Showing posts with label amazing2012. Show all posts
Showing posts with label amazing2012. Show all posts

Monday, July 04, 2016

Hidupmu Indah, Kawan!

Hari terus berganti, saat semua yang ada sudah diri persiapkan dengan baik. Akhirnya diri mengakhiri perjuangan di Akita, Jepang dan siap melanjutkan mimpi - mimpi baru di negara asal diri, Indonesia. Semua terasa sangat cepat berlalu. Diri mungkin katakanlah memang lebih nyaman berada di Jepang, dimana diri bisa mengembangkan diri dengan apa adanya meskipun berada di antara tekanan yang tidak habisnya dari luar. Hanya kekuatan dari dalam yang diberikan Tuhan lewat lelakikku dan orang - orang yang benar - benar baiklah yang membuat diri mampu berdiri hingga akhirnya ada di sini, di tempat diri menuliskan cerita ini. Diri selalu bahagia menjalani apapun yang terjadi selama lelakiku ada di sini dan dia pun bahagia. Seperti yang sudah - sudah diri ceritakan di postingan sebelumnya, perjalanan sekolah ini ada karena Tuhan memakai lekakiku mengantarkan diri sampai di tahapan ini dengan segala perjuangannya yang tidak terkira. 

Perjalanan segera selesai dan sebenarnya sudah selesai di tahap pendidikan yang diri jalani. Akhirnya diri dinyatakan lulus dan dilantik dan diberikan tanggung jawab baru sebagai doctor of engineering. Terima kasih Tuhan! Seluruh ini adalah karena Tuhan dan lekakiku, tidak ada sedikit pun upaya diri ada di sana. Kalau saja Tuhan tidak bermurah hati dan lekakiku tidak mau menjadi agennya Tuhan, bubar ini semua pendidikan yang sedang dijalani. Tipikal diri yang cukup keras kepala dan kebiasaan diri yang seringkali rendah diri, tidak membuat segala sesuatunya baik. Orang boleh berkata sekolah di luar negeri itu mudah atau gampang, katakan iya dan katakan tidak. Itu semua bergantung dimana kau berdiri dan seperti apa kau menyikapinya. Diri bersyukur mengalami semuanya, maka diri berani mengatakan iya dan tidak. Mudah jika kita punya pegangan yang cukup kuat, baik itu pada Tuhan atau pasangan atau keluarga. Tidak jika kita hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. 

Diri selalu yakin mereka yang mendapat kesempatan seharusnya memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Pepatah Jepang mengatakan ichigo ichi, yang artinya hanya ada satu kali kesempatan untuk hal yang terbaik. Nothing more or less. Diri baru memahami itu selama perjalanan sekolah di Jepang yang diri jalani. Puji Tuhan seluruhnya selesai. Ada banyak perubahan yang diri harus alami dan ditempa oleh Tuhan. Pasangan yang membuat diri kuat, meskipun diri yakin pasti kekuatan lekakiku pun pasti terkuras untuk membuat diri berubah. Ada banyak pengalaman, ada banyak kejadian, ada banyak cerita yang terjadi selama diri sekolah di Jepang. Pendidikan yang diri jalani tidak hanya sebatas pada pendidikan formal, tetapi pendidikan kehidupan yang sampai sekarang diri tengah jalani di Indonesia, saat menuliskan ini dan sepertinya ini akan terus berlanjut seumur hidup. Sekolah kehidupan yang diri jalani di Jepang memberikan jauh lebih banyak dari apa yang diri pernah bayangkan atau mungkin inginkan. Pendidikan formal bisa dipelajari memang dan jawabannya ada di sini, di bagian kepala yang berputar. Akan tetapi, pendidikan kehidupan, jawabannya ada di sini, di bagian hati yang terdalam. Sebagaimana kita berjalan, sejauh apa kita melangkah akan ditentukan apakah kita mau berubah dan diubah untuk menjadi lebih baik. Dunia ini fana, tetapi semua orang harus hidup di dunia ini sampai waktuNya tiba. 

Pendidikan kehidupan yang berjalan membuat diri mengerti bahwa hidup itu sebenarnya sangat indah. Hidup itu sangat berharga, bukan karena gelar yang diri dapatkan, bukan karena kekayaan yang diperoleh, bukan karena banyak teman yang dipunyai. Akan tetapi, tentang dengan siapa kita bergantung dan hidup. Diri bersyukur bahwa diri mengalami mukjizat hari lepas hari, dengan Tuhan dan bersama lekakiku, juga aku untuk lekakiku. Pepatah yang mengatakan bahwa pasangan yang bisa membuatmu terbang tinggi atau jatuh ke bawah, adalah benar adanya. Diri yakin dan membuktikannya. Pasangan adalah siapa yang kita tentukan dan keputusan itu seumur hidup di sepanjang kelas pendidikan kehidupan yang akan kita miliki. Diri bersyukur dan hanya bisa mengatakan terima kasih dengan kehadiran lelakiku sebagai agen Tuhan untuk mengajari diri, meremukkan diri, membentuk diri dan membuat diri mengerti bahwa hidup ini indah, Tuhan itu begitu baik dan akan selalu baik. Diri sangat berterima kasih, entah bagaimana lagi caranya. Semoga Tuhan menitipkan dia segera yang kami nantikan di sini, di dalam kantung rahim ini (amin!). Hari lepas hari, hanya ada bahagia dan kepercayaan hingga akhir nanti yang kita bagikan sepanjang kelas kehidupan ini. 

Diri yakin setiap orang dilahirkan untuk memiliki mimpi, untuk belajar percaya, untuk mengalami apa yang namanya kehidupan dengan cara - caraNya yang indah. Setiap orang berhak bahagia dengan cara yang selalu beragam. Yakinlah hidup ini berharga, hidup ini indah saat kau merasakan sendiri dan terasa sepi. Never said you are alone, because you will never ever alone. Terlalu banyak kesibukan yang dimiliki, membuat kita terkadang kehilangan arah, menjadikan kita terhilang dan melupakan apa yang sangat penting. 

Orang tua, anak, teman adalah anugerah; pasangan adalah pilihan hidup. Ichigo ichi. Mintalah maka kita akan diberikan oleh Tuhan. Puji Tuhan untuk semuanya. Live your love. Love your life.

Taken and given to us as a present. Thank you friends!

Wednesday, December 02, 2015

Refleksi: Tiga ajaran Ki Hajar Dewantara


Sebagian dari kita pasti masih mengingat 3 darma dari yang diajarkan seorang Ki Hajar Dewantara, pendiri taman siswa sekitar awal 1900an. Semboyan tersebut dikenal dengan Ing ngarso sun tulodo, Ing madyo mbangun karso, dan Tut wuri handayani. Dalam sebuah kalimat sederhana, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang seorang guru harus memberikan dorongan dan arahan.”

Tiga semboya ini sangat menarik untuk kembali dibahas dan mungkin ke depannya harus semakin dilekatkan di ingatan dan hati setiap pendidik dan calon pendidik ke depannya. Sekali lagi, diri katakan bahwa guru bukan sekadar profesi, tetapi sebuah bentuk pengabdian. Di Finlandia, upaya masuk sekolah guru jauh lebih sulit dibandingkan dengan masuk pendidikan kedokteran. Mengapa? Mungkin mereka menyadari bahwa guru menyentuh langsung aspek karakter bangsa sejak sedini mungkin. Bagaimana dengan kita?

Kualitas guru yang samakah kita harapkan demikian? Perlukah kita mempersiapkan suatu batas tertinggi untuk setiap mereka yang menginginkan menjadi seorang guru sehingga tercipta kualitas didikan yang terbaik pula ke depannya?
Diri yakin semboyan Ki Hajar Dewantara tadi menjawab bagaimana seharusnya kualitas guru dapat dibangun dan semakin ditingkatkan ke depannya. Indonesia memiliki tokoh yang dari dahulu sebelum negara ini merdeka telah menjelaskan bagaimana seharusnya seorang pendidik bersikap dan berkelakuan. Dengan tegas, Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia, menjelaskan posisi seorang pendidik adalah di depan, di tengah, dan di belakang murid – muridnya.

Di depan, seorang pendidik harus dapat memberikan teladan (Ing ngarso sun tulodo). Semboyan pertama ini memiliki makna yang dalam dan praktik yang tidak mudah. Menurut diri, kualitas seorang guru seharusnya paling mudah terukur secara kuantitatif dan kualitatif adalah melalui keteladanannya. Menjadi contoh tidak semudah membalikkan telapak tangan bahkan bagi seorang pendidik. Kasus demi kasus kekerasan oleh guru terhadap siswanya menunjukkan bagaimana sari tauladan itu meluntur di antara para pendidik. Meskipun hal ini dilakukan oleh oknum. Akan tetapi, diri percaya masih saja ada guru – guru seperti itu yang belum terekspos ke permukaan publik dan seringkali dianggap biasa dalam pekerjaannya. Seorang teladan yang baik memiliki kelakuan dan perilaku yang menunjukkan teladan sikap, keyakinan, dan kepercayaan terhadap apa yang ia jalani, sebagai seorang guru. Bibit generasi dipegang pertama kali oleh para guru dalam pembentukan karakter mereka. Terlepas dari keluarga, guru juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Ia melihat bagaimana guru atau orang tuanya di sekolah yang menjaga dan mengajarnya. Kualitas ini yang sering dilupakan sehingga hasil paling mudah dilihat adalah ketika anak hanya mengingat kejelekan atau traumatik selama dia di sekolah, seperti ungkapan guru killer. Oleh karena itu, seharusnya seorang guru memegang prinsip pertama ini untuk menjalankan tugas pengabdiannya sehari – hari.

Di tengah, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Semboyan kedua ini lebih menitikberatkan pada kreativitas dan kemauan belajar seorang guru. Meskipun guru adalah guru, tetapi tetaplah ia harus terus belajar dan memperbaharui diri. Ki Hajar Dewantara melihat bahwa dunia semakin berkembang. Ilmu yang kita tuntut selama pendidikan formal tidak hanya sebatas itu saja ke depannya untuk diberikan kepada para murid. Namun, masih banyak lagi yang seharusnya untuk dipelajari dan dibagikan. Dengan semangat untuk belajar dan terus belajar hal yang baru, seorang guru juga secara langsung memberikan teladan bagi murid bahwa pembelajaran itu bukan sesuatu yang menakutkan dan tidak menarik, melainkan sesuatu yang menimbulkan rasa penasaran. Seluruh ide dan pengetahuan ini akan menimbulkan daya kreativitas guru untuk mendorong murid mengenal dan menyelami aspek keilmuan tanpa melupakan aspek karakternya. Itu yang mungkin pernah hilang dan mungkin kembali hilang di dalam guru – guru kita. Diri mengapresiasi seluruh guru yang terus mengembangkan metode belajarnya, tidak pernah berhenti belajar, dan menggiring anak – anaknya dalam memunculkan ide, serta merealisasikannya. Contoh untuk ini sangat banyak sekarang kita temui, seperti mobil esmeka, mesin batik, dan sebagainya. Betapa semua guru berperan penting dalam proses anak – anak saat berpikir untuk menemukan ini.

Di belakang, seorang guru harus memberikan dorongan dan arahan. Semboyan ketiga ini dianut dengan jelas oleh masyarakat pendidikan Indonesia melalui lambang atau simbol yang ada. Tut wuri handayani menjadi semacam moto untuk pendidikan Indonesia. Sejujurnya, diri kurang setuju dengan aspek ini sebagai moto utama berjalannya pendidikan Indonesia. Semboyan ketiga ini adalah implikasi dari semboyan pertama dan kedua. Dengan menjadi teladan yang baik, maka dengan sendirinya seorang guru akan mendorong siswanya  untuk lebih berkembang lagi. Semangat belajar dan mau diperbaharui dalam diri seorang guru akan berefek kepada siswa untuk menelurkan ide – ide hebat dan membentuk karakter mereka dalam bersikap ke depannya. Karakter dibangun melalui teladan yang baik dalam praktiknya, bukan terbatas pada dorongan atau arahan yang sifatnya absurd (maaf). Kata – kata seseorang mungkin saja manis, semanis Mario Teguh atau para motivator lainnya, tetapi hanya akan menjadi kata – kata saja ketika mereka tidak mempraktikannya dan memberikan teladan bagi para pendengarnya. Diri yakin itulah yang dilakukan para motivator, bertindak dan membagikannya bagi mereka yang tidak termotivasi. Tanpa disadari, hanya perkataan, seperti pujian bahkan makian, hanya akan lewat di telinga anak dan tidak meninggalkan bekas apapun. Bagaimana karakter generasi ini terbentuk? Lagu Umar Bakri mungkin dapat menunjukkan bagaiman teladan seorang guru terhadap generasinya saat itu. Pada akhirnya, menimbulkan semangat juang pada diri murid – muridnya. Hal yang sama juga terjadi di banyak sekolah pedalaman. Mungkin pernah kita menonton acara Indonesiaku (Trans 7) yang menunjukkan betapa perjuangan guru dan murid – muridnya untuk menempuh pendidikan dalam beberapa episodenya. Mereka menempuh laut dengan sampan, sungai dengan arus deras sehingga harus digendong orang tua, hingga yang harus berjalan belasan kilometer di hutan untuk sampai di sekolah. Perjuangan ini dilakukan oleh murid dan gurunya.

Sungguh teladan ini memberikan efek yang besar. Ketiga semboyan tadi pun terbangun dengan baik dan bahkan bisa sempurna. Diri yakin kualitas guru berada pada tolok ukur ketiganya. Mungkin banyak guru sudah memilikinya, tetapi sebagian juga mungkin belum. Peran pemerintah dalam menerapkan ketiga semboyan ini pun tidak bisa ditiadakan. Semua diatur oleh legal dan seharusnya pemerintah bisa mendorong ini untuk berjalan dan terlaksana dengan baik.

Semoga pendidikan Indonesia benar – benar mencerminkan ketiga semboyan Ki Hajar Dewantara ke depannya. Porsi 20% APBN tidak hanya bocor, tetapi benar – benar dipakai untuk mempersiapkan bibit pendidik yang akan berperan langsung membangun karakter bangsa kita.

Merdeka! 

Refleksi: Apakah perlu pendidikan etika dalam kurikulum? #2012

Pertanyaan di atas mungkin lebih tepat bukan menjadi sebuah judul tulisan, tetapi seharusnya menjadi refleksi semua pihak. Mengapa?

Ya, diri merasa dan membuktikan bahwa etika adalah sebuah pegangan seseorang untuk bersikap, bertindak, dan berekspresi. Ini mungkin terdengar seperti subjektif karena etika sebuah pelajaran yang sifatnya personal. Seseorang bisa saja kaya raya, tapi belum tentu dia beretika ataupun sebaliknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edis ketiga (2005:309), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral. Jika dilihat dari sudut pandang aplikasinya langsung, etika dapat dikatakan terdiri dari menghargai-menghormati, sopan santun, dan kelakuannya (attitude).

Aspek pendidikan etika secara tidak langsung akan diterima setiap anak – anak hingga pemuda – pemudi Indonesia di dalam keluarga, sekolah atau universitas, dan lingkungan bermainnya. Kesibukan orang tua dan tuntutan ekonomi, serta gaya hidup yang tinggi mendorong pendidikan etika pun seolah terlupakan dalam keluarga. Komunikasi antar anggota keluarga yang semakin menipis mendorong pendidikan informal ini tidak berjalan dengan semestinya seiring majunya zaman. Akhirnya, seluruh pendidikan ini diserahkan pada lingkungan sekolah yang menjadi tempat utama anak – anak menghabiskan waktu. Jadi, seperti apa aplikasi etika sekarang dalam kehidupan generasi bangsa ini ke depannya?

Penghargaan terhadap seseorang di negara ini pada masa sekarang adalah suatu hal yang sulit. Sikap untuk menghargai dan menghormati orang lain seolah luntur dalam kehidupan kita sehari – hari. Penghargaan kepada orang lain bukan sebatas pada piala atau piagam atau uang yang dapat diberikan kepada orang tertentu karena prestasi, jabatan ataupun kekuasaannya. Penghargaan tidak sebatas itu! Ini hal yang diri rasakan sangat luntur di antara manusia Indonesia. Tempat – tempat tadi yang seharusnya lebih terpelihara untuk penghargaan ini pun belum mampu melakukannya.

Bagaimana aplikasi etika dalam sekolah? Jika boleh jujur, sekolah pun sekarang penuh dengan ketidakaturan dalam sikap dan perilaku siswa-mahasiswanya. Aksi tidak beretika yang dilakukan memiliki rupa dan bentuk yang beragam. Hal paling mudah untuk dilihat adalah penghargaan. Mungkin contoh di televisi dapat menjadi gambaran paling nyata antara yang menghargai dan tidak. Pemutaran liputan anak – anak berprestasi dan sekolah yang teratur seolah menjadi pelega dahaga kita akan harapan bahwa masih ada generasi ini yang benar di dunia yang bengkok. Akan tetapi, pemutaran liputan tawuran antar SMA atau SMK beberapa waktu lalu menunjukkan sisi lain bagaimana generasi ini bersikap. Berdasarkan pengalaman diri sejak SD sampai universitas, ada beberapa hal kesamaan yang selalu diri temui, yaitu sulitnya seorang anak untuk menghargai dirinya dan gurunya.

Ya, penghargaan terhadap dirinya dan guru atau dosen adalah sesuatu yang diri rasakan tidak pernah tumbuh atau sama saja sejak SD sampai universitas. Bentuk – bentuk tidak menghargai ini beragam yang diri lihat, yaitu menghina guru atau dosen, mencontek, dan menipu. Penghinaan terhadap guru yang terbesar saya rasa bukan dari pemerintah atau aspek legal negara ini, tapi justru berasal dari muridnya sendiri. Guru bagi diri bukan sekadar profesi, tetapi suatu bentuk pengabdian yang tinggi, sama halnya seorang dokter. Mungkin, sewaktu kecil kita pernah mendengar bahwa guru adalah Bapak/Ibu kita selama di sekolah. Ucapan itu bukan sekadar sugesti buat diri sewaktu kecil, tetapi benar apa adanya yang diri rasakan hingga lulus universitas. Bentuk penghinaan ini beraneka ragam, seperti pengejekan langsung maupun tidak langsung, penanggapan bahwa tidak bisa mengajar, penggampangan (sepele) terhadap pelajarannya, dan sebagainya. Diri rasa semua pasti sering mendengar keluhan anak – anak yang berujung pada penghinaan atau penyalahan pendidik sebagai dalang mereka tidak mengerti atau bahkan tidak naik kelas. Ya, mungkin ada beberapa kondisi demikian, tapi oknum. Sekali lagi, itu oknum. Bagaimana penghargaan mereka terhadap seorang pendidik? Sesulit itukah hingga sekarang bagi sebuah generasi yang beruntung untuk menghargai gurunya bahkan di saat banyak anak – anak merindukan sosok guru di hari – hari mereka. Siapa yang salah? Diri tidak suka melihatnya dalam sisi kesalahan, tapi mari kita lihat dari sisi bagaimana sekarang kita akan memperbaikinya dan memutus rantai setan ini.

Suatu sikap menghargai akan berkaitan erat dengan sopan santun dalam berkelakuan. Keseluruhan rantai ini menjadi sesuatu yang saling komprehensif dalam praktiknya. Dengan demikian, pemecahan permasalahan seperti apa yang kita harus lihat. Diri melihat tentang suatu struktur kurikulum yang lebih keras untuk kembali diterapkan. Ya, kembali mengapa ini harus dipikirkan. Kita selalu menyalahkan kurikulum pendidikan yang tidak mendukung daya kembang dan kreatif anak – anak. Akan tetapi, pernah kita mengevaluasi kurikulum ini dari sisi perkembangan emosional dan kedewasaan seorang anak. Sebagai contoh, pendidikan anti korupsi yang mungkin baru dipikirkan dan segera diaplikasikan sejak tingkat korupsi Indonesia semakin naik dengan cepat. Mengapa harus selalu bentuk preventif dipikirkan di bagian akhir?

Bagi diri, pendidikan menjadi manusia Indonesia yang berbudi pekerti dan berakhlak seharusnya dari dulu dan dulu sudah diterapkan, dipikirkan pengembangannya, dan dievaluasi pelaksanaannya. Suka atau tidak, sekolah menjadi lahan terbesar para anak menghabiskan waktunya dan sudah seharusnya suatu program yang dikerjakan anak – anak di tempat ini adalah yang paling besar pengaruh dalam hidupnya. Mulai berantas korupsi adalah dari hal yang kecil, seperti disiplin waktu, kejujuran bekerja dan belajar, serta ketaatan terhadap aturan yang telah dibuat. Manusia – manusia seperti ini pada masa sekarang mungkin akan dianggap kuno dan tidak gaul. Akan tetapi, harus mulai ditanamkan atau bahkan lebih tepat untuk dipertanyakan, apakah tidak beretika itu gaul?

Rantai setan ini harus segera diputus! Apakah perlu kita masukkan mata kuliah atau mata pelajaran etika agar menjadi suatu pelajaran yang wajib untuk diambil ke depannya, seperti pendidikan anti korupsi? Diri akan katakan ya. Hal ini perlu untuk dipertimbangkan dan dilebur kembali dalam struktur kurikulum kita. Pendidikan ini seharusnya dapat menjadi pegangan kita memutus rantai setan dan kembali menghidupkan manusia – manusia Indonesia. Kehidupan generasi kita bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi tanggung jawab kita untuk mempersiapkan mereka tumbuh menjadi manusia Indonesia dewasa.

Dalam aplikasinya, etika harus dipraktikan dan dilakukan oleh semua aspek pendidikan itu dulu, seperti menteri, para pejabat pendidikan, guru, kepala sekolah, dosen, asisten akademik, rektor dan lainnya. Belajar tertulis dan mencontoh langsung adalah hal yang paling tepat. 

Contoh adalah teguran tak tertulis yang lebih menyakitkan dan bisa mengubahkan.

Friday, November 27, 2015

Pengalaman sekolah dulu (4): Fasttrack S2

Selesai sidang, hiruk pikuk bebas tidak diri jadikan pilihan. Masih ada kelas yang menunggu diri tingkat sekolah selanjutnya. Setelah selesai sidang, diri langsung didaftarkan ke sekolah magister oleh pihak sarjana selang seminggu. Diri akhirnya resmi menjadi mahasiswa magister pada February 14, 2012. Diri memilih jurusan Teknik Pertambangan kembali dengan spesialisasi di Teknik Ekplorasi kembali. Ada banyak yang masih diri kurang pahami dan penasaran sekali tentangnya. 

Kuliah 12 sks yang diri ambil membuat diri sangat terbantu untuk menyelesaikan sisa 24 sks tersisa di semester selanjutnya. Sisa 16 sks kuliah dan 8 sks untuk tesis sudah diri persiapkan dengan baik. Kesehatan diri pun berangsur pulih. Diri menyiapkan untuk penelitian tesis diri dan mencari semuanya. Puji Tuhan di saat yang bersamaan juga, diri menerima bantuan beasiswa fasttrack dari DIKTI untuk 2 semester dengan bantuan pihak magister ITB yang memberikan informasi pendaftarannya. Tuhan kembali melakukan mukjizat dengan diri mendapatkan tempat tesis di daerah lapangan tambang rakyat di Sukabumi. Diri pun bersiap untuk menghadapinya. Dengan ditemani oleh dua orang teman seangkatan diri di TA, diri berada di lapangan selama 7 hari. 

Dengan sks tersisa, diri berdoa kepada Tuhan untuk menyelesaikannya dalam 1 semester, tetapi tidak dapat dilakukan karena ada sks yang tidak bisa diambil bersamaan di semester genap dan ganjil. Namun, tetap Tuhan memberikan yang terbaik selalu. Diri diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tesis dan kelas tersisa dalam waktu 2 semester. 

Pengalaman di Potsdam yang tak terduga.
Dalam perjalanan mengerjakan tesis pun banyak keajaiban yang Tuhan berikan. Dengan segala keterbatasan yang diri hadapi dengan pendanaan, Tuhan membukakan jalan yang tidak terduga. setelah banyak kegagalan yang diri alami karena diri masih saja mengandalkan kekuatan sendiri sebagai manusia. Percobaan untuk dukungan dana melalui proposal semua berakhir gagal. Namun, keajaiban Tuhan itu tidak pernah berhenti selama berserah. 

Pertama, pasangan diri mendapatkan berkat untuk mendukung penelitian tesis diri dengan pembiayaan ke lapangan dan beberapa analisis. Kedua, saat akan melakukan analisis di tempat lain, selalu dibukakan Tuhan jalan yang luar biasa. Diskon dan gratis analisis diberikan oleh Tuhan melalui banyak tangan di lembaga yang berbeda. Ketiga, diri menang undian dari suatu acara konferensi yang juga sangat tidak terduga! Diri mendapatkan kesempatan untuk pertukaran ke lembaga penelitian ternama di Jerman, GFZ Helmholtz. Diri dapat melakukan beberapa analisis di sini dan kesempatan belajar di sana selama 2 minggu. Ini pun masih ditambah dengan bonus lainnya yaitu diri dilibatkan dalam kegiatan lapangan eksplorasi panas bumi di Jawa Timur sebanyak dua kali pada Juni 2012 dan Juli 2013. Tuhan begitu luar biasa! Diri juga mendapatkan seorang sahabat, mentor dan guru bernama Dr. Fiorenza Deon yang mendukung diri untuk banyak belajar. 

Perjalanan Tiris untuk kegiatan lapangan.
Perjuangan tidak berakhir. Kuliah diri memang tidak sebanyak kuliah saat S1, tetapi tensi penelitian jauh lebih tinggi dan waktu untuk membaca pun jauh lebih banyak untuk memberikan yang terbaik. Persyaratan untuk paper atau proceeding ditambah dengan aktivitas diri yang kembali banyak di organisasi serta lembaga lainnya dan "keisengan" diri yang mencoba - coba untuk mengirimkan abstrak untuk menghadiri konferensi - konferensi di luar negri.  

Dengan dukungan penuh dari lelakiku dan banyak pihak, akhirnya diri menyelesaikan S2 tepat pada waktunya Tuhan, 27 Februari 2013 dengan hasil yang juga sangat memuaskan. Pergolakan luar biasa terjadi sebelum menyelesaikan studi ini, di tengah diri pun masih belum ingin bekerja. Tapi, Tuhan Yesus membawa kesempatan untuk sekolah S3 saat mendekati akhir sekolah S2 diri sebagai jawaban yang tak terduga untuk masa depan. Tuhan Yesus luar biasa! 

Pengalaman Sekolah dulu (2): SPMB

Rencana Tuhan memang tidak akan ada seorang pun yang tahu. Itulah yang diri rasakan lewat perencanaan Tuhan Yesus untuk hidup diri. Dengan banyak pendidikan yang diri dapatkan selama sekolah dasar, akhirnya diri dibawa untuk melalu tahapan berikutnya untuk universitas.
Indahnya rencana Tuhan.
Penolakan diri dapatkan saat akan mendaftar sekolah lewat jalur tanpa tes di salah satu universitas negeri di Palembang. Memang bukan jalan Tuhan karena sudah diingatkan Tuhan dari awal untuk ambil SPMB saja, tapi namanya diri masih ngotot daftar. Selanjutnya jalur yang sudah disuruh Tuhan, diri ambil SPMB di Palembang. Dengan tekad untuk mengabdi di Papua sebagai dokter, diri memutuskan untuk masuk FK di salah satu universitas top di Indonesia agar juga bisa diri mendapat pendidikan dasar untuk kegiatan alam di kampus tersebut. Diri mengambil jalur IPC untuk formulir SPMB karena diri harus mengambil cadangan sekolah, jaga - jaga tidak diterima di kampus tersebut. 

Di sinilah mulai petualangan diri. Saat akan mengisi pilihan kedua dan ketiga, orang tua diri lewat dan berkata untuk tidak hanya mengambil FK, tetapi juga mengambil Teknik Pertambangan, FTTM, di ITB Bandung. Hanya dengan alasan sederhana sebenarnya, waktu itu orang tua diri hanya bilang "daripada kamu masuk keluar hutan buat jalan doang tapi tidak ada gunanya, mending masuk tambang ada yang dicari". Akhirnya pilihan kedua diri isi dengan pilihan orang tua tanpa berdebat apapun karena diri yakin akan masuk FK. Pokoknya harus FK dalam otak diri supaya bisa ke Papua dan mengabdi di sana dengan ada keahlian yang berguna. Diri tidak mau hanya datang tanpa bisa apa - apa. Diri bertekad bisa memberikan pengobatan dan mengajar di sana. Pilihan ketiga akhirnya dijatuhkan di Fakultas Hukum setelah diri berkonsultasi dengan paman diri yang juga seorang pengacara. 

Hari tes tiba, meskipun passing grade diri sempat dinyatakan tidak mencukupi untuk jurusan tersebut oleh bimbel tempat diri ikut uji coba, diri tetap berserah dan mau mendengarkan Tuhan. Diri mengerjakan setiap soal yang diri bisa di bawah bimbingan Tuhan. Benar - benar diri merasakan bagaimana Tuhan menolong. Ada banyak soal yang sempat diri tidak pahami, tapi tiba - tiba Tuhan beritahukan jawabannya. Setelah 2 hari tes, seluruh soal yang ada diri isi dengan keyakinan bahwa itu memang harus diisi. Diri hanya bisa menyerahkannya pada Tuhan Yesus dan menunggulah diri selama satu bulan sebelum pengumuman.

Selama menunggu pengumuman, diri lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku sastra Indonesia dan berdiam diri di rumah, belum boleh berangkat naik gunung saat itu karena orang tua diri khawatir diri tidak lulus SPMB akibat pilihan studi yang diri lakukan. Ada semacam kepercayaan yang dianut orang tua diri kalau di SPMB tidak boleh memilih dua universitas top sekaligus dalam pendaftaran yang mana jika dilakukan pasti sudah tidak akan lulus. Diri yang tidak mengerti dan tidak menerima logika tersebut hanya bisa diam dan berkata percaya sajalah sama Tuhan Yesus meskipun tetap harus mengikuti apa yang dikatakan mereka untuk mencari sekolah - sekolah cadangan yang masih membuka pendaftaran. 

Diri ingat pendeta diri berkata untuk tetap percaya dan Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan anakNya malu. Dengan semua inilah diri hanya tetap percaya dan berdoa. Tuhan membuktikan semuanya dalam 1 bulan menunggu.

Saatnya tiba pengumuman SPMB via online. Meskipun di tengah kedukaan karena kakek diri berpulang seminggu sebelumnya, diri mencoba mengakses hasil ujian di tengah keluarga yang berkumpul di rumah kakek. Saat yang ditunggu pun tiba, adik diri menelpon bahwa dia berhasil mengakses website dari rumah keluarga diri. Hasilnya puji Tuhan, diri tidak diterima di FK dan diterima di FTTM ITB. Seluruh keluarga sangat bergembira di tengah duka yang masih meliputi, termasuk orang tua diri. Namun reaksi berbeda yang diri berikan, yaitu kekecewaan! Ya, inilah bentuk orang tidak mengucap syukur. Awalnya diri syok karena diri harus belajar teknik dan semua hal yang terkait matematika dan fisika seperti yang diri pikirkan. 

Sekali lagi, Tuhan tahu rencanaNya yang terbaik untuk setiap anakNya bahkan untuk mendapatkan hasil pengumuman di tengah keluarga yang berkumpul. Paman bibi diri yang melihat kekecewaan diri yang tidak diterima FK dan menolak untuk melanjutkan di teknik, akhirnya memberikan pengertian dan memberi tahu bagaimana jurusan teknik itu, siapa kampus baru diri, bagaimana sekolahnya kira - kira dan bagaimana potensi masa depannya. 

Setelah semalaman berpikir, diri akhirnya minta ampun sama Tuhan Yesus buat segala kebodohan pikiran diri. Diri akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi di Teknik Pertambangan, FTTM ITB dengan segala ketidaktahuan diri tentang sekolah ini. Bahkan diri membuat persetujuan dengan orang tua diri untuk mencoba di tahun pertama dan melihat bagaimana perkembangan nilai diri. Namun, ada satu kepercayaan bahwa Tuhan akan memberikan jalan terbaikNya dan Ia tidak akan membuat diri malu. Itulah yang diri rasakan! Diri ke ITB untuk pertama kalinya 3 hari setelah pengumuman dan melihat bahwa inilah calon kampus diri dan kota Bandung yang menjadi tempat tinggal diri selama 4 tahun ke depannya. Tuhan membuka jalan untuk semuanya dalam persiapan sekolah, daftar ulang hingga mendapatkan tempat kos yang sangat cozy, tempat tinggal diri hingga lulus. 

Sekolah di ITB, bagaimana? Satu kata, yaitu menyenangkan! Lewat jalur ini juga, diri dibawa Tuhan Yesus untuk menyelesaikan pendidikan hingga PhD di usia yang sangat muda, 24 tahun. 

Pengalaman Sekolah dulu (1): TK, SD, SMP, SMA

Mungkin beberapa dari kalian pernah membaca bagaimana fase diri dalam menghadapi kehidupan. Setelah sekian banyak isi postingan blog ini yang ditulis, dihapus dan ditulis kembali, diri ingin berbagi apa yang menjadi pengalaman diri selama ini. 

Perkenalkan nama diri adalah Os, 24 tahun 1 bulan, hihihi karena memang diri baru berulang tahun bulan lalu. Diri bersyukur sekali kepada Tuhan Yesus untuk segala apa yang diri alami hingga sejauh ini. Segala pengalaman yang diberikan dari diri kecil hingga saat ini diri sedang menyelesaikan tahapan terakhir dalam pendidikan S3 yang tengah diri tempuh. 

Diri diberikan kesempatan oleh Tuhan Yesus untuk menempuh pendidikan di tempat - tempat yang luar biasa sedari pendidikan dasar. Diri lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana yang seringkali harus berpindah tempat mengikuti ayah bekerja. Diri pertama kali bersekolah saat usia 4 tahun kurang di TK Harapan Indah, Palembang. Jangan tanya diri apakah TK nya masih ada sampai saat ini atau tidak. Guru - guru di TK mengizinkan diri untuk mengikuti kelas di TK nol besar meskipun usia diri masih tidak mencukupi saat itu. Diri sangat suka belajar, menulis dan bermain dengan teman - teman sebaya. 

Satu tahun di TK, diri mulai merasa bosan, minimal itu yang diri tahu dari orang tua diri. Akhirnya diri memaksakan untuk belajar di sekolah dasar (SD). Pada zaman diri, sistem sekolah masih cawu atau caturwulan dan sekolah selalu buka pada awal Juni - Juli untuk penerimaan siswa baru. Sekitar tahun 1996 saat itu, diri masih berusia 5 tahun kurang, sesuatu yang sulit sebenarnya karena usia yang tidak mencukupi. Namun, puji Tuhan, SD yang membuka pendaftaran di dekat rumah diri menerima sistem semacam "rekomendasi" dari pihak TK, dimana calon siswa dulu bersekolah. Setelah hampir kesulitan mendaftar, akhirnya diri diterima di SD 636, Palembang sebagai siswa kelas 1. Yeay! Diri kembali mendapatkan tempaan pendidikan yang baru dan diri menyukainya, meskipun tidak mudah, tapi Tuhan selalu paling tahu bagaimana caranya membantu dalam perkembangan diri. 

Sampai akhirnya di sekitar tahun 1999 setelah cawu 1, diri sekeluarga harus berpindah ke SDN 01 Merauke, Irian Jaya saat itu. Diri bersekolah di SD ini selama kurang lebih 2 cawu atau sampai kenaikan kelas dari kelas 4 ke kelas 5. Di sini, diri belajar banyak tentang dunia baru. Diri sempat mengalami kultur syok karena seluruh teman - teman diri berasal dari suku - suku di Indonesia yang berbeda, mulai dari warga lokal Papua, Batak, Toraja, Jawa, sampai Padang. Sesuatu yang sebelumnya diri tidak temui di SD diri sebelumnya yang mayoritas adalah warga lokal Palembang. Akhirnya, di sekitar Juni 1999, diri pulang kembali ke Palembang karena terjadinya kerusuhan saat itu di Merauke. 

Sampai di Palembang, diri diletakkan oleh Tuhan di sekolah baru di SD Xaverius 7. Mengapa di sini? Diri juga tidak mengerti, tapi satu hal yang diri sukai dari sekolah ini adalah kondisi sekolah yang nyaman dan menyenangkan. Sekolah dan guru - guru yang menyenangkan meskipun saat itu fasilitasnya masih belum terlalu mumpuni, tapi diri senang sekali. Di sini diri akhirnya juga mendapatkan teman bermacam - macam latar belakang namun tetap asli kelahiran Palembang. Diri memulai sekolah di sini sebagai siswa kelas 5 sampai diri menamatkan SD di tahun 2001. Rasanya setelah sistem ini adalah semester di sekolah - sekolah di Indonesia. Puji Tuhan, Tuhan masih berikan prestasi sangat baik selama sekolah dasar. Diri masih dapat peringkat 1 sampai lulus selama di Palembang, kecuali 2 cawu selama di Merauke, diri diberikan peringkat 5 dan 3 oleh Tuhan plus pembelajaran di sekolah yang multikultural sekali. 

Lalu diri ditempatkan di SMP Xaverius 1 Palembang oleh Tuhan melalui jalur tanpa tes. Luar biasa! Sekolah ini adalah sekolah terbaik pada zaman diri di Palembang. Masa - masa SMP adalah saatnya diri belajar banyak hal baru lagi. Mungkin secara kultural tidak terlalu banyak karena mayoritas teman - teman diri yang warga lokal Palembang. Awal tantangan adalah penyesuaian dengan lingkungan belajar yang cukup berbeda dengan SD. Diri harus beradaptasi dengan berbagai macam tambahan pelajaran yang berbeda dengan SD dan beberapa di SD yang sebelumnya diri belum pernah terima. Menyenangkan sekali sebenarnya, namun tetap butuh kerja keras dan usaha yang lebih dari sebelumnya. Diri selalu melihat bagaimana Tuhan berkuasa untuk segala sesuatunya. Ora et Labora adalah pegangan diri selama sekolah. Bagaimana tidak, diri harus bersaing dengan banyak anak - anak pintar dari sekolah - sekolah sebelumnya dan ditambah dengan diri banyak harus beradaptasi lebih dahulu dengan banyak pelajaran. Diri juga tidak mengambil pelajaran tambahan di luar sekolah selain bahasa Inggris. Jadilah sejak SMP, jadwal sekolah diri mulai dari bangun jam 5.30, sekolah mulai jam 7 sampai jam 1, sampai di rumah jam 2; lalu tidur siang sampai jam 4. Jam 4.30 sampai 6.30 les bahasa Inggris. Setelah itu perjuangan dimulai, diri harus mengerjakan peer dari sekolah yang diberikan dan mempersiapkan bahan sekolah untuk esok harinya dari jam 7 sampai jam 1 malam. Diri mengambil libur di hari Minggu untuk gereja karena Sabtu, diri masih sekolah dan tetap harus mengerjakan semua tugas dan ekstrakurikuler. Capek?! Iya, tapi itulah pendidikan Tuhan yang luar biasa yang diri rasakan. Diri juga sempat diizinkan oleh Tuhan untuk mendapatkan kesempatan berada di kelas akselerasi dan kelas unggulan di SMP, hanya saja diri merasa itu bukan jalur diri. Tuhan mengingatkan diri untuk pindah ke kelas reguler yang telah dipersiapkan Tuhan. Bekal yang diri diajarkan sejak SMP ini sangat membantu saat SMA hingga diri sedang mengerjakan PhD diri di Akita University. Puji Tuhan, tidak ada yang sia - sia usaha dalam Tuhan, diri dipercayakan untuk mendapatkan peringkat pertama di kelas dari kelas 1 sampai diri lulus SMP. Tuhan itu begitu luar biasa, meskipun pendidikanNya awalnya diri keluhkan, tapi Ia memberitahu "mengapa" seiring waktu berjalan. 

Setelah 3 tahun berada di SMP, diri diizinkan Tuhan untuk masuk ke sekolah terbaik di Palembang tanpa jalur tes di SMA Xaverius 1 Palembang yang pada zaman diri juga sangat terkenal dengan banyak juara olimpiade tingkat dunianya. Puji Tuhan, diri ditempatkan di tempat yang terbaik oleh Tuhan. Di luar dugaan, Tuhan Yesus meletakkan diri di kelas khusus percobaan nasional dengan hanya 25 siswa di dalamnya. Luar biasa sekali! Tuhan Yesus berikan kesempatan ini. Di kelas 1 ini, diri mendapatkan tambahan kelas dan pendidikan dari guru kami di luar jam sekolah biasanya. Naik ke kelas 2, diri mengambil jurusan IPA dengan harapan diri ingin menjadi dokter nantinya. Pengalaman sekolah di Papua, memberikan diri semangat tersendiri untuk kembali ke sana memberikan pengabdian diri kepada mereka. Apa yang telah Tuhan ajarkan selama SMP, diri terapkan kembali di SMA. 

Diri masih mengambil pendidikan bahasa Inggris hingga selesai di kelas 2 SMA. Diri juga sempat mengikuti beberapa pelajaran tambahan di luar seperti A-Level dan persiapan SPMB, tetapi lebih banyak diri membolos kelas. Rasanya hampir 80% dari hari yang ditawarkan oleh pihak bimbel terbuang oleh diri. Diri lebih nyaman belajar di rumah sendiri dan ketika diri tidak bisa mengerjakannya, diri akan membawa soal tersebut ke guru diri di sekolah atau diri akan bertanya kepada teman - teman yang lebih mengerti di bidangnya, seperti fisika dan matematika. Puji Tuhan, pola belajar selama SMP yang diajarkan Tuhan membantu diri. Jadwal mulai bertambah di semester kedua kelas 2 karena diri mulai mempersiapkan diri untuk UAN. Diri diingatkan Tuhan untuk memperhitungkan bagaimana mengatur jadwal persiapan UAN dan SPMB. Akhirnya, diri menambah jam pelajaran diri di rumah pada hari Sabtu dan Minggu malam plus jadwal libur untuk belajar soal - soal UAN tahun - tahun sebelumnya. Mulai naik kelas 3, diri mempersiapkan diri untuk SPMB, dengan pola belajar yang sama, diri belajar soal - soal yang ada dan berlatih. Diri melihat bagaimana Tuhan bekerja luar biasa sekali dalam mendidik diri. 

Selama SMA, diri mempersiapkan kesempatan untuk UAN, UAS dan SPMB lewat belajar mandiri; diri masih mengikuti kegiatan pecinta alam yang sangat diri sukai; dan diri juga sempat masuk dalam tim olimpiade sekolah untuk biologi dan sastra. Puji Tuhan, selama di SMA pun Tuhan izinkan diri tetap mendapatkan hasil belajar yang baik dengan nilai pelajaran yang merata baik untuk semua mata pelajaran. Tuhan Yesus percayakan diri untuk mendapatkan peringkat 1 dari kelas 1 sampai lulus. Setelah 3 tahun, diri menamatkan SMA di usia 16 tahun dengan hasil yang memuaskan. Puji Tuhan!

Petualangan yang sesungguhnya Tuhan persiapkan setelah SMA. Selama di pendidikan dasar, pertolongan Tuhan begitu luar biasa. Diri belajar bahwa semuanya harus digabung dengan kerja keras dan disiplin terhadap waktu, termasuk keinginan bertanya dan semangat! Berserah dan berdoa adalah kunci utama untuk membuat kita mau bekerja keras dan mengerjakan bagian diri.
Seperti bunga, pendidikanNya memang berwarna - warni.

Monday, October 20, 2014

Time pass fast

We are together in meanwhile then separating for a long time.
Loving and caring each other, with our ways in all pure humanity
It comes and goes
When we leave and bring this fraternity to our new life,
Remember that we are always together

We never think too small because having each other
No one will understand our ways in free spirit
How our time pass, is it too fast?
It is funny but lovely
We are always bonded in our time, you and me,
It is us.

Time pass fast,
Bringing us to new life, future of each
Drawing smiles in our lips, we live once
For love and time
We grow fast, indeed.
All miss in all of you.

These all are only small pieces that we bonded together
Our lovely time
Short but so precious, unforgettable.

Tribute to GM XVIII

Saturday, May 04, 2013

Aprikosen

aprikosen-hahnchenflog-pfirsich

First and second day in Potsdam, I was looking for grocery closed to my house. Staying in centre of Potsdam old city gave many new experiences. I'm not alone here as the foreigner. So many people from other countries in Europe also spent their time here. Potsdam are famous with its Germany Kingdom. It was East Germany when Berlin wall still divided. Going back to main topic, I don't need to talk about Potsdam right now. I am looking to introduce some new fruits. It also meant new experience for me. Why? I've never deal with these fruits before. My new daily days in Potsdam are spent more in grocery to find out some new foods and drinks. These new fruits are first steps only. 

The red big one is peach - named Pfirsich (got from google translate, can't find the receipt from grocery yet). The orange shy is apricot - named Aprikosen. The smallest ones are Hahnchenflog. I've tried to know what the Indonesia and English translation, but can't find it at all. Hahnchenflog comes from Africa. It tastes little bit sour- nice for mother wanna be. For me, peach tastes sweet. It is like 'kesemek' in Indonesia, but it has softer texture than. Peach is like apple but softer too. It tastes sourer than apple. I don't really like it I guess. For the price, it is quite cheaper than in Indonesia -even the currency is euro. It costs 2.49, 4.99, 3.99 euros per kg. I am just feeling so excited until now. Fruits is quite widely imported here. That's why there are so much kinds of imported fruits dominated the grocery. 

Some new reports about fruit here. It is quite subjective. Because of sunday, the grocery are closed here. The journey to eat more new ones skips! One of other food journey that can't be waited are Cheese Journey..but? how will the body looks :))

Makan - Makan di Apartemen


Paling kurang kerjaan di sini adalah memposting makanan yang dikonsumsi selama di Potsdam. Pengalaman yang sudah lalu, tetapi tetap memiliki kesan yang mendalam. Setiap hari, diri memasak di sini. Iya, semua demi pengematan yang akan berujung pada berbelanja :D.


Memasak adalah salah satu solusi yang ditawarkan di sini untuk mahasiswa sarjana kere seperti diri saat itu. Kenapa begitu? Karena sebenarnya masih ada solusi lain untuk kondisi ini, yaitu makan hemat atau makan nebeng. Nah, untuk kedua solusi ini sangat tidak pas untuk diri yang berpenyakit maag kronik dan/atau temannya bukan teman dekat di sini - daku bukan oportunis yaa. Makan di sini bisa sangat murah tergantung pada kondisi kosan atau apartemen yang punya dapur atau tidak, kemampuan belanja, dan mampu paham bahasa yang ada. Pertama, perhitungan yang menarik akan terjadi sebagai kombinasi dengan kondisi kedua. Ketika apartemen atau kosan kita punya dapur, artinya suatu penghematan sedang di depan mata. Mungkin, untuk ukuran bayarnya pasti mahal, sangat tidak dipungkiri untuk ini. Asumsi digunakan untuk ini adalah mahasiswa sarjana kere yang artinya semua pembayaran ditanggung plus diberikan uang saku lagi. Cara di postingan ini adalah bagaimana  berusaha menghemat uang saku tersebut. 

Perhitungan yang diri lakukan selama di sini adalah berdasarkan survei di toko makanan terdekat dengan apartemen dan ditambah kondisi lokasi yang berupa daerah pariwisata tota - tengah kota. Asumsi setiap hari makanan yang sangat diperlukan adalah nasi dan lauk-sedikit buah. Sedikit say goodbye dengan sayur di sini karena harganya selangit. Kondisi survive versi aku ini adalah makan 3x sehari. Hingga saat ini, makanan termurah yang dapat diri temukan dalam pembeliannya adalah beras, daging, keju, susu, yogurt, buahan lokal, dan beberapa bebumbuan lokal tentunya. Kondisi ini membuat aku sedikit terpaksa untuk menjadi seorang pemakan daging sejati. Akibatnya, tema kesehatan selama di sini adalah sehat dengan hewani. Kondisi ini sangat lokal dan tidak bisa diterapkan pada semua orang.


Dengan uang saku terbatas, diri memutuskan untuk memasak - setelah melakukan perhitungan tentunya. Berikut rincian kasar diri yang telah dilakukan dan sedang dijalankan proses penghabisan bahan pangannya:
= Pembelian beras ukuran 500gr untuk 8x makan >> 0.49 euro
= Daging ayam bagian sayap 8 biji untuk 8 x makan >> 3.36 euro (tergantung berat yg diambil)
= Keju mozarella isi 20 bijih >> 2.99 euro
= Bebuahan lokal >> 2.99 - 4.99 euro 
= dedagingan isi 8 biji untuk 8 x makan >> 2.99 euro (bisa yg lebih murah)

Kalau semuanya ditotalkan, harga untuk semua pembelanjaan, sekitar 14 euro, tapi semua untuk 8x makan. Catatan tambahan, setiap makan punya daging 1 dan ayam 1, plus keju dan buahannya. Mari kita bagi 14 euro dengan 8x makan, artinya tiap kali makan sekitar 1,63 euro. Mahal? Buat diri ini sudah paling murah karena jika makan di luar, minimal adalah 2.5 euro untuk satu menu makanan. Jadi, untuk 3x makan bisa habis 7.5 euro - 12 euro sehari. Dengan prinsip hemat tadi, diri membuat 12 euro tersebut harus bisa buat 3-4 hari makan :D. Ini penghematan yang sehat, bukan pelit yaa. Ada yang 1 euro, yaitu kopi atau teh :D, tapi sayangnya diri bukan peminum saja, tapi butuh makan :D. Harga ini dapat semakin berkurang jika diri hanya makan 2x sehari dan lauk pauknya hanya satu. Perhitungan diri, setiap makan hanya butuh sekitar 1 euro untuk 8x makan - 4 hari. Akan jadi lebih hemat lagi, tetapi tidak ingin dilakukan hal tersebut karena masih suka kelaparan. Sebenarnya ide ini, kurang baik karena makanan di sini banyak ragamnya dan sangat menyenangkan jika bisa dicicipi semua. Akan tetapi, menjadilah bijak jika kondisi keuangan pas-pasan dan punya keinginan banyak seperti aku :D.

Ketiga, perhatikan kondisi bahasa di sini. Tidak semua bisa berbahasa Inggris, tetapi semua bisa bahasa tubuh. Lakukan pembahasan itu saja lebih dari cukup untuk membantu berkomunikasi di kondisi darurat. Akan tetapi, ingat, tidak semua orang baik, jadi perlu perhatikan apakah mereka benar - benar baik dan waspada dengan apa yang dimiliki. 

Menjadi sehat dengan hewani tetap harus memperhatikan pergerakan tubuh. Dengan suhu yang dingin di sini, menjadikan tubuh senang sekali untuk makan dan minum berlebih. Perhatikan asupan kalorinya supaya tidak terjadi hal yang paling tidak ingin terjadi, yaitu penggemukan badan. Sehari - hari sekarang, saya makan keju, daging-ayam, dan yogurt. Susu juga ada, tapi lagi malas karena harus langsung dihabiskan itu susu. Oleh karena itu, bergerak bebas dan tidak stress akan menjadikan bumbu komplit untuk sehat dengan hewani. 

Rumah kedua : Alexander Strasse

Staying for while in Germany wasn't easy. Quick adaption should be run fast. I were not the one at the time, but I enjoyed it much. Let the story wrote in Bahasa Indonesia. 

Rumah kedua, ini sepertinya kata yang tepat untuk menggambarkan apartemen diri selama di Jerman. Apartemen sederhana, bergaya Belanda dan berkayu semua. Suatu sentuhan yang sangat menyenangkan. Ini beberapa pengambilan foto yang sangat menyenangkan. Di sini, diri sempat membangun hati diri dan semangat yang tak akan pernah padam. Di sini juga, diri pernah merasakan yang disebut dengan 'rindu berat'. Di semua tempat mengundang cerita tersendiri. 

Kamar terletak di lantai 4 bangunan. Tangga - tangga yang digunakan untuk mencapai ke kamar pun masih terdiri dari kayu -kayu tebal dan berbunyi 'krik - krik' saat diinjak terlalu kencang. Kamarnya berukuran 3x3 m menyeluruh untuk kamar tidur, dapur, sudut kecil dan kamar mandi. Berlantai kayu cokelat yang berusia tua dan terletak di bagian belakang bangunan tua ini. Kamar yang terletak di belakang sebenarnya memberikan kesan tersendiri karena diri hanya melihat ke tetangga apartemen, kepala salib gereja di belakang dan beberapa tempat santai di atap milik orang - orang di apartemen tersebut. Sungguh pemandangan yang berbeda untuk diri yang biasa tinggal di lantai 2, kanan kiri adalah kamar dan depan adalah kamar orang - orang meskipun tidak mengenali mereka sama sekali satupun. 

Kamar punya dua jendelan utama, yaitu di dekat tempat tidur dan tempat makan. Model jendela di sini agak sedikit menyulitkan diri awalnya. Cara membuka jendela dengan ukuran 1 m x 0.7 m ini bisa dengan cara ditarik ke depan, sehingga seolah jendela membentuk huruf V atau dengan menyamping seperti kebanyakan jendela di Indonesia. Diri baru tahu kedua cara membuka ini pun setelah hampir satu minggu tinggal di sini. Dengan berusaha mengutak-atik si pengunci, maka diri menemukan cara konvensional pembukaan jendela yang sangat aman buat diri. Akan tetapi, tidak aman buat keselamatan diri secara umum karena jendela di apartemen tidak sama dilengkapi teralis besi sehingga kemungkinan untuk terjun bebas sangat mudah dan lancar jaya. Dengan dua jendela besar seperti ini memberikan kenikmatan tersendiri bagi diri untuk merasakan angin malam dan udara pagi Potsdam yang tetap dingin meskipun sedang dalam musim panas. 

Mungkin jendela seolah modern, tetapi pintu tidak ada modern - modernnya buat diri. Mungkin identiknya apartemen dilengkapi dengan kunci yang tinggal dilaser dan terbuka sudah kamar. Namun, di sini tidak sama sekali. Kuncinya pun masih kunci zaman Belanda dengan ukuran kunci relatif lebih memiliki lekuk 'tubuh' dibandingkan dengan kunci masa kini seperti yang diri pakai di kosan. Pintu masuk utama terdiri dari 2 pintu yang sangat aneh buat diri karena umumnya pintu masuk zaman sekarang pasti terdiri dari pintu kayu dan pintu teralis besi. Tetapi, tidak untuk di sini. Kedua pintu adalah pintu kayu. Pintu kedua adalah pintu asli bawaan si apartemen, sedang pintu baru yang dipasang digunakan agar memberikan rasa aman untuk si pengguna apartemen. Namun tenang, pintu kamar mandi tidak menggunakan model sistem dua pintu ini. Pintu yang menutup kamar mandi relatif lebih tipis kayunya dan tidak menghabiskan ruang serta kalau dikunci cukup sulit untuk dibuka. 

Selain properties ini, rumah ketiga diri di Potsdam punya banyak ornamen dan cerita tersendiri yang menarik buat ukuran diri. Kenapa? Karena diri sebelumnya tidak pernah merasakan kamar dengan kelengkapan dan sentuhan eksotis seni melalui lukisan. Lukisan di kamar sepertinya adalah sesuatu yang sangat langka untuk digunakan oleh mahasiswa - mahasiswa kere seperti diri. Di kamar ini, diri merasakan seperti pekerja menengah yang dapat merasakan sederhananya hidup dengan elegan. Di kamar terdapat 2 lukisan yang sebenarnya diri juga tidak mengena pada maksudnya. Lukisan pertama tergantung di dekat tempat tidur diri. Lukisan menunjukkan kemesraan dua manusia tanpa kelamin yang tidak bisa diidentifikasi jelas oleh diri. Mungkin si pelukis ingin menunjukkan cinta itu ada dan bahkan sampai ke tempat tersembunyi atau paling privat sekalipun seperti di kamar. Namun, apadaya, tanpa kelamin yang teridentifikasi jelas, semua bisa menjadi blur atau bahkan aneh. Inilah yang tidak dimiliki diri, yaitu cara menikmati seni. Mungkin harus ada yang mengajari diri atau diri harus kembali banyak bersemedi?  Lukisan kedua lebih realitis buat diri dengan gambar kondisi kota meksipun tidak tahu itu dimana dan apa. Dengan sentuhan seperti ini, kamar menjadi lebih eksositik dan tenang rasa diri. 

Di pojok kanan kamar dekat jendela, kursi dan meja kecil dipasang. Pertama kali diri datang ke sana, meja kursi ini seperti ruang makan sederhana dengan piring dan gelas kristal yang disusun rapih. Namun sayang, diri bukan datang untuk bulan madu, tetapi untuk mengadu otak ini. Mau tidak mau, semua peralatan di luar kebutuhan harus disingkirkan. Maka, jadillah meja makan romantis menjadi meja belajar dan chatting diri selama di sana. Ide - ide dan data semua keluar dan diperas maksimal sambil menikmati malam yang tetap terang selama diri di Potsdam. Pojokan ini juga bisa menjadi saksi kerinduan diri pada banyak hal, tetapi berusaha mengikari dan ingin sekali tinggal di kota seperti itu lebih lama lagi. 

Seberang pojokan atau sebelah kiri kamar, dekat dengan pintu kamar mandi adalah dapur kecil diri. Dapur ini istimewa sekali karena dia menyelamatkan diri untuk bisa menyimpan uang saku lebih banyak lagi agar dapat membeli banyak oleh - oleh. Dapur diri di sini punya alat makan yang asik, peralatan masak yang relatif lengkap dan kompor listrik yang menyenangkan. Pertama kali di sini diri baru menggunakan kompor listrik dan sempat katrok karena tidak dapat menggunakannya sama sekali.  Peralatan yang cukup lengkap ini sangat membantu sehari - hari diri selama 14 hari di Potsdam. Di bawah kompor, terdapat dua lemari yang bagian kirinya adalah kulkas dan kanan adalah tempat sampah. Sungguh hal efisien yang baru sekali ini juga diri rasakan. Selama ini, diri barangnya banyak sekali dan tidak pernah rapih untuk itu di kamar.

Kompleks Allexanderstrasse ini sangat istimewa. Ini nama jalan, tempat di mana apartemen tersayang ini. Dengan lokasi yang strategis, yaitu dekat dengan halte tram, bus, dekat pusat kota, supermarket, tempat jualan dkk menjadikan liburan belajar diri sangat menyenangkan. Diri masih menginginkan waktu untuk mengeksplor lagi!

Papua next day

Beberapa tambahan di dalamnya. Ntah kenapa, diri minta dibawa ke pasar tradisionalnya. Sebagain ini adalah warna tradisional Papua. Hasil laut itu memang melimpah sekali. Papua begitu menggoda buat diri! Suatu waktu nanti diri harus ke sana lagi. Bawa diri menjelajah Papua. Mari mencari lomba yang bisa bawa diri ke sana ahh. 

Papua More

Bercerita sedikit tentang perjalanan ke Papua kembali pada Desember 2012 lalu. Masih ada beberapa bagian yang menurut diri perlu dibagi untuk menunjukkan keindahannya. 

Saturday, April 13, 2013

Papua Time

Perjalanan dengan pesawat langsung ke Sorong.
Kepulauan Raja Ampat dari pesawat. Mereka begitu menggoda.
Sorong dari atas pesawat. Mereka hidup dari hasil laut yang melimpah. Lihat pola hidupnya mengikuti garis pantai.
Bandara internasional loh ini! Semua turis yang akan masuk ke Raja  Ampat untuk kunjungan, baik domestik maupun internasional. Mantap loh!
Hutan bakau dan terminal batubara nantinya.
Senja atau Pagi?
Actions with girls.
ITB in Domine, Sorong
Rawa gambut! Mereka adalah sumber batubara jutaan tahun ke depannya. 
Jalan trans Papua- termasuk jalur pipa gas Petrocina. Tanpa perusahaan terkadang tidak akan ada jalan di provinsi ini. 

Grand Pacific Hotel: Most expensive and precious!

Friday, March 29, 2013

Abu Dhabi Airport

Abu Dhabi Airport
Etihad Airways! Pesawat yang menyenangkan sekali. 
Smoking Box untuk para perokok. Smoking box ini berada di tengah - tengah  tempat menunggu. 
Tekstur penyangga di airport Abu Dhabi, menarik!