Wednesday, December 02, 2015

Travelling Kuliah: Boscha di Pagi Hari


Senangnya, berganti lagi hari, bertambah lagi waktu untuk menulis ini dan itu. Mengingat kembali morning walk beberapa waktu lalu bersama lekakiku dan saudara tuanya di Lembang, Bandung Utara.
Morning walk dadakan ini sangat tidak terencana tapi sangat membahagiakan. Melihat Bandung di pagi hari dengan aktivitas masyarakat berbagai lapisan di Sabtu pagi, terutama masa liburan. Perjalanan ditetapkan jam 11 malam, pada malam sebelumnya. Hebat!

Hampir jam setengah 6, kami bertiga meluncur ke lokasi dengan menggunakan mobil ke kawasan Lembang melalui jalan Setiabudi. Perjalanan masih lengang dengan hanya masih awal - awal mobil pribadi, angkot dan kendaraan lainnya yang bermalas-malasan bergerak menikmati sinar matahari yang sejuk. Perjalanan pun serasa tanpa hambatan, tidak seperti pada siang hari yang penuh sesak mobil maupun kendaraan lainnya, termasuk bus yang bersemangat mengambil bagian di jalanan ke arah Lembang.

Perjalanan berlanjut, dinginnya kawasan Lembang yang menyenangkan dan membuat hati perlahan mulai refresh dari segala kerumitan kota Bandung yang sedang penuh sesak. Perjalanan mengitari perbukitan daerah Lembang yang mengarah ke Cekungan Bandung ini menjadi suatu hal yang membahagiakan dan menjadi hal yang juga menjadi ketakutan tersendiri. Ada banyak hal yang berubah jika diingat oleh mereka yang tinggal dan merasakan Bandung dari kecil. Mangkok Cekungan Bandung ini seolah semakin penuh dengan perumahan, ladang, sawah hingga kawasan modern seperti mall yang semakin menyesakan. Terang benderang pada malam hari merupakan representatif cahaya dari semua bangunan yang tampak seperti kepadatan tak berujung di pagi hari. Kabut dan asap menjadi satu di pagi hari. Jujur, aku mulai kesulitan mengenali kabut dan asap yang terlihat di kawasan Lembang jika kita berada di ketinggian. Hampir semuanya putih, tapi ntah itu kabut atau asap putih saja.

Sepanjang perjalanan, memasuki kawasan Lembang, kanan kiri penuh dengan penginapan dari kelas melati sampe berbintang, orang - orang yang menjaja makanan dari yang kelas kaki lima sampai restoran mewah. Semua bisa dipilih, tergantung budget yang dimiliki. Jalanan kecil khas Lembang ini penuh sesak keramaian masyrakat di sana, maupun para pelancong yang ingin menikmati hari - hari libur mereka di sana. Sudah lengkap semua kebutuhan fasilitas penghibur di Lembang.

Kami pun berhenti dan menikmati pagi dengan segelas teh hangat, ketan bakar yang khas di Lembang, hingga colenak yang manis! Sarapan sederhana yang sangat berkesan dan begitu menggoda selera makan. Perjalanan kami hentikan dan arahkan dengan menikmati keramaian yang mulai menggeliat. Mobil - mobil dengan plat nomor luar D, mulai bergerak, memarkir mobil di sepanjang jalanan Lembang yang sempit untuk menikmati sarapan pagi khas kaki lima, seperti yang kami lakukan bertiga. Dengan merasa dingin lebih ekstra, setiap pedagang didatangi dan mendapat pesanan yang cukup lumayan agar asap dapur rumah tetap mengepul.

Jagung berjejar rapih menggoda pembeli.
Ketan bakar lezat di pagi hari.
Hanya setengah jam di sana, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Boscha. Boscha merupakan satu - satunya lokasi pembelajaran astronomi publik yang dimiliki oleh Indonesia. Teropong ini dibangun pada masa Belanda. Boscha berada di salah satu puncak perbukitan di Lembang. Letaknya yang tinggi memberikan ruang untuk para astronom melakukan pengamatan pada pagi maupun siang hari. Kawasan ini sekarang adalah sah kepemilikan ITB. Makanya, teman - teman astronomi ITB, seolah punya paspor gratis untuk memanfaatkan sarana belajar ini.

Boscha terdiri dari beberapa teropong pengamatan. Hanya ada satu yang paling besar dan dibuka ketika bias matahari tidak terjadi karena bisa menganggu pengamatan. Jadilah, teropong ini hanya dibuka pada masa atau waktu tertentu saja oleh para astronom. Selain itu, juga terdapat beberapa teropong lain dan arsip penting lainnya yang tidak boleh dipublikasikan secara massal. Hal ini menjadi wajar mengingat perilaku wisatawan tidak bisa menjamin bahwa kerusakan dan kehilangan tidak akan terjadi!

Lokasi Boscha yang tertutup pada waktu dulu, sekarang sudah dikomersialisasi. Terlalu banyak pemukiman bahkan terdapat hotel sekitar sana yang mengisi ruang kosong khusus untuk Boscha. Para pengamat butuh ruang kosong atau sterilisasi lokasi yang ada di sekitar Boscha. Namun, kepentingan membuat di sekitar pintu gerbang Boscha pun ada rumah penduduk! Hal yang seharusnya tidak boleh dan pada masanya tidak ada yang seperti ini. Sebenarnya bisa dibilang, pemerintah pun cenderung tidak peduli dengan sarana belajar ilmu yang sedikit tidak populer di kalangan masyarakat dan tidak menghasilkan uang buat mereka!


Pasti ingat film Petualangan Sherina untuk generasi 90an.

Untuk mengunjungi Boscha secara resmi, tidak seperti kami ini, dapat dilakukan pada jam kantor pada hari Selasa hingg Sabtu. Kunjungan resmi yang diperbolehkan dan disarankan adalah kunjungan berkelompok. Kecuali, punya kawan anak astronomi yang sedang magang di sana, mungkin bisa meminta tolong. Akan tetapi, bukan jaminan!
Kawasan khusus di tahun 2010.
Sebaiknya, hubungi kantor pengelola terkait sebelum melakukan kunjungan dan memberikan kejelasan tujuan ke sana. Jadi, semua bisa dipersiapkan dan keilmuan pun bertambah. Bahkan siapa tahu bisa mendapat kesempatan menggunakan teropongnya!

No comments:

Post a Comment