Friday, December 11, 2015

Leading Program Akita University (2)

Leading Program Akita University (LP-AU) merupakan program yang relatif baru dan memberikan banyak kesempatan bagi setiap mahasiswa di bawahnya. Mengapa?

 Forum di Shinjuku, Tokyo dengan seluruh mahasiswa LP di Jepang.
LP-AU menyediakan model pendidikan aktif yang berbasis pada resource science. Kegiatan belajar terdiri dari riset, rotasi lab, student meeting, special lecture dan juga summer camp. Selain itu, LP-AU juga memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan, konferensi dan field trip (untuk mereka yang sekolah di bidang earth science, terutama). LP-AU juga memberikan kesempatan untuk mendapatkan tambahan funding untuk riset yang diberikan melalui seleksi kepada setiap mahasiswa yang mengajukan dengan besarannya hingga 500,000 yen per tahun.

Riset adalah keharusan untuk setiap pesertas didik, baik yang mendaftar lewat master (S2) maupun langsung dari doktor (S3). Pengerjaan riset dilakukan secara mandiri dan disusun secara teliti berdasarkan kebaharuan yang ingin dicapai. Peserta didik mencari tahu atau memiliki ide tertentu di bidangnya untuk didiskusikan dengan pembimbing masing - masing dan dieksekusi dalam suatu penelitian. Tahap riset seorang master (S2) dan doktor (S3) sendiri pun berbeda. Menurut pengalaman diri, pada tingkat S2, mahasiswa dituntut untuk mengenal lebih dalam ilmu yang sedang ditempuh dan riset yang dilakukan masih lebih bersifat umum dibandingkan dengan S3. Mahasiswa lebih banyak mendapatkan bimbingan dan arahan yang sifatnya lebih pada mengarahkan untuk melakukan sesuatu dan mendalami apa yang menjadi riset di bidangnya dengan sistem mengaplikasikan.

Pekerjaan riset diri saat olah data.
Di sisi lain, seorang S3 dihadapkan pada kemampuan untuk menganalisa dan membawa kebaharuan dalam hasil riset yang dilakukan. Tentu saja setiap bidang keilmuan akan berbeda dan tidak bisa disamakan. Mereka yang sedang melakukan S3 di bidang ekonomi tidak bisa disamakan dengan mereka yang mengerjakan di bidang geologi misalnya. Bidang keilmuan akan mempengaruhi bagaimana mahasiswa menganalisa kondisi permasalahan yang dihadapkan dan mencari jawaban, serta menjadikannya solusi yang aplikatif di bidangnya masing - masing. Dalam hal ini, bidang keilmuan yang ditempuh diharapkan sudah dipahami secara umum dan mendalam, sehingga dalam pengerjaan risetnya, mahasiswa melakukan pengembangan yang lebih baik untuk masalah yang diangkat. Apabila ditinjau dari sisi mahasiswa dan pembimbing, seorang mahasiswa S3 lebih banyak dihadapkan dalam proses diskusi terhadap apa yang menjadi idenya, menyusun ide itu menjadi suatu prosedur, eksekusi dan aplikasinya langsung. Jadi, menurut diri, pembimbing lebih menjadi kolega dalam berdiskusi untuk ide - ide yang sedang dikerjakan. Hal ini perlu dilakukan pembimbing untuk melatih calon lulusannya karena seorang doktor harus mampu memperhatikan argumentasinya berdasarkan apa yang dikerjakan sesuai data, fakta dan dapat diuji kebenarannya.

Oleh karena itu, setiap mahasiswa LP-AU juga melakukan hal yang sama sesuai dengan tingkatannya masing - masing. Pembimbing melakukan bagiannya untuk menjadi teman diskusi, komunikasi ilmiah tentang apa yang akan dijadikan materi riset selama 2 tahun (S2) atau 3 tahun (S3) ke depan. Total waktu yang diberikan untuk riset ini berjalan paralel dengan seluruh kegiatan lainnya di LP-AU. Dengan demikian, setiap mahasiswa LP-AU dididik untuk mampu lebih baik lagi dalam disiplin waktu dan kegiatan selama program pendidikan berlangsung.

Riset memang menjadi syarat utama untuk menyelesaikan pendidikan master dan doktor, namun mahasiswa juga harus menyelesaikan program kelas yang telah disediakan dalam kurikulum LP-AU. Total ada sekitar 42 sks kelas yang dibagi ke dalam sekitar 5 kategori kelas yang tersedia di LP-AU. Kelas - kelas yang ditawarkan memiliki kredit 1 - 2 per kelas yang diambil dengan jangka waktu kelas yang berbeda, mulai dari satu semester aktif penuh hingga 12 jam kelas intensif yang dibagi ke dalam beberapa kali pertemuan tergantung pada jenis kelasnya. Kelas reguler (Common Course) memberikan 1 - 2 sks untuk tiap kelasnya, sedangkan kelas khusus (Special Lecture) memberikan 1 sks saja tiap kelasnya yang memiliki beberapa pertemuan.

Sesuai dengan nama dan tujuan dari LP-AU, maka kelas yang diberikan tidak hanya kelas yang menunjang riset mahasiswanya, tetapi kelas yang sifatnya interdisiplin. Mungkin beberapa orang akan berpikir mengapa seorang yang risetnya geologi harus mengambil kelas di mata kuliah metalurgi? atau orang ekonomi harus mengambil kelas pembentukan deposit? Nah, di sinilah letak interdisiplin yang diberikan. Mahasiswa di bawah LP-AU dibekali ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang resources science (ilmu tentang sumberdaya alam; mulai dari explorasi, extraksi/tambang, pengolahan/metalurgi, keekonomian, lingkungan hingga daur ulang/3R design) yang dibangun tidak hanya melalui kelas biasa, tetapi juga dalam praktiknya di rotasi lab, diskusi dengan para ahli di bidangnya di kelas khusus dan simposium yang diadakan oleh LP setiap tahunnya. Pengetahuan dan pemahaman ini akan menjadi bekal untuk para lulusannya di depan dalam bergerak untuk tidak hanya memperhatikan bidang keilmuan yang ditekuni mereka melalui riset, tetapi lebih melihat semuanya dalam satu kesatuan. Sebagai contoh adalah diri yang saat ini memiliki riset di bidang economic geology atau geologi explorasi. Diri harus melihat bagaimana pekerjaan diri ini tidak hanya bermanfaat untuk bidang geologi, tetapi juga bagaimana dapat diaplikasikan kepada bidang pengolahan dan bagaimana secara nilai keekonomiannya. Dengan demikian, diri diharapkan mampu memberikan saran dan masukan yang tidak hanya berhenti di bidang keilmuan diri, tetapi dapat diaplikasikan nyata di tempat di mana industri tempat diri sedang melakukan riset saat ini. Menarik bukan?!

Salah satu suasana kelas khusus yang diberikan.
Kelas Sulfur isotope di Lab Kinsho.
Kelas khusus yang ditawarkan terdiri dari kelas - kelas yang diajar oleh dosen tamu dari professor dari universitas lain, industri dan pemerintah, seperti kementerian atau lembaga lainnya. Kelas khusus memiliki pengajar yang berbeda setiap kelasnya dan tiap tahunnya untuk mata kuliah yang sama. Ada sekitar 8 kelas khusus berbeda yang ditawarkan, mulai dari mining engineering, international issues on mineral resources, Russian coal and industry, REE processing dan lainnya. Selain common course, terdapat kelas khusus MOT (management and technology) yang mencakup kelas untuk international business, international affair analysis, managemen migas dan tambang, hukum dan kontrak, sosial masyarakat di daerah pertambangan dan lainnya. Seluruh kelas yang diberikan di bawah MOT mengajarkan pemahaman berbeda selain bidang kemampuan teknis yang dimiliki mahasiswa LP-AU. Sebagai contoh saat belajar hukum dan kontrak, seluruh mahasiswa, termasuk diri saat itu harus belajar membaca contoh - contoh kontrak, menganalisanya dan belajar untuk melihat bagaimana kontrak tersebut. Diri juga harus belajar bagaimana bahasa sebuah kontrak dan membuatnya sendiri. Banyak cara berpikir yang berbeda dengan kemampuan berpikir teknis diri yang diri peroleh dari kelas ini.

Apakah ini akan berguna? Menurut diri, ini akan sangat berguna, tetapi sejauh mana kegunaannya akan kembali kepada SDM yang menerimanya. Diri percaya setiap yang masuk di bawah LP-AU telah melalui banyak hal dalam bidangnya masing - masing dan mampu untuk terus belajar hal baru. Itulah yang menjadikan pemimpin, salah satunya.

Selain kelas, LP-AU juga memberikan rotasi lab, student meeting dan summer camp kepada mahasiswanya. Bagian ini akan diri jelaskan lebih lanjut di posting berbeda ya :)

Mahasiswa LP-AU juga diberikan banyak kesempatan untuk mengikuti kegiatan di luar risetnya, yang tentunya atas seizin oleh supervisor masing - masing. Kesempatan ini digunakan untuk mendorong komunikasi ilmiah dan industri para pesertanya. Setiap mahasiswa LP-AU juga diharapkan mampu berkomunikasi secara ilmiah untuk masyarakat akademis, namun juga mampu menyampaikan atau berkomunikasi baik untuk aplikasi yang dimiliki untuk masyarakat industri dan pemerintahan. Ini juga yang dapat dilatih dengan berpartisipasi aktif dalam konferensi ilmiah, kegiatan kursus dan field trip. Biasanya mahasiswa pergi secara mandiri mengikuti kegiatan di negara lain dan kondisi ini menjadi tantangan tersendiri untuk mampu berkomunikasi, berpartisipasi aktif di konferensi atau trip dan pastinya menyerap ilmu - ilmu baru langsung dari ahlinya. Hasilnya dapat dilihat dari kegiatan sehari - hari mahasiswa tersebut yang dievaluasi dari pembimbing melalui pekerjaannya dan juga langsung dari laporan perjalanan detail yang diberikan untuk kegiatan tersebut. Mahasiswa LP-AU juga dididik untuk bertanggung jawab dan jujur untuk tiap sen uang masyarakat Jepanag yang digunakan selama perjalanan dilakukan.
Di depan outcrop Chromite, Dwars River.
Perjalanan diri di Bushveld, South Africa untuk belajar tentang Cr-mine dan geologinya.

No comments:

Post a Comment