Friday, February 04, 2011

Anugerah Diri

Salah satu anugerah yang diri terima adalah sukacita di pagi ini.

Diri diperkenankan berkomunikasi dengan yang berkepentingan dimanapun.

Diri diizinkan untuk mengatakan tidak dengan cara diri.

Diri bisa merasakan rasa bersalah.

Diri mampu mengungkapkan ketidaknyamanan dalam tulisan.

Terutama, diri masih diberi kesempatan berdoa.

Doa Pagi ini

Hari ini adalah hari terakhir lagi dalam minggu ini, Bapa.
Aku berdoa padamu lewat carik kertas yang telah berbentuk elektornik ini.
Aku bersyukur dan berterima kasih atas apa yang telah ku alami hingga sekarang.
Buat segala apa yang begitu sempurna Bapa gariskan.
Ampuni aku, Bapa atas segala ketidaktegasanku, keraguanku, dan ketidakpercayaan yang terus ku dengungkan kepadaMu.
Manusia hina. Aku adalah bukan apa - apa tanpaMu, tanpa belas kasihanMu.
Bapa, aku tidak ingin menganggap semuanya beban terus menerus.
Aku ingin pergi kepadaMu. Melalui semua tembok ini, dan menjadi bagian dariMu. Aku tidak ada apa - apa tanpaMu. Cukup ku lakukan luka lagi bagiMu, Tuhan. Sungguh egois aku Bapa. Sekarang ketika terlibat dalam kesalahan, aku meraung, menangis ketakutan padaMu. Sebelumnya, aku melangkah dengan asumsi Bapa mengizinkan. Namun, aku sendiri belum mampu mendengarkanMu. Bapa, tinggallah dalam hatiku ini. Tinggallah. Aku mohon Bapa, lepaskan aku dari keraguan dan ketidakjelasanku akan ketakutan yang lebih tidak jelas lagi.
Kuatkan aku Bapa menanggung semuanya. Ku mohon, jangan biarkan aku sendiri.
Jadilah khendakMu pada ku.
Amin.

Sukacita Jumat

Kembali lagi blog. Maap ya, ditingalkan dalam jangka yang lama lagi.
Banyak hal yang terjadi di minggu - minggu akhir menjelang awal di Februari ini. Semua adalah sukacita. Pada awalnya demikian, dan seharusnya berakhir sebagai sukacita juga. Diri berdoa demikian.

Ketakutan itu muncul kembali. Dia seperti sindrom virus kronik yang tidak pernah mau lepas kecuali antivirusnya datang lebih kuat menantang dia berkelahi sampai mati. Ini bukan berlebihan, tetapi rasanya memang demikian. Sungguh, luar biasa sekali tembok hitam yang membatasi antara diri dan Nya. Jelas, bahwa tembok itu adalah dosa. Dosa dalam segala bentuk yang terus saja diri jalani tanpa henti. Keraguan, Ketidaktaatan, Kebohongan adalah bagian darinya dan tidak pernah henti rasanya menghantui. Dalam gelap, diri tidak menemui apapun di dalamnya lagi. Mencari kesunyian mungkin mulai terasa sesak dalam diri.

Hari ini, diri melukai orang kembali. Semua tetap diawali niat baik untuk belajar dan menolong kepentingan orang - orang yang sudah diri anggap orang tua selama di sini. Akan tetapi, apa yang diri perbuat? Diri memang salah. Di sini diri belajar, tidak semuanya bisa diri lakukan seperti untuk yang lain. Diri punya kapasitas, tanggung jawab, mimpi dan cita - cita. Semuanya harus diri sinergikan dengan seharusnya dan baik di mataNya. Langkah bahagia yang diri ambil pada akhirnya malah di awal ini menyebabkan luka bagi kepercayaan orang - orang yang diri hormati. Ketidaktegasan akan kenyamanan dan kebaikan untuk orang lain menjadi pisau yang melukai diri juga.

Semua ada yin dan yang -nya, seperti sesuatu yang pasti memiliki kondisi bermata dua. Dia bisa jadi berkat atau musibah. Mungkin, ini merupakan pertanda musibah. Atau, hanya diri yang berpikir terus bahwa ini salah dan tidak tepat. Diri sangat ingin menjadi bagian dari komunitas kekeluargaan ini.
Sekarang diri hanya bisa menyalahkan segala sesuatu yang ada dalam diri. Berdiri sebagai pesakitan dan mulai merasa memang kegagalan yang kemungkinan besar akan diraih. Ketidaktepatan ini akankah mengubur cita - cita diri, terutama cita - cita papa. Tidak, Bapa. Tidak, Bapa. Diri mohon tidak.

Diri berjalan dan berusaha dengan keadaan ke depannya. Jelas, sukacita tetap akan ada. Dia tidak akan tinggal diam dan meninggalkan diri.
Tembok pasti runtuh !!!

Tuesday, February 01, 2011

One way - Kita Satu

Kaulah satu tulang dari tulangku
Yang kuimpikan selama hidupku
Tuk bersanding denganmu
Penuh asa lewati suatu masa
Berdua kita t'lah jalan bersama
Satu ikatan cinta, indah terasa
Lewat kasih mulia Dia yang kuasa

Reff:
Kini kita satu dalam menempuh hidup baru
Hatiku hatimu penuh kasih memadu
Kini kita satu dalam meraih indah cinta itu
Dan selamanya kita satu

Bridge:
Yang t'lah Dia satukan takkan terpisahkan
Kau dan aku akan berdua selamanya

Kita satu. Sebenarnya, lebih ingin ke judulnya. Kita satu adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan. Hal yang tidak mudah ditempuh dan dijalani.
Banyak yang mencoba, tetapi banyak juga yang terjatuh. Semua bergantung pada prinsip dan kemauan untuk meneruskan janji yang telah terucapkan semua. Semua juga tidak semudah mengatakannya dengan lidah dan menulis dengan indah. Bagaimana dalam cerita kehidupan setiap orang? Bagaimana dengan pasangan yang telah menjalaninya? Diri belum memahami ini seutuhnya. Diri masih menjalani segalanya. Diri masih melihat. Diri ingin mengerjakannya. Ingin menjadi satu dengan yang seutuhnya dalam tanganNya.

Amin.

Pemanjaan Diri vs Kemalasan

Masih ada hasrat untuk menulis lagi. Diri rasa tidak ada salahnya menjadi produktif dengan cara yang penulis punya, bukan mengikuti tuntutan untuk dikenal atau kesombongan hati yang ingin dikenal. Rasanya tidak perlu demikian. Diri hanya ingin blog menjadi sumber berkat bagi yang membacanya dan bisa mengambil yang baik tentang apa yang diri bagikan. Diri sadar isinya tidak meningkat dari dulu. Semua isi blog masih berisi kehidupan diri. Akan tetapi, satu hal yang membuat diri bangga bahwa blog ini adalah gambaran dari diri yang pernah mengalami ini itu, segala pengalaman pahit, buruk, baik, dan manis dalam menjalani hari - hari. Sekarang, blog punya nama Hidup saya yang sempurna. Nama ini diri gambarkan sebagai syukur diri kepadaNya yang sempurna. Diri baru mulai mau melihat sisi lain kehidupan diri sendiri, semua begitu sempurna ditataNya. Melihat dari luar kotak memang sangat dibutuhkan bagi setiap pribadi yang merasa bahwa kehidupannya adalah monoton dan tidak ada peningkatan atau selalu membawa sial atau tidak pernah diberkati.

Seperti biasa, diri akhirnya melantur ke topik yang berbeda dari pemikiran diri sebelum menulis. Diri hanya ingin membagi apa yang pernah diri alami. Harapannya hanya satu, yaitu semoga yang baik bisa terulang bagi yang membaca dan yang buruk tidak terulang.
Diri pun lupa dan tidak paham, semangat menulis kembali turun ketika mengetik ini. Diri terlalu terbiasa dengan hal - hal yang bisa dikatakan sebagai pemanjaan diri yang jauh lebih buruk dari kemalasan. Mengapa jauh lebih buruk dari kemalasan? Jawabannya sederhana. Ketika diri dalam kondisi yang terlena dalam kemanjaan, akan jauh lebih sulit menerima kondisi paksaan apapun yang dirangsangkan agar keluar dari tempat tersebut. Hal ini akan berbeda dengan kemalasan. Rasa malas masih memiliki toleransi dengan apa yang disebut dengan paksaan atau kewajiban dan kebutuhan. Sebagai contoh, ketika orang malas keluar kosan untuk mencari makan. Pada akhirnya, rasa malas akan kalah dengan rasa lapar atau lebih parahnya dengan rasa sakit pada lambung yang ditimbulkan.

Hal berbeda ketika pemanjaan diri diidap. Sebagai contoh adalah diri. Di awal minggu kuliah, diri sangat membiarkan kondisi mental makin menjatuh dengan sikap ini. Semua apa yang tidak ingin diri lakukan, diri biarkan saja. Semua kebutuhan ataupun kepentingan seakan hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Konteks ini juga termasuk pada kondisi lapar yang sering diri alami di masa - masa tersebut. Kebodohan dan kemalasan hanya sebagian dari kondisi ini. Kombinasi ini memiliki akibat efek jangka panjang jika terus dibiarkan. Salah satunya adalah sikap anti sosial yang diri rasakan. Ya, kemalasan dalam segala aspek membuat diri mengisolasi diri sendiri secara fisik dan psikis secara langsung dan telaten.

Efek terburuk dari kemalasan kronis ini adalah halusinasi dan bayangan akan diri sendiri yang cenderung bersifat negatif. Manusia seperti ini dibiarkan seolah hidup dalam dunia yang dia setting dengan aturannya tanpa ada yang bisa mengganggu dan mengharuskan dia berada dalam kondisi nyaman. Tidak ada kepedulian yang terlintas. Akibatnya, ketika terjadi sedikit saja tentang pikiran negatif, dia akan terganggu secara keseluruhan. Diri mengalami apa yang disebut dengan segala ketakutan dari semua aspek kehidupan nyata yang ditinggalkan. Diri menjadi dihantui oleh perkara - perkara yang sebenarnya tidak ada, tetapi bisa saja menjadi ada karena hasil ketakutan diri tadi.

Apakah mau seperti ini?
Pengalaman diri menunjukkan bahwa ini adalah siksaan dalam arti yang paling gampang dilakukan, dibuat sendiri dan diciptakan dalam segala waktu yang dimiliki.

Bagaimana menyembuhkannya?
Semua kembali pada diri kembali. Kemampuan menentang seluruh pikiran negatif yang menjadi syarat utama. Maju ke arena perperangan dengan segala pikiran negatif yang menjadi penyakit. Bayangkan bahwa ini adalah harga diri dan kehidupan ke depannya. Senjata utama adalah keinginan akan SUKACITA dan SENYUM serta BERKAT bagi orang lain.
Belajar berulang memang juga jadi kunci keberhasilannya dalam jangka panjang maupun dekat. Wajar jatuh di awal, tapi jangan makin terseret dalam pemanjaan ini. Hal ini akan menjadikanmu pribadi yang gelap dan merasakan beban yang sangat.
Gunakan perisai iman dan doa.

Minggu Terakhir Januari

Hai blog, one day one post nya blum bisa berjalan tampaknya. Maapkan diri yang terlalu sibuk dengan kemalasan yang selalu dimanjakan keberadaannya.Diri sangat menikmati kemalasan dan ketidakjelasan selama beberapa hari yang berjalan ini. Namun blog, diri jauh lebih menikmati peran diri mendampingi lelakiku.
Lelakiku pulang sekitar 1 minggu lalu. Tujuan awalnya adalah wawancara kerja, tetapi berujung pada pemenuhan yang sesungguhnya dari alasan dia cuti urgensi, yaitu urusan keluarga. Blog, diri bersyukur punya lelaki yang hebat. Iya, Tuhan, terima kasih karena telah mengizinkan diri untuk mengenal, menyayangi dan mendampingi lelakiku hingga saat ini.

Banyak hal yang kami lakukan selama cuti singkatnya ini. Salah satunya, dia membantu diri untuk mengurangi rasa malas di kosan. Setidaknya, dengan kepulangan dia, mendorong diri buat tidak bermalas - malasan. Waktu yang ada dimanfaatkan sebisa mungkin untuk mendiskusikan banyak hal. Hal - hal simpel yang sering kami ributkan, hingga mimpi - mimpi yang ingin diri dan lelakiku inginkan juga.
Ada banyak hal yang berkesan di akhir Januari hingga memasuki Februari ini, selama lelakiku cuti. Salah satunya adalah mawar putih! Diri sangat suka. Diri belajar banyak hal juga dalam hubungan ini.

Diri akui masih sangat sering lalai dalam memahami dan mengerti dia. Di sini, diri melihat dan memahami bahwa diam tidak akan menjadikan pasangan kita tahu tentang apa yang kita maksud dan atau inginkan. Selama ini, kebanyakan wanita mengira bahwa prialah harus mengerti keinginan mereka tanpa sebelumnya mereka beritahukan. Hal ini terpatri karena merasa itu adalah suatu kebanggaan bahwa kekasih kita paham dan tahu apa yang kita mau. Akan tetapi, coba perhatikan sekali lagi. Apalagi untuk hubungan jarak jauh yang dilakukan oleh diri dan lelakiku.

Secara logika, ketika saling berjauhan, waktu yang kita punya sebisa mungkin seharusnya dipergunakan untuk membangun dan menjaga kepercayaan itu. Semua dilakukan untuk ke depannya juga. Di sisi lain, jadwal kerja atau kuliah yang padat biasanya pasti akan membuat pria juga untuk beristirahat. Mungkin terdengar egois juga, tapi memang keduanya perlu menekan ego atau pribadi. Jadi, mereka butuh waktu ekstra untuk tahu apa yang wanita mau dengan cara yang terkadang tidak dibukakan pula oleh sang wanita. Ini pasti memperparah. Hal yang baik, coba katakan. Ya, coba komunikasikan apa yang diinginkan dengan cara yang fun. Di satu sisi, egois masing - masing bisa terakomodir dalam kondisi yang positif. Di sisi yang lain, keduanya juga merasa dimengerti dan saling menghargai kondisi di tempat tinggal yang ada. Ini bukan suatu doktrin tapi berdasarkan pengalaman masing - masing pribadi. Setiap pasangan adalah unik. Mereka pasti akan punya masalah dan cara pandang yang berbeda terhadapnya. Jadi, jangan berkecil hati jika diri kita tidak sama dengan orang lain. Keunikan inilah yang menjadi aset untuk berkembang bagi masing - masing pribadi dalam hubungan yang dijalani.


Salah satu pembelajaran yang sangat berharga yang diri dapatkan. Bayangkan, rasa lelah harus ditambah dengan menjadi cenanyang juga. Hal yang menjadi hasil biasanya malah suatu kesalahan. Begitu juga yang pernah diri dan lelakiku alami. Semoga komunikasi yang kami lakukan berkenan padaNya dan bisa lebih baik lagi ke depannya.

Balik lagi ke awal, mawar putih yang diberikan oleh lelakiku sungguh indah. Sekali lagi kuucapkan, diri menyayangimu lelakiku. :))
Mungkin, ada hal lain yang bisa disampaikan. Ya, di postingan berikutnya saja.

mawar putih bagi diri, tanda waktu yang selalu lelakiku rasa. Amin.