Friday, November 27, 2015

Pengalaman saat ini: PhD Akita University

Perjalanan berkat dan luar biasa sedari TK telah diri tuliskan di beberapa postingan sebelumnya. Inilah rangkaian kesaksian yang ingin diri sampaikan untuk segala sesuatu yang telah Ia berikan dan percayakan. Satu hal seluruh kesamaannya, diri selalu melihat bagaimana luar biasanya rencana Tuhan Yesus dalam hidup diri, benar akan janjiNya yang tidak pernah terlambat dan selalu mengarahkan pada yang terbaik menurutNya.

Dunia yang sekarang tengah diri tekuni adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas sedikit pun oleh diri sebelumnya. Bahkan diri belum pernah mendengar sekolah tempat diri akhirnya menamatkan pendidikan hingga magister. Tidak pernah diri memimpikan akan mendapatkan jodoh seumur hidup diri pun di tempat yang sama. Diri juga tidak pernah menduga untuk mengalami perjalanan hidup yang sangat bervariasi dan seperti roll coaster rasanya. Sebuah pengalaman yang luar biasa bersama dengan Tuhan Yesus. Melalui semua perjalanan ini, diri menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan dan tidak sedikit pun karena diri yang mampu, melainkan karena kemurahan hatiNya.

Sebelum lepas tiap strata sekolah, Tuhan telah menyiapkan tempat baru yang membuat diri akhirnya tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal. Semua "shelter" kehidupan telah Ia siapkan bagi diri dan sekarang berikut juga dengan keluarga kecil diri.

Pada semester kedua di S2, diri mendapatkan kesempatan untuk mendaftar sekolah S3 di Akita University, sekolah tambang tertua di Jepang. Akita University berdiri tahun 1907 dan berada di kota Akita yang juga bekas bagian dari kota tambang di awal 1900. Saat mendaftar S3, usia diri masih 21 tahun lebih beberapa minggu. Ini juga menjadi semacam hadiah ulang tahun diri pada akhir Oktober sebelumnya. Luar biasa Tuhan Yesus! Segala kendala pendaftaran dibukakan jalan oleh Tuhan. Diri pun mendapatkan pembimbing, Prof. Akira Imai yang juga luar biasa baik dan memang tepat diberikan oleh Tuhan meskipun diri seringkali silang pendapat dengan beliau. Maklum bocah keras kepala..xixixi..Beliau juga yang dijadikan Tuhan untuk membuka jalan bagi diri sekolah S3 di Jepang meskipun ada prasyarat yang tidak bisa dimiliki diri, yaitu usia minimum untuk pendidikan doktor adalah 24 tahun. Berbekal dengan segala kepercayaan pada Tuhan Yesus, seluruh proses pendaftaran akhirnya berjalan lancar dan diri menerima LoA dari kampus baru diri sebagai mahasiswa baru di Akita University.

Setelah wisuda, diri berangkat menuju Akita dengan segala tantangan dan hati yang tidak pasti karena harus kembali LDR dengan lelakiku. Namun, Tuhan Yesus buktikan sekali lagi bagaimana semuanya ada dalam pengaturan di tanganNya. Dengan semangat 45 dan segala dukungan, baik semangat dan finansial dari lelakiku untuk membeli tiket hingga biaya hidup selama diri belum mendapatkan beasiswa, diri tiba di Akita. Seperti biasa, hari pertama diri hanya bisa terdiam dan menangis karena harus memulai lagi sesuatu yang baru dan rasanya masih terlalu cepat. Diri hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan untuk menghadapinya. Jurus "berserah" dalam Tuhan itulah yang membuat segala sesuatunya berjalan.

Setiba di sini, diri harus segera beradapatasi segera dengan banyak hal, baik budaya, tata cara sekolah, orang - orang baru yang kali ini berasal dari berbagai bangsa, bukan lagi suku, dan bahasa yang harus digunakan. Diri sebelumnya memang menggunakan bahasa Inggris, tetapi tidak semasif yang harus dilakukan selama di Akita, ditambah dengan diri tidak memahami sedikit pun bahasa Jepang. Kursus kilat yang diri coba lakukan di Bandung sama sekali tidak membantu karena diri sudah "menyerah" duluan dengan keadaan.

Sekali lagi, Tuhan menguatkan diri lewat banyak cara, terutama lelakiku (terima kasih banyak, sayang!) yang selalu mengingatkan untuk berpikiran positif dan menyusun strategi dengan menerapkan ilmu perang Shunju. Dalam keadaan adaptasi awal, diri juga harus berjuang untuk lolos beasiswa Leading Program yang diberikan pemerintah. Ini adalah satu - satunya harapan diri untuk mendapatkan beasiswa di tahun 2013, di tengah beasiswa Jepang lainnya sudah menutup pendaftaran. Akhirnya, diri mengikuti tes wawancara dan tertulis di kampus langsung untuk mendapatkan kesempatan tersebut.

Setelah hampir 3 minggu, hasil pun keluar dan diri dinyatakan diterima di program beasiswa Leading Program! Puji Tuhan, puji Tuhan! Meskipun demikian, beasiswa baru bisa keluar tepat di bulan ketiga diri berada di Akita, yang artinya di bulan Juni. Rencana Tuhan memang luar biasa, diri telah dipersiapkan dengan dana oleh lelakiku untuk menghadapi biaya hidup di Akita yang tidak sedikit selama kurang lebih 3 bulan! Tepat sesuai dengan jalanNya!

Member lab Economic Geology October 2013.
Setelah resmi diterima, diri mulai mengikuti program pendidikan diri di bawah Leading Program dengan laboratorium khusus Economic Geology. Program khusus yang dibangun oleh Pemerintah Jepang selama 7 tahun sejak 2012 untuk percobaan pertama di seluruh bidang sains dan sosial untuk sekolah - sekolah tertentu. Diri memiliki tanggung jawab disertasi, 49 kredit kelas dan disertasi dan publikasi. Puji Tuhan! Perencanaan yang diajarkan oleh lelakiku membuat diri terbantu selama di kuliah S3 di bawah Leading Program. Pendidikan yang diri dapatkan dari SMP hingga S2 pun sangat membantu diri untuk membiasakan diri lebih berdisiplin lagi dengan waktu agar dapat menyelesaikan semua program yang disediakan tepat pada waktunya.

Tantangan pertama setelahnya adalah tempat riset diri yang belum ada. Diri harus menunggu sekitar 1 semester sebelum bisa mendapatkan tempat penelitian yang artinya waktu untuk riset diri pun berkurang. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan anakNya! Sekali lagi diri menekankan itu karena diri mengalaminya lagi dan lagi.

Setelah mendapatkan tempat penelitian, diri bisa langsung mengerjakan disertasi diri. Dengan mengikuti apa yang telah diri susun di proposal menggunakan sekitar 10 metode, diri memulai semua penelitian. Kegiatan disertasi dimulai di semester kedua dengan ke lapangan untuk melakukan mapping dan mengambil sampel, selanjutkan kegiatan laboratorium yang semuanya harus dikerjakan oleh diri sendiri dari mulai preparasi hingga jadi sebuah data; dan berangkat konferensi, field trip dan kursus. Disiplin waktu menjadikan kegiatan diri memang tampaknya sangat sibuk karena banyaknya kelas dan kegiatan riset yang berpacu dengan waktu. Diri memulai pekerjaan di kampus dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 09.00 malam setiap harinya dengan istirahat makan siang dan malam yang dilakukan juga sembari mengerjakan preparasi, kecuali hari Minggu di semua musim. Adaptasi terhadap musim dingin sempat membuat diri hampir mengalami kerusakan syaraf di tangan karena "kecerobohan" diri untuk mengerjakan preparasi yang menggunakan air dingin terus menerus selama 2 hari berturut-turut selama 18 jam sehari. Namun, semuanya dibayarkan Tuhan selalu luar biasa. Telapak tangan diri disembuhkan Tuhan dalam beberapa hari dan diri dapat kembali melanjutkan perjuangan. Sungguh semuanya dibukakan jalan untuk setiap preparasi dan penggunaan alat yang dibutuhkan. Terima kasih juga untuk associate professor Ryohei Takahashi yang selalu membantu untuk mengarahkan dan menjawab pertanyaan diri untuk tiap metode yang dikerjakan. Maklum diri sedikit cerewet dan "pelupa" untuk beberapa hal. hhihihiii....

Setelah kembali dari lapangan, bersama sahabat terkasih.
Tuhan begitu luar biasa. Ia meletakkan diri di sekolah dan di bawah program yang juga luar biasa. Hampir 90% kelas diri selesaikan di tahun pertama di kampus. Memasuki pertengahan semester kedua, diri mulai fokus dengan riset diri setelah diri dapat beradaptasi dengan materi kelas yang beragam. Di tengah perjuangan diri untuk menyelesaikan riset dan kelas yang ada, diri masih diberikan kesempatan untuk mengikuti konferensi dan trip; membangun student chapter dan tentunya yang terpenting adalah menikah! Semua adalah anugerahNya saat diri melakukan bagian diri yaitu bekerja keras untuk pekerjaan yang telah dipercayakan oleh Tuhan. Seutuhnya adalah "berserah" saja pada Dia yang memiliki semuanya.

Seperti yang diri katakan, sekolah di Akita University banyak mendorong pengembangan mental dan psikologi diri menjadi lebih dewasa lewat berbagai cara. Diri terutama diajari untuk mengembangkan sisi komunikasi dan networking dengan multikultural environment (bukan hanya budaya, tetapi juga latar belakang pekerjaan, pendidikan dan lainnya). Diri diizinkan untuk mengikuti banyak konferensi dan trip di berbagai negara untuk meningkatkan kualitas belajar di bidang riset diri dan juga bagian dari pengembangan diri secara sosial dan komunikasi akademis-industri-pemerintah. Selama menjadi mahasiswa di Akita University, diri diberikan Tuhan kesempatan untuk menjelajah ke negara - negara berikut:
  1. Mongolia untuk Summer Camp di tahun 2013
  2. Amerika Serikat untuk konferensi dan field trip di tahun 2013
  3. Selandia Baru untuk konferensi, field trip dan kursus di tahun 2013
  4. Jerman untuk Summer Camp di tahun 2014
  5. Afrika Selatan untuk konferensi dan field trip di tahun 2014
  6. Filipina untuk konferensi dan field trip di tahun 2015
  7. China untuk kursus di tahun 2015
  8. tentunya Jepang, dari Hokkaido sampai Kyushu untuk konferensi, forum, kursus dan field trip. 
 
Hai Samudra Pasifik!
Pengalaman pertama di heli dengan para ahli.

Selamat datang di White Island!
Trip di White Island, Selandia Baru
Di tengah mengerjakan riset pun, Tuhan memberikan banyak kesempatan luar biasa. Diri diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan riset dari Jepang melalui Youth Challenge Fund sebanyak 2x, yaitu tahun FY2013 dan FY2014. Sungguh Tuhan begitu luar biasa. Meskipun diri harus banyak mendapatkan pelajaran dari Tuhan tentang berbagai hal, tapi Tuhan tidak pernah menutup mata. Berdoa, berserah dan berusahalah yang terbaik. Godaan banyak sekali ini jika mau dituruti ditambah dengan suara sumbang di sana - sini bisa menjadi pilihan. Akan tetapi, diri selalu diingatkan Tuhan melalui lelakiku bahwa tujuan awal kesini adalah sekolah dan memuliakan nama Tuhan. Usaha dan pekerjaan kitalah yang akan dinilai pada akhirnya bukan karena "kemanisan" kita yang akan menyelamatkan studi kita. Itu sangat diri pelajari juga selama di Akita. Diri sangat bersyukur karena Tuhan Yesus tidak luputkan mata, wajahNya dari diri.

Pulau lainnya di lepas pantai North Island.
Perjalanan dari base Frontier ke White Island di atas Samudra Pasifik.
Saat ini, diri sudah menyelesaikan 2x sidang dari 3x sidang yang dijadwalkan. Dua sidang pertama memberikan hasil yang luar biasa untuk diri. Diri juga masih menunggu kepastian publikasi jurnal yang masih dalam proses akhir untuk semuanya. Jika Tuhan Yesus mengkhendaki, diri akan lulus pada awal Februari 2016 di usia 24 tahun 3 bulan. Puji Tuhan! Semua apa yang diri alami hingga saat ini, sekecil apapun itu adalah mukjizat Tuhan untuk hidup diri dan untuk kemuliaan namaNya saja, ditambah dengan dukungan luar biasa dari lelakiku (I am so proud of you!).

I can tell you much about my study life in Akita. Afterwards, I am going to tell more about His design in my life. When I wrote all posts here, I just could smile and say "thank you, Jesus!"

Pengalaman sekolah dulu (4): Fasttrack S2

Selesai sidang, hiruk pikuk bebas tidak diri jadikan pilihan. Masih ada kelas yang menunggu diri tingkat sekolah selanjutnya. Setelah selesai sidang, diri langsung didaftarkan ke sekolah magister oleh pihak sarjana selang seminggu. Diri akhirnya resmi menjadi mahasiswa magister pada February 14, 2012. Diri memilih jurusan Teknik Pertambangan kembali dengan spesialisasi di Teknik Ekplorasi kembali. Ada banyak yang masih diri kurang pahami dan penasaran sekali tentangnya. 

Kuliah 12 sks yang diri ambil membuat diri sangat terbantu untuk menyelesaikan sisa 24 sks tersisa di semester selanjutnya. Sisa 16 sks kuliah dan 8 sks untuk tesis sudah diri persiapkan dengan baik. Kesehatan diri pun berangsur pulih. Diri menyiapkan untuk penelitian tesis diri dan mencari semuanya. Puji Tuhan di saat yang bersamaan juga, diri menerima bantuan beasiswa fasttrack dari DIKTI untuk 2 semester dengan bantuan pihak magister ITB yang memberikan informasi pendaftarannya. Tuhan kembali melakukan mukjizat dengan diri mendapatkan tempat tesis di daerah lapangan tambang rakyat di Sukabumi. Diri pun bersiap untuk menghadapinya. Dengan ditemani oleh dua orang teman seangkatan diri di TA, diri berada di lapangan selama 7 hari. 

Dengan sks tersisa, diri berdoa kepada Tuhan untuk menyelesaikannya dalam 1 semester, tetapi tidak dapat dilakukan karena ada sks yang tidak bisa diambil bersamaan di semester genap dan ganjil. Namun, tetap Tuhan memberikan yang terbaik selalu. Diri diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tesis dan kelas tersisa dalam waktu 2 semester. 

Pengalaman di Potsdam yang tak terduga.
Dalam perjalanan mengerjakan tesis pun banyak keajaiban yang Tuhan berikan. Dengan segala keterbatasan yang diri hadapi dengan pendanaan, Tuhan membukakan jalan yang tidak terduga. setelah banyak kegagalan yang diri alami karena diri masih saja mengandalkan kekuatan sendiri sebagai manusia. Percobaan untuk dukungan dana melalui proposal semua berakhir gagal. Namun, keajaiban Tuhan itu tidak pernah berhenti selama berserah. 

Pertama, pasangan diri mendapatkan berkat untuk mendukung penelitian tesis diri dengan pembiayaan ke lapangan dan beberapa analisis. Kedua, saat akan melakukan analisis di tempat lain, selalu dibukakan Tuhan jalan yang luar biasa. Diskon dan gratis analisis diberikan oleh Tuhan melalui banyak tangan di lembaga yang berbeda. Ketiga, diri menang undian dari suatu acara konferensi yang juga sangat tidak terduga! Diri mendapatkan kesempatan untuk pertukaran ke lembaga penelitian ternama di Jerman, GFZ Helmholtz. Diri dapat melakukan beberapa analisis di sini dan kesempatan belajar di sana selama 2 minggu. Ini pun masih ditambah dengan bonus lainnya yaitu diri dilibatkan dalam kegiatan lapangan eksplorasi panas bumi di Jawa Timur sebanyak dua kali pada Juni 2012 dan Juli 2013. Tuhan begitu luar biasa! Diri juga mendapatkan seorang sahabat, mentor dan guru bernama Dr. Fiorenza Deon yang mendukung diri untuk banyak belajar. 

Perjalanan Tiris untuk kegiatan lapangan.
Perjuangan tidak berakhir. Kuliah diri memang tidak sebanyak kuliah saat S1, tetapi tensi penelitian jauh lebih tinggi dan waktu untuk membaca pun jauh lebih banyak untuk memberikan yang terbaik. Persyaratan untuk paper atau proceeding ditambah dengan aktivitas diri yang kembali banyak di organisasi serta lembaga lainnya dan "keisengan" diri yang mencoba - coba untuk mengirimkan abstrak untuk menghadiri konferensi - konferensi di luar negri.  

Dengan dukungan penuh dari lelakiku dan banyak pihak, akhirnya diri menyelesaikan S2 tepat pada waktunya Tuhan, 27 Februari 2013 dengan hasil yang juga sangat memuaskan. Pergolakan luar biasa terjadi sebelum menyelesaikan studi ini, di tengah diri pun masih belum ingin bekerja. Tapi, Tuhan Yesus membawa kesempatan untuk sekolah S3 saat mendekati akhir sekolah S2 diri sebagai jawaban yang tak terduga untuk masa depan. Tuhan Yesus luar biasa! 

Pengalaman sekolah dulu (3): Anak Tambang ITB

Hari - hari baru dimulai di ITB di awal Agustus. Segala kegiatan belajar belum dimulai karena adanya pengenalan umum kepada seluruh mahasiswa a.k.a mos (masa orientasi (maha)siswa) dalam nama OSKM. Selama kurang lebih satu minggu, diri mengikuti seluruh kegiatan yang telah diatur oleh pihak KM-ITB dan ITB. Di sinilah pertama kalinya diri berkenalan dengan mahasiswa - mahasiswa lain dari seluruh Indonesia. Teman - teman baru diri berasal dari banyak sekolah dari hampir seluruh kota di Indonesia yang masuk ke ITB lewat berbagai jalur yang ditawarkan.

Kampus diri selama 4.5 tahun.
Satu tahun pertama, diri mengikuti pendidikan bersama di tingkat fakultas yang dikenal sebagai TPB (Tahap Persiapan Bersama). Selama satu tahun, diri harus berhadapan dengan "ketakutan" awal diri dengan matematika, fisika dan kimia. Sayangnya, pelajaran kesukaan diri sejak SMA, yaitu biologi tidak diberikan untuk fakultas diri. FTTM (Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan) hanya mewajibkan untuk ketiga mata kuliah tersebut ditambah dengan mata kuliah lain yang melengkapi seperti agama, kewarganegaraan, pengenalan iptek dan lainnya. Pada tahapan ini jugalah, diri harus mengisi pilihan jurusan di bawah fakultas. Persaingan bisa jadi terjadi karena tiap jurusan memiliki slot tersendiri dan jika terlalu banyak peminatnya, maka seleksi IPK pun harus dilakukan.

Diri berdoa dan bertanya dengan Tuhan harus kemana karena di antara pilihan Teknik Pertambangan, Teknik Perminyakan, Teknik Geofisika dan Teknik Metalurgi membuat diri kebingungan. Ada banyak hal menarik yang masing - masing berbeda dan diri ingin memilikinya semua :D..Akhirnya diri memutuskan untuk masuk ke jurusan Teknik Pertambangan. Diri mengisi dua kali kuesioner dari kampus dengan keinginan diri untuk masuk jurusan ini. Satu tahun ini juga menjadi satu tahun percobaan diri untuk melihat apakah jalan diri masih harus di sini atau tidak. Setelah berjalan satu tahun, akhirnya diri memutuskan untuk meneruskan hingga selesai dan mungkin akan melanjutkan pendidikan bidang lain setelah selesai di sini untuk merasakan jurusan yang diri mau, yaitu FK. Pertimbangan umur diri yang masih cukup, diri rasa bisa saat itu. 

Berjalan ke tahun kedua, diri akhirnya masuk sebagai mahasiswa Teknik Pertambangan (TA). Kegiatan dimulai dengan ospek untuk masuk himpunan dan juga ospek untuk masuk pecinta alam harus diri kerjakan selama tahun kedua. Diri juga mulai mengambil batas atas jumlah sks, yaitu 24 sks dengan pertimbangan untuk segera lulus dan mengisi waktu diri. Selama tahun pertama, ada perasaan aneh yang diri rasakan ketika jadwal hidup diri selama kuliah lebih longgar dibandingkan dengan saat SMA. Namun, di tahun pertama, jumlah sks telah ditentukan pihak rektorat sehingga diri tidak bisa mengambil batas atas sks yang ada. Tiba tahun kedua, diri memutuskan untuk memulai "gerilya" 24 sks diri. Kelas yang diri ambil di tahun kedua kebanyakan adalah kelas - kelas untuk sks kuliah pelengkap terlebih dahulu. Pendidikan yang diri rasakan sejak SMP - SMA sangat membantu diri untuk menghadapi jadwal yang cukup padat. Diri belum disarankan untuk mengambil kuliah TA semester atas karena seluruh perkuliahan akan dimulai dari dasar yang diberikan di semester 3 dan 4. Alhasil, diri mengambil kelas - kelas yang diri rasa dapat mendorong hobi diri, seperti jurnalistik dan menulis. 

Diri menikmati setiap perkuliahan yang diberikan meskipun waktu yang diri miliki akhirnya semakin terbatas dengan adanya tugas extra karena jadwal kuliah yang extra, ospek di dua tempat sekaligus dan juga dan adaptasi di lingkungan baru kembali. Di tahun kedua, diri kembali harus beradaptasi dengan lingkungan baru dengan orang - orang yang berbeda kembali karena sebagian besar dari kami berasal dari kelas yang berbeda saat TPB. Begitu juga persiapan untuk fisik yang harus diri tempuh selama pendidikan pecinta alam setiap harinya. Rasanya begitu lengkap meskipun diri akui tidak bisa menyeimbangkan kedua organisasi secara adil. Sekolah diri tetap menjadi yang paling utama, buat diri tidak ada yang bisa mengganggu jadwal sekolah diri. 

Tahun ketiga, posisi diri sudah lebih baik dengan ospek yang sudah selesai. Dengan segala perjuangan yang tidak mudah menghadapi sekolah dan organisasi, diri akhirnya menyelesaikan seluruh sks yang diambil selama 1 tahun, yaitu 48 sks dengan 3 sks harus diri ulang dari kelas Matematik Vector karena diri yang tidak bisa memahaminya dengan baik. xixixii....Tahun ketiga, diri bisa lebih baik mengatur jadwal kegiatan diri sehari - hari di organisasi dan sekolah. Diri juga memutuskan untuk mengambil spesialisasi di Teknik Explorasi Tambang sebagai pilihan utama diri di jurusan. Diri mulai mengambil seluruh sks tersisa, yaitu sks dari TA dan geologi. Diri juga diizinkan untuk mengambil sks atas di TA. Yeay! Di tahun ini, diri kembali mengambil 24 sks tiap semesternya, termasuk 3 sks kuliah yang harus diri ulang. Dengan perhitungan di semester ke-7, diri sudah mengambil total 144 sks termasuk skrispsi. 

Namun, memasuki tahun ketiga, diri mendapatkan musibah penyakit yang terjadi akibat kelalaian diri sendiri selama bulan - bulan sebelumnya. Gangguan tulang belakang dan maag kronik akibat diri tidak memperhatikan jadwal makan dan sifat "careless" diri membuat diri harus menginap di rumah sakit sampai 6x dalam setahun, bahkan dokter sempat menyarankan untuk mengambil cuti kuliah. Bahkan diri sempat mengalami kecelakaan di lapangan dan harus diopname selama 2 minggu lebih akibat kelalaian diri dalam menjaga dan tahu batas kemampuan fisik diri yang mulai terganggu. Tahun ketiga merupakan puncak segala peringatan yang diberikan Tuhan kepada diri atas segala kekerasan hati dan kepala diri. xixixi...Namun, percayalah selalu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan anakNya sekalipun Dia ingin memberikan "pelajaran". Sejak awal tahun ketiga, diri sudah memiliki pasangan diri (lelakiku) yang juga abang kelas diri di TA. Lewat dialah, diri dikenalkan banyak hal yang diri lupakan dan tidak pernah perhatikan, termasuk menemani diri melewati seluruh proses penyembuhan yang tidak mudah. Lelakiku membantu dan percaya bahwa diri bisa sembuh dan tetap menyelesaikan mimpi diri untuk lulus 3.5 tahun. 

Tahun ketiga lewat dengan luar biasa karena berkat pertolongan Tuhan Yesus lewat banyak orang, terutama pasangan diri (makasih ya lelakiku..). Dengan keterbatasan fisik akibat gangguan yang ada, diri tidak disarankan untuk bekerja di lapangan. Hal yang sempat membuat diri sangat syok! Bagaimana seorang lulusan TA bukan bekerja di lapangan. Rasanya tidak mudah buat diri. Akhirnya, keinginan S2 setelah selesai sekolah. Semester 7 datang dan Tuhan masih mengizinkan seluruhnya berjalan sesuai rencana diri, yaitu sisa 12 sks diri selesaikan di semester ini. Diri mendapatkan bantuan skripsi dari bantuan pembimbing diri di salah satu perusahaan tambang dan tambang rakyat. Dengan kondisi yang belum memungkinkan untuk ke lapangan, akhirnya diri mengerjakan skripsi laboratorium di bawah satu proyek besar. 

Keinginan S2 begitu besar, dan di saat itulah juga Tuhan membuka jalan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Program fasttrack akhirnya dibuka di prodi TA dan diri menjadi mahasiswa pertama di program ini untuk prodi ini. Terima kasih sekali untuk kaprodi S2 TA yang memperjuangkannya waktu itu! Diri pernah bertanya tapi jawabannya nihil karena dari angkatan - angkatan sebelumnya tidak ada peminat untuk melakukan program percepatan di prodi TA. Program fast-track atau percepatan sebelumnya sudah dibuka di prodi Teknik Metalurgi beberapa tahun lebih awal dibandingkan TA. Dengan dibukanya program tersebut, diri dapat mengambil mata kuliah S2 lebih awal dibandingkan jadwal.

Gedung TA dan GL yang menjadi satu.
Puji Tuhan, di semester 7, diri dapat mengambil 12 sks untuk menyelesaikan S1, termasuk 4 sks untuk skripsi, dan 12 sks lainnya untuk mata kuliah kuliah S2 dari 36 sks yang diwajibkan. Diri masih harus mengambil 24 sks di tahun akhir S1 diri, tapi semua akan terbayar indah pada akhirnya. Dengan segala perjuangan dan doa, diri akhirnya menyelesaikan pendidikan S1 pada tanggal 6 Februari 2012 sebagai seorang Sarjana Teknik dengan hasil sangat memuaskan. Diri akhirnya diwisuda pada tanggal 14 April 2012 sebagai seorang Sarjana Teknik Pertambangan. Puji Tuhan Yesus!

Semua karena Tuhan yang membuat segala sesuatunya begitu indah. Di akhir pendidikan S1 diri, Tuhan izinkan diri mendapatkan kesehatan kembali plus pasangan yang super! (terima kasih sekali lagi lelakiku) dan kesempatan untuk S2. 

Pengalaman Sekolah dulu (2): SPMB

Rencana Tuhan memang tidak akan ada seorang pun yang tahu. Itulah yang diri rasakan lewat perencanaan Tuhan Yesus untuk hidup diri. Dengan banyak pendidikan yang diri dapatkan selama sekolah dasar, akhirnya diri dibawa untuk melalu tahapan berikutnya untuk universitas.
Indahnya rencana Tuhan.
Penolakan diri dapatkan saat akan mendaftar sekolah lewat jalur tanpa tes di salah satu universitas negeri di Palembang. Memang bukan jalan Tuhan karena sudah diingatkan Tuhan dari awal untuk ambil SPMB saja, tapi namanya diri masih ngotot daftar. Selanjutnya jalur yang sudah disuruh Tuhan, diri ambil SPMB di Palembang. Dengan tekad untuk mengabdi di Papua sebagai dokter, diri memutuskan untuk masuk FK di salah satu universitas top di Indonesia agar juga bisa diri mendapat pendidikan dasar untuk kegiatan alam di kampus tersebut. Diri mengambil jalur IPC untuk formulir SPMB karena diri harus mengambil cadangan sekolah, jaga - jaga tidak diterima di kampus tersebut. 

Di sinilah mulai petualangan diri. Saat akan mengisi pilihan kedua dan ketiga, orang tua diri lewat dan berkata untuk tidak hanya mengambil FK, tetapi juga mengambil Teknik Pertambangan, FTTM, di ITB Bandung. Hanya dengan alasan sederhana sebenarnya, waktu itu orang tua diri hanya bilang "daripada kamu masuk keluar hutan buat jalan doang tapi tidak ada gunanya, mending masuk tambang ada yang dicari". Akhirnya pilihan kedua diri isi dengan pilihan orang tua tanpa berdebat apapun karena diri yakin akan masuk FK. Pokoknya harus FK dalam otak diri supaya bisa ke Papua dan mengabdi di sana dengan ada keahlian yang berguna. Diri tidak mau hanya datang tanpa bisa apa - apa. Diri bertekad bisa memberikan pengobatan dan mengajar di sana. Pilihan ketiga akhirnya dijatuhkan di Fakultas Hukum setelah diri berkonsultasi dengan paman diri yang juga seorang pengacara. 

Hari tes tiba, meskipun passing grade diri sempat dinyatakan tidak mencukupi untuk jurusan tersebut oleh bimbel tempat diri ikut uji coba, diri tetap berserah dan mau mendengarkan Tuhan. Diri mengerjakan setiap soal yang diri bisa di bawah bimbingan Tuhan. Benar - benar diri merasakan bagaimana Tuhan menolong. Ada banyak soal yang sempat diri tidak pahami, tapi tiba - tiba Tuhan beritahukan jawabannya. Setelah 2 hari tes, seluruh soal yang ada diri isi dengan keyakinan bahwa itu memang harus diisi. Diri hanya bisa menyerahkannya pada Tuhan Yesus dan menunggulah diri selama satu bulan sebelum pengumuman.

Selama menunggu pengumuman, diri lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku sastra Indonesia dan berdiam diri di rumah, belum boleh berangkat naik gunung saat itu karena orang tua diri khawatir diri tidak lulus SPMB akibat pilihan studi yang diri lakukan. Ada semacam kepercayaan yang dianut orang tua diri kalau di SPMB tidak boleh memilih dua universitas top sekaligus dalam pendaftaran yang mana jika dilakukan pasti sudah tidak akan lulus. Diri yang tidak mengerti dan tidak menerima logika tersebut hanya bisa diam dan berkata percaya sajalah sama Tuhan Yesus meskipun tetap harus mengikuti apa yang dikatakan mereka untuk mencari sekolah - sekolah cadangan yang masih membuka pendaftaran. 

Diri ingat pendeta diri berkata untuk tetap percaya dan Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan anakNya malu. Dengan semua inilah diri hanya tetap percaya dan berdoa. Tuhan membuktikan semuanya dalam 1 bulan menunggu.

Saatnya tiba pengumuman SPMB via online. Meskipun di tengah kedukaan karena kakek diri berpulang seminggu sebelumnya, diri mencoba mengakses hasil ujian di tengah keluarga yang berkumpul di rumah kakek. Saat yang ditunggu pun tiba, adik diri menelpon bahwa dia berhasil mengakses website dari rumah keluarga diri. Hasilnya puji Tuhan, diri tidak diterima di FK dan diterima di FTTM ITB. Seluruh keluarga sangat bergembira di tengah duka yang masih meliputi, termasuk orang tua diri. Namun reaksi berbeda yang diri berikan, yaitu kekecewaan! Ya, inilah bentuk orang tidak mengucap syukur. Awalnya diri syok karena diri harus belajar teknik dan semua hal yang terkait matematika dan fisika seperti yang diri pikirkan. 

Sekali lagi, Tuhan tahu rencanaNya yang terbaik untuk setiap anakNya bahkan untuk mendapatkan hasil pengumuman di tengah keluarga yang berkumpul. Paman bibi diri yang melihat kekecewaan diri yang tidak diterima FK dan menolak untuk melanjutkan di teknik, akhirnya memberikan pengertian dan memberi tahu bagaimana jurusan teknik itu, siapa kampus baru diri, bagaimana sekolahnya kira - kira dan bagaimana potensi masa depannya. 

Setelah semalaman berpikir, diri akhirnya minta ampun sama Tuhan Yesus buat segala kebodohan pikiran diri. Diri akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi di Teknik Pertambangan, FTTM ITB dengan segala ketidaktahuan diri tentang sekolah ini. Bahkan diri membuat persetujuan dengan orang tua diri untuk mencoba di tahun pertama dan melihat bagaimana perkembangan nilai diri. Namun, ada satu kepercayaan bahwa Tuhan akan memberikan jalan terbaikNya dan Ia tidak akan membuat diri malu. Itulah yang diri rasakan! Diri ke ITB untuk pertama kalinya 3 hari setelah pengumuman dan melihat bahwa inilah calon kampus diri dan kota Bandung yang menjadi tempat tinggal diri selama 4 tahun ke depannya. Tuhan membuka jalan untuk semuanya dalam persiapan sekolah, daftar ulang hingga mendapatkan tempat kos yang sangat cozy, tempat tinggal diri hingga lulus. 

Sekolah di ITB, bagaimana? Satu kata, yaitu menyenangkan! Lewat jalur ini juga, diri dibawa Tuhan Yesus untuk menyelesaikan pendidikan hingga PhD di usia yang sangat muda, 24 tahun. 

Pengalaman Sekolah dulu (1): TK, SD, SMP, SMA

Mungkin beberapa dari kalian pernah membaca bagaimana fase diri dalam menghadapi kehidupan. Setelah sekian banyak isi postingan blog ini yang ditulis, dihapus dan ditulis kembali, diri ingin berbagi apa yang menjadi pengalaman diri selama ini. 

Perkenalkan nama diri adalah Os, 24 tahun 1 bulan, hihihi karena memang diri baru berulang tahun bulan lalu. Diri bersyukur sekali kepada Tuhan Yesus untuk segala apa yang diri alami hingga sejauh ini. Segala pengalaman yang diberikan dari diri kecil hingga saat ini diri sedang menyelesaikan tahapan terakhir dalam pendidikan S3 yang tengah diri tempuh. 

Diri diberikan kesempatan oleh Tuhan Yesus untuk menempuh pendidikan di tempat - tempat yang luar biasa sedari pendidikan dasar. Diri lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana yang seringkali harus berpindah tempat mengikuti ayah bekerja. Diri pertama kali bersekolah saat usia 4 tahun kurang di TK Harapan Indah, Palembang. Jangan tanya diri apakah TK nya masih ada sampai saat ini atau tidak. Guru - guru di TK mengizinkan diri untuk mengikuti kelas di TK nol besar meskipun usia diri masih tidak mencukupi saat itu. Diri sangat suka belajar, menulis dan bermain dengan teman - teman sebaya. 

Satu tahun di TK, diri mulai merasa bosan, minimal itu yang diri tahu dari orang tua diri. Akhirnya diri memaksakan untuk belajar di sekolah dasar (SD). Pada zaman diri, sistem sekolah masih cawu atau caturwulan dan sekolah selalu buka pada awal Juni - Juli untuk penerimaan siswa baru. Sekitar tahun 1996 saat itu, diri masih berusia 5 tahun kurang, sesuatu yang sulit sebenarnya karena usia yang tidak mencukupi. Namun, puji Tuhan, SD yang membuka pendaftaran di dekat rumah diri menerima sistem semacam "rekomendasi" dari pihak TK, dimana calon siswa dulu bersekolah. Setelah hampir kesulitan mendaftar, akhirnya diri diterima di SD 636, Palembang sebagai siswa kelas 1. Yeay! Diri kembali mendapatkan tempaan pendidikan yang baru dan diri menyukainya, meskipun tidak mudah, tapi Tuhan selalu paling tahu bagaimana caranya membantu dalam perkembangan diri. 

Sampai akhirnya di sekitar tahun 1999 setelah cawu 1, diri sekeluarga harus berpindah ke SDN 01 Merauke, Irian Jaya saat itu. Diri bersekolah di SD ini selama kurang lebih 2 cawu atau sampai kenaikan kelas dari kelas 4 ke kelas 5. Di sini, diri belajar banyak tentang dunia baru. Diri sempat mengalami kultur syok karena seluruh teman - teman diri berasal dari suku - suku di Indonesia yang berbeda, mulai dari warga lokal Papua, Batak, Toraja, Jawa, sampai Padang. Sesuatu yang sebelumnya diri tidak temui di SD diri sebelumnya yang mayoritas adalah warga lokal Palembang. Akhirnya, di sekitar Juni 1999, diri pulang kembali ke Palembang karena terjadinya kerusuhan saat itu di Merauke. 

Sampai di Palembang, diri diletakkan oleh Tuhan di sekolah baru di SD Xaverius 7. Mengapa di sini? Diri juga tidak mengerti, tapi satu hal yang diri sukai dari sekolah ini adalah kondisi sekolah yang nyaman dan menyenangkan. Sekolah dan guru - guru yang menyenangkan meskipun saat itu fasilitasnya masih belum terlalu mumpuni, tapi diri senang sekali. Di sini diri akhirnya juga mendapatkan teman bermacam - macam latar belakang namun tetap asli kelahiran Palembang. Diri memulai sekolah di sini sebagai siswa kelas 5 sampai diri menamatkan SD di tahun 2001. Rasanya setelah sistem ini adalah semester di sekolah - sekolah di Indonesia. Puji Tuhan, Tuhan masih berikan prestasi sangat baik selama sekolah dasar. Diri masih dapat peringkat 1 sampai lulus selama di Palembang, kecuali 2 cawu selama di Merauke, diri diberikan peringkat 5 dan 3 oleh Tuhan plus pembelajaran di sekolah yang multikultural sekali. 

Lalu diri ditempatkan di SMP Xaverius 1 Palembang oleh Tuhan melalui jalur tanpa tes. Luar biasa! Sekolah ini adalah sekolah terbaik pada zaman diri di Palembang. Masa - masa SMP adalah saatnya diri belajar banyak hal baru lagi. Mungkin secara kultural tidak terlalu banyak karena mayoritas teman - teman diri yang warga lokal Palembang. Awal tantangan adalah penyesuaian dengan lingkungan belajar yang cukup berbeda dengan SD. Diri harus beradaptasi dengan berbagai macam tambahan pelajaran yang berbeda dengan SD dan beberapa di SD yang sebelumnya diri belum pernah terima. Menyenangkan sekali sebenarnya, namun tetap butuh kerja keras dan usaha yang lebih dari sebelumnya. Diri selalu melihat bagaimana Tuhan berkuasa untuk segala sesuatunya. Ora et Labora adalah pegangan diri selama sekolah. Bagaimana tidak, diri harus bersaing dengan banyak anak - anak pintar dari sekolah - sekolah sebelumnya dan ditambah dengan diri banyak harus beradaptasi lebih dahulu dengan banyak pelajaran. Diri juga tidak mengambil pelajaran tambahan di luar sekolah selain bahasa Inggris. Jadilah sejak SMP, jadwal sekolah diri mulai dari bangun jam 5.30, sekolah mulai jam 7 sampai jam 1, sampai di rumah jam 2; lalu tidur siang sampai jam 4. Jam 4.30 sampai 6.30 les bahasa Inggris. Setelah itu perjuangan dimulai, diri harus mengerjakan peer dari sekolah yang diberikan dan mempersiapkan bahan sekolah untuk esok harinya dari jam 7 sampai jam 1 malam. Diri mengambil libur di hari Minggu untuk gereja karena Sabtu, diri masih sekolah dan tetap harus mengerjakan semua tugas dan ekstrakurikuler. Capek?! Iya, tapi itulah pendidikan Tuhan yang luar biasa yang diri rasakan. Diri juga sempat diizinkan oleh Tuhan untuk mendapatkan kesempatan berada di kelas akselerasi dan kelas unggulan di SMP, hanya saja diri merasa itu bukan jalur diri. Tuhan mengingatkan diri untuk pindah ke kelas reguler yang telah dipersiapkan Tuhan. Bekal yang diri diajarkan sejak SMP ini sangat membantu saat SMA hingga diri sedang mengerjakan PhD diri di Akita University. Puji Tuhan, tidak ada yang sia - sia usaha dalam Tuhan, diri dipercayakan untuk mendapatkan peringkat pertama di kelas dari kelas 1 sampai diri lulus SMP. Tuhan itu begitu luar biasa, meskipun pendidikanNya awalnya diri keluhkan, tapi Ia memberitahu "mengapa" seiring waktu berjalan. 

Setelah 3 tahun berada di SMP, diri diizinkan Tuhan untuk masuk ke sekolah terbaik di Palembang tanpa jalur tes di SMA Xaverius 1 Palembang yang pada zaman diri juga sangat terkenal dengan banyak juara olimpiade tingkat dunianya. Puji Tuhan, diri ditempatkan di tempat yang terbaik oleh Tuhan. Di luar dugaan, Tuhan Yesus meletakkan diri di kelas khusus percobaan nasional dengan hanya 25 siswa di dalamnya. Luar biasa sekali! Tuhan Yesus berikan kesempatan ini. Di kelas 1 ini, diri mendapatkan tambahan kelas dan pendidikan dari guru kami di luar jam sekolah biasanya. Naik ke kelas 2, diri mengambil jurusan IPA dengan harapan diri ingin menjadi dokter nantinya. Pengalaman sekolah di Papua, memberikan diri semangat tersendiri untuk kembali ke sana memberikan pengabdian diri kepada mereka. Apa yang telah Tuhan ajarkan selama SMP, diri terapkan kembali di SMA. 

Diri masih mengambil pendidikan bahasa Inggris hingga selesai di kelas 2 SMA. Diri juga sempat mengikuti beberapa pelajaran tambahan di luar seperti A-Level dan persiapan SPMB, tetapi lebih banyak diri membolos kelas. Rasanya hampir 80% dari hari yang ditawarkan oleh pihak bimbel terbuang oleh diri. Diri lebih nyaman belajar di rumah sendiri dan ketika diri tidak bisa mengerjakannya, diri akan membawa soal tersebut ke guru diri di sekolah atau diri akan bertanya kepada teman - teman yang lebih mengerti di bidangnya, seperti fisika dan matematika. Puji Tuhan, pola belajar selama SMP yang diajarkan Tuhan membantu diri. Jadwal mulai bertambah di semester kedua kelas 2 karena diri mulai mempersiapkan diri untuk UAN. Diri diingatkan Tuhan untuk memperhitungkan bagaimana mengatur jadwal persiapan UAN dan SPMB. Akhirnya, diri menambah jam pelajaran diri di rumah pada hari Sabtu dan Minggu malam plus jadwal libur untuk belajar soal - soal UAN tahun - tahun sebelumnya. Mulai naik kelas 3, diri mempersiapkan diri untuk SPMB, dengan pola belajar yang sama, diri belajar soal - soal yang ada dan berlatih. Diri melihat bagaimana Tuhan bekerja luar biasa sekali dalam mendidik diri. 

Selama SMA, diri mempersiapkan kesempatan untuk UAN, UAS dan SPMB lewat belajar mandiri; diri masih mengikuti kegiatan pecinta alam yang sangat diri sukai; dan diri juga sempat masuk dalam tim olimpiade sekolah untuk biologi dan sastra. Puji Tuhan, selama di SMA pun Tuhan izinkan diri tetap mendapatkan hasil belajar yang baik dengan nilai pelajaran yang merata baik untuk semua mata pelajaran. Tuhan Yesus percayakan diri untuk mendapatkan peringkat 1 dari kelas 1 sampai lulus. Setelah 3 tahun, diri menamatkan SMA di usia 16 tahun dengan hasil yang memuaskan. Puji Tuhan!

Petualangan yang sesungguhnya Tuhan persiapkan setelah SMA. Selama di pendidikan dasar, pertolongan Tuhan begitu luar biasa. Diri belajar bahwa semuanya harus digabung dengan kerja keras dan disiplin terhadap waktu, termasuk keinginan bertanya dan semangat! Berserah dan berdoa adalah kunci utama untuk membuat kita mau bekerja keras dan mengerjakan bagian diri.
Seperti bunga, pendidikanNya memang berwarna - warni.

Thursday, November 26, 2015

Belanja Murah dan Hemat di Akita

Namanya berbelanja dan hemat adalah hal penting saat tinggal di negara orang. Biaya yang terbatas dan nilai tukar uang yang berbeda akan memberikan banyak rasa syok pasti di awal kedatangan di negara tersebut. Diri juga mengalami yang sama di awal sampai di Akita. Betapa tidak syok, semua harga rasanya dikali 100 dari harga di Indonesia! Di otak diri, Jepang sudah lekat dengan pikiran seluruhnya mahal. Reputasi Tokyo sebagai salah satu kota termahal untuk tinggal di dunia membuat diri sudah "menyerah" duluan dengan upaya pembiayaan yang harus dilakukan dengan pendanaan yang terbatas dari pihak pemberi. 

Pelajaran berharganya adalah jangan pernah berpikiran negatif dan "menyerah" sebelum berperang. Yes! Seharusnya diri percaya kalau beasiswa diberikan oleh pihak pemberi setelah memperhitungkan dengan matang biaya hidup yang normal untuk seorang mahasiswa yang didanai. Akan tetapi, terkadang tidak seindah perhitungan di atas kertas ketika ada faktor adaptasi menjadi di dalamnya dan di situlah pembelajarannya. Bagaimana kita bisa mengkalkulasikan dengan benar keuangan yang sudah dipercayakan untuk biaya hidup dan sekolah dari pihak pemberi. Pelajaran kedua, jangan pernah berpikiran bahwa dana yang diberikan adalah dana untuk "jalan - jalan"! Yes! We have been paid to learn and to be developed through the chances, not through "personal" travelling. Ini yang di awal sempat ada beberapa bagian dalam diri yang ingin jalan - jalan dengan uang yang diberikan. Namun, semuanya tidak semudah itu. Tujuan awal adalah tetap sekolah, personal travelling is a bonus if we do more efforts. 

Oleh karena itulah, salah satu effort atau usaha untuk bisa mengatur keuangan yang dipercayakan dengan baik adalah bagaimana bisa berbelanja cerdas dan murah. Berbelanja adalah pekerjaan yang sangat mudah. Pergi ke swalayan, ambil dan bayar; maka semua urusan selesai. Tapi!!! Harganya gimana??! Ini yang sering kali tidak diperhatikan. Kebanyakan orang akan berpikir tidak masalah, dengan berbagai argumen seperti "toh, dekat juga lokasinya"; "beda 10 yen aja"; "sama aja, beda sedikit doang". Argumen - argumen seperti ini tidak salah, tetapi dalam beberapa situasi bisa menjebak. Lokasi yang dekat atau beda "hanya" 10 yen bisa jadi membuat kita terlena untuk mengeluarkan uang lebih untuk berbelanja yang mungkin dapat ditabung untuk keperluan lain atau bahkan jalan - jalan tanpa harus membuat tubuh kelaparan setelahnya. Berbelanja cerdas menjadi solusi yang sebaiknya dilakukan banyak orang yang tinggal di negara orang. Model yang sama ini juga yang diri pelajari dari warga lokal di sini. 

Bagaimana belanja cerdas dan hemat di Akita? Ada beberapa informasi yang bisa diri sampaikan berdasarkan pengalaman diri. Pastinya dengan catatan bahwa diri lebih dari 90% dalam satu bulan, diri selalu memasak dan diri juga butuh cemilan rutin untuk tiap hari.
  1. Berbelanjalah kebutuhan sayur mayur dan buah - buahan di toko JA (lihat di postingan ini >> Berbelanja hemat di JA) terdekat atau pilihlah sayuran atau produk pertanian/perkebunan di supermarket yang memiliki stand khusus produk dari JA lokal. Membeli langsung di toko JA akan lebih murah dan banyak pilihan (kuantitas, ukuran).
  2. Berbelanjalah daging, ayam dan produk hewani lainnya di toko distributor, semacam Doujaz jika di Akita. Harga yang ditawarkan umumnya jauh lebih murah dibandingkan dengan supermarket biasa. 
  3. Harga yang ditawarkan juga lebih murah untuk produk - produk jajanan, snack, roti, minuman ringan dan susu di toko distributor sejenis ini. Harga produk yang sama dapat berbeda hingga 50 - 100 yen dengan supermarket biasa.
  4. Berbelanjalah pada hari - hari promo di swalayan tertentu untuk mendapatkan diskon untuk produk tertentu, seperti supermarket Max Value menawarkan harga lebih murah untuk sayuran, buah, gula dan lainnya pada hari Selasa atau Granmart Takayagi yang menawarkan harga lebih murah untuk telur dan pizza pada hari Selasa; sedang minyak dan ayam potong pada hari Sabtu atau Minggu. 
  5. Jika ingin makanan jadi, juga dapat berbelanja pada malam hari, mulai pukul 20.00 ke atas agar mendapatkan potongan harga hingga 50%. Akan tetapi, ketersediaan makanannya tidak pasti karena pasti banyak orang akan membeli bento di saat jam makan malam. Namun, masih dapat dicoba, siapa tahu beruntung. 
  6. Saat ada promo super murah daging atau ayam atau telur, berbelanjalah lebih untuk produk tersebut. Pada kasus ayam dan daging dapat disimpan di freezer dan tahan hingga 1 bulan ke depan. Pengolahan dengan membuat makanan tertentu yang kaya rempah, seperti rendang; lalu disimpan difreeezer akan membuat umurnya lebih lama lagi. Pada kasus telur, pastikan untuk disimpan di dalam kulkas dengan kondisi dingin yang stabil. Menurut pengalaman diri, biasanya akan bertahan sampai 1 bulan. Terkadang supermarket tertentu bisa membuat promo, seperti harga telur 10 biji menjadi 100 yen dari 285 yen. Lumayan kan?!
  7. Bagi yang ingin produk khusus Indonesia, misalnya, berbelanjalah bersama dengan yang lain untuk mengurangi biaya ongkos kirim dari Tokyo. 
Seluruh trik di atas memang membutuhkan sedikit "usaha" lebih karena jarak antar toko yang tidak berdekatan atau bisa dikatakan beda area dari tempat tinggal kita. Seperti yang diri alami, butuh sekitar 30 menit bersepeda atau sekitar 4 km hanya untuk mencapai toko distributor dari tempat tinggal diri. Namun, usaha ini adalah salah satu bentuk untuk melakukan belanja cerdas di Akita. 

Semua trik ini pastinya fleksibel. Ada waktunya diri harus berkompromi dengan harga yang sedikit lebih mahal ketika musim yang tidak mendukung, terutama di puncak musim salju. Sepeda sangat tidak aman untuk digunakan membawa barang belanjaan yang berat dengan jarak yang jauh saat musim dingin. Maka trik di atas harus dikombinasikan satu sama lain. Jangan malu bertanya kepada warga lokal atau sesepuh yang ada di kota masing - masing dimana tempat belanja murah dan waktunya. Biasanya para ibu akan senang hati memberi tahunya. Bisa juga tanyakan pada pihak international center di kampus masing - masing tentang toko - toko murah, pegawainya pun biasanya akan membantu, seperti yang ada di kampus diri di Akita. 

Si Mimi, pejuang belanja yang hebat di Akita. 
Kalau sudah mau berusaha, maka uang yang ada bisa digunakan dengan tepat dan cerdas tanpa mengorbankan kesehatan. Rasanya tidak perlu lagi mendengar saat sekolah di luar negeri malah "kelaparan" dengan alasan untuk jalan - jalan atau berbelanja hal lain. 

Berbelanja Hemat di Toko JA

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya tentang sekolah di Jepang, diri ingin berbagi informasi tentang toko JA yang menjadi tempat "penyelamat" selama di Akita.

Salah satu toko JA di Karamiden.

Toko JA (Japanese Agriculture) adalah toko penyalur atau distributor yang menerima pasokan langsung dari petani atau pemilik kebun. Toko ini dikelolah oleh pemerintah setempat dan dibuka di beberapa lokasi untuk memudahkan dalam merangkul para pemilik perkebunan. Toko ini menampung banyak petani dan pemilik kebun untuk membantu mereka dalam menjual hasil pertanian dan perkebunan langsung kepada pembeli. Hal ini dilakukan pemerintah setempat untuk meningkatkan daya saing produk lokal terhadap hasil pertanian dari daerah lain bahkan produk impor. Selain itu dengan membebaskan biaya pajak pertambahan nilai (PPn) sebesar 8% menjadikan tempat ini favorit banyak ibu - ibu. Harga yang ditawarkan pun lebih murah dibandingkan dengan harga produk yang sama di swalayan atau minimarket.

Produk JA di salah satu supermarket dengan PPn.
Toko JA menjual terutama sayuran, seperti mentimun, brokoli, kol, sawi dan lainnya yang umumnya banyak dibudidayakan oleh petani lokal. Selain itu, toko ini juga menjual buah - buahan, beras, telur, kue - kue tradisional, ikan tertentu dan daging tertentu. Toko JA menjual ikan dan daging hanya sesuai dengan pasokan dari peternak atau nelayan lokal yang jumlahnya tidak menetap seperti supermarket. Hanya sayuran, buah dan produk makanan tradisional lainnya yang dipasok secara regular dari petani lokal. Harga yang ditawarkan beragam untuk tiap jenis sayurannya. Harga juga ditentukan oleh petani mana yang menjualnya. Kita dapat menemukan produk yang sama, misalnya kentang, tetapi berasal dari petani yang berbeda. Informasi tentang petani yang menjual dapat diketahui dari label harga yang ditempel pada kantong plastik pembungkus sayurannya. Jadi, para pembeli pun bisa bebas memilih produk dari petani yang mana. Tapi kalau diri yang mana saja boleh selama menarik dan dibutuhkan. xixixi...

Selain itu, toko JA juga terkadang menyediakan kesempatan untuk pemilik kebun atau nelayan atau petani tersebut untuk menjual langsung dagangannya dengan membuka semacam stand kecil di dalam toko. Misalnya yang pernah diri jumpai ada nelayan yang langsung menawarkan ikan hata-hata dan ikan salmon dengan harga yang sangat miring dibandingkan dengan supermarket. Per biji ikan salmon dengan berat sekitar 3 - 4 kg dihargai 500 yen! Murah bukan?! Dengan ukuran salmon seperti itu dapat berapa lusin sushi! Sekali waktu ada kelompok petani buah pir yang menawarkan pir produk mereka seharga 150 yen per bijinya! Mereka juga memberikan informasi kelompok tani mereka dalam bentuk kartu pos yang diberikan untuk setiap pembelanjaan pirnya. Menarik bukan! Hal ini ditambah juga dengan ramahnya para petani ini dalam menjelaskan bagaimana proses mereka berkebun dan bahan apa saja yang digunakan untuk prosesnya. Kita jadi tenang dan yakin bagaimana produksinya yang aman untuk dikonsumsi. 
Antrian di JA menunggu buka di pukul 09.30 pagi saat Sabtu. 
Toko JA juga menampung penjual bunga, baik bunga rangkai maupun dalam bentuk tanaman. Biasanya para ibu berebut untuk datang lebih awal demi mendapatkan bunga - bunga rangkai cantik nan segar. Ada mawar, anggrek, sampai sejenis sedap malam ditawarkan dalam bentuk bunga rangkai dari harga 100 yen hingga 1000 yen. Para petani bunga juga datang lebih awal untuk membawa rangkaian bunga yang dipisah dalam drum - drum kecil setiap harinya. Kebutuhan akan penampilan rumah yang indah, rasa hormat untuk mereka yang telah tiada dan tradisi memberikan input bagus untuk penjualan bunga. Bunga rangkai seolah menjadi tujuan awal sebelum berbelanja sayur. Sepengamatan diri, biasanya seorang ibu atau nenek akan menghabiskan rata - rata 2000 yen untuk berbelanja 3 - 5 bunga rangkai dari berbagai jenis.
Penyalur bunga rangkai dari petani langsung.
Berbelanja di JA juga menawarkan keramahan dan pilihan akan kesegaran sayur mayur dan buah - buahan yang ada. Beberapa sayur dan buah memang tidak selalu dapat ditemukan di toko JA, seperti lemon, salada dan alpukat. Oleh karena toko hanya menyalurkan apa yang menjadi komoditas tanam petani lokal, membuat toko JA lebih menawarkan pada variasi sayuran yang sering dikonsumsi oleh penduduk dan banyak dibudidayakan di daerah tersebut saja, seperti sawi, bayam, kangkung, brokoli, kubis dan labu kuning. Namun, pilihan yang diberikan sudah lebih dari cukup untuk konsumsi sehari - hari kita. Biasanya memang kombinasi sayuran - sayuran ini jugalah yang ditemukan pada bento - bento yang dijual di supermarket atau makanan di restoran.

Selain menjadi penyalur untuk petani lokal, toko JA juga sesekali mengadakan even di sekolah - sekolah atau komunitas - komunitas untuk memperkenalkan JA kepada generasi muda. Toko JA juga menjalin kerja sama dengan komunitas - komunitas lokal yang menghasilkan kerajinan tangan, seperti rajutan, kerajinan kayu, dan lainnya, dengan menyediakan sarana tempat untuk menjualnya. Sebenarnya, JA juga menyuplai ke supermarket - supermarket tertentu di daerah, tetapi harga yang ditawarkan di supermarket sedikit lebih tinggi dengan adanya PPn dan biaya untuk lokasi. JA juga memiliki banyak cabang dan mudah ditemukan di Akita. Hampir di setiap daerah di Akita memiliki lokasi yang menawarkan produk - produk dari JA, seperti di stasiun Akita dan rest area Kyowa - Kakunodate.
Drum kosong bunga rangkai dari hari sebelumnya. 
Berbelanja di JA membuat kita bisa menghemat banyak pengeluaran kita selama di Akita. Sekali belanja biaya makan sayur dan sehat sekitar 2000 yen per minggu; bahkan less! Tergantung besaran dan jumlah sayurannya. Kalau sudah di Akita, harus coba untuk belanja di toko khas banget caranya Jepang!

PS: masih belum ada foto dari dalam toko.hihihii..foto dilarang di dalam toko JA.

Berkebun di Akita

Jepang adalah salah satu negara dengan penduduk yang memiliki hobi berkebun. Hobi seperti ini dapat juga terlihat dari banyaknya taman - taman di Jepang, ada namanya tradisi ikebana atau merangkai bunga dan pastinya toko - toko yang menjual perlengkapan untuk berkebun melimpah. Hampir setiap toko serba adanya, semacam swalayan, pasti menjual bunga atau bibitnya, bahkan toko seratus yen, seperti daiso menjual tanaman. 



Bagi penduduk Jepang, berkebun adalah bentuk kebahagiaan. Banyak orang - orang tua di Jepang memilih hobi berkebun setiap harinya dalam mengisi waktu luangnya. Pemandangan rumah atau apartemen dengan tanaman - tanaman atau kebun kecil adalah hal yang biasa. Masyarakat Jepang akan mengusahakan untuk memiliki tanaman di rumah meskipun mereka tinggal di apartemen yang bertingkat. Dengan adanya minat seperti ini, wajar saja toko - toko di sini juga mengikuti kebutuhan berkebun yang berbeda untuk tiap rumah tangga. 
Cantik bukan?!
Merawat bunga.
Berkebun di Akita adalah sesuatu yang menyenangkan. Semua bibit, perlengkapan berkebun, air dan lahan tersedia lengkap. Diri bersama seorang teman baik, Pooh, memiliki lahan untuk berkebun yang dihibahkan oleh supervisor Pooh untuk kami. Selain itu, di rumah juga diri membuat kebun kecil dengan memelihara beberapa jenis bunga. Diri lebih memilih untuk menanam bunga di rumah dan sayur mayur di lahan yang kami miliki.

Bibit - bibit bunga, diri dapatkan di swalayan dan juga pertukaran dengan ibu - ibu di Akita. Diri memiliki beberapa bunga, seperti Asagao (bunga yang menjalar dan biasanya ada di musim panas) dan lainnya. Diri hanya cukup untuk membeli beberapa pot yang dijual cukup terjangkau di Daiso dengan ukuran yang diri butuhkan. Harga 3 pot berdiameter 15 cm dan tinggi yang sama, hanya 100 yen di sini. Dengan harga yang sama, diri masih mendapatkan pot dengan ukuran berbeda namun dengan jumlah yang lebih sedikit. Misalnya, pot dengan diameter 25 cm dan tinggi 20 cm, berharga 100 yen untuk tiap potnya. Daiso juga menyediakan kebutuhan lain untuk berkebun seperti sekop, sarung tangan, gunting tanaman, dan lainnya. Kebutuhan terhadap tanah untuk tanaman pun dapat diri dapatkan di Daiso dengan harga kisaran 100 yen untuk per bungkusnya (3.5 - 5 kg tanah per bungkus). Uniknya, tanah yang dijual pun berbeda untuk tanaman bunga dan tanaman sayur. Selain tanah, kebutuhan untuk kompos, batu dan pupuk cair pun juga tersedia dengan harga yang sama, yaitu 100 yen per bungkus dan per kotaknya. Dengan harga yang terjangkau seperti ini, berkebun menjadi hobi yang menyenangkan di Jepang. Selain itu, tanaman pun dapat kita beli di banyak toko sehingga memudahkan keinginan kita untuk merawat bunga atau berkebun sayuran. Kisaran harga tanaman bunga dan sayuran dimulai dari 70 yen hingga 20000 yen lebih, tergantung jenisnya. Bibit tanaman yang dijual juga berharga mulai dari 100 yen hingga 500 yen, lebih murah dibandingkan membeli tanaman yang sudah jadi. Selain Daiso, beberapa swalayan juga menawarkan penjualan tanaman dan peralatan berkebun yang harganya bervariasi. 

Taman vertikal dengan Asagao.
Taman kecil di depan apartemen diri.
Bagaimana di lahan sayuran diri? Di lahan kami, kentang, cabe, sawi, pakcoy dan labu kuning ditanam di lahan ukuran 2.5 x 1.5 m di daerah Hiroomote. Lahan yang dihubahkan kepada kami lokasinya berjarak kurang lebih 3.5 km dari tempat kami tinggal di sekitar kampus. Sepeda sangat membantu kami untuk mencapai lokasi dengan lebih cepat dan ringan pastinya. Setiap kali berkebun kami harus membawa air dalam galon, cangkul, sekop dan lainnya, termasuk bekal untuk disantap setelah lelah berkebun. Memperhatikan curah hujan selama hari kerja sangat penting bagi kami terkait jadwal kami di kampus dan waktu untuk menyiram yang harus diatur. Beruntung, diri punya Pooh yang jadwalnya masih lebih fleksibel selama hari kerja hingga musim gugur awal. Berkebun sayuran lebih banyak tantangannya dibandingkan bertanam bunga. Akhir musim, sayuran kami banyak yang tidak berkembang baik karena sekitar satu bulan ditinggal di Agustus. Perjalanan 2 bulan, yang akhirnya ditutup kegagalan di akhir musim. hiks!

Kebun kami awal Juni lalu.
Dengan Pooh di depan kebun orang!
Dengan modal yang tidak banyak, tubuh segar dan pikiran lebih tenang. Hobi semacam ini bisa menjadi alternatif saat sedang menempuh pendidikan di Jepang atau untuk tinggal dalam jangka waktu lama di Jepang. Bagaimana dengan musim dingin? Jangan khawatir! Ada beberapa tanaman yang juga tetap hidup selama musim ini. Setiap musim biasanya akan memiliki primadonanya sendiri untuk ditanam. Keterbatasan lahan pun tidak akan menjadi masalah karena semua peralatan pendukung tersedia dengan harga yang relatif terjangkau. Yang pasti, namanya hobi harus sediakan waktu, sesibuk apapun pekerjaan di kampus atau di kantor jika tidak ingin berakhir seperti diri. hihihii...sayurannya pun tidak jadi! Tapi, itu namanya pengalaman. Kapan lagi bisa berkebun di negara orang. Diri bahkan belum pernah berkebun di negara sendiri sebelumnya. xixixixi...

Tuesday, November 24, 2015

Persiapan di Akita: Musim Semi

Persiapan selama musim semi di Akita. Rasanya merupakan hal yang tergolong lebih sederhana dibandingkan dengan musim dingin dan musim panas. Namun tetap perlu diperhatikan kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu - waktu. 

Musim semi adalah musim yang datang setelah musim dingin dan selalu menjadi musim yang ditunggu - tunggu banyak pihak. Lonjakan wisatawan pada musim semi biasanya akan lebih tinggi dibandingkan ketiga musim yang lain. Berdasarkan paket - paket wisata yang ditawarkan di tur agensi manapun, akan lebih banyak menawarkan tur melihat bunga sakura dibandingkan tur bermain ski di Jepang. Jadi, kesimpulan yang pas bukan?!
Sakura di kampus Akita.
Musim semi sangat identik dengan kehadiran Bunga Sakura di Jepang. Dalam menikmati musim yang ringkas ini, biasanya April sampai Juni awal, ada beberapa cara yang dapat diperhatikan. Berdasarkan pengalaman diri, musim semi juga adalah musim yang menyenangkan secara perubahan suhu dan sedikit mirip dengan musim gugur. Beberapa ide untuk persiapan musim semi di Akita. 
  1. Pastikan tubuh dalam kondisi fit untuk menghadapi musim semi jika pertama kali tiba di Akita. Kondisi saat musim semi, suhu masih berkisaran belasan (10 sampai 15 derajat Celcius) dan ditambah dengan kemungkinan besar untuk hujan dan angin selama musim berlangsung. Potensi flu masih mengintai kondisi tubuh yang tidak fit. 
  2. Bagi yang sudah pernah melalui musim dingin di Akita (seperti datang saat Oktober tahun sebelumnya), musim ini adalah salah satu musim untuk pemulihan tubuh, istirahat mulai dapat lebih nyaman.
  3. Gunakan pelembab bibir dan kulit untuk mencegah kulit kering karena perubahan cuaca dan kelembaban yang cukup tinggi. Pastikan gunakan pelembab kulit dengan SPF minimal 24 untuk mencegah sengat UV yang cukup kuat di Akita. 
  4. Gunakan pakaian yang sesuai, dapat menggunakan kombinasi longjhon, baju lengan panjang (katun tebal), celana panjang jeans atau lainnya yang panjang dan jaket windproof-waterproof. Penggunaan tutup telinga juga dapat digunakan jika tidak kuat dengan angin yang bertiup kencang. 
  5. Gunakan sepatu yang sesuai, misalnya boots atau sneaker dilengkapi dengan kaos kaki yang cukup tebal (wol atau katun), terutama saat masih dalam peralihan musim dingin ke musim semi di awal April.
  6. Siapkan payung sebelum hujan. Biasanya saat musim semi, hujan juga seringkali terjadi, terkadang masih bercampur dengan butiran es. 
  7. Gunakan payung untuk mengurangi panas saat matahari sedang bersinar terik selama beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. 
Selamat datang musim semi. 
Saat musim semi umumnya hanya berusaha untuk melawan angin dan dingin yang mirip dengan daerah perbukitan di daerah tropis. Curah hujan tiap tahunnya berbeda saat musim semi. Biasanya berharap curah hujan sedikit agar dapat melihat cantiknya bunga Sakura dan keluarganya bermekaran seperti di foto. Musim semi juga menjadi titik cerah setelah menghadapi musim dingin yang cukup panjang di Akita. Well, welcome to Akita!

Welcome to Akita!

Persiapan di Akita: Musim Gugur

Akhirnya, bagaimana bersiap untuk menghadapi musim gugur. Musim gugur ini mungkin sedikit tidak populer di banyak orang, tapi sebenarnya benar - benar keindahan musimnya sama sekali tidak kalah dengan musim semi. Hanya saja kalah populer karena tidak ada bunga tertentu yang menjadi ikonnya. Ikonik musim gugur adalah warna warninya dedaunan dari banyak pohon yang tumbuh di sekitar diri di Akita. 
Cantikkan?! Musim gugur tidak kalah dengan musim semi.
Musim gugur bisa dikatakan sebagai musim persiapan untuk menghadapi musim dingin. Musim ini bergerak perlahan tapi pasti di Akita, biasanya dari September akhir sampai November awal. Perkiraan suhu biasanya 10 sampai 15 derajat Celcius. Mirip dengan musim semi kan?! Yes! Tentunya hanya perbedaannya hanya menjadi lebih dingin selama gugur atau menjadi lebih hangat selama semi. Tipikal musim gugur adalah hujan dan angin yang juga bertiup cukup kencang. Begitulah Akita!

Dalam menghadapinya, apa yang harus dilakukan. Berikut ini adalah hal yang diri alami dan lakukan selama musim gugur untuk hidup nyaman selama di Akita. 

Kakunodate in Autumn by side of Hinokinai-River.
  1. Pastikan tubuh dalam kondisi fit. Selama musim panas, biasanya tubuh akan terlena untuk bermain di luar dan kurang perhatian dengan kesehatan. Dalam memasuki musim gugur, suhu mulai bergerak turun dan akan semakin turun mendekati peralihan ke musim dingin. 
  2. Gunakan pakaian yang sesuai, seperti halnya dengan musim semi, bisa gunakan kombinasi longjhon, pakaian lengan panjang, celana panjang (katun, jeans), jaket windproof-waterproof dan topi. Semakin mendekati suhu yang semakin turun saat peralihan ke musim dingin, penggunaan syal dan sarung tangan juga dapat membantu. 
  3. Gunakan pelembab bibir dan kulit rutin jika tubuh belum terbiasa dengan perubahan dingin yang drastis dari panas yang cukup menyengat di musim sebelumnya. 
  4. Konsumsilah air putih secara regular untuk mencegah dehidrasi dalam tubuh. 
  5. Gunakan alas kaki yang nyaman dan kaos kaki berbahan katun untuk mendapatkan kenyamanan selama beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan sandal tidak disarankan, terlebih saat di luar ruangan pada musim gugur. 
  6. Siapkan payung sebelum hujan. Yes! Saat musim gugur, curah hujan lebih tinggi dibandingkan musim lainnya. Perhatikan kondisi ini sebelum memulai hari, bisa dengan mengecek ramalan cuaca yang tersedia di aplikasi ponsel atau website. 
  7. Selalu pastikan tubuh dalam keadaan kering, terlebih dalam kondisi hujan berangin yang sering terjadi selama musim gugur. Bisa gunakan tisu atau pun handuk kecil. 
Sangat sederhana bukan. Adaptasi adalah kunci utama selama musim gugur karena ini adalah musim persiapan untuk menghadapi rasa dingin yang lebih panjang di Akita. Musim ini membuat kita untuk lebih semangat agar tidak berhenti semangat di musim dingin yang tidak mudah. 
Kakunodate in Autumn

Persiapan di Akita: Musim Panas

Bahasan musim dingin sudah, sekarnag saatnya persiapan untuk ke Akita selama musim panas. Persipaan yang matang tetap akan menjadi kunci untuk datang ke Akita meskipun cuacanya tampak lebih bersahabat untuk mereka yang berasal dari daerah tropis. 
Salah satu pemandangan di kolam Taman Senshu selama musim panas.
Musim panas Akita umumnya hanya berlangsung singkat, mulai dari bulan Juli akhir hingga September tengah. Puncak musim panas biasanya berlangsung selama bulan Agustus, tepat juga saat anak - anak sekolah sedang mendapat jatah libur musim panas. Musim panasnya pun sangat humid atau lembab dan tidak banyak berangin. Suhu rata - rata berkisar 25 hingga 30 derajat Celcius selama puncak musim panas. Hujan pun sangat jarang terjadi selama musim panas, kecuali mendekati peralihan ke musim gugur. UV dari matahari di Akita termasuk kategori yang cukup tinggi, biasanya ini akan menimbulkan masalah buat mereka yang punya kulit sensitif.

Berdasarkan pengalaman diri, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum datang dan saat sudah berada di sini untuk menghadapi musim panas di Akita.

  1. Pastikan kondisi badan fit saat sebelum berangkat menuju Akita di tengah musim panas. Memahami kondisi tubuh penting untuk kebugaran selama awal adaptasi dengan cuaca yang ada. 
  2. Bawa dan konsumsilah air putih sesering mungkin untuk menghindari dehidrasi. Kondisi cuaca yang panas dengan kelembaban sangat tinggi dapat mempengaruhi laju pengeluaran panas dan air dari dalam tubuh. Perhatikan bahaya dehidrasi yang dapat terjadi pada tubuh seperti kehilangan konsentrasi, pusing hingga peningkatan suhu tubuh.
  3. Gunakan pakaian yang tepat dan nyaman. Saat musim panas, berpakaian "terbuka" tidak dapat menjamin kenyamanan selama beraktivitas. Pada umumnya, pakaian dengan bahan katun dan jeans dapat membantu menjaga kesegaran kondisi badan. Tetap gunakan alas kaki yang nyaman dan aman untuk beraktivitas sehari - hari. Sandal tidak disarankan untuk penggunaan jangka panjang. 
  4. Gunakanlah topi yang dapat mengurangi sengat matahari langsung ke kepala saat beraktivitas di luar ruangan atau juga dapat menggunakan payung yang sesuai.
  5. Gunakan sunscreen dengan minimal SPF 24 sebelum beraktivitas seharian di luar ruangan. Tingginya sengat UV di Akita, hal ini sangat disarankan oleh dokter di Akita untuk mengurangi resiko kerusakan kulit jangka panjang. Pakai sunscreen pada bagian tubuh yang akan banyak menerima cahaya matahari seperti wajah dan tangan. 
  6. Bawa handuk kecil atau sapu tangan untuk memastikan tubuh selalu kering. Saat musim panas, akan sangat umum melihat para warga Jepang menggunakan handuk di leher yang sebenarnya berfungsi untuk mengeringkan keringat yang terus mengucur. Hal ini penting untuk menjaga performa tubuh saat beraktivitas. Tisu bisa juga menjadi pilihan untuk ini. 
  7. Mandilah lebih sering 2-3x sehari untuk menjaga kesegaran tubuh dengan menggunakan air dingin sesampainya di apartemen. 
  8. Selama berada di dalam ruangan, pastikan ventilasi ruangan berfungsi baik atau gunakan pendingin ruangan dengan baik agar menjaga kondisi udara yang berputar. 
Pada dasarnya, musim panas bukanlah sesuatu yang merepotkan terutama untuk yang berasal dari negara tropis seperti diri. Konsumsi air putih dan penggunaan handuk memang menjadi kunci untuk menjaga performa atau kondisi tubuh. Selama musim panas, banyak aktivitas luar ruangan yang dapat dilakukan selama di Akita. Jadi, pastikan tubuh fit dan nyaman selama berkeliling Akita.
Menikmati matahari di Pantai Shimorakomai, Akita.