Perjalanan ke Curug Omas dilakukan melalui jalan Dago utara melalui daerah Dago Giri. Ini merupakan salah satu short cut untuk menuju area Lembang jika Setiabudhi sedang macet parah. Dengan kebahagiaan yang sangat tinggi, aku melaju ke Curug Omas untuk memenuhi rasa keingintahuan aku tentang curug ini yang cukup terkenal di sana. Curug Omas terletak di daerah Maribaya dan merupakan bagian dari daerah wisata Taman Hutan Raya Djuanda yang terkenal. Daerah ini merupakan kawasan sejuk yang indah di atas perbukitan Lembang. Menawan sekali! Secara geologi, Curug Omas merupakan air yang mengalir di atas lava Gunung Sunda Purba yang menjadi ibu dari Gunung Tangkuban Perahu. Lava yang mendingin ini sangat jelas terlihat pada jalur aliran air ke arah curug.
Untuk mencapai curug omas, hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Dago. Perlu kehati-hatian dalam melakukan perjalanan ke daerah ini, mengingat kontur jalan yang lumayan curam untuk kendaraan bermotor. Pemula tidak disarankan! Sesampainya di gerbang depan, diri membeli tiket masuk sebesar Rp 7000,- Untuk mencapai curug, dibutuhkan perjalanan sejauh kurang lebih 1 km dengan berjalan kaki atau menggunakan motor. Motor pribadi tidak diperkenankan masuk karena ada upaya pengembangan ojek lokal yang bisa mengantar hingga bawah sebelum tangga ke curug. Selama perjalanan yang menyenangkan dengan kehijauan tak lebat, aku sampai di depan anak tangga atau batas motor bisa lewat. Perjalanan dilanjutkan dengan menuruni anak tangga. Sungguh luar biasa perjalanan yang dilakukan!
![]() |
| Batuan hasil letusan gunung api yang jelas sekali tampak pada dinding curug. |
Selain itu, sampah selalu menjadi praktik kejahatan terbesar bagi setiap daerah wisata di Indonesia. Sangat disayangkan! Keindahan Curug Omas menjadi sesuatu yang berbeda karena keberadaan ini. Melalui curug omas, sebenarnya juga bisa langsung ke THR ataupun Gua Belanda jika mau. Jangan khawatir, makanan banyak di sini karena sudah banyak penjual makanan. Mushola dan WC pun telah tersedia.
![]() |
| Sampah menjadi penyakit kronik pengelolahan tempat wisata di negara kita. |










No comments:
Post a Comment