Showing posts with label photo. Show all posts
Showing posts with label photo. Show all posts

Monday, July 04, 2016

Akita University

Ada beberapa postingan tentang kampus diri di Jepang. Yang jelas saat diri tinggalkan, mereka sedang dalam pengembangan yang sangat pesat. Mungkin ada beberapa yang akan berbeda, tetapi setidaknya beberapa foto di bawah bisa memberikan gambaran bagaimana si Akita University itu. Sebagai catatan, diri adalah mahasiswa di geologi, jadi foto - foto yang ada mungkin sedikit terfokus di bagian yang dekat dengan fakultas diri. Sebagian cerita tentang kampus diri ini juga sudah diri tuliskan di bagian Leading Program, beberapa postingan sebelum ini. Diri berharap ini bisa membantu untuk siapa saja yang akan menjadi murid baru di Akita University. Welcome!

Wisuda April atau Spring semester entrance.
Tampak depan kampus Akita di Tegata.
Bagian belakang, area parkir sepeda. 
Acara wisuda lulusan September atau Fall semester. entrance.
Salah satu kelas dan forum kegiatan mahasiswa di Akita University.
Di depan perpustakaan dan gedung utama para profesor saat ini.
Salah satu taman di dalam kampus Akita Tegata.
Fasilitas kampus Akita University di Tegata sendiri ada klinik kesehatan, kantin (tanpa makanan khusus halal), ATM center, perpustakaan, ruang mini konser, area kegiatan mahasiswa atau ekstrakurikuler, kantor rektorat, kantor administrasi kampus, All Room (English Room), laboratories, class rooms dan lainnya. Kampus Tegata Akita University sangat mudah dijangkau dari Akita station atau Akita eki. 

Ambil bus jurusan nomor 370, 371, 372, 373 yang langsung berhenti di stasiun Akitadaigaku-mae atau menggunakan bus nomor 350, 351, 352, 360, 361 dan 362 dan berhenti satu stasiun setelah yamasaki-mae. Taxi juga dapat menjadi pilihan langsung dari Akita eki menuju Akita University dengan biaya berkisar 990 hingga 1090 yen untuk satu kali jalan. Alamat Akita University ada di 1-1 Tegatagakuen machi, lokasinya cukup dekat dengan stasiun. Pilihan jalan kaki juga dapat dilakukan yang membutuhkan waktu sekitar 30 - 45 menit melalui beberapa jalan yang tersedia (kondisi musim panas-musim semi). 

Wednesday, December 02, 2015

Travelling Kuliah: Pantai Siung #2010

Perjalanan ini pun sudah lama aku lakukan. Akan tetapi, kenangannya tetap poll keren di dalam kepala aku. Banyak hal yang dilakukan di sana. Aku merasakan sebuah kebebasan di pantai lepas yang sungguh membahagiakan. Perjalanan dimulai dengan segala keterburu-buruan yang biasa mengiringi langkah aku ketika libur panjang. Aku seolah tak mau melewatkan satu pun lokasi yang ada apapun alasannya. Sungguh luar biasa buat aku merasakan sensasi ombak pantai yang biru dengan karang - karangnya yang menggoda untuk dipanjat! Karang - karang di Pantai Siung dibagi menjadi beberapa blok pemanjatan, dari blok A sampai blok K. Semua blok pemanjatan memiliki kesulitan masing - masing yang sangat bervariasi. Keinginan memanjat di sini wajib dipenuhi! Bagi yang ingin merasakan sensasi di atas tebing tanpa lelah memanjat manual di karang yang tajam, pilihlah jalur belakang tebing yang cenderung melandai. Banyak sisi siung yang bisa digali hingga mencapai hidden beach. Ada sisi Pantai Siung lainnya, yang dapat ditemukan jika kita berjalan ke arah berbeda dari tempat orang kebanyakan bersandar menikmati pantai.

Karang di Pantai Siung yang indah, tempat mengambil sisi yang berbeda dalam memandangi sesuatu. Laut Selatan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di sana.
Pantai Siung yang indah dan eksotik. Air biru dengan langit yang sungguh menggoda. Pernah merasakan sensasi berbeda? Lalu, cobalah daerah ini!
Tempat keindahan yang berkumpul dan tantangan mengantri untuk digali.
 Blok A merupakan blok pertama dari karang - karang yang bisa kita panjat.
Ciri khas suatu daerah tujaman pada pertemuan lempeng.
Ombak Pantai Selatan yang tinggi dan ekstrim!
Sisi Pantai Siung yang menggoda.
   

Perjalanan ke Pantai Siung membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam hingga ke tempat tujuan dari kota Yogyakarta. Perjalanan ini dapat ditempuh dengan kendaraan motor pribadi atau angkot yang disewa langsung. Kondisi alami karst sangat kentara di daerah ini. Di sekitar perjalanan menuju Pantai Siung banyak terdapat gua - gua alami karst. Sungguh, terbayang untuk aku, bahwa daerah ini mungkin memiliki sistem gua yang bermuara di laut! Sungguh hal yang super dan tidak akan terbayangkan jika benar!

Merasakan sensasi Pantai Siung merupakan saran dan keharusan yang wajib dicoba. Di lokasi ini, pantai telah memiliki cottege, tempat makan atau warung, dan toilet - toilet umum. Pengembangan yang sederhana tapi sangat berguna dalam perjalanan. Ingin diulang lagi perjalanan ini!

Setiap sisi pantai memiliki pesona berbahaya yang sungguh menjadi tantangan dan anjuran pilihan untuk diikuti atau ditinggalkan.
Merasakan deru ombak merupakan bagian yang wajib dilakukan! Banyak pencari kehidupan melawan ganasnya ombak di sini!

Travelling Kuliah: Gua Gong, Pacitan #2009

Kembali diri ingin berbagi cerita 2009 untuk travel bersama teman - teman lainnya. Tulisan yang masih sangat awam dan masih belum terasah, tapi menjadi pelajaran tersendiri untuk itu. 

Perjalanan ini juga udah lama sekali. Hanya tersimpan di file lama pikiran dan cerita - cerita mulut ke mulut bersama kawan yang ingin menikmati sensasi caving. Caving merupakan bagian dari kecintaan aku dalam menikmati kegiatan alam bebas yang luar biasa pernah menjadi bagian dalam hidup aku. Perjalanan ini dilakukan pada Juli 2009 lalu, di saat aku dalam proyek berjalan - jalan merasakan backpackingan bersama dengan kawan - kawan di sana. Mampir dari Jogja, langsung tancap ke Solo. Perjalanan ke sana benar - benar sesuatu yang ga sederhana buat aku. Pada tahapan ini, aku akan mengenal kembali teman - teman baru dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Perjalanan dirancang tanpa rencana yang seperti biasa aku lakukan kalo sudah benar - benar diberantakin rencananya dari awal.
Pintu masuk Gua Gong yang sederhana.
Prasasti penemuan Gua Gong tahun 1924
Sampai di Solo, langsunglah aku bergabung dengan kakak mapala aku dulu untuk bercengkerama dan mengenalkan aku dengan Om Jo, sahabatnya. Om Jo inilah yang benar - benar mendengarkan mau aku ke gua saat itu. Jadilah, kami pagi - pagi sekali berangkat dengan motor ke Pacitan. Perjalanan yang lumayan jauh tapi sudah biasa bagi aku untuk bermotor ke suatu tempat dengan jarak lebih dari 3 jam perjalanan. Begini juga, aku dulu di mapala adalah salah satu driver motor karena ga semua angkatan bisa bawa motor. Hanya sekadar intermezzo!

Tirai karbonat di Gua Gong.
Balik lagi, perjalanan ke Pacitan merupakan eksotisme tersendiri buat aku. Perjalanan dengan motor di jalan lingkar luar kota Pacitan sendiri menunjukkan keagungan Yang Maha Punya melalui perbukitan karst yang sungguh luar biasa. Perbukitan karst yang menjadi tempat motor kami lalui sungguh menyajikan pemandangan tak biasa dari suatu perjalanan. Jika mau ditilik dari zaman pembentukannya, kita akan seolah dalam perjalanan di dalam lautan dangkal. Karst merupakan perbukitan yang secara tektonik terangkat dari dasar laut ke permukaan. Whualaa, sekarang jadi berbentuk bukit yang kita pijak - pijak. Karst merupakan kekayaan alam yang menakjubkan bagi kita. Ada banyak sejarah alam yang bisa dibagikan selain dengan mengekploitasinya menjadi kapur ataupun pupuk tanaman halaman rumah kita.




 

Gambar - gambar di atas adalah bagian dari Gua Gong. Bagian yang putih merupakan kristal karbonatan yang masih terus bertumbuh menjadi ornamen gua. Warna keputihan ini akan berubah menjadi kekuningan bahkan hitam jika teroksidasi atau terjadi asam yang tinggi pada saat pelarutan. Butuh waktu lama untuk ornamen ini tumbuh dan menjadi indah seperti ini! Mari kita jaga!
Perjalanan perbukitan karst yang khas selama hampir 4 jam, membawa kami mulai mendekati daerah kawasan Gua Gong. Lokasi karst yang khas dengan tanaman yang tidak begitu lebat dengan pepohonan berdiameter besar menghiasi sepanjang perjalanan. Perjalanan dengan kendaraan bermotor bukan tanpa risiko, karena tidak ada pom bensin yang berjualan di sekitar sana. Inilah juga yang jadi kendala daerah kawasan wisata alam yang kurang populer. Bisa diakui bahwa ketidakpopuleran kegiatan mengunjungi gua adalah sesuatu hal yang lumrah. Banyak orang cenderung mencari suasana pegunungan yang hijau dan berudara sejuk atau pantai dengan air yang menderu dan pasir putihnya. Perjalanan wisata ke kawasan karst adalah hal yang belum populer. Baru akhir - akhir ini dikembangkan wisata tubing dengan memanfaatkan aliran sungai bawah tanah yang biasanya banyak ditemukan di kawasan karst aktif. Ohiya, sekadar informasi, tidak semua kawasan karst memiliki aliran sungai bawah tanah. Aku sudah melihat keduanya dan berbeda sekali semuanya.

Perjalanan yang melelahkan akhirnya sampai di depan pintu masuk Gua Gong. Perjalanan belum berakhir, masih ada beberapa puluh anak tangga (atau mungkin ratusan) yang masih harus ditempuh lagi sebelum mencapai ke pintu masuk Gua Gong langsung karena pintu mulut gua berada di atas perbukitan karstnya. Membayangkan kembali apa yang akan dilihat ketika ternyata di dalam perbukitan ada suatu ruangan besar sekali. Sesampai di depan pintu masuk, kita akan disambut dengan pemandangan ke arah luar yang bebas dan hijau! Juga terdapat prasasti tentang sekilas sejarah penemuan yang isinya tahun dan siapa yang menemukan. Melihat prasasti ini, pasti penemuan gua ini kepikiran karena aktivitas mereka di hutan sekitar karst. Hutan di daerah karst biasanya banyak tumbuh pohon jati dan rerumputan untuk ternak.

Travelling Kuliah: Boscha di Pagi Hari


Senangnya, berganti lagi hari, bertambah lagi waktu untuk menulis ini dan itu. Mengingat kembali morning walk beberapa waktu lalu bersama lekakiku dan saudara tuanya di Lembang, Bandung Utara.
Morning walk dadakan ini sangat tidak terencana tapi sangat membahagiakan. Melihat Bandung di pagi hari dengan aktivitas masyarakat berbagai lapisan di Sabtu pagi, terutama masa liburan. Perjalanan ditetapkan jam 11 malam, pada malam sebelumnya. Hebat!

Hampir jam setengah 6, kami bertiga meluncur ke lokasi dengan menggunakan mobil ke kawasan Lembang melalui jalan Setiabudi. Perjalanan masih lengang dengan hanya masih awal - awal mobil pribadi, angkot dan kendaraan lainnya yang bermalas-malasan bergerak menikmati sinar matahari yang sejuk. Perjalanan pun serasa tanpa hambatan, tidak seperti pada siang hari yang penuh sesak mobil maupun kendaraan lainnya, termasuk bus yang bersemangat mengambil bagian di jalanan ke arah Lembang.

Perjalanan berlanjut, dinginnya kawasan Lembang yang menyenangkan dan membuat hati perlahan mulai refresh dari segala kerumitan kota Bandung yang sedang penuh sesak. Perjalanan mengitari perbukitan daerah Lembang yang mengarah ke Cekungan Bandung ini menjadi suatu hal yang membahagiakan dan menjadi hal yang juga menjadi ketakutan tersendiri. Ada banyak hal yang berubah jika diingat oleh mereka yang tinggal dan merasakan Bandung dari kecil. Mangkok Cekungan Bandung ini seolah semakin penuh dengan perumahan, ladang, sawah hingga kawasan modern seperti mall yang semakin menyesakan. Terang benderang pada malam hari merupakan representatif cahaya dari semua bangunan yang tampak seperti kepadatan tak berujung di pagi hari. Kabut dan asap menjadi satu di pagi hari. Jujur, aku mulai kesulitan mengenali kabut dan asap yang terlihat di kawasan Lembang jika kita berada di ketinggian. Hampir semuanya putih, tapi ntah itu kabut atau asap putih saja.

Sepanjang perjalanan, memasuki kawasan Lembang, kanan kiri penuh dengan penginapan dari kelas melati sampe berbintang, orang - orang yang menjaja makanan dari yang kelas kaki lima sampai restoran mewah. Semua bisa dipilih, tergantung budget yang dimiliki. Jalanan kecil khas Lembang ini penuh sesak keramaian masyrakat di sana, maupun para pelancong yang ingin menikmati hari - hari libur mereka di sana. Sudah lengkap semua kebutuhan fasilitas penghibur di Lembang.

Kami pun berhenti dan menikmati pagi dengan segelas teh hangat, ketan bakar yang khas di Lembang, hingga colenak yang manis! Sarapan sederhana yang sangat berkesan dan begitu menggoda selera makan. Perjalanan kami hentikan dan arahkan dengan menikmati keramaian yang mulai menggeliat. Mobil - mobil dengan plat nomor luar D, mulai bergerak, memarkir mobil di sepanjang jalanan Lembang yang sempit untuk menikmati sarapan pagi khas kaki lima, seperti yang kami lakukan bertiga. Dengan merasa dingin lebih ekstra, setiap pedagang didatangi dan mendapat pesanan yang cukup lumayan agar asap dapur rumah tetap mengepul.

Jagung berjejar rapih menggoda pembeli.
Ketan bakar lezat di pagi hari.
Hanya setengah jam di sana, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Boscha. Boscha merupakan satu - satunya lokasi pembelajaran astronomi publik yang dimiliki oleh Indonesia. Teropong ini dibangun pada masa Belanda. Boscha berada di salah satu puncak perbukitan di Lembang. Letaknya yang tinggi memberikan ruang untuk para astronom melakukan pengamatan pada pagi maupun siang hari. Kawasan ini sekarang adalah sah kepemilikan ITB. Makanya, teman - teman astronomi ITB, seolah punya paspor gratis untuk memanfaatkan sarana belajar ini.

Boscha terdiri dari beberapa teropong pengamatan. Hanya ada satu yang paling besar dan dibuka ketika bias matahari tidak terjadi karena bisa menganggu pengamatan. Jadilah, teropong ini hanya dibuka pada masa atau waktu tertentu saja oleh para astronom. Selain itu, juga terdapat beberapa teropong lain dan arsip penting lainnya yang tidak boleh dipublikasikan secara massal. Hal ini menjadi wajar mengingat perilaku wisatawan tidak bisa menjamin bahwa kerusakan dan kehilangan tidak akan terjadi!

Lokasi Boscha yang tertutup pada waktu dulu, sekarang sudah dikomersialisasi. Terlalu banyak pemukiman bahkan terdapat hotel sekitar sana yang mengisi ruang kosong khusus untuk Boscha. Para pengamat butuh ruang kosong atau sterilisasi lokasi yang ada di sekitar Boscha. Namun, kepentingan membuat di sekitar pintu gerbang Boscha pun ada rumah penduduk! Hal yang seharusnya tidak boleh dan pada masanya tidak ada yang seperti ini. Sebenarnya bisa dibilang, pemerintah pun cenderung tidak peduli dengan sarana belajar ilmu yang sedikit tidak populer di kalangan masyarakat dan tidak menghasilkan uang buat mereka!


Pasti ingat film Petualangan Sherina untuk generasi 90an.

Untuk mengunjungi Boscha secara resmi, tidak seperti kami ini, dapat dilakukan pada jam kantor pada hari Selasa hingg Sabtu. Kunjungan resmi yang diperbolehkan dan disarankan adalah kunjungan berkelompok. Kecuali, punya kawan anak astronomi yang sedang magang di sana, mungkin bisa meminta tolong. Akan tetapi, bukan jaminan!
Kawasan khusus di tahun 2010.
Sebaiknya, hubungi kantor pengelola terkait sebelum melakukan kunjungan dan memberikan kejelasan tujuan ke sana. Jadi, semua bisa dipersiapkan dan keilmuan pun bertambah. Bahkan siapa tahu bisa mendapat kesempatan menggunakan teropongnya!

Tuesday, December 01, 2015

Travelling Kuliah: Curug Omas

Perjalanan ke Curug Omas dilakukan melalui jalan Dago utara melalui daerah Dago Giri. Ini merupakan salah satu short cut untuk menuju area Lembang jika Setiabudhi sedang macet parah. Dengan kebahagiaan yang sangat tinggi, aku melaju ke Curug Omas untuk memenuhi rasa keingintahuan aku tentang curug ini yang cukup terkenal di sana. Curug Omas terletak di daerah Maribaya dan merupakan bagian dari daerah wisata Taman Hutan Raya Djuanda yang terkenal. Daerah ini merupakan kawasan sejuk yang indah di atas perbukitan Lembang. Menawan sekali! Secara geologi, Curug Omas merupakan air yang mengalir di atas lava Gunung Sunda Purba yang menjadi ibu dari Gunung Tangkuban Perahu. Lava yang mendingin ini sangat jelas terlihat pada jalur aliran air ke arah curug.

Untuk mencapai curug omas, hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Dago. Perlu kehati-hatian dalam melakukan perjalanan ke daerah ini, mengingat kontur jalan yang lumayan curam untuk kendaraan bermotor. Pemula tidak disarankan! Sesampainya di gerbang depan, diri membeli tiket masuk sebesar Rp 7000,- Untuk mencapai curug, dibutuhkan perjalanan sejauh kurang lebih 1 km dengan berjalan kaki atau menggunakan motor. Motor pribadi tidak diperkenankan masuk karena ada upaya pengembangan ojek lokal yang bisa mengantar hingga bawah sebelum tangga ke curug. Selama perjalanan yang menyenangkan dengan kehijauan tak lebat, aku sampai di depan anak tangga atau batas motor bisa lewat. Perjalanan dilanjutkan dengan menuruni anak tangga. Sungguh luar biasa perjalanan yang dilakukan!


Hutan lebat yang masih melindungi keberadaan Curug Omas dari gemuruh kendaraan bermotor yang lalu lalang dibaliknya. Tangga menjadi sarana bagi pengunjung menuju Curug Omas. Sehat sekaligus perlindungan!


Curug Omas dari berbagai sisi.

Batuan hasil letusan gunung api yang jelas sekali tampak pada dinding curug.
Selain itu, sampah selalu menjadi praktik kejahatan terbesar bagi setiap daerah wisata di Indonesia. Sangat disayangkan! Keindahan Curug Omas menjadi sesuatu yang berbeda karena keberadaan ini. Melalui curug omas, sebenarnya juga bisa langsung ke THR ataupun Gua Belanda jika mau. Jangan khawatir, makanan banyak di sini karena sudah banyak penjual makanan. Mushola dan WC pun telah tersedia.
Sampah menjadi penyakit kronik pengelolahan tempat wisata di negara kita. 

Wednesday, March 11, 2015

Sekolah di Akita dan Saljunya


Selamat pagi dari Akita, Jepang semuanya.
Hari ini musim semi sedikit tertunda. Badai salju kembali menerjang Jepang bagian utara. Laporan dari pihak Indonesia lain di belahan utara Jepang, seperti Hokaido, juga mengalami yang sama. 
Seminggu terakhir ini cuaca di Akita sungguh luar biasa, matahari dan bahagianya bintang - bintang di malam hari selalu menghampiri. Sungguh, musim semi harus menunda kedatangannya dulu, lanjut selasa sore, mendung dan angin kencang kembali tiba. Ramalan cuaca yang diberikan pemerintah Jepang luar biasa akuratnya, hampir mendekati 100%. Salju benar - benar turun dan dalam waktu dua jam, salju setebal 2 cm sudah menumpuk dimana - mana. Ajaibnya, dalam semalam, salju sudah 30 cm lebih menumpuk di seluruh Akita!!! Badai yang luar biasa kan?


Inilah Akita, Wonderland! You have to be ready with unpredictable and changing weather. Ini sudah bulan kelima salju turun di Akita. 

Persiapan musim salju sangat dibutuhkan di sini. Seminggu belakangan terlena dengan suhu 3 sampai 7, dalam semalam suhu bisa turun ke -10. Nah, di sinilah seninya sekolah di Akita. Tantangannya bukan hanya pelajaran, tetapi cuaca yang sangat mengajak kita bermain semangat. Apakah mau menerima tantangan musim saljunya?

Welcome to Akita. 

Tuesday, March 10, 2015