di Akita University berasosiasi dengan Graduate School of Engineering and Resource Science, Faculty of Engineering and Resource Science. Ada beberapa program di bawah graduate school yang mengakomodir mahasiswa Leading Program, yaitu Earth Resource Science and Technology Course dan Resource development and Processing Course. Mahasiswa dapat memilih masuk di bawah course yang diinginkan dengan variasi laboratori yang berbeda. Seperti contoh adalah diri yang saat ini berada di bawah Earth Resource Science and Technology dengan pembimbing Prof Akira Imai untuk economic geology laboratory. Program ini dimulai sejak 2012 di Akita University dan rencananya akan berakhir di tahun 2019 untuk fase I. Murid yang tergabung di program ini pada semester pertama ada 3 orang yang sebelumnya sudah memulai program master regularnya di laboratory masing - masing. Mereka juga berasal dari laboratorium yang berbeda, seperti Pertology and Volcanology Lab dan Mineral Processing Lab. Mahasiswa baru akan masuk melalui pendaftaran graduate school saat aplikasi dan setelah diterima, mereka bisa mendapatkan opsi untuk menempuh pendidikan reguler di master/phdnya atau mengikuti Leading Program dengan pastinya mengikuti terlebih dahulu tes ujian masuk program tersebut. Maka, ada tes kedua sebelum resmi untuk menjadi mahasiswa Leading Program. 

Bagaimana konsep Leading Programnya (LP-AU)?
Ini diri kutip dari apa yang dituliskan oleh pengelola Leading Program di Akita University. Anyone can check this website to get further information on it >> New Frontier Leaders on Resources
This program aims to train global leaders who acquire advanced knowledge, practical skills and adaptability of resource science, in order to challenge any resource problems of the twenty-first century. Students who study to be "New frontier leaders" are required to have the abilities needed to lead the research of resources, projects of development and producing technology, communication skills in various languages, an understanding of foreign cultures, overviews, problem solving skills, resource literacy and policy-making skills.
Secara umum, bisa dilihat bahwa dasar program ini adalah mendidik, melatih dan membangun seorang pemimpin di masa depan. Sebuah investasi yang dilakukan oleh pemerintah Jepang untuk jangka panjang dengan biaya yang tidak sedikit pastinya. LP-AU memberikan kesempatan mahasiswanya untuk mengembangkan diri di bawah kurikulum pendidikan yang telah disusun. Ada banyak hal menarik di LP-AU. Salah satunya adalah konsep interdisplin di bidang Earth Resources yang diberikan dalam kurikulum. Program 5 tahun hingga doktor yang diberikan disusun dalam 49 sks total untuk kelas, rotasi lab, overseas internship, PBL (project based learning) dan pastinya riset. Konsep interdisiplin dalam LP-AU tampak dalam kelas - kelas yang ditawarkan yang mengakomodir tidak hanya satu bidang saja seperti ore deposit untuk explorasi, tetapi hingga bagaimana kita mengolahnya dan perhitungan nilai ekonomi, politik, sosial dan budaya yang ada dalam industri sumberdaya. Dengan pengajar yang tidak hanya berasal dari professor - professor yang tergabung di bawah program LP-AU, tetapi juga banyak professor ataupun akademisi, praktisi dan orang pemerintahan yang diundang untuk memberikan kelas terkait bidangnya. Transfer ilmu yang dilakukan tidak hanya berasal dari satu sumber, namun berbagai sumber yang sangat qualified dan ternama di bidangnya. 

Dasar LP-AU dan target masa depan pada mahasiswanya (sumber: official website LP-AU).
Dengan kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah Jepang, LP-AU menyediakan banyak kesempatan dan menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, serta menyenangkan di tengah tingginya harapan yang diletakkan kepada setiap pesertanya. Setiap tahunnya program ini hanya menerima kurnag lebih 6 hingga 10 mahasiswa, bahkan kurang dari itu. Seleksi yang cukup ketat dan target padat yang diberikan menjadikannya salah satu program yang menantang dan tidak mudah. 

Apalagi tentang program ini? Seperti apa detailnya? Apa saja kegiatan rutinnya?

Refleksi: Mental Pancasila

Saya bangga menjadi bangsa Indonesia. Seharusnya setiap warga negara Indonesia berani katakan pada dunia, “Aku Bangsa Indonesia” sama seperti yang selalu saya lakukan. Berbicara keunikan Indonesia tidak terlepas dari banyak hal yang ada di kepala setiap penduduknya. Sebagai pribadi bangsa, setiap warga negara pasti merasakan banyak keunikan sebagai bangsa Indonesia yang besar. Bangsa ini kaya akan keanekaragaman. Definisi keragaman ini pun tidak terbatas hanya pada sosial budaya, tetapi juga geografis dan geologis. Pola berpikir masyarakat Indonesia juga dapat dikatakan heterogen. Semakin luasnya akses ke dunia luar, membuat setiap warga negara Indonesia memiliki keanekaragaman dalam bersikap, berpikir dan bertindak. Inilah kebanggaan yang tidak akan terlepas dari bangsa ini. 

Gempuran globalisasi yang paling terasa dampaknya dalam denyut bangsa Indonesia adalah pola pikir dan kemampuan bertindak. Dua hal ini memiliki resiko terbesar untuk dipengaruhi ataupun mempengaruhi. Potensi dipengaruhi semakin besar ketika ada ketidakmampuan untuk berdiri di kaki sendiri atau punya pegangan. Akan tetapi, menjadi pengaruh dapat terjadi karena ketika kita memilki identitas dan integritas yang kuat. Lalu, dimana posisi kita sebagai bangsa Indonesia?
Pertanyaan ini cukup menggelitik karena jawabannya harus sesuai dengan kondisi sekarang. Fakta lapangan dan data penjawab pertanyaan ini harus kuat dan jelas. Sebagai pribadi, dapat dikatakan bahwa globalisasi memberikan pengaruh besar pada perkembangan mental bangsa Indonesia. 

Globalisasi seolah membuka pintu fase baru di negara Indonesia. Fase ini mencakup pada perubahan sosial budaya dalam kemasyarakatan yang secara perlahan dapat diamati. Hasil dari pergerakan perubahan ini tampak jelas dalam pengamatan pola pikir dan kemampuan bertindak pribadi bangsa Indonesia. Posisi “dipengaruhi” ini menunjukkan identitas bangsa Indonesia di tengah arus globalisasi yang semakin kencang. Apa buktinya? Kondisi terpengaruhi ini ditunjukkan dengan jelas oleh sifat konsumtif dan gaya pergaulan hidup bangsa Indonesia. Fase baru yang dibuka ini seolah mewakili dnegan jelas bagaimana globalisasi memberikan dampak tidak menguntungkan bagi perkembangan mental bangsa. 

Globalisasi tidak dapat dikatakan merugikan secara utuh. Akan tetapi, perubahan besar yang dibawa olehnya dapat menjadi bumerang terhadap pertumbuhan mentalitas bangsa. Perubahan besar, baik dari sisi ekonomi, sosial bahkan budaya akan sangat terasa bagi mereka dalam kondisi “terpengaruhi”. Efek yang ditimbulkan pada jangka panjang dapat menggerus dengan kuat nilai – nilai kearifan lokal yang ada. Salah satu bentuk penggerusan nilai – nilai kearifan lokal tersebut adalah tumbuhnya sifat konsumerisme dan hedonisme. Kedua nilai ini sangat bertolak belakang dengan budaya hemat, rendah hati dan tolong – menolong yang sejak dulu telah ditanamkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Sikap konsumtif ini dapat diamati dengan jelas bentuknya. Bentuk konsumtif bangsa ini dapat dengan mudah dijumpai di berbagai pelosok kota bahkan mulai masuk ke kehidupan desa. Ini yang mungkin bisa menunjukkan penyebab rasa iri berujung kriminalitas atau bahkan jurang pemisah kaya – miskin yang semakin lebar di Indonesia. Indonesia menjadi pasar terbesar untuk berbagai produk komunikasi semacam telepon genggam misalnya. Telepon genggam atau produk sejenisnya merupakan contoh bentuk produk konsumtif terbesar di Indonesia. Lintas suku dan masyarakat seolah terhipnotis dalam gempurannya. Tawaran yang terlihat menggoda dengan memanfaatkan banyak kebutuhan pergaulan menjadikan gempuran terhadap mental tidak semudah yang dibayangkan. 

Era globalisasi yang semakin membuka ruang komunikasi antar pribadi di seluruh dunia semakin mendorong pribadi – pribadi Indonesia untuk mengambil bagian di dalamnya. Akan tetapi, mental dan idealisme yang tidak kuat di seluruh lapisan masyarakat menjadikan sikap konsumtif seolah dianggap “maklum” dan “biasa”. Akibatnya sudah dapat ditebak dan dibuktikan dalam praktik masyarakat Indonesia. Setiap orang seolah – olah berlomba memiliki telepon genggam dan memiliki akun jejaring sosial. Pembicaraan tatap muka pun berganti dengan pembicaraan dunia maya. Komunikasi langsung berganti dengan komunikasi teks meskipun sedang bertatap muka. Pada akhirnya, efek negatif ketertarikan ini lebih mengena pada kelangsungan mental bangsa. Tingkat kriminalitas yang semakin tinggi, kekerasan pada anak serta perempuan yang meningkat dan daya juang yang berkurang menjadi ringkasan pilihan kekurangan perkembangan globalisasi pada masa sekarang. 

Lalu, dimana letak peran kebangsaan atau nasionalisme atau ideologi bangsa ini yang sejak SD telah diajarkan sampai pada level pendidikan tinggi? Pendidikan Pancasila sebagai ideologi bangsa diatur sejak SD sampai pada pendidikan tinggi tidak hanya beralasan pada kebutuhan kurikulum, tetapi berusaha menjaga mental-cermin ideologi generasi muda yang terus tumbuh dan berganti seiring waktu. Namun, pintu baru yang terbuka ini menunjukkan belum mampunya kita mengamalkan pegangan hidup kita bernegara, yaitu Pancasila. Kelima nilai yang telah disusun sedemikian rupa oleh para founding father berdasarkan karakter bangsa ini. Pancasila seharusnya menjadi cerminan langsung seperti apa wajah bangsa ini. Faktanya saat ini, karakter bangsa ini seolah bergeser dari apa yang disebutkan dalam sila – sila. Posisi bangsa ini lebih kuat sebagai yang “terpengaruh” pada perubahan besar dari era globalisasi. Demikianlah, posisi kita sebagai bangsa saat ini di tengah gempuran perkembangan pintu – pintu globalisasi. 

Jika Pancasila seolah mengalami pergeseran makna, bagaimana posisinya sekarang untuk kembali menguatkan identitas bangsa? Pancasila tetap akan menjadi pegangan bagi perubahan bangsa ini, kembali pada jati dirinya. Pembelajaran di sekolah dasar hingga perguruan tinggi tidak akan kehilangan maknanya jika seluruh elemen dalam masyarakat pun mau berpartisipasi aktif dalam pergerakan perubahan ini. Gaya hidup, pola pikir dan pergerakan dimulai dari jiwa muda yang menyusun masyarakat ini. Siapa yang dimaksud dengan generasi muda? Saya, Kamu dan Kita! Mengapa melalui generasi muda? Konsep dan pemahaman padanya terus dipelajari dan dipahami sampai mereka lepas ke masyarakat luas. Hasil belajar yang kuat dari dalam pendidikan formal, dapat diimplementasikan dengan gaya muda yang mempengaruhi. Nilai – nilai dalam Pancasila seharusnya diturunkan kembali dengan lebih jelas dan mendasar agar lebih meresap pada generasi muda. 

Perubahan yang dimulai dari sedikit ini dapat menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia. Pancasila tetap menjadi panutan, ideologi dan semangat berbangsa. Dengan pemahaman tentang Pancasila dalam hal yang paling mendasar atau kecil sekalipun, diharapkan dapat mengubah semua elemen bangsa. Belajar keanekaragaman, toleransi antar suku dan umat beragama, bersikap jujur dan adil pada siapapun, dan sebagainya merupakan bentuk hal – hal mendasar yang dapat diajarkan. Bentuk lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan “kampanye Pancasila”. Program “kampanye Pancasila” adalah program kampanye dengan menggunakan media sosial langsung maupun tidak yang digemari masyarakat untuk mendidik dan menyediakan informasi tentang segi kehidupan luhur berbangsa. Keanekaragaman bangsa ini dapat didorong dan dibagikan dalam “kampanye Pancasila”. Ide kampanye ini berlandaskan pada psikologi manusia tentang kebiasaan dan keingintahuan. Dengan memanfaatkan media – media yang digunakan pribadi bangsa, pemerintah dan kita dapat menyusupkan, mengkampanyekan dan mengingatkan kembali tentang Pancasila sebagai bagian dari diri kita. Kampanye semacam ini bisa melalui televisi, film, iklan, sms, facebook, twitter dan sebagainya yang menjadi pintu – pintu globalisasi bergerak. Kegiatan ini juga mengikat suatu komitmen dari semua yang terlibat untuk menjadi “agen perubahan”. Bagaimana dengan kamu? 

Implementasi nilai – nilai Pancasila kembali pada segi – segi kehidupan bangsa dapat mengembalikan identitas bangsa yang “terpangaruh”, bahkan menjadi “pengaruh”. Tidak ada yang salah dengan Pancasila, tetapi kurangnya pemahaman akan Pancasila yang pada akhirnya mengubah identitas dan karakter bangsa yang masuk ke pintu negatif globalisasi. Seringkali sifat melupakan menjadi kendala besar untuk menumbuhkan kecintaan yang murni tersebut dalam diri pribadi bangsa. Dengan semakin banyak kegiatan dan semangat yang disebarkan, perubahan bisa dimulai dari yang terkecil hingga yang tak tergapai sekalipun. Perubahan dengan Pancasila, masih ada yang tersisa. 

Pancasila merupakan ideologi berbangsa yang mungkin mulai sedikit terlupakan. Akan tetapi, hanya Pancasila jugalah yang dapat kembali mengubah karakter bangsa ini kepada jiwanya Indonesia. Generasi muda dapat menjadi tonggak perubahan kembali bersama dengan Pancasila. Kita bangsa yang berpengaruh. 

Bergerak untuk maju!

Refleksi: Tiga ajaran Ki Hajar Dewantara


Sebagian dari kita pasti masih mengingat 3 darma dari yang diajarkan seorang Ki Hajar Dewantara, pendiri taman siswa sekitar awal 1900an. Semboyan tersebut dikenal dengan Ing ngarso sun tulodo, Ing madyo mbangun karso, dan Tut wuri handayani. Dalam sebuah kalimat sederhana, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang seorang guru harus memberikan dorongan dan arahan.”

Tiga semboya ini sangat menarik untuk kembali dibahas dan mungkin ke depannya harus semakin dilekatkan di ingatan dan hati setiap pendidik dan calon pendidik ke depannya. Sekali lagi, diri katakan bahwa guru bukan sekadar profesi, tetapi sebuah bentuk pengabdian. Di Finlandia, upaya masuk sekolah guru jauh lebih sulit dibandingkan dengan masuk pendidikan kedokteran. Mengapa? Mungkin mereka menyadari bahwa guru menyentuh langsung aspek karakter bangsa sejak sedini mungkin. Bagaimana dengan kita?

Kualitas guru yang samakah kita harapkan demikian? Perlukah kita mempersiapkan suatu batas tertinggi untuk setiap mereka yang menginginkan menjadi seorang guru sehingga tercipta kualitas didikan yang terbaik pula ke depannya?
Diri yakin semboyan Ki Hajar Dewantara tadi menjawab bagaimana seharusnya kualitas guru dapat dibangun dan semakin ditingkatkan ke depannya. Indonesia memiliki tokoh yang dari dahulu sebelum negara ini merdeka telah menjelaskan bagaimana seharusnya seorang pendidik bersikap dan berkelakuan. Dengan tegas, Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia, menjelaskan posisi seorang pendidik adalah di depan, di tengah, dan di belakang murid – muridnya.

Di depan, seorang pendidik harus dapat memberikan teladan (Ing ngarso sun tulodo). Semboyan pertama ini memiliki makna yang dalam dan praktik yang tidak mudah. Menurut diri, kualitas seorang guru seharusnya paling mudah terukur secara kuantitatif dan kualitatif adalah melalui keteladanannya. Menjadi contoh tidak semudah membalikkan telapak tangan bahkan bagi seorang pendidik. Kasus demi kasus kekerasan oleh guru terhadap siswanya menunjukkan bagaimana sari tauladan itu meluntur di antara para pendidik. Meskipun hal ini dilakukan oleh oknum. Akan tetapi, diri percaya masih saja ada guru – guru seperti itu yang belum terekspos ke permukaan publik dan seringkali dianggap biasa dalam pekerjaannya. Seorang teladan yang baik memiliki kelakuan dan perilaku yang menunjukkan teladan sikap, keyakinan, dan kepercayaan terhadap apa yang ia jalani, sebagai seorang guru. Bibit generasi dipegang pertama kali oleh para guru dalam pembentukan karakter mereka. Terlepas dari keluarga, guru juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Ia melihat bagaimana guru atau orang tuanya di sekolah yang menjaga dan mengajarnya. Kualitas ini yang sering dilupakan sehingga hasil paling mudah dilihat adalah ketika anak hanya mengingat kejelekan atau traumatik selama dia di sekolah, seperti ungkapan guru killer. Oleh karena itu, seharusnya seorang guru memegang prinsip pertama ini untuk menjalankan tugas pengabdiannya sehari – hari.

Di tengah, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Semboyan kedua ini lebih menitikberatkan pada kreativitas dan kemauan belajar seorang guru. Meskipun guru adalah guru, tetapi tetaplah ia harus terus belajar dan memperbaharui diri. Ki Hajar Dewantara melihat bahwa dunia semakin berkembang. Ilmu yang kita tuntut selama pendidikan formal tidak hanya sebatas itu saja ke depannya untuk diberikan kepada para murid. Namun, masih banyak lagi yang seharusnya untuk dipelajari dan dibagikan. Dengan semangat untuk belajar dan terus belajar hal yang baru, seorang guru juga secara langsung memberikan teladan bagi murid bahwa pembelajaran itu bukan sesuatu yang menakutkan dan tidak menarik, melainkan sesuatu yang menimbulkan rasa penasaran. Seluruh ide dan pengetahuan ini akan menimbulkan daya kreativitas guru untuk mendorong murid mengenal dan menyelami aspek keilmuan tanpa melupakan aspek karakternya. Itu yang mungkin pernah hilang dan mungkin kembali hilang di dalam guru – guru kita. Diri mengapresiasi seluruh guru yang terus mengembangkan metode belajarnya, tidak pernah berhenti belajar, dan menggiring anak – anaknya dalam memunculkan ide, serta merealisasikannya. Contoh untuk ini sangat banyak sekarang kita temui, seperti mobil esmeka, mesin batik, dan sebagainya. Betapa semua guru berperan penting dalam proses anak – anak saat berpikir untuk menemukan ini.

Di belakang, seorang guru harus memberikan dorongan dan arahan. Semboyan ketiga ini dianut dengan jelas oleh masyarakat pendidikan Indonesia melalui lambang atau simbol yang ada. Tut wuri handayani menjadi semacam moto untuk pendidikan Indonesia. Sejujurnya, diri kurang setuju dengan aspek ini sebagai moto utama berjalannya pendidikan Indonesia. Semboyan ketiga ini adalah implikasi dari semboyan pertama dan kedua. Dengan menjadi teladan yang baik, maka dengan sendirinya seorang guru akan mendorong siswanya  untuk lebih berkembang lagi. Semangat belajar dan mau diperbaharui dalam diri seorang guru akan berefek kepada siswa untuk menelurkan ide – ide hebat dan membentuk karakter mereka dalam bersikap ke depannya. Karakter dibangun melalui teladan yang baik dalam praktiknya, bukan terbatas pada dorongan atau arahan yang sifatnya absurd (maaf). Kata – kata seseorang mungkin saja manis, semanis Mario Teguh atau para motivator lainnya, tetapi hanya akan menjadi kata – kata saja ketika mereka tidak mempraktikannya dan memberikan teladan bagi para pendengarnya. Diri yakin itulah yang dilakukan para motivator, bertindak dan membagikannya bagi mereka yang tidak termotivasi. Tanpa disadari, hanya perkataan, seperti pujian bahkan makian, hanya akan lewat di telinga anak dan tidak meninggalkan bekas apapun. Bagaimana karakter generasi ini terbentuk? Lagu Umar Bakri mungkin dapat menunjukkan bagaiman teladan seorang guru terhadap generasinya saat itu. Pada akhirnya, menimbulkan semangat juang pada diri murid – muridnya. Hal yang sama juga terjadi di banyak sekolah pedalaman. Mungkin pernah kita menonton acara Indonesiaku (Trans 7) yang menunjukkan betapa perjuangan guru dan murid – muridnya untuk menempuh pendidikan dalam beberapa episodenya. Mereka menempuh laut dengan sampan, sungai dengan arus deras sehingga harus digendong orang tua, hingga yang harus berjalan belasan kilometer di hutan untuk sampai di sekolah. Perjuangan ini dilakukan oleh murid dan gurunya.

Sungguh teladan ini memberikan efek yang besar. Ketiga semboyan tadi pun terbangun dengan baik dan bahkan bisa sempurna. Diri yakin kualitas guru berada pada tolok ukur ketiganya. Mungkin banyak guru sudah memilikinya, tetapi sebagian juga mungkin belum. Peran pemerintah dalam menerapkan ketiga semboyan ini pun tidak bisa ditiadakan. Semua diatur oleh legal dan seharusnya pemerintah bisa mendorong ini untuk berjalan dan terlaksana dengan baik.

Semoga pendidikan Indonesia benar – benar mencerminkan ketiga semboyan Ki Hajar Dewantara ke depannya. Porsi 20% APBN tidak hanya bocor, tetapi benar – benar dipakai untuk mempersiapkan bibit pendidik yang akan berperan langsung membangun karakter bangsa kita.

Merdeka! 

Refleksi: Apakah perlu pendidikan etika dalam kurikulum? #2012

Pertanyaan di atas mungkin lebih tepat bukan menjadi sebuah judul tulisan, tetapi seharusnya menjadi refleksi semua pihak. Mengapa?

Ya, diri merasa dan membuktikan bahwa etika adalah sebuah pegangan seseorang untuk bersikap, bertindak, dan berekspresi. Ini mungkin terdengar seperti subjektif karena etika sebuah pelajaran yang sifatnya personal. Seseorang bisa saja kaya raya, tapi belum tentu dia beretika ataupun sebaliknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edis ketiga (2005:309), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral. Jika dilihat dari sudut pandang aplikasinya langsung, etika dapat dikatakan terdiri dari menghargai-menghormati, sopan santun, dan kelakuannya (attitude).

Aspek pendidikan etika secara tidak langsung akan diterima setiap anak – anak hingga pemuda – pemudi Indonesia di dalam keluarga, sekolah atau universitas, dan lingkungan bermainnya. Kesibukan orang tua dan tuntutan ekonomi, serta gaya hidup yang tinggi mendorong pendidikan etika pun seolah terlupakan dalam keluarga. Komunikasi antar anggota keluarga yang semakin menipis mendorong pendidikan informal ini tidak berjalan dengan semestinya seiring majunya zaman. Akhirnya, seluruh pendidikan ini diserahkan pada lingkungan sekolah yang menjadi tempat utama anak – anak menghabiskan waktu. Jadi, seperti apa aplikasi etika sekarang dalam kehidupan generasi bangsa ini ke depannya?

Penghargaan terhadap seseorang di negara ini pada masa sekarang adalah suatu hal yang sulit. Sikap untuk menghargai dan menghormati orang lain seolah luntur dalam kehidupan kita sehari – hari. Penghargaan kepada orang lain bukan sebatas pada piala atau piagam atau uang yang dapat diberikan kepada orang tertentu karena prestasi, jabatan ataupun kekuasaannya. Penghargaan tidak sebatas itu! Ini hal yang diri rasakan sangat luntur di antara manusia Indonesia. Tempat – tempat tadi yang seharusnya lebih terpelihara untuk penghargaan ini pun belum mampu melakukannya.

Bagaimana aplikasi etika dalam sekolah? Jika boleh jujur, sekolah pun sekarang penuh dengan ketidakaturan dalam sikap dan perilaku siswa-mahasiswanya. Aksi tidak beretika yang dilakukan memiliki rupa dan bentuk yang beragam. Hal paling mudah untuk dilihat adalah penghargaan. Mungkin contoh di televisi dapat menjadi gambaran paling nyata antara yang menghargai dan tidak. Pemutaran liputan anak – anak berprestasi dan sekolah yang teratur seolah menjadi pelega dahaga kita akan harapan bahwa masih ada generasi ini yang benar di dunia yang bengkok. Akan tetapi, pemutaran liputan tawuran antar SMA atau SMK beberapa waktu lalu menunjukkan sisi lain bagaimana generasi ini bersikap. Berdasarkan pengalaman diri sejak SD sampai universitas, ada beberapa hal kesamaan yang selalu diri temui, yaitu sulitnya seorang anak untuk menghargai dirinya dan gurunya.

Ya, penghargaan terhadap dirinya dan guru atau dosen adalah sesuatu yang diri rasakan tidak pernah tumbuh atau sama saja sejak SD sampai universitas. Bentuk – bentuk tidak menghargai ini beragam yang diri lihat, yaitu menghina guru atau dosen, mencontek, dan menipu. Penghinaan terhadap guru yang terbesar saya rasa bukan dari pemerintah atau aspek legal negara ini, tapi justru berasal dari muridnya sendiri. Guru bagi diri bukan sekadar profesi, tetapi suatu bentuk pengabdian yang tinggi, sama halnya seorang dokter. Mungkin, sewaktu kecil kita pernah mendengar bahwa guru adalah Bapak/Ibu kita selama di sekolah. Ucapan itu bukan sekadar sugesti buat diri sewaktu kecil, tetapi benar apa adanya yang diri rasakan hingga lulus universitas. Bentuk penghinaan ini beraneka ragam, seperti pengejekan langsung maupun tidak langsung, penanggapan bahwa tidak bisa mengajar, penggampangan (sepele) terhadap pelajarannya, dan sebagainya. Diri rasa semua pasti sering mendengar keluhan anak – anak yang berujung pada penghinaan atau penyalahan pendidik sebagai dalang mereka tidak mengerti atau bahkan tidak naik kelas. Ya, mungkin ada beberapa kondisi demikian, tapi oknum. Sekali lagi, itu oknum. Bagaimana penghargaan mereka terhadap seorang pendidik? Sesulit itukah hingga sekarang bagi sebuah generasi yang beruntung untuk menghargai gurunya bahkan di saat banyak anak – anak merindukan sosok guru di hari – hari mereka. Siapa yang salah? Diri tidak suka melihatnya dalam sisi kesalahan, tapi mari kita lihat dari sisi bagaimana sekarang kita akan memperbaikinya dan memutus rantai setan ini.

Suatu sikap menghargai akan berkaitan erat dengan sopan santun dalam berkelakuan. Keseluruhan rantai ini menjadi sesuatu yang saling komprehensif dalam praktiknya. Dengan demikian, pemecahan permasalahan seperti apa yang kita harus lihat. Diri melihat tentang suatu struktur kurikulum yang lebih keras untuk kembali diterapkan. Ya, kembali mengapa ini harus dipikirkan. Kita selalu menyalahkan kurikulum pendidikan yang tidak mendukung daya kembang dan kreatif anak – anak. Akan tetapi, pernah kita mengevaluasi kurikulum ini dari sisi perkembangan emosional dan kedewasaan seorang anak. Sebagai contoh, pendidikan anti korupsi yang mungkin baru dipikirkan dan segera diaplikasikan sejak tingkat korupsi Indonesia semakin naik dengan cepat. Mengapa harus selalu bentuk preventif dipikirkan di bagian akhir?

Bagi diri, pendidikan menjadi manusia Indonesia yang berbudi pekerti dan berakhlak seharusnya dari dulu dan dulu sudah diterapkan, dipikirkan pengembangannya, dan dievaluasi pelaksanaannya. Suka atau tidak, sekolah menjadi lahan terbesar para anak menghabiskan waktunya dan sudah seharusnya suatu program yang dikerjakan anak – anak di tempat ini adalah yang paling besar pengaruh dalam hidupnya. Mulai berantas korupsi adalah dari hal yang kecil, seperti disiplin waktu, kejujuran bekerja dan belajar, serta ketaatan terhadap aturan yang telah dibuat. Manusia – manusia seperti ini pada masa sekarang mungkin akan dianggap kuno dan tidak gaul. Akan tetapi, harus mulai ditanamkan atau bahkan lebih tepat untuk dipertanyakan, apakah tidak beretika itu gaul?

Rantai setan ini harus segera diputus! Apakah perlu kita masukkan mata kuliah atau mata pelajaran etika agar menjadi suatu pelajaran yang wajib untuk diambil ke depannya, seperti pendidikan anti korupsi? Diri akan katakan ya. Hal ini perlu untuk dipertimbangkan dan dilebur kembali dalam struktur kurikulum kita. Pendidikan ini seharusnya dapat menjadi pegangan kita memutus rantai setan dan kembali menghidupkan manusia – manusia Indonesia. Kehidupan generasi kita bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi tanggung jawab kita untuk mempersiapkan mereka tumbuh menjadi manusia Indonesia dewasa.

Dalam aplikasinya, etika harus dipraktikan dan dilakukan oleh semua aspek pendidikan itu dulu, seperti menteri, para pejabat pendidikan, guru, kepala sekolah, dosen, asisten akademik, rektor dan lainnya. Belajar tertulis dan mencontoh langsung adalah hal yang paling tepat. 

Contoh adalah teguran tak tertulis yang lebih menyakitkan dan bisa mengubahkan.

Travelling Kuliah: Pantai Siung #2010

Perjalanan ini pun sudah lama aku lakukan. Akan tetapi, kenangannya tetap poll keren di dalam kepala aku. Banyak hal yang dilakukan di sana. Aku merasakan sebuah kebebasan di pantai lepas yang sungguh membahagiakan. Perjalanan dimulai dengan segala keterburu-buruan yang biasa mengiringi langkah aku ketika libur panjang. Aku seolah tak mau melewatkan satu pun lokasi yang ada apapun alasannya. Sungguh luar biasa buat aku merasakan sensasi ombak pantai yang biru dengan karang - karangnya yang menggoda untuk dipanjat! Karang - karang di Pantai Siung dibagi menjadi beberapa blok pemanjatan, dari blok A sampai blok K. Semua blok pemanjatan memiliki kesulitan masing - masing yang sangat bervariasi. Keinginan memanjat di sini wajib dipenuhi! Bagi yang ingin merasakan sensasi di atas tebing tanpa lelah memanjat manual di karang yang tajam, pilihlah jalur belakang tebing yang cenderung melandai. Banyak sisi siung yang bisa digali hingga mencapai hidden beach. Ada sisi Pantai Siung lainnya, yang dapat ditemukan jika kita berjalan ke arah berbeda dari tempat orang kebanyakan bersandar menikmati pantai.

Karang di Pantai Siung yang indah, tempat mengambil sisi yang berbeda dalam memandangi sesuatu. Laut Selatan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di sana.
Pantai Siung yang indah dan eksotik. Air biru dengan langit yang sungguh menggoda. Pernah merasakan sensasi berbeda? Lalu, cobalah daerah ini!
Tempat keindahan yang berkumpul dan tantangan mengantri untuk digali.
 Blok A merupakan blok pertama dari karang - karang yang bisa kita panjat.
Ciri khas suatu daerah tujaman pada pertemuan lempeng.
Ombak Pantai Selatan yang tinggi dan ekstrim!
Sisi Pantai Siung yang menggoda.
   

Perjalanan ke Pantai Siung membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam hingga ke tempat tujuan dari kota Yogyakarta. Perjalanan ini dapat ditempuh dengan kendaraan motor pribadi atau angkot yang disewa langsung. Kondisi alami karst sangat kentara di daerah ini. Di sekitar perjalanan menuju Pantai Siung banyak terdapat gua - gua alami karst. Sungguh, terbayang untuk aku, bahwa daerah ini mungkin memiliki sistem gua yang bermuara di laut! Sungguh hal yang super dan tidak akan terbayangkan jika benar!

Merasakan sensasi Pantai Siung merupakan saran dan keharusan yang wajib dicoba. Di lokasi ini, pantai telah memiliki cottege, tempat makan atau warung, dan toilet - toilet umum. Pengembangan yang sederhana tapi sangat berguna dalam perjalanan. Ingin diulang lagi perjalanan ini!

Setiap sisi pantai memiliki pesona berbahaya yang sungguh menjadi tantangan dan anjuran pilihan untuk diikuti atau ditinggalkan.
Merasakan deru ombak merupakan bagian yang wajib dilakukan! Banyak pencari kehidupan melawan ganasnya ombak di sini!

Travelling Kuliah: Gua Gong, Pacitan #2009

Kembali diri ingin berbagi cerita 2009 untuk travel bersama teman - teman lainnya. Tulisan yang masih sangat awam dan masih belum terasah, tapi menjadi pelajaran tersendiri untuk itu. 

Perjalanan ini juga udah lama sekali. Hanya tersimpan di file lama pikiran dan cerita - cerita mulut ke mulut bersama kawan yang ingin menikmati sensasi caving. Caving merupakan bagian dari kecintaan aku dalam menikmati kegiatan alam bebas yang luar biasa pernah menjadi bagian dalam hidup aku. Perjalanan ini dilakukan pada Juli 2009 lalu, di saat aku dalam proyek berjalan - jalan merasakan backpackingan bersama dengan kawan - kawan di sana. Mampir dari Jogja, langsung tancap ke Solo. Perjalanan ke sana benar - benar sesuatu yang ga sederhana buat aku. Pada tahapan ini, aku akan mengenal kembali teman - teman baru dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Perjalanan dirancang tanpa rencana yang seperti biasa aku lakukan kalo sudah benar - benar diberantakin rencananya dari awal.
Pintu masuk Gua Gong yang sederhana.
Prasasti penemuan Gua Gong tahun 1924
Sampai di Solo, langsunglah aku bergabung dengan kakak mapala aku dulu untuk bercengkerama dan mengenalkan aku dengan Om Jo, sahabatnya. Om Jo inilah yang benar - benar mendengarkan mau aku ke gua saat itu. Jadilah, kami pagi - pagi sekali berangkat dengan motor ke Pacitan. Perjalanan yang lumayan jauh tapi sudah biasa bagi aku untuk bermotor ke suatu tempat dengan jarak lebih dari 3 jam perjalanan. Begini juga, aku dulu di mapala adalah salah satu driver motor karena ga semua angkatan bisa bawa motor. Hanya sekadar intermezzo!

Tirai karbonat di Gua Gong.
Balik lagi, perjalanan ke Pacitan merupakan eksotisme tersendiri buat aku. Perjalanan dengan motor di jalan lingkar luar kota Pacitan sendiri menunjukkan keagungan Yang Maha Punya melalui perbukitan karst yang sungguh luar biasa. Perbukitan karst yang menjadi tempat motor kami lalui sungguh menyajikan pemandangan tak biasa dari suatu perjalanan. Jika mau ditilik dari zaman pembentukannya, kita akan seolah dalam perjalanan di dalam lautan dangkal. Karst merupakan perbukitan yang secara tektonik terangkat dari dasar laut ke permukaan. Whualaa, sekarang jadi berbentuk bukit yang kita pijak - pijak. Karst merupakan kekayaan alam yang menakjubkan bagi kita. Ada banyak sejarah alam yang bisa dibagikan selain dengan mengekploitasinya menjadi kapur ataupun pupuk tanaman halaman rumah kita.




 

Gambar - gambar di atas adalah bagian dari Gua Gong. Bagian yang putih merupakan kristal karbonatan yang masih terus bertumbuh menjadi ornamen gua. Warna keputihan ini akan berubah menjadi kekuningan bahkan hitam jika teroksidasi atau terjadi asam yang tinggi pada saat pelarutan. Butuh waktu lama untuk ornamen ini tumbuh dan menjadi indah seperti ini! Mari kita jaga!
Perjalanan perbukitan karst yang khas selama hampir 4 jam, membawa kami mulai mendekati daerah kawasan Gua Gong. Lokasi karst yang khas dengan tanaman yang tidak begitu lebat dengan pepohonan berdiameter besar menghiasi sepanjang perjalanan. Perjalanan dengan kendaraan bermotor bukan tanpa risiko, karena tidak ada pom bensin yang berjualan di sekitar sana. Inilah juga yang jadi kendala daerah kawasan wisata alam yang kurang populer. Bisa diakui bahwa ketidakpopuleran kegiatan mengunjungi gua adalah sesuatu hal yang lumrah. Banyak orang cenderung mencari suasana pegunungan yang hijau dan berudara sejuk atau pantai dengan air yang menderu dan pasir putihnya. Perjalanan wisata ke kawasan karst adalah hal yang belum populer. Baru akhir - akhir ini dikembangkan wisata tubing dengan memanfaatkan aliran sungai bawah tanah yang biasanya banyak ditemukan di kawasan karst aktif. Ohiya, sekadar informasi, tidak semua kawasan karst memiliki aliran sungai bawah tanah. Aku sudah melihat keduanya dan berbeda sekali semuanya.

Perjalanan yang melelahkan akhirnya sampai di depan pintu masuk Gua Gong. Perjalanan belum berakhir, masih ada beberapa puluh anak tangga (atau mungkin ratusan) yang masih harus ditempuh lagi sebelum mencapai ke pintu masuk Gua Gong langsung karena pintu mulut gua berada di atas perbukitan karstnya. Membayangkan kembali apa yang akan dilihat ketika ternyata di dalam perbukitan ada suatu ruangan besar sekali. Sesampai di depan pintu masuk, kita akan disambut dengan pemandangan ke arah luar yang bebas dan hijau! Juga terdapat prasasti tentang sekilas sejarah penemuan yang isinya tahun dan siapa yang menemukan. Melihat prasasti ini, pasti penemuan gua ini kepikiran karena aktivitas mereka di hutan sekitar karst. Hutan di daerah karst biasanya banyak tumbuh pohon jati dan rerumputan untuk ternak.

Travelling Kuliah: City Walk, Braga 2011

Wisata sejarah sangat mengena bagi orang yang ingin merasakan sensasi kota tua yang sungguh berbeda dibandingkan wilayah lainnya di Bandung. Pergerakan Braga pun semakin pesat pada masa sekarang. Jalanan ini seolah menjadi pusat wisata dengan berbagai peranti pendukungnya, seperti toko kue, tempat makan, ragam bisnis seni, dan hiburan lainnya hingga klub malam. Sebagian arsitektur gedung di kawasan ini telah diubah dan menjadi kawasan modern. Sungguh disayangkan! Hanya sedikit lagi gedung - gedung yang mungkin sedang menunggu nasib dan jalan Braga yang khas. Jalanan ini masih dipelihara dalam bentuk gabungan bebatuan blok biasa, bukan aspal.


Inilah menjadikan daya tarik lainnya dari kawasan Braga. City walk siang pun akan membawa kita untuk ke salah satu restoran tua yang menjajakan kue - kue dengan resep asli masa Belanda dan es krim yang nikmat! Wajib coba. Restoran di sekitar penjual lukisan ini, buka setiap hari senin sampai jumat, kadang juga sabtu. Namun jam bukanya, cukup tidak tentu juga. Mungkin akan aku ceritakan lain kali pada city walk lainnya. Banyak foto yang aku foto lagi adalah lukisan. Sesuatu yang banyak banget dijumpai di sekitar sini. Mereka menghiasi setiap jalanan yang dimiliki Braga menjadi lebih berwarna.

Travelling Kuliah: Boscha di Pagi Hari


Senangnya, berganti lagi hari, bertambah lagi waktu untuk menulis ini dan itu. Mengingat kembali morning walk beberapa waktu lalu bersama lekakiku dan saudara tuanya di Lembang, Bandung Utara.
Morning walk dadakan ini sangat tidak terencana tapi sangat membahagiakan. Melihat Bandung di pagi hari dengan aktivitas masyarakat berbagai lapisan di Sabtu pagi, terutama masa liburan. Perjalanan ditetapkan jam 11 malam, pada malam sebelumnya. Hebat!

Hampir jam setengah 6, kami bertiga meluncur ke lokasi dengan menggunakan mobil ke kawasan Lembang melalui jalan Setiabudi. Perjalanan masih lengang dengan hanya masih awal - awal mobil pribadi, angkot dan kendaraan lainnya yang bermalas-malasan bergerak menikmati sinar matahari yang sejuk. Perjalanan pun serasa tanpa hambatan, tidak seperti pada siang hari yang penuh sesak mobil maupun kendaraan lainnya, termasuk bus yang bersemangat mengambil bagian di jalanan ke arah Lembang.

Perjalanan berlanjut, dinginnya kawasan Lembang yang menyenangkan dan membuat hati perlahan mulai refresh dari segala kerumitan kota Bandung yang sedang penuh sesak. Perjalanan mengitari perbukitan daerah Lembang yang mengarah ke Cekungan Bandung ini menjadi suatu hal yang membahagiakan dan menjadi hal yang juga menjadi ketakutan tersendiri. Ada banyak hal yang berubah jika diingat oleh mereka yang tinggal dan merasakan Bandung dari kecil. Mangkok Cekungan Bandung ini seolah semakin penuh dengan perumahan, ladang, sawah hingga kawasan modern seperti mall yang semakin menyesakan. Terang benderang pada malam hari merupakan representatif cahaya dari semua bangunan yang tampak seperti kepadatan tak berujung di pagi hari. Kabut dan asap menjadi satu di pagi hari. Jujur, aku mulai kesulitan mengenali kabut dan asap yang terlihat di kawasan Lembang jika kita berada di ketinggian. Hampir semuanya putih, tapi ntah itu kabut atau asap putih saja.

Sepanjang perjalanan, memasuki kawasan Lembang, kanan kiri penuh dengan penginapan dari kelas melati sampe berbintang, orang - orang yang menjaja makanan dari yang kelas kaki lima sampai restoran mewah. Semua bisa dipilih, tergantung budget yang dimiliki. Jalanan kecil khas Lembang ini penuh sesak keramaian masyrakat di sana, maupun para pelancong yang ingin menikmati hari - hari libur mereka di sana. Sudah lengkap semua kebutuhan fasilitas penghibur di Lembang.

Kami pun berhenti dan menikmati pagi dengan segelas teh hangat, ketan bakar yang khas di Lembang, hingga colenak yang manis! Sarapan sederhana yang sangat berkesan dan begitu menggoda selera makan. Perjalanan kami hentikan dan arahkan dengan menikmati keramaian yang mulai menggeliat. Mobil - mobil dengan plat nomor luar D, mulai bergerak, memarkir mobil di sepanjang jalanan Lembang yang sempit untuk menikmati sarapan pagi khas kaki lima, seperti yang kami lakukan bertiga. Dengan merasa dingin lebih ekstra, setiap pedagang didatangi dan mendapat pesanan yang cukup lumayan agar asap dapur rumah tetap mengepul.

Jagung berjejar rapih menggoda pembeli.
Ketan bakar lezat di pagi hari.
Hanya setengah jam di sana, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Boscha. Boscha merupakan satu - satunya lokasi pembelajaran astronomi publik yang dimiliki oleh Indonesia. Teropong ini dibangun pada masa Belanda. Boscha berada di salah satu puncak perbukitan di Lembang. Letaknya yang tinggi memberikan ruang untuk para astronom melakukan pengamatan pada pagi maupun siang hari. Kawasan ini sekarang adalah sah kepemilikan ITB. Makanya, teman - teman astronomi ITB, seolah punya paspor gratis untuk memanfaatkan sarana belajar ini.

Boscha terdiri dari beberapa teropong pengamatan. Hanya ada satu yang paling besar dan dibuka ketika bias matahari tidak terjadi karena bisa menganggu pengamatan. Jadilah, teropong ini hanya dibuka pada masa atau waktu tertentu saja oleh para astronom. Selain itu, juga terdapat beberapa teropong lain dan arsip penting lainnya yang tidak boleh dipublikasikan secara massal. Hal ini menjadi wajar mengingat perilaku wisatawan tidak bisa menjamin bahwa kerusakan dan kehilangan tidak akan terjadi!

Lokasi Boscha yang tertutup pada waktu dulu, sekarang sudah dikomersialisasi. Terlalu banyak pemukiman bahkan terdapat hotel sekitar sana yang mengisi ruang kosong khusus untuk Boscha. Para pengamat butuh ruang kosong atau sterilisasi lokasi yang ada di sekitar Boscha. Namun, kepentingan membuat di sekitar pintu gerbang Boscha pun ada rumah penduduk! Hal yang seharusnya tidak boleh dan pada masanya tidak ada yang seperti ini. Sebenarnya bisa dibilang, pemerintah pun cenderung tidak peduli dengan sarana belajar ilmu yang sedikit tidak populer di kalangan masyarakat dan tidak menghasilkan uang buat mereka!


Pasti ingat film Petualangan Sherina untuk generasi 90an.

Untuk mengunjungi Boscha secara resmi, tidak seperti kami ini, dapat dilakukan pada jam kantor pada hari Selasa hingg Sabtu. Kunjungan resmi yang diperbolehkan dan disarankan adalah kunjungan berkelompok. Kecuali, punya kawan anak astronomi yang sedang magang di sana, mungkin bisa meminta tolong. Akan tetapi, bukan jaminan!
Kawasan khusus di tahun 2010.
Sebaiknya, hubungi kantor pengelola terkait sebelum melakukan kunjungan dan memberikan kejelasan tujuan ke sana. Jadi, semua bisa dipersiapkan dan keilmuan pun bertambah. Bahkan siapa tahu bisa mendapat kesempatan menggunakan teropongnya!