Thursday, November 26, 2015

Belanja Murah dan Hemat di Akita

Namanya berbelanja dan hemat adalah hal penting saat tinggal di negara orang. Biaya yang terbatas dan nilai tukar uang yang berbeda akan memberikan banyak rasa syok pasti di awal kedatangan di negara tersebut. Diri juga mengalami yang sama di awal sampai di Akita. Betapa tidak syok, semua harga rasanya dikali 100 dari harga di Indonesia! Di otak diri, Jepang sudah lekat dengan pikiran seluruhnya mahal. Reputasi Tokyo sebagai salah satu kota termahal untuk tinggal di dunia membuat diri sudah "menyerah" duluan dengan upaya pembiayaan yang harus dilakukan dengan pendanaan yang terbatas dari pihak pemberi. 

Pelajaran berharganya adalah jangan pernah berpikiran negatif dan "menyerah" sebelum berperang. Yes! Seharusnya diri percaya kalau beasiswa diberikan oleh pihak pemberi setelah memperhitungkan dengan matang biaya hidup yang normal untuk seorang mahasiswa yang didanai. Akan tetapi, terkadang tidak seindah perhitungan di atas kertas ketika ada faktor adaptasi menjadi di dalamnya dan di situlah pembelajarannya. Bagaimana kita bisa mengkalkulasikan dengan benar keuangan yang sudah dipercayakan untuk biaya hidup dan sekolah dari pihak pemberi. Pelajaran kedua, jangan pernah berpikiran bahwa dana yang diberikan adalah dana untuk "jalan - jalan"! Yes! We have been paid to learn and to be developed through the chances, not through "personal" travelling. Ini yang di awal sempat ada beberapa bagian dalam diri yang ingin jalan - jalan dengan uang yang diberikan. Namun, semuanya tidak semudah itu. Tujuan awal adalah tetap sekolah, personal travelling is a bonus if we do more efforts. 

Oleh karena itulah, salah satu effort atau usaha untuk bisa mengatur keuangan yang dipercayakan dengan baik adalah bagaimana bisa berbelanja cerdas dan murah. Berbelanja adalah pekerjaan yang sangat mudah. Pergi ke swalayan, ambil dan bayar; maka semua urusan selesai. Tapi!!! Harganya gimana??! Ini yang sering kali tidak diperhatikan. Kebanyakan orang akan berpikir tidak masalah, dengan berbagai argumen seperti "toh, dekat juga lokasinya"; "beda 10 yen aja"; "sama aja, beda sedikit doang". Argumen - argumen seperti ini tidak salah, tetapi dalam beberapa situasi bisa menjebak. Lokasi yang dekat atau beda "hanya" 10 yen bisa jadi membuat kita terlena untuk mengeluarkan uang lebih untuk berbelanja yang mungkin dapat ditabung untuk keperluan lain atau bahkan jalan - jalan tanpa harus membuat tubuh kelaparan setelahnya. Berbelanja cerdas menjadi solusi yang sebaiknya dilakukan banyak orang yang tinggal di negara orang. Model yang sama ini juga yang diri pelajari dari warga lokal di sini. 

Bagaimana belanja cerdas dan hemat di Akita? Ada beberapa informasi yang bisa diri sampaikan berdasarkan pengalaman diri. Pastinya dengan catatan bahwa diri lebih dari 90% dalam satu bulan, diri selalu memasak dan diri juga butuh cemilan rutin untuk tiap hari.
  1. Berbelanjalah kebutuhan sayur mayur dan buah - buahan di toko JA (lihat di postingan ini >> Berbelanja hemat di JA) terdekat atau pilihlah sayuran atau produk pertanian/perkebunan di supermarket yang memiliki stand khusus produk dari JA lokal. Membeli langsung di toko JA akan lebih murah dan banyak pilihan (kuantitas, ukuran).
  2. Berbelanjalah daging, ayam dan produk hewani lainnya di toko distributor, semacam Doujaz jika di Akita. Harga yang ditawarkan umumnya jauh lebih murah dibandingkan dengan supermarket biasa. 
  3. Harga yang ditawarkan juga lebih murah untuk produk - produk jajanan, snack, roti, minuman ringan dan susu di toko distributor sejenis ini. Harga produk yang sama dapat berbeda hingga 50 - 100 yen dengan supermarket biasa.
  4. Berbelanjalah pada hari - hari promo di swalayan tertentu untuk mendapatkan diskon untuk produk tertentu, seperti supermarket Max Value menawarkan harga lebih murah untuk sayuran, buah, gula dan lainnya pada hari Selasa atau Granmart Takayagi yang menawarkan harga lebih murah untuk telur dan pizza pada hari Selasa; sedang minyak dan ayam potong pada hari Sabtu atau Minggu. 
  5. Jika ingin makanan jadi, juga dapat berbelanja pada malam hari, mulai pukul 20.00 ke atas agar mendapatkan potongan harga hingga 50%. Akan tetapi, ketersediaan makanannya tidak pasti karena pasti banyak orang akan membeli bento di saat jam makan malam. Namun, masih dapat dicoba, siapa tahu beruntung. 
  6. Saat ada promo super murah daging atau ayam atau telur, berbelanjalah lebih untuk produk tersebut. Pada kasus ayam dan daging dapat disimpan di freezer dan tahan hingga 1 bulan ke depan. Pengolahan dengan membuat makanan tertentu yang kaya rempah, seperti rendang; lalu disimpan difreeezer akan membuat umurnya lebih lama lagi. Pada kasus telur, pastikan untuk disimpan di dalam kulkas dengan kondisi dingin yang stabil. Menurut pengalaman diri, biasanya akan bertahan sampai 1 bulan. Terkadang supermarket tertentu bisa membuat promo, seperti harga telur 10 biji menjadi 100 yen dari 285 yen. Lumayan kan?!
  7. Bagi yang ingin produk khusus Indonesia, misalnya, berbelanjalah bersama dengan yang lain untuk mengurangi biaya ongkos kirim dari Tokyo. 
Seluruh trik di atas memang membutuhkan sedikit "usaha" lebih karena jarak antar toko yang tidak berdekatan atau bisa dikatakan beda area dari tempat tinggal kita. Seperti yang diri alami, butuh sekitar 30 menit bersepeda atau sekitar 4 km hanya untuk mencapai toko distributor dari tempat tinggal diri. Namun, usaha ini adalah salah satu bentuk untuk melakukan belanja cerdas di Akita. 

Semua trik ini pastinya fleksibel. Ada waktunya diri harus berkompromi dengan harga yang sedikit lebih mahal ketika musim yang tidak mendukung, terutama di puncak musim salju. Sepeda sangat tidak aman untuk digunakan membawa barang belanjaan yang berat dengan jarak yang jauh saat musim dingin. Maka trik di atas harus dikombinasikan satu sama lain. Jangan malu bertanya kepada warga lokal atau sesepuh yang ada di kota masing - masing dimana tempat belanja murah dan waktunya. Biasanya para ibu akan senang hati memberi tahunya. Bisa juga tanyakan pada pihak international center di kampus masing - masing tentang toko - toko murah, pegawainya pun biasanya akan membantu, seperti yang ada di kampus diri di Akita. 

Si Mimi, pejuang belanja yang hebat di Akita. 
Kalau sudah mau berusaha, maka uang yang ada bisa digunakan dengan tepat dan cerdas tanpa mengorbankan kesehatan. Rasanya tidak perlu lagi mendengar saat sekolah di luar negeri malah "kelaparan" dengan alasan untuk jalan - jalan atau berbelanja hal lain. 

No comments:

Post a Comment