Wednesday, December 02, 2015

Refleksi: Mental Pancasila

Saya bangga menjadi bangsa Indonesia. Seharusnya setiap warga negara Indonesia berani katakan pada dunia, “Aku Bangsa Indonesia” sama seperti yang selalu saya lakukan. Berbicara keunikan Indonesia tidak terlepas dari banyak hal yang ada di kepala setiap penduduknya. Sebagai pribadi bangsa, setiap warga negara pasti merasakan banyak keunikan sebagai bangsa Indonesia yang besar. Bangsa ini kaya akan keanekaragaman. Definisi keragaman ini pun tidak terbatas hanya pada sosial budaya, tetapi juga geografis dan geologis. Pola berpikir masyarakat Indonesia juga dapat dikatakan heterogen. Semakin luasnya akses ke dunia luar, membuat setiap warga negara Indonesia memiliki keanekaragaman dalam bersikap, berpikir dan bertindak. Inilah kebanggaan yang tidak akan terlepas dari bangsa ini. 

Gempuran globalisasi yang paling terasa dampaknya dalam denyut bangsa Indonesia adalah pola pikir dan kemampuan bertindak. Dua hal ini memiliki resiko terbesar untuk dipengaruhi ataupun mempengaruhi. Potensi dipengaruhi semakin besar ketika ada ketidakmampuan untuk berdiri di kaki sendiri atau punya pegangan. Akan tetapi, menjadi pengaruh dapat terjadi karena ketika kita memilki identitas dan integritas yang kuat. Lalu, dimana posisi kita sebagai bangsa Indonesia?
Pertanyaan ini cukup menggelitik karena jawabannya harus sesuai dengan kondisi sekarang. Fakta lapangan dan data penjawab pertanyaan ini harus kuat dan jelas. Sebagai pribadi, dapat dikatakan bahwa globalisasi memberikan pengaruh besar pada perkembangan mental bangsa Indonesia. 

Globalisasi seolah membuka pintu fase baru di negara Indonesia. Fase ini mencakup pada perubahan sosial budaya dalam kemasyarakatan yang secara perlahan dapat diamati. Hasil dari pergerakan perubahan ini tampak jelas dalam pengamatan pola pikir dan kemampuan bertindak pribadi bangsa Indonesia. Posisi “dipengaruhi” ini menunjukkan identitas bangsa Indonesia di tengah arus globalisasi yang semakin kencang. Apa buktinya? Kondisi terpengaruhi ini ditunjukkan dengan jelas oleh sifat konsumtif dan gaya pergaulan hidup bangsa Indonesia. Fase baru yang dibuka ini seolah mewakili dnegan jelas bagaimana globalisasi memberikan dampak tidak menguntungkan bagi perkembangan mental bangsa. 

Globalisasi tidak dapat dikatakan merugikan secara utuh. Akan tetapi, perubahan besar yang dibawa olehnya dapat menjadi bumerang terhadap pertumbuhan mentalitas bangsa. Perubahan besar, baik dari sisi ekonomi, sosial bahkan budaya akan sangat terasa bagi mereka dalam kondisi “terpengaruhi”. Efek yang ditimbulkan pada jangka panjang dapat menggerus dengan kuat nilai – nilai kearifan lokal yang ada. Salah satu bentuk penggerusan nilai – nilai kearifan lokal tersebut adalah tumbuhnya sifat konsumerisme dan hedonisme. Kedua nilai ini sangat bertolak belakang dengan budaya hemat, rendah hati dan tolong – menolong yang sejak dulu telah ditanamkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Sikap konsumtif ini dapat diamati dengan jelas bentuknya. Bentuk konsumtif bangsa ini dapat dengan mudah dijumpai di berbagai pelosok kota bahkan mulai masuk ke kehidupan desa. Ini yang mungkin bisa menunjukkan penyebab rasa iri berujung kriminalitas atau bahkan jurang pemisah kaya – miskin yang semakin lebar di Indonesia. Indonesia menjadi pasar terbesar untuk berbagai produk komunikasi semacam telepon genggam misalnya. Telepon genggam atau produk sejenisnya merupakan contoh bentuk produk konsumtif terbesar di Indonesia. Lintas suku dan masyarakat seolah terhipnotis dalam gempurannya. Tawaran yang terlihat menggoda dengan memanfaatkan banyak kebutuhan pergaulan menjadikan gempuran terhadap mental tidak semudah yang dibayangkan. 

Era globalisasi yang semakin membuka ruang komunikasi antar pribadi di seluruh dunia semakin mendorong pribadi – pribadi Indonesia untuk mengambil bagian di dalamnya. Akan tetapi, mental dan idealisme yang tidak kuat di seluruh lapisan masyarakat menjadikan sikap konsumtif seolah dianggap “maklum” dan “biasa”. Akibatnya sudah dapat ditebak dan dibuktikan dalam praktik masyarakat Indonesia. Setiap orang seolah – olah berlomba memiliki telepon genggam dan memiliki akun jejaring sosial. Pembicaraan tatap muka pun berganti dengan pembicaraan dunia maya. Komunikasi langsung berganti dengan komunikasi teks meskipun sedang bertatap muka. Pada akhirnya, efek negatif ketertarikan ini lebih mengena pada kelangsungan mental bangsa. Tingkat kriminalitas yang semakin tinggi, kekerasan pada anak serta perempuan yang meningkat dan daya juang yang berkurang menjadi ringkasan pilihan kekurangan perkembangan globalisasi pada masa sekarang. 

Lalu, dimana letak peran kebangsaan atau nasionalisme atau ideologi bangsa ini yang sejak SD telah diajarkan sampai pada level pendidikan tinggi? Pendidikan Pancasila sebagai ideologi bangsa diatur sejak SD sampai pada pendidikan tinggi tidak hanya beralasan pada kebutuhan kurikulum, tetapi berusaha menjaga mental-cermin ideologi generasi muda yang terus tumbuh dan berganti seiring waktu. Namun, pintu baru yang terbuka ini menunjukkan belum mampunya kita mengamalkan pegangan hidup kita bernegara, yaitu Pancasila. Kelima nilai yang telah disusun sedemikian rupa oleh para founding father berdasarkan karakter bangsa ini. Pancasila seharusnya menjadi cerminan langsung seperti apa wajah bangsa ini. Faktanya saat ini, karakter bangsa ini seolah bergeser dari apa yang disebutkan dalam sila – sila. Posisi bangsa ini lebih kuat sebagai yang “terpengaruh” pada perubahan besar dari era globalisasi. Demikianlah, posisi kita sebagai bangsa saat ini di tengah gempuran perkembangan pintu – pintu globalisasi. 

Jika Pancasila seolah mengalami pergeseran makna, bagaimana posisinya sekarang untuk kembali menguatkan identitas bangsa? Pancasila tetap akan menjadi pegangan bagi perubahan bangsa ini, kembali pada jati dirinya. Pembelajaran di sekolah dasar hingga perguruan tinggi tidak akan kehilangan maknanya jika seluruh elemen dalam masyarakat pun mau berpartisipasi aktif dalam pergerakan perubahan ini. Gaya hidup, pola pikir dan pergerakan dimulai dari jiwa muda yang menyusun masyarakat ini. Siapa yang dimaksud dengan generasi muda? Saya, Kamu dan Kita! Mengapa melalui generasi muda? Konsep dan pemahaman padanya terus dipelajari dan dipahami sampai mereka lepas ke masyarakat luas. Hasil belajar yang kuat dari dalam pendidikan formal, dapat diimplementasikan dengan gaya muda yang mempengaruhi. Nilai – nilai dalam Pancasila seharusnya diturunkan kembali dengan lebih jelas dan mendasar agar lebih meresap pada generasi muda. 

Perubahan yang dimulai dari sedikit ini dapat menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia. Pancasila tetap menjadi panutan, ideologi dan semangat berbangsa. Dengan pemahaman tentang Pancasila dalam hal yang paling mendasar atau kecil sekalipun, diharapkan dapat mengubah semua elemen bangsa. Belajar keanekaragaman, toleransi antar suku dan umat beragama, bersikap jujur dan adil pada siapapun, dan sebagainya merupakan bentuk hal – hal mendasar yang dapat diajarkan. Bentuk lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan “kampanye Pancasila”. Program “kampanye Pancasila” adalah program kampanye dengan menggunakan media sosial langsung maupun tidak yang digemari masyarakat untuk mendidik dan menyediakan informasi tentang segi kehidupan luhur berbangsa. Keanekaragaman bangsa ini dapat didorong dan dibagikan dalam “kampanye Pancasila”. Ide kampanye ini berlandaskan pada psikologi manusia tentang kebiasaan dan keingintahuan. Dengan memanfaatkan media – media yang digunakan pribadi bangsa, pemerintah dan kita dapat menyusupkan, mengkampanyekan dan mengingatkan kembali tentang Pancasila sebagai bagian dari diri kita. Kampanye semacam ini bisa melalui televisi, film, iklan, sms, facebook, twitter dan sebagainya yang menjadi pintu – pintu globalisasi bergerak. Kegiatan ini juga mengikat suatu komitmen dari semua yang terlibat untuk menjadi “agen perubahan”. Bagaimana dengan kamu? 

Implementasi nilai – nilai Pancasila kembali pada segi – segi kehidupan bangsa dapat mengembalikan identitas bangsa yang “terpangaruh”, bahkan menjadi “pengaruh”. Tidak ada yang salah dengan Pancasila, tetapi kurangnya pemahaman akan Pancasila yang pada akhirnya mengubah identitas dan karakter bangsa yang masuk ke pintu negatif globalisasi. Seringkali sifat melupakan menjadi kendala besar untuk menumbuhkan kecintaan yang murni tersebut dalam diri pribadi bangsa. Dengan semakin banyak kegiatan dan semangat yang disebarkan, perubahan bisa dimulai dari yang terkecil hingga yang tak tergapai sekalipun. Perubahan dengan Pancasila, masih ada yang tersisa. 

Pancasila merupakan ideologi berbangsa yang mungkin mulai sedikit terlupakan. Akan tetapi, hanya Pancasila jugalah yang dapat kembali mengubah karakter bangsa ini kepada jiwanya Indonesia. Generasi muda dapat menjadi tonggak perubahan kembali bersama dengan Pancasila. Kita bangsa yang berpengaruh. 

Bergerak untuk maju!

No comments:

Post a Comment