Tuesday, March 22, 2011

Didikan Keras?

NKayaknya diri memilih menghabiskan ketidakbisaan tidur ini dengan ngeblog saja. Tugas gimana kabarnya? heemmm..mari sejenak menjadi anak nakal yang bertanggung jawab. Saya ingin hasilkan sesuatu. Saya ingin orang - orang mau melihat seperti apa dari cara saya sendiri.

Selesai baca sesuatu yang menarik, sangat menarik. Renungan yang mungkin terkadang tidak disadari atau lebih menonjol negatifnya saja.

RAY CHARLES

Seorang anak kecil buta terjatuh. Ia menangis meraung-raung,
memanggil sang ibu. Biasanya seorang ibu tentu akan bergegas
menghampiri anaknya, tetapi ibu si anak justru berdiam diri. Dari
sudut ruangan, ia menyaksikan anaknya menangis dalam frustrasi.
Namun anak itu perlahan bangkit, mengibaskan debu dari bajunya, lalu
meraba jalannya sendiri menuju sang ibu. Dengan penuh air mata, sang
ibu memeluk erat anaknya. Itulah sepenggal cerita masa kecil Ray
Charles, legenda musik soul Amerika. Apa komentar Anda mengenai si
ibu? Kejam? Tidak punya hati? Di adegan berikutnya, sang ibu
menjelaskan tindakannya kepada Ray kecil: "Aku ingin kamu tahu …
kamu itu buta, tetapi tidak bodoh."
Di Alkitab, banyak contoh buruk orangtua yang gagal mendidik
anaknya, termasuk para tokoh besar seperti Imam Eli. Tuhan bahkan
menegaskan sikap Eli yang tidak memarahi anaknya sebagai dosa
menghujat Allah (1 Samuel 3:13). Serupa dengan seniornya, di hari
tuan-ya pun Samuel harus mengelus dada karena anak-anaknya tidak
layak menjadi hakim Israel (8:3). Sikap buruk mereka mengakhiri masa
hakim-hakim di Israel dan awal berkuasanya para raja.

Bersikap "keras" kepada anak-anak atau generasi muda yang
dipercayakan kepada kita, bukanlah hal yang tabu; sebab sikap
demikian perlu untuk mendidik, asal melakukannya dengan tujuan dan
cara yang benar. Sikap memanjakan generasi muda atau membiarkan
mereka berbuat apa saja tanpa nasihat, justru menjadi pertanda tidak
adanya tanggung jawab. Sebagai masa depan dunia, generasi muda
membutuhkan didikan karakter dari otoritas di sekelilingnya --OLV
e-RH
Coba perhatikan dengan seksama kesimpulan pada paragraf terakhirnya. Jelas sekali ini yang mungkin diri alami juga hingga sekarang. Keras selalu diidentikan dengan kekerasan fisik, padahal ada sesuatu positif dibalik semuanya. Keras ada caranya. Keras juga punya tujuannya, seperti ada tertulis bahwa bukan berlari tanpa tujuan. Demikian juga ini!

Masa depan dunia ada sekarang dan terus berlangsung sekarang. Ingin sekali membahas sesuatu mengenai ini. Tapi rasanya lebih baik dilakukan research dulu dan mungkin bisa jadi lebih baik nantinya tulisan ini. Hanya saja, renungan ini yang sangat penting untuk dibagikan terutama bagi mereka yang sekarang dalam posisi kaderisasi. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama seperti saya. :D

Saya akan berdiskusi dulu seperti apa keras pada masa sekarang yang patut diperjuangkan. Hal ini penting daripada menyesatkan nantinya.
Diri juga perlu memilah dan tahu menempatkan situasi.

Virus Pikiran

Ini tampaknya harus diri realisasikan dalam sebuah tulisan. Baiklah, diri hanya menulis dalam bahasa yang diri ingini saja, tanpa EYD yang baik.

Semua berawal dari kebiasaan penulis yang cukup gampang down. *Jangan ditiru* Diri cenderung untuk gampang dipengaruhi oleh keadaan sekitar, baik melalui ucapan, perbuatan dan pikiran orang - orang di lingkungan diri. Ini juga adalah kurangnya efek 'filter' yang dimiliki diri. Diri yakin bahwa semua orang punya bakat untuk alami hal seperti ini. Mungkin tidak kepada orang yang mereka tidak kenal, tapi mungkin saja bisa potensi ini muncul ketika bersinggungan dengan orang yang dikenal.
Hal ini wajar kok, toh setiap orang punya kebiasaan simpel, yaitu memikirkan apa yang orang lain ucapkan tentang diri mereka. Bener loh yang ini, coba pikirkan baik - baik. Hal ini mungkin buat semua orang punya efek yang berbeda. Maksudnya, ada yang biasa berpikirannya sebentar saja (angin lalu) atau ada yang sampai dibawa ke hati dan berakhir jadi pundung. :(

Penebaran virus pikiran ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengelola diri mereka.
Bisa dibilang, orang dengan pikiran positif bisa lebih mengontrol faktor x berupa virus ini dalam diri mereka, dibandingkan mereka yang cenderung untuk berpikiran negatif. Jujur saja, diri masih termasuk dalam golongan abu - abu menuju putih yang sedang meninggalkan hitam. Hal ini karena diri sering kali masih gampang untuk down dengan pikiran yang hobi untuk jalan - jalan keliling ke tempat - tempat yang ga penting pokoknya.
Hal yang paling cukup sering diri alami sebagai virus pikiran itu adalah ujian dan ip. Heemm, hal bodoh sebenarnya.:D

Ini yang diri tangkap bahwa tidak semua orang pintar punya mental membangun yang berbanding lurus. Diingatkan untuk tidak tersinggung kepada siapa saja. Diri hanya menuliskan pengalaman yang diri alami dan berharap tidak terulangi kepada siapa saja lagi. Ingin sekali seperti itu.
Balik lagi..
Yang sering diri alami adalah seperti ini. Bahwa kebanyakan perkataan dan tindakan yang disadari atau tidak oleh pelaku lingkungan diri yang tidak cukup membangun, apalagi dalam kondisi genting semacam ujianlah. Ini bukan menyudutkan siapapun. Namun, diri mengalami demikian saja. Terkadang diri merasakan bahwa tindakan yang mungkin bagi orang - orang adalah stress release, namun bisa menjadi stress stimulus bagi orang - orang tertentu.

Contoh ketika besok ada ujian yang lebih dari 1. Diri sering kali menemukan pada malam hari yang paling banyak adalah keluhan ini itu tentang ketakutan hari esok, ketakutan ujian, merasa tidak mampu, mengeluh ini terlalu banyak, blablabla..banyak hal lainnya.
Efeknya, mereka yang mungkin masih bisa tidak melepaskan stressnya dengan cara itu malah ikut - ikutan. Ini tidak menutup kemungkinan ya bahwa memang ada orang - orang yang suka dengan public stress release. Atau mengungkapkan curhat ketakutan dan keluhnya melalui tulisan di jejaring sosial. Termasuk mungkin diri juga melalui blog dan twitter dalam bahasa yang langsung dan perumpaan.

Virus pikiran ini adalah hal yang sangat simpel dan bisa menyerang banyak orang. Kalau menilik kembali diri, mungkin ini adalah semacam balasan bahwa diri suka ceplas - ceplos dengan bahasa yang membuat orang down. Sekarang, diri ditaruh di tempat semacam ini juga, tapi dengan konsep yang berbeda.

Membangun orang bukan berarti hanya ketika dia curhat dengan kita. Tidak seharusnya sebatas itu. Serius, itu pendek sekali dunia kita.
Seperti kemarin seorang teman diri yang stress karena satu soal salah dalam ujian PBG. Sampai bawa - bawa IP dan bilang berakhir dunia. Astaga!!! Ini masihUTS kan kawan.
Diri cukup miris saja untuk perkataan seperti itu. Diri tidak munafik bahwa pikiran diri juga terkadang masih seperti itu, berjalan - jalan ke tempat - tempat ga penting. Beruntung sangat, diri punya lelakiku.:D

Kembali lagi, membangun ini adalah bukan sebatas dari curhat!
Melalui cara bersikap dalam menanggapi suatu keadaan adalah hal sederhana yang dapat jadi contoh bagi semua orang sekitar kita. Coba dong, ketika menghadapi ujian, keluhan kita ubah dengan kata - kata semangat. Itu mungkin jauh lebih baik kan? Tapi, caranya?
Nah, itu memang harus belajar. Diri akui bahwa itu sangat tidak gampang seperti membalikkan telapak tangan. Diri saja masih di abu - abu. Sekalinya ngga bisa tahan diri, masih sempat nangis dulu buat tenangin diri.
Cara paling dasar yang bisa dilakukan adalah mengucapkan syukur!!!
Ini adalah cara paling sempurna untuk melakukannya. Katakan syukur ketika mendapatkan tantangan baru. Atau seperi all is well versinya 3 Idiots kan.

ya, manusia tidak ada yang sempurna. Tapi, apakah harus terus stress atau down karena hal sehari - hari yang dijalani, seperti kuliah yang bahkan ritmenya ga jauh beda dari setiap semesternya. Hayooo, jangan biarkan virus pikiran menyerang!
Sakitnya jangka panjang, ngobatinya ngga gampang. Lebih baik sebelum dia menjadi sesuatu yang lebih menjangkiti. Mari jalani semuanya dengan sukacita dan syukur.:D

Virus pikiran bisa mulai dari hal - hal kecil dan menular tanpa terkadang kita sadari. Mari..mari mulai untuk berpikiran dari sisi lain, mungkin dengan jadi orang ketiga, bukan sebagai orang pertama terus. Pasti bisa hasilkan kebahagiaan dengan olah diri yang tepat.:D

Saturday, March 19, 2011

Penutup

saya pernah berada di sana.
saya pernah jadi bagian dari mereka.
saya pernah menangis dengan mereka.
saya pernah tertawa lebar bersama mereka.
saya pernah jalan - jalan dengan mereka.
saya pernah bersama mereka dengan hari - hari yang ada.
saya pernah mencintai mereka seutuhnya.
saya pernah berharap semuanya kekal.
saya pernah berdoa bahwa mereka adalah selamanya.
saya pernah merasakan kasih sayang mereka.
saya pernah selalu ada untuk mereka.
saya pernah merasakan kehadiran mereka.
saya pernah membawa mereka selalu dalam belaan.
saya pernah menyayangi selalu mereka.
saya pernah marah dengan mereka.
saya pernah merasa tidak diharapkan.
saya pernah bukan bagian dari mereka.
saya pernah merasakan bahwa saya tidak ada pun bukan masalah.

saya tetap pernah bahagia bersama mereka. Itu saja !!!

dan saya tahu bahwa kehadiran saya tidak lebih dan kurang saja.:)
Terima kasih semuanya.
Tribute to GM XVIII

Kolong Langit

Apa itu kolong langit?
Secara harafiah versi diri, kolong langit adalah tempat tinggal kita sekarang. Iya, kolong langit menggambarkan bumi yang kita selalu kita injak - injak ini, yang kita isi dan tata dengan segala macam barang kebutuhan manusia untuk bertahan hidup.
Kenapa disebut kolong? Bukankah langit dan bumi adalah satu kesatuan yang bersama kan? Mari dipikirkan dan dirasakan sejenak.
Bagi diri, kolong langit lebih menekankan posisi hati manusia dalam kehidupan yang masih dipercayakan olehNya hingga saat ini. Setiap manusia punya waktu dan diisi dengan cerita yang berbeda pula. Sungguh indah dan beragam. Kesedihan dan kedukaan juga bukan sesuatu yang terus harus diratapi kan? Bahkan mampu jadi sesuatu untuk sangat disyukuri setiap waktunya. Hal ini sama dengan kondisi bahwa kehidupan kita adalah bagian dari suatu kesatuan terhadap sekitar kita.
Diri rasa demikian.

Setiap kolong langit orang akan berbeda. Mereka punya porsi yang berbeda dan sungguh memainkan perannya dalam kesempatan ini.
Tidak ada orang yang sungguh mencintai waktunya yang sekarang terlihat. Kolong - kolong langit menjadi tampak kosong dan lengah tanpa cerita yang ingin dibagikan. Di kolong langit banyak harapan seharusnya. Di kolong langit juga seharusnya banyak keluh kesah. Sekali lagi, di kolong langit seharusnya banyak terdapat pengharapan!

Semua orang punya kisah berbeda di bawah kolong langit ini. Saudara - saudara kita di Jepang, punya kolong langit yang mungkin sempat gelap. Akan tetapi, diri yakin, mereka akan mengisi kolong langit mereka dengan pengharapan untuk kembali pulih. Ya, kembali dengan pengharapan bahwa kehidupan masih memberi mereka kesempatan kedua dan saatnya berbagi meskipun di tengah kelam bencana.

Apakah kita mampu melakukannya?
Diri sangat yakin tidak semua mampu menghias kolong langit mereka dengan pengharapan dan keyakinan. Termasuk diri yang terkadang masih meragukan kolong langit diri sendiri.
Diri begitu mencari - cari sesuatu yang seyogyanya tidak perlu dipertanyakan dan dicari lagi karena semuanya telah disediakan sekarang, nanti atau cepat atau lambat. Sungguh indah sebenarnya setiap kolong langit yang ada.
Kolong langit yang kosong adalah suatu kesia-siaan. Mengapa kita tidak kita coba isi dan hias lagi? Pengharapan dan keluh kesah tidak apa jadi hiasan kita di awal ini. Namun tetap, cobalah belajar untuk menghias kolong langit ini dengan Syukur. Ya, rasa bersyukur kepada yang pemilik semua kolong langit di bumi ini. Sungguh, ini akan membuat semua kolong langit akan berseri dengan indah. Pengharapan akan bertambah manis. Keluh kesah akan memudar ketika syukur yang mendominasi kolong langit kita.