Kesempatan ke Afrika Selatan bukanlah sesuatu yang bisa diri lupakan. Tuhan begitu luar biasa untuk membawa diri datang ke benua hitam, Afrika. Yeah!
Salah satu bagian yang luar biasa adalah bertemu dengan anak - anak di sana. Bagaimana tidak, anak - anak itu bisa mewakili wajah dari negaranya. Kesempatan untuk bertemu dengan anak - anak di sana juga lebih luas lagi dibuka dengan diri dapat pergi keliling dengan field trip yang bertema Northern Bushveld. Diri tidak akan membahas bagaimana field tripnya, tetapi lebih kepada bagaimana pengalaman diri bertemu dengan anak - anak selama berpindah tempat di saat field trip.
Anak - anak di Afrika punya permasalahan yang sama halnya dengan Indonesia. Menurut diri, anak - anak kita jauh lebih beruntung secara umum. Diri masih ingat pertama kali tiba di Johannesburg dan diri langsung menuju Sandton. Diri sempat berpikir bahwa Afrika tidak seperti apa yang selalu diberitakan di televisi. Sandton memiliki wajah yang sangat mewah dan luar biasa elite! Menurut salah satu teman di sini, hampir 80% uang di Afrika, benua Afrika berputar di Sandton. Anak - anak yang berkeliaran di sini pun memang tampak jauh lebih terawat dan memiliki banyak kemewahan. Saat diri mengunjungi Mall Sandton City, anak - anak memiliki kesempatan yang luar biasa, dengan kemewahan yang dapat mereka terima dari keluarganya.
| Nelson Mandela square, pemandangan yang berbeda dengan rural area sekitar Johannesburg. |
Namun, hanya 10 km dari Sandton ini, diri langsung melihat hal yang teramat jauh berbeda dengan apa yang diri temui sebelumnya. Anak - anak di sekitar pinggiran Johannesburg, lebih memiliki kehidupan yang biasa atau lebih sederhana. Kebanyakan dari mereka pergi bersama dengan orangtuanya yang juga berpenampilan sederhana.
| Semua berkumpul dan bahagia. Lihat posenya. |
Perbedaan 180 derajat selanjutnya, diri temui saat berada di area kota sekitar Johannesburg, terlebih anak - anak yang hidup di sekitar area tambang. Sebelum area tambang dibuka, kehidupan di sini jauh lebih buruk karena fasilitasnya yang lebih minim. Kehadiran pertambangan Chromite dan PGE, membuka kesempatan bagi para orang tua anak - anak di sini untuk bekerja lebih layak dan setidaknya anak - anak bisa merasakan fasilitas sekolah, air bersih dan lainnya untuk kehidupan yang lebih baik. Meskipun demikian, anak - anak di sini tetap berada pada kondisi yang memprihatinkan dibandingkan dengan mereka yang di pinggiran Johannesburg, apalagi Sandton.
| Rasa penasaran melihat foto mereka sendiri |
Namun, ada satu hal yang diri sangat ingat dari anak - anak di sini saat bertemu mereka langsung. Kesempatan ini diri dapatkan ketika diri dan rombongan mengunjungi outcrop seam Chromite UG 1 dan UG 2. Dengan bahasa Inggris yang terbata - bata, mereka mengucapkan mimpi mereka kepada diri dan rombongan lainnya meskipun baru pertama kali bertemu. Sungguh ada keinginan besar dari mereka untuk menjadi orang lebih baik, dan itulah anak - anak. Kesempatan tidak pernah sama menghampiri mereka, tetapi mereka tetap ceria dan memelihara mimpi itu. Anak - anak perempuan di sana memiliki tanggung jawab lebih untuk menjaga adik bahkan sepupunya yang masih kecil. Mereka menggendong si adik selama mereka mendekati rombongan kami. Tidak ada rasa malu yang ada di antara mereka saat menghampiri, justru rasa penasaran terhadap kami dan apa yang sedang kami lakukan di tempat terpencil seperti itu yang jauh lebih besar. Mereka berusaha mendekat dan mengikuti rombongan. Bahkan sesekali mereka mengucapkan mimpi dan menceritakan diri mereka siapa dan apa yang mereka ingin lakukan di masa mendatang.
| Mereka ingin seperti model. |
Satu hal yang membuat mereka semakin ceria adalah saat melihat kamera. Berbagai fose langsung saja keluar natural sekali. Sepertinya mimpi menjadi model atau berada di majalah sangat menghinggapi mereka. Bahkan saat ditunjukkan foto yang baru saja diambil, ada rasa bahagia, lucu, aneh, tidak percaya yang mereka tunjukkan. Sejauh itukah mereka dengan teknologi? Mungkin!
Anak - anak remaja sebagian sudah memiliki telpon genggam meskipun bukan yang super canggih seperti yang dibawa oleh kebanyakan rombongan dalam perjalanan diri. Mereka berusaha mengambil foto untuk ditunjukkan pada teman - temannya bahwa mereka bertemu orang asing dan ada kebanggaan untuk itu.
Pesan terakhir saat kami akan meninggalkan bus yang sangat menyentuh. Mereka hanya ingin diingat dan sebisa mungkin kami kembali. Mereka juga meminta satu hal pada kami, yaitu makanan atau buku tulis. Diri terhenyu, dengan memelas mereka hanya meminta permen atau makanan kecil lainnya agar mereka dapat menikmatinya. Itu yang terjadi dan akhirnya diri hanya bisa terdiam karenanya. Selain itu, meminta buku tulis itu rasanya tidak wajar, tetapi hikmahnya adalah mereka sangat menikmati sekolah. Salah satu anak bercerita pada diri bahwa dia sudah menjadi juara kelas sejak kelas 3, dan sekarang ia berada di kelas 6. Dia pun dijanjikan akan disekolahkan di kota terdekat yang memiliki fasilitas memadai untuk SMP. Itu sangat dia ingat dan bangga! Anak ini berkata bahwa saya akan disekolahkan di SMP yang bagus di kota terdekat.
| Perempuan itu selalu menawan bukan meskipun masih anak - anak. |
Diri sangat belajar bagaimana anak - anak ini dalam keterbatasannya pun masih bermimpi dan yakin akan mendapatkan mimpinya. Sederhana sekali tetapi seringkali orang dewasa sulit melakukannya.