Wednesday, September 10, 2014

Foto lain di Afrika dan kekayaannya

Setidaknya tentang kekayaan geologi atau bumi yang berusaha dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Apakah kita punya seperti ini untuk hal geowisata atau lainnya?


Chromitite smelter
Dwars river with amazing outcrop
Savana Africa with all resources

Other photos from Africa

Foto lainnya yang rasanya sayang jika tidak diletakkan. Mari kita lihat sekeliling, betapa bersyukurnya selalu dimanapun ditempatkan. Selalu indah dengan cara masing - masing. 
Macet itu punya siapa saja sepertinya
Desa lainnya di sekitar tambang
Inovasi swing chair untuk bergerak turun pada shaft
Binatang liar di depan kamar, tempat menginap 
me, Eleanor (Canada/Germany) and Christina (Barcelona), new amazing friends.
Beberapa foto narsis bahagia selama fieldtrip dimulai. Banyak sekali yang ditunjukkan dan diperlihatkan. Ini bukan hanya masalah sampel atau outcrop tetapi tentang belajar banyak hal baru dan luar biasa.

Some photos from Africa

Photos tell more stories behind it.
Here, some photos on South Africa time.

Beberapa cerita tentang selatan Afrika yang mungkin sudah seringkali terdengar.

Rumah di sekitar pinggiran Joburg
Desa sekitar outcrop UG1-UG2-UG3 layer kromit
What were they feeling at that time? Amazing? Yes!
They really love to pose like a model,
They are sweet beautiful children
Pergi kemana pun, selalu akan ada terlihat hal demikian. Kesenjangan sepertinya memang juga belum lepas di negara tersebut. Masyarakat tambang masuk untuk membawa lebih banyak berkat dan perubahan kepada pendidikan dan taraf hidup, tetapi memang tidak semudah itu. 

Akita-Hokkaido by Ferry

Bagaimana petualangan lain di Jepang. Biasanya menggunakan shinkansen atau pesawat yang paling umum dilakukan di sini, terlebih si kereta cepat shinkansen yang telah terkenal seantero dunia. 
Kesempatan kali ini datang setelah undangan dari salah satu keluarga Indonesia untuk ke Hokkaido. Setelah membeli lewat agen perjalanan, diri mempersiapkan diri untuk perjalanan pertama dengan ferry. Biaya transportasi ini relatif lebih murah dibandingkan dengan trasnportasi lainnya untuk ke Hokkaido dari Akita. Biaya perjalanan pulang-pergi membutuhkan sekitar 10.000 yen saja dibandingkan dengan menggunakan shinkansen yang berkisar 34000 yen atau lebih. Pemesanan tiket ferry juga dapat dilakukan melalui website resmi http://www.snf.jp/ atau di pelabuhan langsung. Pembelian di pelabuhan dapat dilakukan hingga sebelum berangkat. Namun tidak menjadi jaminan pasti mendapat tiket, terutama pada musim peak season saat musim libur musim panas. Rata - rata harga saat musim panas dan musim biasanya, hampir sama saja. 
Kapal ferry sampai di Pelabuhan Akita setelah sebelumnya berlayar dari Niigata. Sekitar pukul 05.00 kapal sudah berlabuh dan menurunkan penumpang dari Niigata menuju Akita. Kapal akan lanjut berlayar ke Pelabuhan Tomakomai, Hokkaido sekitar pukul 06.30. Para penumpang yang akan berlayar sudah datang minimal sejam sebelumnya. Mobil dan motor sudah berjajar rapih di barisan yang telah ditentukan oleh petugas pelabuhan. Para pengendara mobil dan motor diberikan identitas tujuan ferry yang ada, terutama saat berlayar pulang dari Tomakomai. Petugas akan mengatur parkiran khusus untuk Akita atau Niigata misalnya pada saat berlayar pulang dari Tomakomai. Hanya pengendara yang diizinkan di dalam mobil atau motor untuk memarkirkan kendaraannya di dalam kapal. Tidak seperti di Indonesia, para penumpang lain selain pengendara tidak diperkenankan tinggal di dalam kendaraan. Calon penumpang lain harus melalui gedung penumpang dan boarding sesuai aturannya. Penumpang akan menunggu di ruang tunggu, misalnya di lantai 2 seperti di Pelabuhan Akita (lantai 1 tempat pemesanan dan administrasi tiket lainnya). Semua barang yang akan digunakan selama perjalanan harus sudah dibawa bersamaan dengan penumpang lainnya. Sang pengendara hanya akan membawa barang sisanya karena selama perjalanan penumpang tidak diperkenankan ke parkiran mobil tanpa alasan yang jelas.

Boarding time
Suasana dalam ferry
Kurang lebih 30 menit sebelum berangkat, petugas mulai membuka gate boarding yang dibatasi dengan pembatas sederhana. Sejak pengumuman boarding, para penumpang mulai berbaris rapih dan menyiapkan tiket yang dibutuhkan untuk boarding. Pada tiket terdapat barcode yang menjadi semacam scan code saat kita akan boarding. Tiket yang sama harus tetap kita simpan karena saat sebelum turun, petugas akan melakukan scan barcode kembali untuk memastikan penumpang semua aman dan nyaman. Jika tiket hilang, jangan khawatir! Kita bisa menyingkir segera dari antrian dan menuju ke petugas yang berjaga untuk mengecek identitas kita. Satu lagi yang menarik di sini bahwa tiap tiket kapal memiliki nama dan identitas lengkap dari si penumpang sehingga lebih aman, seperti halnya pesawat. 
Kamar kelas H
Kamar kelas J
Setelah boarding, kita akan masuk ke kapal dan menemui kembali petugas yang akan membantu kita memberi tahu dimana lokasi kita bisa beristirahat. Berhubung diri kemarin naik kapal kelas ekonomi, jadi langsung ke bilik atau kamar yang memiliki set tempat tidur karpet isi 20 orang. Penumpang bebas memilih kamar sesuai kelasnya. Kamar diri ada di kelas J, dengan bantal yang sedikit keras dan selimut yang hangay, diri memulai perjalanan. Akita Hokkaido dapat ditempuh dalam 8 jam kurang lebih selama cuaca di laut Jepang bersahabat. 

Lantai 2 ferry
Hal yang menarik perjalanan dengan ferry juga ternyata banyak dilakukan oleh warga Jepang lainnya selain dengan kereta! Harga yang lebih terjangkau untuk membawa mobil dan keluarga besar mungkin jadi alasan tepat memilih transportasi ini. Fasilitas di dalam kapal juga menarik sekali. Di dalam kapal, tersedia shower room dan pemandian air panas atau onsen, jacuzzi, tenis meja, bioskop mini, restauran, kursi pijat, ruang tivi hingga taman bacaan anak. Perjalanan seperti ini sangat nyaman untuk keluarga bukan? Meskipun waktu tempuhnya cukup lama. Selain itu, ferry juga menyediakan kamar kelas bisnis. Kelas ini berada di lantai 2 dengan kamar yang pastinya lebih privat. Perjalanan pun menjadi lebih nyaman dan aman.

Salah satu koridor dalam ferry untuk beristirahat
Barisan mobil yang diatur sesuai kedatangannya Akita atau Niigata
Jangan khawatir kekurangan makanan atau snack atau kebutuhan lainnya karena di dalam kapal juga terdapat supermarket kecil yang menyediakan kebutuhan mandi sampai oleh-oleh. Di tipe kapal lainnya, terdapat penyewaan selimut dan tambahan bantal sekitar 300 yen per buah untuk sekali perjalanan. Kapal tipe ini biasanya lebih kecil dan jarak perjalanannya pun lebih pendek. Diri berlayar dari Hachinoe di Aomori (utara Honshu) menuju Hokkaido di waktu lainnya menggunakan kapal seperti ini. Di dalam kapal hanya ada bilik tanpa kamar yang tiap ruangannya hanya dipisahkan dinding pembatas pendek sehingga dari lorong jalan, semua orang bisa melihat bagaimana orang-orang tertidur di "kasur"nya. Bedanya, kapal dari Hachinoe memiliki nomor kasur sehingga penumpang tidak perlu berebut tempat yang mereka anggap nyaman.

Perjalanan dengan kapal bagi yang senang petualangan dan tidak terburu-buru pasti akan menyenangkan. Mengapa tidak dicoba? Mereka menyediakan layanan kapal dari selatan ke utara Jepang loh! Selamat mencoba.

Friday, September 05, 2014

Senyum Resi

Resi adalah anak yang tidak pernah tersenyum dan selalu berpikiran negatif. Dia selalu berpikir bahwa hidupnya sulit dan tidak bahagia. Sifat selalu menyalahkan Resi sangat membuat ia tidak memiliki seorang teman. Ayah dan ibunya bahkan selalu dianggap Resi tidak memiliki kesempatan untuk membahagiakannya. Apapun yang diberikan oleh orangtuanya adalah bukan yang ia inginkan dan salah. Bagi Resi, apa yang dimiliki orang lain lebih baik daripada yang dimilikinya meskipun barang tersebut lebih bagus. Rasa iri hati Resi menjadikan dia seorang bocah perempuan yang sangat pemurung. Hingga suatu waktu, saat tertidur ia bermimpi bertemu dengan seorang ayah yang sangat lembut. Ayah tersebut bersama anak – anak lain seusia dia yang tengah bermain. Resi melihat semua anak memakai pakaian yang sangat indah dan mainan – mainan yang bagus. Ia sangat ingin melihatnya dan langsung mengingininya. Seorang anak dalam kelompok ini menyadari kehadiran Resi yang sedang mengamati mereka bermain. Anak ini pun menghampiri Resi dan dengan wajah bersinar dan senyum, ia bertanya pada Resi, “Kamu sedang apa di sini? Kami hanya menerima anak – anak suka tersenyum.”
“Aku ingin ikut main dan mau pakaian itu juga.”, kata Resi dengan muka yang tetap cemberut.
“Tidak boleh, kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, balas anak tersebut.
“Buat apa aku tersenyum? Aku hanya mau mainan dan pakaiannya, itu bagus sekali, aku tidak punya.”, jawab Resi.
“Tidak boleh, kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, balas anak tersebut lagi.
“Aku mau baju dan mainannya. Kalian tidak perlu punya itu.”, teriak Resi.
“Mengapa kamu berteriak? Kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, jawab anak ini dengan senyumannya.
“Aku mau mainan itu!”, teriak Resi yang kali ini membuat Sang Ayah melihat dan menghampiri keduanya. Melihat Sang Ayah datang, si anak berlari memelukNya dan pergi berkumpul bersama dengan anak – anak lain meninggalkan Resi. Sang Ayah dengan lembut menghampiri Resi yang penuh kemarahan dan kebencian.
“Mengapa Resi marah?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Loh, om tahu darimana nama Resi. Resi tidak bilang ke anak tadi nama Resi.”, jawab Resi yang mulai bingung.
“Siapa yang tidak kenal dengan Resi, anak gadis pemarah yang tidak pernah tersenyum?”, jawab Sang Ayah dengan lembut memandang Resi.
“Resi, bukan anak pemarah. Resi tidak suka tersenyum.”, kilah Resi setengah berteriak.
“Itu Resi berteriak lagi, hati Resi penuh dengan kemarahan. Apa yang membuat Resi marah?”, tanya Sang Ayah.
“Resi mau mainan dan baju itu! Itu bagus, Resi mau!”, jawab Resi lagi.
“Resi, mau baju dan mainannya?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Iya, mau.”, Resi melunak.
“Ayo, kita lihat di buku ini ya. Kita cari nama Resi ada atau tidak?”, ujar Sang Ayah sembari mengeluarkan sebuah buku indah dengan pita yang terbuat dari emas.
“Pasti ada.” Resi berujar santainya.
“Resi, tidak ada namamu di sini. Maaf Resi, baju dan mainannya berarti tidak ada untuk Resi.”, kata Sang Ayah lembut.
“Loh, kenapa tidak ada? Harusnya nama Resi ada di situ! Sini bukunya.”, Resi berteriak dan mengambil buku tersebut dari Sang Ayah. Sang Ayah pun membiarkan Resi mencari namanya dalam buku cantik tersebut.
Hampir seharian Sang Ayah sabar menunggu Resi mencari namanya hingga Resi mulai kelelahan dan menyerah.
“Mengapa nama Resi tidak ada?” tanya Resi hampir menangis.
Sang Ayah pun memeluk Resi yang menangis. “Resi, pernahkah Resi tahu kalau baju dan maianan itu punya Resi sudah habis diberikan kepada anak – anak lain?”, tanya Sang Ayah lembut Resi pun menghapus air matanya dan bertanya bingung “Mengapa dikasih ke anak – anak lain? Itu kan punya Resi.”
“Resi, ketika Resi mengingini punya anak – anak lain, maka apa yang Resi miliki di sini. Harus diberikan kepada mereka sebagai gantinya agar adil. Setiap senyum yang hilang dari Resi juga diganti dengan mainan dan baju Resi di sini.”, kata Sang Ayah.
Resi mengingat apa yang selama ini yang ia lakukan. Kebiasaannya iri hati dan tidak bersyukur terhadap apa yang sudah diberikan selama ini membuat dia kehilangan yang jauh lebih bagus dan sangat indah. Resi menangis kembali.
“Tapi Resi mau mainan dan baju itu.”
“Resi, bisa punya itu lagi selama Resi mau dengar – dengaran dan belajar bersyukur dengan apa yang Resi miliki.”, ujar Sang Ayah lembut pada Resi yang duduk di pangkuanNya.
“Resi bisa punya itu lagi nanti?”, tanya Resi lebih semangat.
“Iya, Resi. Resi mau tersenyum juga?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Resi mau!”, tawa Resi dengan riang untuk pertama kalinya keluar dengan alami.
“Pakaian dan mainannya akan disimpankan untuk Resi.”, kata Sang Ayah.
“Terima kasih, Om.”, ujar Resi yang sangat bahagia.
“Sama-sama, Resi.”, jawab Sang Ayah dengan senyum.
Resi pun kegirangan dan bahagia sekali karena ia tahu akan segera memiliki baju dan mainan yang sangat indah yang diingininya itu. Ia berjanji untuk mau dengar – dengaran dan bersyukur atas apa yang ia miliki.
“Om siapa ya tapi?”, tanya Resi.

“Saya Tuhan Yesus, Resi.”, jawab lembut Sang Ayah. 

Ana yang Menari

Ana adalah seorang anak petani miskin di Desa Meriah. Ia, anak yang rajin sekali membantu ayah dan ibunya. Setiap pagi, Ana berjalan kaki selama 1 jam menuju SD Terang Pagi. Sekolah ini adalah satu – satunya sekolah terdekat yang dapat Ana jangkau. Ketika sampai di sekolah, ia bergegas menuju ruang kelas 5, tempat ia menuntut ilmu. Meskipun seorang anak petani, Ana selalu mendapatkan nilai yang bagus di kelasnya. Ibu Ida, wali kelasnya selalu bertanya kepada Ana apa yang dapat terus memacu semangatnya belajar di tengah kekurangan yang ia miliki. Ana selalu menjawab dengan riangnya, “Tuhan Yesus selalu baik dengan Ana, Bu. Jadi, Ana mau kasih hasil yang terbaik juga.” Ana selalu jaid anak yang ceria di kelasnya dan dimanapun ia berada. Ketika jam istirahat, rasa lapar pun ia ganti dengan bernyanyi memuji Tuhan. Uangnya tidak cukup jika harus dibelikan jajanan di pagi hari dan makan siang sebelum pelajaran tambahan. Hanya saja terkadang beberapa temannya selalu memberi makanan pada Ana karena terdorong melihat keceriaan Ana di tengah kesulitan. Salah satunya adalah Rena. Rena sangat menyayangi Ana karena kejujuran hati dan kesederhanaan hatinya.

Namun dibalik keceriaan dan semangat, tidak ada yang pernah menyadari bahwa Ana memiliki sakit yang parah. Rasa sakitnya membuat Ana seringkali kehilangan keseimbangan saat bekerja dan berjalan akhir – akhir ini. Ana membutuhkan waktu 2 jam untuk sekali pulang atau pergi ke sekolah karena kakinya yang seringkali lemas tiba – tiba. Ana tetap tersenyum dan bersyukur. Dalam tawa dan senyumnya, Ia percaya bahwa kakinya sedang dikuatkan oleh Tuhan Yesus. Setiap hari, Ana hanya bernyanyi memuji Tuhan Yesus saat ia sedang terjatuh hingga dapat kembali berdiri untuk meneruskan pejalanannya. 

Hingga suatu malam, sebelum tidur, Ana terjatuh saat akan membereskan makan malam bersama ibunya. Sang ibu kaget dan ayahnya langsung mengangkat Ana. Saat itulah, orang tua Ana baru mengetahui jika selama ini Ana sudah mengalami hal yang sama berulang kali. Ana selalu mengatakan bahwa ia butuh waktu lebih lama untuk ke sekolah karena ingin menikmati hari – harinya yang indah. Ayah Ana hanya bisa menangis melihat putri kecilnya karena tidak mampu untuk membawa Ana ke dokter yang jarkanya saja 1 hari perjalanan. Ana dengan senyumannya dalam pelukan ibunya mengajak ayah dan ibunya berdoa.

“Ayah, ibu jangan sedih. ayo temani Ana berdoa kepada Tuhan Yesus.”, kata Ana dengan senyumnya. 
Lalu dengan tangan terlipat dan iman pasrah pada Tuhan Yesus, mereka berdoa bersama. Doa sederhana dari seorang anak kecil yang sangat percaya, sangat indah. “Tuhan Yesus, Ana terjatuh lagi karena kakinya masih belum kuat lagi. Ayah dan ibu Ana sedih ya Tuhan. Kami sekarang sekeluarga berdoa, percaya kalau Tuhan Yesus akan mengangkat Ana dan Ana akan berjalan dengan kuat lagi. Ana rindu menari selalu untuk Tuhan Yesus. Amin.”Ana pun berdiri kembali dan ia tidak pernah terjatuh lagi. Sakitnya hilang dan sembuh sepenuhnya. Seperti dalam doanya, Ana pun menari untuk Tuhan Yesus. Kini ia melayani Tuhan di gerejanya sebagai penari cilik. Kata Ana selalu, “Tuhan Yesus sudah kuatkan kaki Ana untuk menari bagiNya. Ana bahagia dipilih Tuhan.” setiap ditanya oleh teman – teman grup menarinya di gereja.