Wednesday, December 02, 2015

Refleksi: Apakah perlu pendidikan etika dalam kurikulum? #2012

Pertanyaan di atas mungkin lebih tepat bukan menjadi sebuah judul tulisan, tetapi seharusnya menjadi refleksi semua pihak. Mengapa?

Ya, diri merasa dan membuktikan bahwa etika adalah sebuah pegangan seseorang untuk bersikap, bertindak, dan berekspresi. Ini mungkin terdengar seperti subjektif karena etika sebuah pelajaran yang sifatnya personal. Seseorang bisa saja kaya raya, tapi belum tentu dia beretika ataupun sebaliknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edis ketiga (2005:309), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral. Jika dilihat dari sudut pandang aplikasinya langsung, etika dapat dikatakan terdiri dari menghargai-menghormati, sopan santun, dan kelakuannya (attitude).

Aspek pendidikan etika secara tidak langsung akan diterima setiap anak – anak hingga pemuda – pemudi Indonesia di dalam keluarga, sekolah atau universitas, dan lingkungan bermainnya. Kesibukan orang tua dan tuntutan ekonomi, serta gaya hidup yang tinggi mendorong pendidikan etika pun seolah terlupakan dalam keluarga. Komunikasi antar anggota keluarga yang semakin menipis mendorong pendidikan informal ini tidak berjalan dengan semestinya seiring majunya zaman. Akhirnya, seluruh pendidikan ini diserahkan pada lingkungan sekolah yang menjadi tempat utama anak – anak menghabiskan waktu. Jadi, seperti apa aplikasi etika sekarang dalam kehidupan generasi bangsa ini ke depannya?

Penghargaan terhadap seseorang di negara ini pada masa sekarang adalah suatu hal yang sulit. Sikap untuk menghargai dan menghormati orang lain seolah luntur dalam kehidupan kita sehari – hari. Penghargaan kepada orang lain bukan sebatas pada piala atau piagam atau uang yang dapat diberikan kepada orang tertentu karena prestasi, jabatan ataupun kekuasaannya. Penghargaan tidak sebatas itu! Ini hal yang diri rasakan sangat luntur di antara manusia Indonesia. Tempat – tempat tadi yang seharusnya lebih terpelihara untuk penghargaan ini pun belum mampu melakukannya.

Bagaimana aplikasi etika dalam sekolah? Jika boleh jujur, sekolah pun sekarang penuh dengan ketidakaturan dalam sikap dan perilaku siswa-mahasiswanya. Aksi tidak beretika yang dilakukan memiliki rupa dan bentuk yang beragam. Hal paling mudah untuk dilihat adalah penghargaan. Mungkin contoh di televisi dapat menjadi gambaran paling nyata antara yang menghargai dan tidak. Pemutaran liputan anak – anak berprestasi dan sekolah yang teratur seolah menjadi pelega dahaga kita akan harapan bahwa masih ada generasi ini yang benar di dunia yang bengkok. Akan tetapi, pemutaran liputan tawuran antar SMA atau SMK beberapa waktu lalu menunjukkan sisi lain bagaimana generasi ini bersikap. Berdasarkan pengalaman diri sejak SD sampai universitas, ada beberapa hal kesamaan yang selalu diri temui, yaitu sulitnya seorang anak untuk menghargai dirinya dan gurunya.

Ya, penghargaan terhadap dirinya dan guru atau dosen adalah sesuatu yang diri rasakan tidak pernah tumbuh atau sama saja sejak SD sampai universitas. Bentuk – bentuk tidak menghargai ini beragam yang diri lihat, yaitu menghina guru atau dosen, mencontek, dan menipu. Penghinaan terhadap guru yang terbesar saya rasa bukan dari pemerintah atau aspek legal negara ini, tapi justru berasal dari muridnya sendiri. Guru bagi diri bukan sekadar profesi, tetapi suatu bentuk pengabdian yang tinggi, sama halnya seorang dokter. Mungkin, sewaktu kecil kita pernah mendengar bahwa guru adalah Bapak/Ibu kita selama di sekolah. Ucapan itu bukan sekadar sugesti buat diri sewaktu kecil, tetapi benar apa adanya yang diri rasakan hingga lulus universitas. Bentuk penghinaan ini beraneka ragam, seperti pengejekan langsung maupun tidak langsung, penanggapan bahwa tidak bisa mengajar, penggampangan (sepele) terhadap pelajarannya, dan sebagainya. Diri rasa semua pasti sering mendengar keluhan anak – anak yang berujung pada penghinaan atau penyalahan pendidik sebagai dalang mereka tidak mengerti atau bahkan tidak naik kelas. Ya, mungkin ada beberapa kondisi demikian, tapi oknum. Sekali lagi, itu oknum. Bagaimana penghargaan mereka terhadap seorang pendidik? Sesulit itukah hingga sekarang bagi sebuah generasi yang beruntung untuk menghargai gurunya bahkan di saat banyak anak – anak merindukan sosok guru di hari – hari mereka. Siapa yang salah? Diri tidak suka melihatnya dalam sisi kesalahan, tapi mari kita lihat dari sisi bagaimana sekarang kita akan memperbaikinya dan memutus rantai setan ini.

Suatu sikap menghargai akan berkaitan erat dengan sopan santun dalam berkelakuan. Keseluruhan rantai ini menjadi sesuatu yang saling komprehensif dalam praktiknya. Dengan demikian, pemecahan permasalahan seperti apa yang kita harus lihat. Diri melihat tentang suatu struktur kurikulum yang lebih keras untuk kembali diterapkan. Ya, kembali mengapa ini harus dipikirkan. Kita selalu menyalahkan kurikulum pendidikan yang tidak mendukung daya kembang dan kreatif anak – anak. Akan tetapi, pernah kita mengevaluasi kurikulum ini dari sisi perkembangan emosional dan kedewasaan seorang anak. Sebagai contoh, pendidikan anti korupsi yang mungkin baru dipikirkan dan segera diaplikasikan sejak tingkat korupsi Indonesia semakin naik dengan cepat. Mengapa harus selalu bentuk preventif dipikirkan di bagian akhir?

Bagi diri, pendidikan menjadi manusia Indonesia yang berbudi pekerti dan berakhlak seharusnya dari dulu dan dulu sudah diterapkan, dipikirkan pengembangannya, dan dievaluasi pelaksanaannya. Suka atau tidak, sekolah menjadi lahan terbesar para anak menghabiskan waktunya dan sudah seharusnya suatu program yang dikerjakan anak – anak di tempat ini adalah yang paling besar pengaruh dalam hidupnya. Mulai berantas korupsi adalah dari hal yang kecil, seperti disiplin waktu, kejujuran bekerja dan belajar, serta ketaatan terhadap aturan yang telah dibuat. Manusia – manusia seperti ini pada masa sekarang mungkin akan dianggap kuno dan tidak gaul. Akan tetapi, harus mulai ditanamkan atau bahkan lebih tepat untuk dipertanyakan, apakah tidak beretika itu gaul?

Rantai setan ini harus segera diputus! Apakah perlu kita masukkan mata kuliah atau mata pelajaran etika agar menjadi suatu pelajaran yang wajib untuk diambil ke depannya, seperti pendidikan anti korupsi? Diri akan katakan ya. Hal ini perlu untuk dipertimbangkan dan dilebur kembali dalam struktur kurikulum kita. Pendidikan ini seharusnya dapat menjadi pegangan kita memutus rantai setan dan kembali menghidupkan manusia – manusia Indonesia. Kehidupan generasi kita bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi tanggung jawab kita untuk mempersiapkan mereka tumbuh menjadi manusia Indonesia dewasa.

Dalam aplikasinya, etika harus dipraktikan dan dilakukan oleh semua aspek pendidikan itu dulu, seperti menteri, para pejabat pendidikan, guru, kepala sekolah, dosen, asisten akademik, rektor dan lainnya. Belajar tertulis dan mencontoh langsung adalah hal yang paling tepat. 

Contoh adalah teguran tak tertulis yang lebih menyakitkan dan bisa mengubahkan.

No comments:

Post a Comment