Sebagian dari kita pasti masih mengingat 3 darma dari yang diajarkan seorang Ki Hajar Dewantara, pendiri taman siswa sekitar awal 1900an. Semboyan tersebut dikenal dengan Ing ngarso sun tulodo, Ing madyo mbangun karso, dan Tut wuri handayani. Dalam sebuah kalimat sederhana, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang seorang guru harus memberikan dorongan dan arahan.”
Tiga semboya ini sangat menarik untuk kembali dibahas dan mungkin ke depannya harus semakin dilekatkan di ingatan dan hati setiap pendidik dan calon pendidik ke depannya. Sekali lagi, diri katakan bahwa guru bukan sekadar profesi, tetapi sebuah bentuk pengabdian. Di Finlandia, upaya masuk sekolah guru jauh lebih sulit dibandingkan dengan masuk pendidikan kedokteran. Mengapa? Mungkin mereka menyadari bahwa guru menyentuh langsung aspek karakter bangsa sejak sedini mungkin. Bagaimana dengan kita?
Kualitas guru yang samakah kita harapkan demikian? Perlukah kita mempersiapkan suatu batas tertinggi untuk setiap mereka yang menginginkan menjadi seorang guru sehingga tercipta kualitas didikan yang terbaik pula ke depannya?
Diri yakin semboyan Ki Hajar Dewantara tadi menjawab bagaimana seharusnya kualitas guru dapat dibangun dan semakin ditingkatkan ke depannya. Indonesia memiliki tokoh yang dari dahulu sebelum negara ini merdeka telah menjelaskan bagaimana seharusnya seorang pendidik bersikap dan berkelakuan. Dengan tegas, Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia, menjelaskan posisi seorang pendidik adalah di depan, di tengah, dan di belakang murid – muridnya.
Di depan, seorang pendidik harus dapat memberikan teladan (Ing ngarso sun tulodo). Semboyan pertama ini memiliki makna yang dalam dan praktik yang tidak mudah. Menurut diri, kualitas seorang guru seharusnya paling mudah terukur secara kuantitatif dan kualitatif adalah melalui keteladanannya. Menjadi contoh tidak semudah membalikkan telapak tangan bahkan bagi seorang pendidik. Kasus demi kasus kekerasan oleh guru terhadap siswanya menunjukkan bagaimana sari tauladan itu meluntur di antara para pendidik. Meskipun hal ini dilakukan oleh oknum. Akan tetapi, diri percaya masih saja ada guru – guru seperti itu yang belum terekspos ke permukaan publik dan seringkali dianggap biasa dalam pekerjaannya. Seorang teladan yang baik memiliki kelakuan dan perilaku yang menunjukkan teladan sikap, keyakinan, dan kepercayaan terhadap apa yang ia jalani, sebagai seorang guru. Bibit generasi dipegang pertama kali oleh para guru dalam pembentukan karakter mereka. Terlepas dari keluarga, guru juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Ia melihat bagaimana guru atau orang tuanya di sekolah yang menjaga dan mengajarnya. Kualitas ini yang sering dilupakan sehingga hasil paling mudah dilihat adalah ketika anak hanya mengingat kejelekan atau traumatik selama dia di sekolah, seperti ungkapan guru killer. Oleh karena itu, seharusnya seorang guru memegang prinsip pertama ini untuk menjalankan tugas pengabdiannya sehari – hari.
Di tengah, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Semboyan kedua ini lebih menitikberatkan pada kreativitas dan kemauan belajar seorang guru. Meskipun guru adalah guru, tetapi tetaplah ia harus terus belajar dan memperbaharui diri. Ki Hajar Dewantara melihat bahwa dunia semakin berkembang. Ilmu yang kita tuntut selama pendidikan formal tidak hanya sebatas itu saja ke depannya untuk diberikan kepada para murid. Namun, masih banyak lagi yang seharusnya untuk dipelajari dan dibagikan. Dengan semangat untuk belajar dan terus belajar hal yang baru, seorang guru juga secara langsung memberikan teladan bagi murid bahwa pembelajaran itu bukan sesuatu yang menakutkan dan tidak menarik, melainkan sesuatu yang menimbulkan rasa penasaran. Seluruh ide dan pengetahuan ini akan menimbulkan daya kreativitas guru untuk mendorong murid mengenal dan menyelami aspek keilmuan tanpa melupakan aspek karakternya. Itu yang mungkin pernah hilang dan mungkin kembali hilang di dalam guru – guru kita. Diri mengapresiasi seluruh guru yang terus mengembangkan metode belajarnya, tidak pernah berhenti belajar, dan menggiring anak – anaknya dalam memunculkan ide, serta merealisasikannya. Contoh untuk ini sangat banyak sekarang kita temui, seperti mobil esmeka, mesin batik, dan sebagainya. Betapa semua guru berperan penting dalam proses anak – anak saat berpikir untuk menemukan ini.
Di belakang, seorang guru harus memberikan dorongan dan arahan. Semboyan ketiga ini dianut dengan jelas oleh masyarakat pendidikan Indonesia melalui lambang atau simbol yang ada. Tut wuri handayani menjadi semacam moto untuk pendidikan Indonesia. Sejujurnya, diri kurang setuju dengan aspek ini sebagai moto utama berjalannya pendidikan Indonesia. Semboyan ketiga ini adalah implikasi dari semboyan pertama dan kedua. Dengan menjadi teladan yang baik, maka dengan sendirinya seorang guru akan mendorong siswanya untuk lebih berkembang lagi. Semangat belajar dan mau diperbaharui dalam diri seorang guru akan berefek kepada siswa untuk menelurkan ide – ide hebat dan membentuk karakter mereka dalam bersikap ke depannya. Karakter dibangun melalui teladan yang baik dalam praktiknya, bukan terbatas pada dorongan atau arahan yang sifatnya absurd (maaf). Kata – kata seseorang mungkin saja manis, semanis Mario Teguh atau para motivator lainnya, tetapi hanya akan menjadi kata – kata saja ketika mereka tidak mempraktikannya dan memberikan teladan bagi para pendengarnya. Diri yakin itulah yang dilakukan para motivator, bertindak dan membagikannya bagi mereka yang tidak termotivasi. Tanpa disadari, hanya perkataan, seperti pujian bahkan makian, hanya akan lewat di telinga anak dan tidak meninggalkan bekas apapun. Bagaimana karakter generasi ini terbentuk? Lagu Umar Bakri mungkin dapat menunjukkan bagaiman teladan seorang guru terhadap generasinya saat itu. Pada akhirnya, menimbulkan semangat juang pada diri murid – muridnya. Hal yang sama juga terjadi di banyak sekolah pedalaman. Mungkin pernah kita menonton acara Indonesiaku (Trans 7) yang menunjukkan betapa perjuangan guru dan murid – muridnya untuk menempuh pendidikan dalam beberapa episodenya. Mereka menempuh laut dengan sampan, sungai dengan arus deras sehingga harus digendong orang tua, hingga yang harus berjalan belasan kilometer di hutan untuk sampai di sekolah. Perjuangan ini dilakukan oleh murid dan gurunya.
Sungguh teladan ini memberikan efek yang besar. Ketiga semboyan tadi pun terbangun dengan baik dan bahkan bisa sempurna. Diri yakin kualitas guru berada pada tolok ukur ketiganya. Mungkin banyak guru sudah memilikinya, tetapi sebagian juga mungkin belum. Peran pemerintah dalam menerapkan ketiga semboyan ini pun tidak bisa ditiadakan. Semua diatur oleh legal dan seharusnya pemerintah bisa mendorong ini untuk berjalan dan terlaksana dengan baik.
Semoga pendidikan Indonesia benar – benar mencerminkan ketiga semboyan Ki Hajar Dewantara ke depannya. Porsi 20% APBN tidak hanya bocor, tetapi benar – benar dipakai untuk mempersiapkan bibit pendidik yang akan berperan langsung membangun karakter bangsa kita.
Merdeka!
No comments:
Post a Comment