Showing posts with label leading program. Show all posts
Showing posts with label leading program. Show all posts

Thursday, July 07, 2016

Kedatangan Rektor ITB di Akita

Setelah tahun sebelumnya mahasiswa mendapat kunjungan dari Bang Andrea Hirata, Kak Meda Wayu dan Kato-sama, kali ini kunjungan dari rektor ITB menjadi salah satu yang istimewa untuk mahasiswa Indonesia. Di akhir September 2015, kunjungan dosen dan rektor ITB untuk WFURS menjadi salah satu kunjungan penting setelah beberapa kunjungan dari para expert di bidangnya sejak awal 2015 seperti Dr. Hedenquist, Dr. Joerg Matschullat dan lainnya. Jelang akhir September 2015, Akita University menjadi tuan rumah untuk WFURS (World Forum Universities on Resources and Sustainability) 2015. Konferenci WFURS diadakan tiap 1 tahun sekali dan diikuti oleh sekitar puluhan petinggi universitas di seluruh dunia. Ntah ini kebetulan atau tidak, pembimbing diri adalah salah satu executive committee board di WFURS sebagai bendahara. Setiap universitas yang berkeinginan bergabung juga dapat melakukan registrasi dan akan disetujui oleh sidang anggota WFURS setiap tahunnya. Setelah Akita di 2015, forum akan dilaksanakan di Rusia pada September 2016. Informasi lengkapnya tentang forum ini ada World Forum Suistainability. Siapa tahu universitasmu ingin registrasi sebagai bagian dari WFURS juga. 

Setelah jadwal yang ditentukan ada, para mahasiswa Indonesia di Akita berbagi jadwal untuk menjadi LO dan staf di WFURS. Di kesempatan ini, diri mendapat bagian keduanya sekaligus. Diri menjadi staf komite di WFURS untuk mengurus jalannya acara. Tugas pertama diri adalah menjemput para utusan di Bandara Akita yang datang sehari sampai 2 hari sebelum acara. Sehari sebelum acara menjadi waktu yang paling sibuk untuk kedatangan para petinggi universitas tamu di bandara Akita, termasuk diri yang menunggu para tamu dari pagi hingga malam. Terima kasih lelakiku yang sangat baik menemani selalu. Rektor ITB, Bapak Prof. Kadarsah Suryadi dan guru besar teknik pertambangan ITB, Bapak Prof. Rudi Sayoga berkesempatan sebagai wakil langsung dari ITB untuk WFURS 2015 datang sehari sebelum acara. Perjumpaan pertama diri dengan para wakil kampus almamater diri setelah hampir 2 tahun bersekolah di Akita University akhirnya terjadi di September 2015. 
Para peserta WFURS 2015 Akita University.
Hari - hari selanjutnya diisi dengan beragam agenda WFURS, mulai dari konferensi hingga field trip. Selain itu juga ada pertemuan antar petinggi kampus yang datang dan Akita University. Sungguh kesempatan yang asik! Beberapa mahasiswa dari jurusan geologi mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam poster presentation sebagai bagian dari konferensi WFURS 2015. Seluruh staf juga ikut serta dalam seluruh rangkaian acara, bahkan field trip. Selama 2 hari penuh, para peserta konferensi mengikuti acara dari pukul 09.00 hingga 17.00 yang diisi dengan presentasi, diskusi dan dialog antar universitas, termasuk sidang terbuka untuk kebijakan tahun selanjutnya. Para petinggi universitas yang ramah juga ikut ambil bagian dalam poster session mahasiswa Akita University untuk memberikan ide dan masukan tentang riset yang dilakukan. Setelah seluruh rangkaian acara konferensi selesai, seluruh mahasiswa Indonesia berkesempatan untuk makan malam bersama dengan para tamu dari ITB. Acara makan malam yang meriah di restoran sushi yang sudah disiapkan oleh salah satu mahasiswa dan sekaligus dosen Teknik Pertambangan ITB yang sedang menempuh pendidikan di Akita University, Pak Fadila. Obrolan ringan dan diskusi santai kami mengalir selama makan malam, ada banyak informasi baru yang diri dapatkan dari para petinggi universitas ini dan diri yakin akan berguna ke depannya. 
Diri bersama dengan para tamu dari Indonesia.
Hari selanjutnya, diri ikut dalam field trip ke beberapa destinasi sekitar Akita. Kesempatan field trip menjadi ajang yang paling menyenangkan karena tujuan field trip ke berbagai tempat processing plant mineral milik Dowa Mineral dan tempat tambang historis Osarizawa Mine. Seluruh petinggi universitas yang terlibat pun terlihat sangat menikmatinya. Kesempatan yang jadi ajang paling menyenangkan adalah melihat dan memegang langsung emas murni dan perak murni yang merupakan hasil dari processing plant milik Dowa di Kosaka. Processing plantnya menggunakan e-waste seperti handphone, laptop dan berbagai elektronik lainnya untuk diambil mineral berharga di dalamnya. Osarizawa Mine yang sudah tutup dan dikelolah sebagai tempat wisata juga menjadi tempat tujuan yang menyenangkan. Para petinggi universitas yang ikut pun terpesona dengan pengelolahan bekas tambang yang berkelanjutan sebagaimana tujuan dari WFURS sendiri. Hari ditutup dengan makan malam di bekas kantor administrasi Kosaka Mine yang kini sudah menjadi museum.
Suasana field trip di Osarizawa Mine.
Diri mencoba mengangkat emas batang murni, 19 kg!
Perjalanan yang menyenangkan selama WFURS ditutup sengan kesempatan dan banyak pelajaran berharga dari berbagai universitas dan instansi yang dikunjungi. Puji Tuhan, diri mendapatkan kesempatan yang menyenangkan seperti ini. Terima kasih juga lelakiku yang begitu baik untuk terus menemani diri selama perjalanan dan pekerjaan diri sebagai staf. Terima kasih sudah datang mengunjungi kami, bapak - bapak. 

Tuesday, July 05, 2016

Akita University Museum

Sekolah di Jepang, kebanyakan pasti memiliki fasilitas museum. Terlebih buat sekolah - sekolah yang punya jurusan geologi atau tambang. Beberapa kampus yang diri tahu ada fasilitas museum adalah Akita University, Hokkaido University dan Kyushu University. Hampir semuanya adalah museum tentang geologi dan tambang karena memang sekolah - sekolah ini memiliki program unggulan di bidang tersebut. Museum geologi atau tambang di Akita University berada tepat di bukit belakang Akita University. Museum yang bertingkat 3 ini memiliki beberapa eksibisi yang menggambarkan fenomena alam, dari sampel batuan dan mineralogi, maket pertambangan dan minyak bumi, juga beberapa fosil berharga. Seluruh sampel berasal dari berbagai negara, juga dari pastinya dari Akita. Akita merupakan salah satu laboratorium alam yang masih sangat terjaga. Selain eksibisi, museum juga mempunyai fasilitas tambahan untuk analisa sampel bagi mahasiswa yang sedang melakukan riset. Gedung yang digunakan, langsung terletak di sebelah gedung pameran utama museum. 
Salah satu sampel batuan dari koleksi yang ada.
Singing rocks.
Tiket masuk museum untuk umum hanya 100 yen per orang dan gratis untuk mahasiswa Akita University, cukup dengan menunjukkan KTM saja. Selain pameran sampel bebatuan dan mineral yang disusun berdasarkan cerita terbentuknya, pengunjung juga dapat mencoba langsung beberapa alat peraga dan menonton video terkait dengan proses pembentukan alam. Ada alat peraga dari batuan yang bisa mengeluarkan bunyi alunan musik karena bagian tengah batuan yang kosong ataupun maket besar yang menunjukkan sebaran tambang di seluruh Jepang. Saat diri terakhir mengunjungi, di museum baru saja ada alat peraga semacam PS3 untuk belajar memplanning penambangan bawah tanah. Museum juga memiliki satu ruang audiotorium besar yang biasanya digunakan untuk kuliah umum atau presentasi terbuka bagi publik yang ingin belajar tentang geologi. Biasanya museum ini memiliki kegiatan tahunan untuk memberikan semacam kelas bagi masyarakat umum untuk mengenal apa itu geologi dan tur keliling museum untuk belajar apa saja yang disajikan di museum. Banyak masyarakat umum yang ikutan loh dalam program ini, terutama anak - anak dan orang tua.
Alat peraga pertambangan.

Alat peraga lainnya.
Bonus trek jalan ke atas bukit, tempat museum didirikan, pengunjung bisa melihat pemandangan Akita sepanjang mata memandang. Jika kita datang saat cuaca cerah, pengunjung bisa menikmati pemandangan pinggir Laut Jepang dengan instalasi pembangkit listrik tenaga anginnya yang sedang aktif beroperasi. 

Monday, July 04, 2016

Akita University

Ada beberapa postingan tentang kampus diri di Jepang. Yang jelas saat diri tinggalkan, mereka sedang dalam pengembangan yang sangat pesat. Mungkin ada beberapa yang akan berbeda, tetapi setidaknya beberapa foto di bawah bisa memberikan gambaran bagaimana si Akita University itu. Sebagai catatan, diri adalah mahasiswa di geologi, jadi foto - foto yang ada mungkin sedikit terfokus di bagian yang dekat dengan fakultas diri. Sebagian cerita tentang kampus diri ini juga sudah diri tuliskan di bagian Leading Program, beberapa postingan sebelum ini. Diri berharap ini bisa membantu untuk siapa saja yang akan menjadi murid baru di Akita University. Welcome!

Wisuda April atau Spring semester entrance.
Tampak depan kampus Akita di Tegata.
Bagian belakang, area parkir sepeda. 
Acara wisuda lulusan September atau Fall semester. entrance.
Salah satu kelas dan forum kegiatan mahasiswa di Akita University.
Di depan perpustakaan dan gedung utama para profesor saat ini.
Salah satu taman di dalam kampus Akita Tegata.
Fasilitas kampus Akita University di Tegata sendiri ada klinik kesehatan, kantin (tanpa makanan khusus halal), ATM center, perpustakaan, ruang mini konser, area kegiatan mahasiswa atau ekstrakurikuler, kantor rektorat, kantor administrasi kampus, All Room (English Room), laboratories, class rooms dan lainnya. Kampus Tegata Akita University sangat mudah dijangkau dari Akita station atau Akita eki. 

Ambil bus jurusan nomor 370, 371, 372, 373 yang langsung berhenti di stasiun Akitadaigaku-mae atau menggunakan bus nomor 350, 351, 352, 360, 361 dan 362 dan berhenti satu stasiun setelah yamasaki-mae. Taxi juga dapat menjadi pilihan langsung dari Akita eki menuju Akita University dengan biaya berkisar 990 hingga 1090 yen untuk satu kali jalan. Alamat Akita University ada di 1-1 Tegatagakuen machi, lokasinya cukup dekat dengan stasiun. Pilihan jalan kaki juga dapat dilakukan yang membutuhkan waktu sekitar 30 - 45 menit melalui beberapa jalan yang tersedia (kondisi musim panas-musim semi). 

Sidang dan Done!

Lama tidak bersua di banyak kegiatan, katakanlah berbulan - bulan. Diri bahagia sekali akhirnya bisa menyelesaikan seluruh kegiatan yang ada di Jepang. Sisa pekerjaan ada di Indonesia dengan semua barang yang akan datang dengan kargo kapal. Terima kasih Tuhan akhirnya semua perjuangan selesai dengan semua air mata, senyum dan bahagia. Dukungan dari lelakiku yang luar biasa, membuat ini semua akhirnya berada di ujung hasil. Dari awal diri sekolah hingga akhirnya diri dapat menyelesaikan sekolah ini dan semuanya dengan semua dukungan yang kuat dari lelakiku. Terima kasih sayang. 

Jadwal sidang sudah dibuat oleh pihak kampus. Diri harus mengikuti 4x sidang hasil dengan jadwal dan penguji yang berbeda. Sidang 1, di bulan akhir Oktober 2015 dengan penguji dari luar Akita University dan ahli di bidang riset diri. Sidang 1 juga bisa dibilang seperti Pra-Sidang. Sidang 2, masih di akhir Oktober 2015, selisih hanya beberapa hari. Dalam kasus diri, penguji punya jadwal yang berbeda karena para penguji tidak bisa hadir di jadwal yang sama sehingga diri harus sidang 2 kali untuk pra-sidangnya. Semua pra-sidang berjalan baik. Puji Tuhan! Semua dukungan dari lekakiku dan Tuhan membuat semuanya berjalan dengan baik. 

Selesai 2x sidang di tahun 2015. Perjalanan berjalan kembali dengan lebih matang dengan segala persiapan yang lebih mendalam. Buku disertasi lebih detail dan lengkap, paper yang sudah, puji Tuhan, sudah diterima oleh pihak jurnal internasional dan presentasi yang lebih mendalam sesuai dengan tujuan riset diri sudah disiapkan semuanya. Sidang 3 sebagai sidang utama dan tertutup sudah dipersiapkan jadwalnya di awal Februari 2016, disusul dengan jadwal sidang 4 untuk sidang terbuka di hari selanjutnya. Terima kasih untuk pertolongan Tuhan yang kuat dan lelakiku yang mendukung untuk menyelesaikan ini semua. Segala keluhan dan tangisan diri ditampung oleh lelakiku untuk terus mendongkrak diri agar menyelesaikan titik akhir dari sekolah diri ini. Hari yang ditunggu tiba dan diri menyelesaikan semuanya dengan sangat baik. Puji Tuhan, diskusi dan pertanyaan selama sidang tertutup hanya membutuhkan waktu 30 menit di luar 45 menit presentasi hasil yang diri lakukan. Puji Tuhan, sidang terbuka di hari selanjutnya berjalan lebih baik lagi. Semua pertanyaan dan diskusi dapat diri lalui dengan baik bersama dengan Tuhan. Pertanyaan tentang hasil pekerjaan diri yang dipresentasikan memberikan banyak kesempatan diri untuk menjelaskan bagaimana implikasi jangka panjang dari riset ini. 
Kelas dengan Dr. Arribas, salah satu tim penguji.
Setelah proses panjang yang ada, diri akhirnya dinyatakan lulus oleh tim penguji dari Akita University. Puji Tuhan! Doa dari lekakiku dan semangat yang diberikan agar ini selesai akhirnya benar - benar membuat diri bisa menyelesaikannya. Perjuangan 3 tahun yang tidak mudah, dengan semua tekanan yang datang dari luar dan senyum yang tetap diberikan dari dalam, akhirnya selesai di sidang terakhir di awal Februari 2016. Puji Tuhan! Terima kasih juga untuk pembimbing diri yang super sabar dalam menghadapi keras kepala diri yang tidak ketolongan sebagai murid tiap harinya. 

Akhirnya diri menyelesaikan program doktor di bidang economic geology dan semua persiapan menuju wisuda pun masih berjalan, seperti revisi dan lainnya. Puji Tuhan, selesai semua perjuangan yang hampir 3 tahun ini akhirnya menjadi berkat dan semoga bisa berguna untuk kemuliaan Tuhan. Terima kasih lelakiku! 

Wednesday, January 13, 2016

Menulis disertasi dan paper

Puji Tuhan, akhirnya pekerjaan diri sebagai mahasiswa S3 di Akita University, Jepang sudah mendekati garis finish. Ibarat maraton, perjalanan sekolah ini benar - benar bukan hal yang mudah dan isinya semua adalah berkat dan mukjizat dari awal terjadi hingga tahap penyelesaian ini. 

Pengerjaan paper dan buku disertasi adalah sesuatu yang tidak mudah rasanya. Baru dikatakan saja sudah menjadi sesuatu yang "ahh..", mau kemana ini. Sesuatu yang sangat berbeda dengan menulis kata per kata di blog sendiri. Jika menulis blog rasanya jari - jari lebih ringan, waktu terasa lebih kurang dan ada banyak hal yang ingin diceritakan. Kesan subjektif pasti akan menghiasi hasilnya. Hal berbeda dengan menulis tulisan ilmiah. Kreativitas, orisinialitas dan ketepatan pemilihan kata menjadi pertimbangan yang harus sejalan. Plus, diri belum pernah menulis buku disertasi dalam bahasa Inggris! Menulis report atau tugas lain dalam bahasa Inggris mungkin tidak menjadi masalah, tetapi harus menuliskan semua hasil riset, interpretasi, diskusi hingga kesimpulan dalam bahasa Inggris ini baru berbeda.

Petualangan menulis dimulai bulan Januari setelah diri kembali dari oversea travel. Rasanya stuck sekali! Data sebanyak ini tapi bagaimana menjadikannya jelas buat semua orang dari berbagai latar belakang akademis, minimal profesor pembimbing paham maksud tulisan kita sehingga dapat memberi masukan tentang perbaikannya. Lalu, apa yang terjadi, tahap pertama diri menulis paper membutuhkan waktu yang tidak sedikit! Target 1 lembar sehari tidak bisa diri penuhi, ada banyak pembendaharaan kata dan maksud dalam bahasa Inggris yang diri tidak bisa ungkapkan dengan tepat. Alhasil, diri baru dapat memberikan draft manuscript paper setelah 1 bulan berjuang kepada sang supervisor. Komentar dan kritik pedas diri dapatkan dari apa yang diri tulis. Awalnya diri menangis! Disinilah mental diri diuji, iman dipakai, doa semakin ditingkatkan dan usaha semakin dipergiat yang berakhir pada revisi berkali - kali hingga total 8 kali revisi karena bahasa Inggris akademis diri yang belum banyak memadai. Mungkin menganggapnya mudah, seperti awalnya diri, tetapi ternyata ada banyak hal berbeda saat kita menggunakan bahasa ingrris untuk komunikasi sehari - hari dan jurnal atau paper akademis. Pemilihan kata atau diksi menjadi hal yang sensitif. 

Setelah hampir 6 bulan berjuang, pada pertengahan Juni 2015, diri bisa mengirimkan manuscript ke jurnal yang dituju. Tuhan Yesus itu baik sekali. Manuscript dengan perjuangan terbaik yang bisa diri berikan akhirnya selesai. Di hari terakhir revisi dan pengiriman, diri sampai berkesempatan menginap di kampus yang ternyata cukup menyenangkan. 

Fiyuh....
Puji Tuhan!
Selanjutnya adalah buku disertasi yang menunggu untuk ditulis. Namun, waktu yang ada belum bisa berkompromi karena ada dua presentasi di dua konferensi di luar Akita yang sudah menunggu ditambah dengan pengambilan data mineralogi yang tidak bisa ditunda. Puji Tuhan, akhirnya buku disertasi bahkan belum bisa ditulis hingga akhir bulan Agustus. Ada banyak kegiatan yang harus diri lakukan setelah kembali dari Filipina untuk presentasi. Tuhan menguji kesabaran dan ketenangan diri di sini. FYI, diri adalah tipikal orang yang cenderung tidak bisa tenang jika harus mengerjakan sesuatu mendadak, terlebih menulis manuscript dalam jumlah lembaran yang tidak sedikit sebelumnya. Tapi diri akhirnya menyadari bahwa ini adalah titik dimana Tuhan mau mengajarkan pada diri untuk berserah seperti saat diri belajar untuk menuliskan manuscript atau paper pertama kali. 

Diri akhirnya baru mengerjakan penulisan buku disertasi diri pada minggu akhir Agustus hingga 28 September 2015 sebagai target selesai diri. Hampir tiap hari, diri menuliskan seluruh data yang ada ke dalam 6 bab di buku disertasi. Pengerjaan dimulai dengan bagian yang diri lebih pahami dalam pembendaharaan katanya dan dilanjutkan dengan bab lain yang seluruh datanya telah diri siapkan. Kata per kata, satu per satu bab, lembar demi lembar, semua dapat diselesaikan dengan baik. Bab mineralogi menjadi tantangan yang cukup luar biasa, ada banyak hal yang tidak terduga dan baru diri pelajari untuk diri. Di tengah pengerjaan pun, diri dibantu banyak hal secara langsung maupun tidak langsung oleh lelakiku, Melani, Kak Yaser, Mami Chisye dan lainnya. Sungguh! Bantuan semangat, penjagaan dan diskusi dari lelakiku membuat semuanya dapat berjalan baik. Juga ditambah dengan peta, pencitraan, plotting dan lainnya oleh Melani dan Kak Yaser, membuat bagian dari section - peta bisa terisi dengan baik. Mami Chisye, keluarga dan lainnya dalam doa untuk menyelesaikan ini, sungguh tak bisa dikatakan lagi. 

Kuasa Tuhan Yesus itu luar biasa sekali, meskipun selama mengerjakan harus ada jeda untuk kegiatan yang lain karena ada konferensi dan tamu dari Indonesia selama beberapa hari, diri akhirnya dapat menyelesaikan tugas tersebut. Buku disertasi diri setebal kurang lebih 250 halaman selesai dan siap per 28 September 2015, bahkan beberapa hari sebelum submission ke pihak kampus pada tanggal 7 Oktober 2015 saat itu. Selalulah percaya dan berusaha bersama Tuhan!


Dengan 4 kopi dan formulir yang telah diisi, diri akhirnya menyelesaikan semuanya dan bisa mengirimkan ke kampus. Selanjutnya tanggal sidang sudah menunggu di 21 Oktober dan 26 Oktober 2015. Is it special? Yes! tanggal itu dekat sekali dengan tanggal ulang tahun diri ke 24! *^_^* Bagaimana nanti sidang?

Friday, December 11, 2015

Leading Program Akita University (3)

Baiklah, sepertinya ini postingan terakhir tentang LP-AU. Selanjutnya diri ingin berbagi tentang apa itu rotasi lab dan summer camp, serta simposium yang juga jadi bagian dari program LP-AU. Rotasi Lab adalah kewajiban setiap mahasiswa yang berada di bawah LP-AU. Setiap mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti rotasi lab dari lab mereka bernaung dan setidaknya 3 lab lain yang berbeda dari lab mereka. Sebagai contoh, diri harus mengikuti rotasi lab economic geology, tempat diri bernaung dan diri memilih mengikuti rotasi lab dari lab center-envrionment, lab pertology-volcanology, lab mineral processing dan lab petroleum geology. Tujuan dari rotasi lab ini adalah pengenalan lab berbeda yang ada di bawah keilmuan resource science melalui kegiatan laboratorium langsung yang harus diikuti oleh mahasiswa dalam kurun waktu tertentu. Kurikulum singkat untuk tiap laboratorium diatur oleh masing - masing professor penanggung jawab dan jadwal untuk rotasi labnya. Satu laboratorium dan lainnya memiliki model belajar berbeda karena tujuan spesifik berbeda yang didukung dengan peralatan dan waktu pengerjaan yang berbeda pula. 

Rotasi lab economic geology di osarizawa mine.
Sebagai contoh, saat mengerjakan rotasi lab untuk economic geology, seluruh peserta rotasi lab harus mengikuti kegiatan lapangan selama 6 hari di Akita dengan mengunjungi beberapa titik manifestasi geotermal dan juga bekas deposit kuroko. Tujuan rotasi laboratorium ini untuk mengenalkan geologi aktivitas hidrotermal yang dapat diamati melalui air panas, silica sinter dan lainnya; juga mempelajari geologi deposit kuroko yang banyak terdapat di cekungan Hokuroku, Akita. Kegiatan lapangan juga akan didukung dengan kegiatan laboratorium melalui analisis sulfur isotope yang dilakukan dengan sampel dari lapangan. Setiap mahasiswa harus melakukan prosedur persiapan untuk sulfur isotope yang membutuhkan waktu sekitar 7 hari dan 1 hari untuk pengukurannya. Di akhir rotasi lab, mahasiswa memiliki ujian masing - masing yang ditentukan oleh professor atau asisten professor pendamping, seperti tes esai, laporan tertulis ataupun presentasi hasil kegiatan laboratorium yang dilakukan. Kegiatan presentasi di akhir rotasi lab misalnya yang diri pernah lakukan di kelas petroleum geology. Peserta rotasi laboratorium harus mempresentasikan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap sampel yang diambil sendiri dari kegiatan lapangan di Pantai Anden, Akita, dikaitkan dengan kondisi geologi dan kemungkinan biostratigrafinya. Mahasiswa tidak dapat mengatakan saya bukan dari lab ini atau berbeda lab, maka saya tidak bisa; tidak! Semua peserta harus mencoba yang terbaik dan menjadi catatan tambahan tersendiri untuk para mahasiswa peserta sehingga harus membaca paper ilmiah tambahan di bidang yang berbeda dengan bidang risetnya meskipun pasti ada tantangan.

Masih rangkaian rotasi lab economic geology.
Dengan rotasi lab, mahasiswa belajar untuk mengenal apa yang menjadi pekerjaan tiap bidang di bawah keilmuan resource science dan tahu bagaimana aplikasinya. Mahasiswa diajak berpikir secara luas dan berkaitan satu sama lain agar dapat terbiasa melihat segala sesuatu sebagai suatu kesatuan yang berdampak. Bidang resource science adalah bagain dari mining chain yang terkait satu sama lain dalam industri internasional. Seorang pemimpin yang baik pun harus mampu melihat berbagai sisi dan menganalisa dari berbagai pendekatan untuk mendapatkan kesimpulan dan menyusunnya dalam bentuk kebijakan yang bermanfaat dan bijaksana secara lokal maupun nasional kemudian hari. 

Rotasi lab mineral processing.
Selain rotasi lab, mahasiswa LP-AU juga diberikan kesempatan untuk mengikuti summer camp yang diatur oleh Leading Program dengan bekerjasama dengan pihak ketiga, baik universitas maupun industri di negara yang dituju. Sejak berdiri dari tahun 2012, LP-AU sudah melakukan tiga kali summer camp di Papua Nugini (2012), Mongolia (2013) dan Jerman (2014). Tahun selanjutnya akan dirancangkan di Afrika Selatan (Februari 2016). Tujuan summer camp sendiri memberikan pengenalan terhadap geologi, mineral processing, teknik daur ulang, tambang dan lainnya di bawah resource science melalui kegiatan kunjungan ke industri dan universitas di negara tersebut.

Kesempatan bertemu dan diskusi dengan walikota Freiberg!
Di kesempatan yang sama, mahasiswa LP-AU juga berlatih komunikasi ilmiah dengan melakukan presentasi riset yang tengah dilakukan di Akita University dalam sebuah konferensi kerjasama dengan universitas penerima di negara tersebut. Selain mahasiswa LP, presentasi juga dilakukan oleh mahasiswa dari pihak universitas yang menerima, sehingga terjadi forum komunikasi ilmiah antara kedua belah pihak. Hal ini sangat baik untuk mendukung kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dengan mahasiswa lain dan akademisi lain dalam sebuah forum khusus di sela kuliah lapangan. Seluruh pembiayaan summer camp diberikan oleh LP untuk setiap peserta yang berpartisipasi. Jadwal kegiatan yang diberikan biasanya dalam summer camp sangat ketat setiap harinya selama 7 hari kegiatan yang dirancangkan tiap tahunnya. 

Presentasi dalam forum ilmiah di summer camp.
Bekas tambang pegmatite di Gorkhi National Park, Mongolia.
LP-AU juga memiliki agenda tahunan untuk simposium dengan berbagai isu berbeda yang diadakan setiap bulan Februari, Oktober dan November. Simposium diadakan dalam skala nasional dan internasional dengan ditambah adanya kegiatan field trip untuk peserta dan pembicara. Simposium skala internasional biasanya dilakukan pada bulan Oktober dengan mengangkat tema khusus, seperti REE atau PGE; dan mengundang pihak pembicara dari ahlinya di universitas, industri dan pemerintahan. Di ajang inilah, para peserta LP-AU harus mengikutinya dengan mempersiapkan presentasi poster terkait riset yang sedang dilakukan di bawah program ini. Di sisi lain, simposium yang dilakukan pada bulan Februari dan November lebih kepada skala nasional dan biasanya akan diberikan dalam bahasa Jepang. Mahasiswa di bawah LP-AU umumnya tidak diwajibkan untuk berpartisipasi karena keterbatasan pemahaman terhadap penggunaan bahasa. Sebagai catatan, hampir seluruh mahasiswa asing di bawah LP-AU tidak memiliki kemampuan berbahasa Jepang yang cukup untuk komunikasi ilmiah atau proses belajar mengajar. Hal ini juga ditunjang dengan kelas yang diberikan seluruhnya dalam bahasa inggris. Pemahaman bahasa Jepang mahasiswa asing di LP-AU cenderung hanya terbatas pada komunikasi sehari - hari. Namun, ini tidak menjadi persoalan.



Summer camp, kunjungan ke Solar World.
LP-AU memberikan kesempatan dan tantangan untuk belajar menjadi seorang pemimpin di resource science untuk masa depan. Dalam mengikuti LP-AU, ada beberapa kemungkinan beasiswa yang dapat diberikan, misal dari MEXT ataupun langsung dari Leading Program tersebut dalam bentuk grant. Program kurikulum yang diberikan oleh LP-AU adalah salah satu contoh upaya pendidikan yang terintegrasi untuk menciptakan SDM berkualitas dan memiliki kepimpinan yang bertanggung jawab, jujur, disiplin dan percaya diri. Leading Program menjadi suatu bentuk investasi jangka panjang yang dilakukan oleh masyarakat Jepang (masyarakat dan industri) melalui pemerintahnya untuk kemajuan bangsa dan hubungan internasional Jepang di masa depan. Suatu langkah berani yang diambil pemerintahnya untuk membuat sebuah perubahan demi kemajuan bangsa. 

Testimoni tentang LP-AU:
Menurut pangalaman diri selama di sini, LP-AU merupakan program yang tidak mudah tetapi begitu menyenangkan dan baik hati dalam mendidik diri. Betapa tidak, diri "dididik" keras dalam berpikir, bertindak, mengatur dan mempersiapkan segala sesuatunya (riset, kelas dan lainnya) agar dapat terselesaikan dalam waktu 3 tahun dalam mencapai pemahaman di bidang resource science secara terintegrasi. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan semua karena kemurahan Tuhan Yesus. Diri merasa sangat terberkati untuk dapat pengalaman luar biasa di Leading Program Akita University. 

Leading Program Akita University (2)

Leading Program Akita University (LP-AU) merupakan program yang relatif baru dan memberikan banyak kesempatan bagi setiap mahasiswa di bawahnya. Mengapa?

 Forum di Shinjuku, Tokyo dengan seluruh mahasiswa LP di Jepang.
LP-AU menyediakan model pendidikan aktif yang berbasis pada resource science. Kegiatan belajar terdiri dari riset, rotasi lab, student meeting, special lecture dan juga summer camp. Selain itu, LP-AU juga memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan, konferensi dan field trip (untuk mereka yang sekolah di bidang earth science, terutama). LP-AU juga memberikan kesempatan untuk mendapatkan tambahan funding untuk riset yang diberikan melalui seleksi kepada setiap mahasiswa yang mengajukan dengan besarannya hingga 500,000 yen per tahun.

Riset adalah keharusan untuk setiap pesertas didik, baik yang mendaftar lewat master (S2) maupun langsung dari doktor (S3). Pengerjaan riset dilakukan secara mandiri dan disusun secara teliti berdasarkan kebaharuan yang ingin dicapai. Peserta didik mencari tahu atau memiliki ide tertentu di bidangnya untuk didiskusikan dengan pembimbing masing - masing dan dieksekusi dalam suatu penelitian. Tahap riset seorang master (S2) dan doktor (S3) sendiri pun berbeda. Menurut pengalaman diri, pada tingkat S2, mahasiswa dituntut untuk mengenal lebih dalam ilmu yang sedang ditempuh dan riset yang dilakukan masih lebih bersifat umum dibandingkan dengan S3. Mahasiswa lebih banyak mendapatkan bimbingan dan arahan yang sifatnya lebih pada mengarahkan untuk melakukan sesuatu dan mendalami apa yang menjadi riset di bidangnya dengan sistem mengaplikasikan.

Pekerjaan riset diri saat olah data.
Di sisi lain, seorang S3 dihadapkan pada kemampuan untuk menganalisa dan membawa kebaharuan dalam hasil riset yang dilakukan. Tentu saja setiap bidang keilmuan akan berbeda dan tidak bisa disamakan. Mereka yang sedang melakukan S3 di bidang ekonomi tidak bisa disamakan dengan mereka yang mengerjakan di bidang geologi misalnya. Bidang keilmuan akan mempengaruhi bagaimana mahasiswa menganalisa kondisi permasalahan yang dihadapkan dan mencari jawaban, serta menjadikannya solusi yang aplikatif di bidangnya masing - masing. Dalam hal ini, bidang keilmuan yang ditempuh diharapkan sudah dipahami secara umum dan mendalam, sehingga dalam pengerjaan risetnya, mahasiswa melakukan pengembangan yang lebih baik untuk masalah yang diangkat. Apabila ditinjau dari sisi mahasiswa dan pembimbing, seorang mahasiswa S3 lebih banyak dihadapkan dalam proses diskusi terhadap apa yang menjadi idenya, menyusun ide itu menjadi suatu prosedur, eksekusi dan aplikasinya langsung. Jadi, menurut diri, pembimbing lebih menjadi kolega dalam berdiskusi untuk ide - ide yang sedang dikerjakan. Hal ini perlu dilakukan pembimbing untuk melatih calon lulusannya karena seorang doktor harus mampu memperhatikan argumentasinya berdasarkan apa yang dikerjakan sesuai data, fakta dan dapat diuji kebenarannya.

Oleh karena itu, setiap mahasiswa LP-AU juga melakukan hal yang sama sesuai dengan tingkatannya masing - masing. Pembimbing melakukan bagiannya untuk menjadi teman diskusi, komunikasi ilmiah tentang apa yang akan dijadikan materi riset selama 2 tahun (S2) atau 3 tahun (S3) ke depan. Total waktu yang diberikan untuk riset ini berjalan paralel dengan seluruh kegiatan lainnya di LP-AU. Dengan demikian, setiap mahasiswa LP-AU dididik untuk mampu lebih baik lagi dalam disiplin waktu dan kegiatan selama program pendidikan berlangsung.

Riset memang menjadi syarat utama untuk menyelesaikan pendidikan master dan doktor, namun mahasiswa juga harus menyelesaikan program kelas yang telah disediakan dalam kurikulum LP-AU. Total ada sekitar 42 sks kelas yang dibagi ke dalam sekitar 5 kategori kelas yang tersedia di LP-AU. Kelas - kelas yang ditawarkan memiliki kredit 1 - 2 per kelas yang diambil dengan jangka waktu kelas yang berbeda, mulai dari satu semester aktif penuh hingga 12 jam kelas intensif yang dibagi ke dalam beberapa kali pertemuan tergantung pada jenis kelasnya. Kelas reguler (Common Course) memberikan 1 - 2 sks untuk tiap kelasnya, sedangkan kelas khusus (Special Lecture) memberikan 1 sks saja tiap kelasnya yang memiliki beberapa pertemuan.

Sesuai dengan nama dan tujuan dari LP-AU, maka kelas yang diberikan tidak hanya kelas yang menunjang riset mahasiswanya, tetapi kelas yang sifatnya interdisiplin. Mungkin beberapa orang akan berpikir mengapa seorang yang risetnya geologi harus mengambil kelas di mata kuliah metalurgi? atau orang ekonomi harus mengambil kelas pembentukan deposit? Nah, di sinilah letak interdisiplin yang diberikan. Mahasiswa di bawah LP-AU dibekali ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang resources science (ilmu tentang sumberdaya alam; mulai dari explorasi, extraksi/tambang, pengolahan/metalurgi, keekonomian, lingkungan hingga daur ulang/3R design) yang dibangun tidak hanya melalui kelas biasa, tetapi juga dalam praktiknya di rotasi lab, diskusi dengan para ahli di bidangnya di kelas khusus dan simposium yang diadakan oleh LP setiap tahunnya. Pengetahuan dan pemahaman ini akan menjadi bekal untuk para lulusannya di depan dalam bergerak untuk tidak hanya memperhatikan bidang keilmuan yang ditekuni mereka melalui riset, tetapi lebih melihat semuanya dalam satu kesatuan. Sebagai contoh adalah diri yang saat ini memiliki riset di bidang economic geology atau geologi explorasi. Diri harus melihat bagaimana pekerjaan diri ini tidak hanya bermanfaat untuk bidang geologi, tetapi juga bagaimana dapat diaplikasikan kepada bidang pengolahan dan bagaimana secara nilai keekonomiannya. Dengan demikian, diri diharapkan mampu memberikan saran dan masukan yang tidak hanya berhenti di bidang keilmuan diri, tetapi dapat diaplikasikan nyata di tempat di mana industri tempat diri sedang melakukan riset saat ini. Menarik bukan?!

Salah satu suasana kelas khusus yang diberikan.
Kelas Sulfur isotope di Lab Kinsho.
Kelas khusus yang ditawarkan terdiri dari kelas - kelas yang diajar oleh dosen tamu dari professor dari universitas lain, industri dan pemerintah, seperti kementerian atau lembaga lainnya. Kelas khusus memiliki pengajar yang berbeda setiap kelasnya dan tiap tahunnya untuk mata kuliah yang sama. Ada sekitar 8 kelas khusus berbeda yang ditawarkan, mulai dari mining engineering, international issues on mineral resources, Russian coal and industry, REE processing dan lainnya. Selain common course, terdapat kelas khusus MOT (management and technology) yang mencakup kelas untuk international business, international affair analysis, managemen migas dan tambang, hukum dan kontrak, sosial masyarakat di daerah pertambangan dan lainnya. Seluruh kelas yang diberikan di bawah MOT mengajarkan pemahaman berbeda selain bidang kemampuan teknis yang dimiliki mahasiswa LP-AU. Sebagai contoh saat belajar hukum dan kontrak, seluruh mahasiswa, termasuk diri saat itu harus belajar membaca contoh - contoh kontrak, menganalisanya dan belajar untuk melihat bagaimana kontrak tersebut. Diri juga harus belajar bagaimana bahasa sebuah kontrak dan membuatnya sendiri. Banyak cara berpikir yang berbeda dengan kemampuan berpikir teknis diri yang diri peroleh dari kelas ini.

Apakah ini akan berguna? Menurut diri, ini akan sangat berguna, tetapi sejauh mana kegunaannya akan kembali kepada SDM yang menerimanya. Diri percaya setiap yang masuk di bawah LP-AU telah melalui banyak hal dalam bidangnya masing - masing dan mampu untuk terus belajar hal baru. Itulah yang menjadikan pemimpin, salah satunya.

Selain kelas, LP-AU juga memberikan rotasi lab, student meeting dan summer camp kepada mahasiswanya. Bagian ini akan diri jelaskan lebih lanjut di posting berbeda ya :)

Mahasiswa LP-AU juga diberikan banyak kesempatan untuk mengikuti kegiatan di luar risetnya, yang tentunya atas seizin oleh supervisor masing - masing. Kesempatan ini digunakan untuk mendorong komunikasi ilmiah dan industri para pesertanya. Setiap mahasiswa LP-AU juga diharapkan mampu berkomunikasi secara ilmiah untuk masyarakat akademis, namun juga mampu menyampaikan atau berkomunikasi baik untuk aplikasi yang dimiliki untuk masyarakat industri dan pemerintahan. Ini juga yang dapat dilatih dengan berpartisipasi aktif dalam konferensi ilmiah, kegiatan kursus dan field trip. Biasanya mahasiswa pergi secara mandiri mengikuti kegiatan di negara lain dan kondisi ini menjadi tantangan tersendiri untuk mampu berkomunikasi, berpartisipasi aktif di konferensi atau trip dan pastinya menyerap ilmu - ilmu baru langsung dari ahlinya. Hasilnya dapat dilihat dari kegiatan sehari - hari mahasiswa tersebut yang dievaluasi dari pembimbing melalui pekerjaannya dan juga langsung dari laporan perjalanan detail yang diberikan untuk kegiatan tersebut. Mahasiswa LP-AU juga dididik untuk bertanggung jawab dan jujur untuk tiap sen uang masyarakat Jepanag yang digunakan selama perjalanan dilakukan.
Di depan outcrop Chromite, Dwars River.
Perjalanan diri di Bushveld, South Africa untuk belajar tentang Cr-mine dan geologinya.

Wednesday, December 02, 2015

Leading Program Akita University (1)

Leading Program? Pasti bingung dengan ide tentang apa ini sebenarnya. Tidak banyak yang tahu program apa ini dan seperti apa bentuknya, termasuk mengcover bidang apa saja. Pasti! Leading Program adalah program 7 tahun yang dibentuk oleh pemerintah Jepang yang bekerja sama dengan universitas dan industri. Pembiayaan untuk program ini berasal dari pajak warga negara Jepang yang disalurkan lewat departemen pendidikan Jepang dan juga berasal dari industri terkait di Jepang. Seperti namanya, Leading Program memiliki tujuan jangka panjang untuk mendidik dan menghasilkan pemimpin - pemimpin di masa depan yang akan mengembangkan industri dan pemerintahan. Program ini dibagi di masing - masing bidang dan diberikan menurut proposal pengajuan yang tidak mudah. Ada sekitar 50 bidang penelitian seperti earth science, astronomi, biologi dan lainnya yang memiliki banyak sub dan dibagi lagi ke bidang yang lebih spesifik. 

Universitas diberikan kesempatan untuk membuat dan menyusun proposal untuk bidang yang akan diajukan kepada kementerian pendidikan. Melalui seleksi yang tidak mudah, pemerintah akan memutuskan pihak universitas mana yang berhak menerima pendanaan untuk bidang proposal yang diajukan. Sebagai contoh, Akita University yang mendapat kesempatann untuk menerima bidang Earth Resources Science di bawah nama "New Frontier Leaders on Resources". Di tiap sekolah yang menerima pendanaan yang sama namun untuk bidang yang berbeda akan memiliki nama yang berbeda. Akita University hanya menerima satu program untuk dikembangkan di sini, sedangkan beberapa universitas lain menerima 3 hingga 5 kesempatan program di bidang lainnya, seperti biologi atau fisika. Pada dasarnya, Leading Program menyediakan kesempatan program 5 tahun dari master hingga tamat doktor di bidang yang dipilih. Beberapa universitas mensyaratkan untuk mengambil program hingga selesai jika kita menerima beasiswa dari program tersebut, tetapi beberapa tidak mensyaratkan yang sama. Pelaksanaan program ini beragam di setiap universitas. Diri tidak terlalu paham mekanisme di kampus lainnya di Jepang, tetapi diri bisa memberikan gambaran sedikit bagaimana dengan yang tengah diri jalani di Akita University. 

Nah, bagaimana dengan New Frontier Leaders on Resources?
Leading Program di Akita University berasosiasi dengan Graduate School of Engineering and Resource Science, Faculty of Engineering and Resource Science. Ada beberapa program di bawah graduate school yang mengakomodir mahasiswa Leading Program, yaitu Earth Resource Science and Technology Course dan Resource development and Processing Course. Mahasiswa dapat memilih masuk di bawah course yang diinginkan dengan variasi laboratori yang berbeda. Seperti contoh adalah diri yang saat ini berada di bawah Earth Resource Science and Technology dengan pembimbing Prof Akira Imai untuk economic geology laboratory. Program ini dimulai sejak 2012 di Akita University dan rencananya akan berakhir di tahun 2019 untuk fase I. Murid yang tergabung di program ini pada semester pertama ada 3 orang yang sebelumnya sudah memulai program master regularnya di laboratory masing - masing. Mereka juga berasal dari laboratorium yang berbeda, seperti Pertology and Volcanology Lab dan Mineral Processing Lab. Mahasiswa baru akan masuk melalui pendaftaran graduate school saat aplikasi dan setelah diterima, mereka bisa mendapatkan opsi untuk menempuh pendidikan reguler di master/phdnya atau mengikuti Leading Program dengan pastinya mengikuti terlebih dahulu tes ujian masuk program tersebut. Maka, ada tes kedua sebelum resmi untuk menjadi mahasiswa Leading Program. 

Bagaimana konsep Leading Programnya (LP-AU)?
Ini diri kutip dari apa yang dituliskan oleh pengelola Leading Program di Akita University. Anyone can check this website to get further information on it >> New Frontier Leaders on Resources
This program aims to train global leaders who acquire advanced knowledge, practical skills and adaptability of resource science, in order to challenge any resource problems of the twenty-first century. Students who study to be "New frontier leaders" are required to have the abilities needed to lead the research of resources, projects of development and producing technology, communication skills in various languages, an understanding of foreign cultures, overviews, problem solving skills, resource literacy and policy-making skills.
Secara umum, bisa dilihat bahwa dasar program ini adalah mendidik, melatih dan membangun seorang pemimpin di masa depan. Sebuah investasi yang dilakukan oleh pemerintah Jepang untuk jangka panjang dengan biaya yang tidak sedikit pastinya. LP-AU memberikan kesempatan mahasiswanya untuk mengembangkan diri di bawah kurikulum pendidikan yang telah disusun. Ada banyak hal menarik di LP-AU. Salah satunya adalah konsep interdisplin di bidang Earth Resources yang diberikan dalam kurikulum. Program 5 tahun hingga doktor yang diberikan disusun dalam 49 sks total untuk kelas, rotasi lab, overseas internship, PBL (project based learning) dan pastinya riset. Konsep interdisiplin dalam LP-AU tampak dalam kelas - kelas yang ditawarkan yang mengakomodir tidak hanya satu bidang saja seperti ore deposit untuk explorasi, tetapi hingga bagaimana kita mengolahnya dan perhitungan nilai ekonomi, politik, sosial dan budaya yang ada dalam industri sumberdaya. Dengan pengajar yang tidak hanya berasal dari professor - professor yang tergabung di bawah program LP-AU, tetapi juga banyak professor ataupun akademisi, praktisi dan orang pemerintahan yang diundang untuk memberikan kelas terkait bidangnya. Transfer ilmu yang dilakukan tidak hanya berasal dari satu sumber, namun berbagai sumber yang sangat qualified dan ternama di bidangnya. 

Dasar LP-AU dan target masa depan pada mahasiswanya (sumber: official website LP-AU).
Dengan kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah Jepang, LP-AU menyediakan banyak kesempatan dan menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, serta menyenangkan di tengah tingginya harapan yang diletakkan kepada setiap pesertanya. Setiap tahunnya program ini hanya menerima kurnag lebih 6 hingga 10 mahasiswa, bahkan kurang dari itu. Seleksi yang cukup ketat dan target padat yang diberikan menjadikannya salah satu program yang menantang dan tidak mudah. 

Apalagi tentang program ini? Seperti apa detailnya? Apa saja kegiatan rutinnya?

Friday, November 27, 2015

Pengalaman saat ini: PhD Akita University

Perjalanan berkat dan luar biasa sedari TK telah diri tuliskan di beberapa postingan sebelumnya. Inilah rangkaian kesaksian yang ingin diri sampaikan untuk segala sesuatu yang telah Ia berikan dan percayakan. Satu hal seluruh kesamaannya, diri selalu melihat bagaimana luar biasanya rencana Tuhan Yesus dalam hidup diri, benar akan janjiNya yang tidak pernah terlambat dan selalu mengarahkan pada yang terbaik menurutNya.

Dunia yang sekarang tengah diri tekuni adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas sedikit pun oleh diri sebelumnya. Bahkan diri belum pernah mendengar sekolah tempat diri akhirnya menamatkan pendidikan hingga magister. Tidak pernah diri memimpikan akan mendapatkan jodoh seumur hidup diri pun di tempat yang sama. Diri juga tidak pernah menduga untuk mengalami perjalanan hidup yang sangat bervariasi dan seperti roll coaster rasanya. Sebuah pengalaman yang luar biasa bersama dengan Tuhan Yesus. Melalui semua perjalanan ini, diri menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan dan tidak sedikit pun karena diri yang mampu, melainkan karena kemurahan hatiNya.

Sebelum lepas tiap strata sekolah, Tuhan telah menyiapkan tempat baru yang membuat diri akhirnya tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal. Semua "shelter" kehidupan telah Ia siapkan bagi diri dan sekarang berikut juga dengan keluarga kecil diri.

Pada semester kedua di S2, diri mendapatkan kesempatan untuk mendaftar sekolah S3 di Akita University, sekolah tambang tertua di Jepang. Akita University berdiri tahun 1907 dan berada di kota Akita yang juga bekas bagian dari kota tambang di awal 1900. Saat mendaftar S3, usia diri masih 21 tahun lebih beberapa minggu. Ini juga menjadi semacam hadiah ulang tahun diri pada akhir Oktober sebelumnya. Luar biasa Tuhan Yesus! Segala kendala pendaftaran dibukakan jalan oleh Tuhan. Diri pun mendapatkan pembimbing, Prof. Akira Imai yang juga luar biasa baik dan memang tepat diberikan oleh Tuhan meskipun diri seringkali silang pendapat dengan beliau. Maklum bocah keras kepala..xixixi..Beliau juga yang dijadikan Tuhan untuk membuka jalan bagi diri sekolah S3 di Jepang meskipun ada prasyarat yang tidak bisa dimiliki diri, yaitu usia minimum untuk pendidikan doktor adalah 24 tahun. Berbekal dengan segala kepercayaan pada Tuhan Yesus, seluruh proses pendaftaran akhirnya berjalan lancar dan diri menerima LoA dari kampus baru diri sebagai mahasiswa baru di Akita University.

Setelah wisuda, diri berangkat menuju Akita dengan segala tantangan dan hati yang tidak pasti karena harus kembali LDR dengan lelakiku. Namun, Tuhan Yesus buktikan sekali lagi bagaimana semuanya ada dalam pengaturan di tanganNya. Dengan semangat 45 dan segala dukungan, baik semangat dan finansial dari lelakiku untuk membeli tiket hingga biaya hidup selama diri belum mendapatkan beasiswa, diri tiba di Akita. Seperti biasa, hari pertama diri hanya bisa terdiam dan menangis karena harus memulai lagi sesuatu yang baru dan rasanya masih terlalu cepat. Diri hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan untuk menghadapinya. Jurus "berserah" dalam Tuhan itulah yang membuat segala sesuatunya berjalan.

Setiba di sini, diri harus segera beradapatasi segera dengan banyak hal, baik budaya, tata cara sekolah, orang - orang baru yang kali ini berasal dari berbagai bangsa, bukan lagi suku, dan bahasa yang harus digunakan. Diri sebelumnya memang menggunakan bahasa Inggris, tetapi tidak semasif yang harus dilakukan selama di Akita, ditambah dengan diri tidak memahami sedikit pun bahasa Jepang. Kursus kilat yang diri coba lakukan di Bandung sama sekali tidak membantu karena diri sudah "menyerah" duluan dengan keadaan.

Sekali lagi, Tuhan menguatkan diri lewat banyak cara, terutama lelakiku (terima kasih banyak, sayang!) yang selalu mengingatkan untuk berpikiran positif dan menyusun strategi dengan menerapkan ilmu perang Shunju. Dalam keadaan adaptasi awal, diri juga harus berjuang untuk lolos beasiswa Leading Program yang diberikan pemerintah. Ini adalah satu - satunya harapan diri untuk mendapatkan beasiswa di tahun 2013, di tengah beasiswa Jepang lainnya sudah menutup pendaftaran. Akhirnya, diri mengikuti tes wawancara dan tertulis di kampus langsung untuk mendapatkan kesempatan tersebut.

Setelah hampir 3 minggu, hasil pun keluar dan diri dinyatakan diterima di program beasiswa Leading Program! Puji Tuhan, puji Tuhan! Meskipun demikian, beasiswa baru bisa keluar tepat di bulan ketiga diri berada di Akita, yang artinya di bulan Juni. Rencana Tuhan memang luar biasa, diri telah dipersiapkan dengan dana oleh lelakiku untuk menghadapi biaya hidup di Akita yang tidak sedikit selama kurang lebih 3 bulan! Tepat sesuai dengan jalanNya!

Member lab Economic Geology October 2013.
Setelah resmi diterima, diri mulai mengikuti program pendidikan diri di bawah Leading Program dengan laboratorium khusus Economic Geology. Program khusus yang dibangun oleh Pemerintah Jepang selama 7 tahun sejak 2012 untuk percobaan pertama di seluruh bidang sains dan sosial untuk sekolah - sekolah tertentu. Diri memiliki tanggung jawab disertasi, 49 kredit kelas dan disertasi dan publikasi. Puji Tuhan! Perencanaan yang diajarkan oleh lelakiku membuat diri terbantu selama di kuliah S3 di bawah Leading Program. Pendidikan yang diri dapatkan dari SMP hingga S2 pun sangat membantu diri untuk membiasakan diri lebih berdisiplin lagi dengan waktu agar dapat menyelesaikan semua program yang disediakan tepat pada waktunya.

Tantangan pertama setelahnya adalah tempat riset diri yang belum ada. Diri harus menunggu sekitar 1 semester sebelum bisa mendapatkan tempat penelitian yang artinya waktu untuk riset diri pun berkurang. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan anakNya! Sekali lagi diri menekankan itu karena diri mengalaminya lagi dan lagi.

Setelah mendapatkan tempat penelitian, diri bisa langsung mengerjakan disertasi diri. Dengan mengikuti apa yang telah diri susun di proposal menggunakan sekitar 10 metode, diri memulai semua penelitian. Kegiatan disertasi dimulai di semester kedua dengan ke lapangan untuk melakukan mapping dan mengambil sampel, selanjutkan kegiatan laboratorium yang semuanya harus dikerjakan oleh diri sendiri dari mulai preparasi hingga jadi sebuah data; dan berangkat konferensi, field trip dan kursus. Disiplin waktu menjadikan kegiatan diri memang tampaknya sangat sibuk karena banyaknya kelas dan kegiatan riset yang berpacu dengan waktu. Diri memulai pekerjaan di kampus dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 09.00 malam setiap harinya dengan istirahat makan siang dan malam yang dilakukan juga sembari mengerjakan preparasi, kecuali hari Minggu di semua musim. Adaptasi terhadap musim dingin sempat membuat diri hampir mengalami kerusakan syaraf di tangan karena "kecerobohan" diri untuk mengerjakan preparasi yang menggunakan air dingin terus menerus selama 2 hari berturut-turut selama 18 jam sehari. Namun, semuanya dibayarkan Tuhan selalu luar biasa. Telapak tangan diri disembuhkan Tuhan dalam beberapa hari dan diri dapat kembali melanjutkan perjuangan. Sungguh semuanya dibukakan jalan untuk setiap preparasi dan penggunaan alat yang dibutuhkan. Terima kasih juga untuk associate professor Ryohei Takahashi yang selalu membantu untuk mengarahkan dan menjawab pertanyaan diri untuk tiap metode yang dikerjakan. Maklum diri sedikit cerewet dan "pelupa" untuk beberapa hal. hhihihiii....

Setelah kembali dari lapangan, bersama sahabat terkasih.
Tuhan begitu luar biasa. Ia meletakkan diri di sekolah dan di bawah program yang juga luar biasa. Hampir 90% kelas diri selesaikan di tahun pertama di kampus. Memasuki pertengahan semester kedua, diri mulai fokus dengan riset diri setelah diri dapat beradaptasi dengan materi kelas yang beragam. Di tengah perjuangan diri untuk menyelesaikan riset dan kelas yang ada, diri masih diberikan kesempatan untuk mengikuti konferensi dan trip; membangun student chapter dan tentunya yang terpenting adalah menikah! Semua adalah anugerahNya saat diri melakukan bagian diri yaitu bekerja keras untuk pekerjaan yang telah dipercayakan oleh Tuhan. Seutuhnya adalah "berserah" saja pada Dia yang memiliki semuanya.

Seperti yang diri katakan, sekolah di Akita University banyak mendorong pengembangan mental dan psikologi diri menjadi lebih dewasa lewat berbagai cara. Diri terutama diajari untuk mengembangkan sisi komunikasi dan networking dengan multikultural environment (bukan hanya budaya, tetapi juga latar belakang pekerjaan, pendidikan dan lainnya). Diri diizinkan untuk mengikuti banyak konferensi dan trip di berbagai negara untuk meningkatkan kualitas belajar di bidang riset diri dan juga bagian dari pengembangan diri secara sosial dan komunikasi akademis-industri-pemerintah. Selama menjadi mahasiswa di Akita University, diri diberikan Tuhan kesempatan untuk menjelajah ke negara - negara berikut:
  1. Mongolia untuk Summer Camp di tahun 2013
  2. Amerika Serikat untuk konferensi dan field trip di tahun 2013
  3. Selandia Baru untuk konferensi, field trip dan kursus di tahun 2013
  4. Jerman untuk Summer Camp di tahun 2014
  5. Afrika Selatan untuk konferensi dan field trip di tahun 2014
  6. Filipina untuk konferensi dan field trip di tahun 2015
  7. China untuk kursus di tahun 2015
  8. tentunya Jepang, dari Hokkaido sampai Kyushu untuk konferensi, forum, kursus dan field trip. 
 
Hai Samudra Pasifik!
Pengalaman pertama di heli dengan para ahli.

Selamat datang di White Island!
Trip di White Island, Selandia Baru
Di tengah mengerjakan riset pun, Tuhan memberikan banyak kesempatan luar biasa. Diri diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan riset dari Jepang melalui Youth Challenge Fund sebanyak 2x, yaitu tahun FY2013 dan FY2014. Sungguh Tuhan begitu luar biasa. Meskipun diri harus banyak mendapatkan pelajaran dari Tuhan tentang berbagai hal, tapi Tuhan tidak pernah menutup mata. Berdoa, berserah dan berusahalah yang terbaik. Godaan banyak sekali ini jika mau dituruti ditambah dengan suara sumbang di sana - sini bisa menjadi pilihan. Akan tetapi, diri selalu diingatkan Tuhan melalui lelakiku bahwa tujuan awal kesini adalah sekolah dan memuliakan nama Tuhan. Usaha dan pekerjaan kitalah yang akan dinilai pada akhirnya bukan karena "kemanisan" kita yang akan menyelamatkan studi kita. Itu sangat diri pelajari juga selama di Akita. Diri sangat bersyukur karena Tuhan Yesus tidak luputkan mata, wajahNya dari diri.

Pulau lainnya di lepas pantai North Island.
Perjalanan dari base Frontier ke White Island di atas Samudra Pasifik.
Saat ini, diri sudah menyelesaikan 2x sidang dari 3x sidang yang dijadwalkan. Dua sidang pertama memberikan hasil yang luar biasa untuk diri. Diri juga masih menunggu kepastian publikasi jurnal yang masih dalam proses akhir untuk semuanya. Jika Tuhan Yesus mengkhendaki, diri akan lulus pada awal Februari 2016 di usia 24 tahun 3 bulan. Puji Tuhan! Semua apa yang diri alami hingga saat ini, sekecil apapun itu adalah mukjizat Tuhan untuk hidup diri dan untuk kemuliaan namaNya saja, ditambah dengan dukungan luar biasa dari lelakiku (I am so proud of you!).

I can tell you much about my study life in Akita. Afterwards, I am going to tell more about His design in my life. When I wrote all posts here, I just could smile and say "thank you, Jesus!"

Wednesday, February 04, 2015

Promoting environment by Japan Eco-product

Have you heard about Eco product? It is annually exhibition since 1997. Japanese government initiated the environment friendly life style by holding the public exhibition to introduce this to Japanese. Government invites local companies and NGO, including universities to exhibit their environment products or activities. They get some spaces or rent the stands for their exhibition. Do you think it is effective? I think so!

The promotion and publication on it seem intensively done. Many of Japanese people know about this event. One of our hotel staff said she really wanted to visit the exhibition. Since early 2000's, the committees invites students from elementary and junior high school students all over Tokyo to visit the exhibition. They send buses to pick up the students, give the short tours during the exhibition and of course some small presents or omiyage from the exhibitors. Students visitor always dominates this exhibition every year, compared to businessmen or common people. It is understandable because the location do not well support for business agreement during the visit. All exhibitors try hard to have  a great venue to attract more and more visitor. There is no information since when they started to give some presents to visitors. What does make it different? The quiz! Visitor will not get present freely. So the exhibitor try to give introduction on their product or activities through quiz or questionnaire to visitors. This is a great idea. The visitor will follow the question path to find out the answer and at the end, they could exchange the results with presents. For some exhibitors, especially technology companies, they have staffs in the question path to explain to visitors as answers. Somehow people will listen on the explanation first before receiving presents. This is one way to "force" people learn the environment friendly technology and product. Some introduction are delivered in English, but mostly is in Japanese. 

Lets exchange the present
Explanation how to make aromatherapy
The exhibitors vary from agricultural or forestry to technology products or service. We will meet companies and social organization that are now doing much for promoting environment for their products. Some companies also promote their joint activities with some countries or international organization such as WHO  in order to solve or to enhance environment protection. We will find out the water purification project in India or even forest monitoring project in Kalimantan, Indonesia. 
Joint project NEC and REDD in Kalimantan, Indonesia
The exhibition show us how Japanese people try hard to live in environment friendly life style. Lets attend next exhibition this year. 

Saturday, January 04, 2014

Keliling Ulanbator

Dengan waktu yang dimiliki tidak salahnya untuk berkunjung di sisi lain Ulanbator. Diri mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa area di Ulanbator. Kuil Buddha terbesar di Ulanbator, monumen perang Rusia-Mongolia, acara di lapangan Suukhbaatar dan museum nasional Mongolia, serta tempat perbelanjaan suvenir. Keempat tempat wisata ini menjadi objek menarik untuk dikunjungi di Ulanbator. Pusat oleh -oleh menjadi sangat penting pastinya unutk mendapatkan sesuatu yang dibawa pulang ke negara asal. 
Kompleks kuil Buddha di Mongolia.
Perjalanan dimulai dengan mengunjungi kuil Buddha terbesar. Kuil ini sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Tidak ada informasi resmi tentangnya, tetapi semua penganut Buddha di Mongolia akan datang ke sini dan berdoa di kuil yang terletak di antara kepadatan rumah penduduk. Kuil ini memiliki luas yang cukup lumayan dengan sekolah untuk para biksu dan bikuni, tempat sembayang dan ratusan burung merpati yang dipelihara oleh para penghuni di kompleks ini. Setiap pengunjung dari berbagai latar belakang dapat datang di kuil ini. Hanya saja saat melihat peribadatan, sangat dilarang keras untuk memotret. Oleh karena itu, diri lebih menikmati untuk memberi makan ratusan merpati yang sangat ramah dengan para pengunjung. Selain itu, kita tidak perlu membawa makanan dari luar, dengan 500 Mongolian Turikh per bungkusnya untuk mendapatkan makanan merpati. 
Kegiatan memberi makan burung itu bahagia.
Yuk menikmati jinaknya merpati.
Sejenak di kuil dan menunggu para peserta lainnya, diri melanjutkan perjalanan ke monumen perang Rusia dan Mongolia. Monumen ini menjadi lambang perdamaian yang dibangun di selatan Mongolia. Dengan ketinggian kurang lebih 300 mdpl, dari atas sini dapat melihat pemandangan kota Ulanbator yang dikelilingi oleh perbukitan dan padang rumput luas. Beberapa penjajah suvernir sudah menjajahkan berbagai macam tawaran yang ada, mulai dari kartu pos, coat, gantungan kunci dan lainnya. Di monumen ini, terdapat beberapa lukisan tentang perjuangan pada masa perang dan dari atas ini pemandangan Ulanbator menjadi daya tarik utama. Area ini tetap menjadi daya tarik wisata untuk warga Mongolia sendiri, terutama para muda mudi. 
Monumen Rusia-Mongolia.
Pemandangan dari atas monumen.
Museum nasional dan lapangan Suukhbaatar berada di satu kompleks area. Beranjak dari monumen nasionalnya, diri bergerak ke museum nasional. Biaya masuk museum ini sekitar 5000 Mongolian Turikh. Penggunaan kamera tidak diizinkan atau harus membayar sekitar 10000 Mongolian Turikh di luar biaya masuk. Harga yang cukup mahal tetapi biaya ini cukup pantas untuk melihat keunikan beberapa hal yang dimiliki oleh Mongolia, mulai dari pakain tradisionalnya yang dikenal dengan nama dell  hingga sejarah Chinggis Khan di satu ruang besar sendiri. Luar biasa penghormatan mereka terhadap Chinggis Khan meskipun sudah beratus tahun lalu masa kejayaannya. Dengan dipandu oleh pemandu wisata di museum, diri berkunjung dan membaca beberapa hal menarik tentangnya. Beberapa informasi tetap diberikan dalam bahasa inggris. 
Hormat pada Chinggis Khan.
Museum nasional Mongolia.
Setelah satu jam, diri melanjutkan wisata singkat di lapangan Suukhbaatar yang kebetulan ada festival tahunan. Di festival ini, beberapa organisasi kemanusiaan dari PBB seperti UNICEF dan UNDP mengadakan pameran dan penyuluhan. Dengan konsep yang sederhana dan lucu, beberapa stand menyampaikan beberapa informasi untuk pengunjung yang ada. Sore hari yang ceria untuk para warga kota Ulanbator. 
Semacam kaligrafi di Mongolia.
Acara tarian yang ada di pameran.
Beberapa organisasi nirlaba di festival.