Tuesday, October 07, 2014

Apa yang dididik pada anak SD di Jepang?

Hasil pengamatan terhadap anak - anak SD di sekitar diri dan observasi bersama emak - emak di sini, banyak hal yang diri baru ketahui tentang apa yang anak - anak pelajari di sini selama sekolah dasar. Para pecinta Jepang dan segala pernak - perniknya pasti menyadari beberapa hal yang diinformasikan pada kita melalui komik atau majalah - majalah di Indonesia persis sama dengan apa yang ada di sini. Beberapa hal yang menarik dari gabungan pengalaman dan pembuktian dari cerita - cerita manga yang ada, diri melihat banyak hal positif tentang anak - anak SD Jepang dalam pendidikannya. 

1) Tas "Randoseru" atau tas nobita.
Tas yang dipakai Nobita dalam serial Doraemon memang seperti apa adanya di Jepang. Anak - anak SD mulai memakainya sejak kelas 1. Pemakaian tas seperti ini adalah kewajiban bagi seluruh siswa di Jepang, dimanapun kotanya. Biasanya tas ini merupakan hadiah dari nenek - kakek kepada para cucunya yang baru masuk SD. Pada musim ajaran baru, sekitar spring semester, kita bisa melihat tas - tas ini dijual dari berbagai merk dan warna di mal - mal dengan harga yang beragam. Harga sebuah tas randoseru di Akita sendiri berkisar 35000 yen hingga 75000 yen per buahnya. Tas ini cukup berat karena rangka dan bahan kulitnya yang sangat baik. Teman - teman kecil diri, Aufa dan Defa memiliki tas ini untuk bersekolah setiap harinya. Hasil obrolan dan searching di internet juga, diri dapat informasi bahwa tas ini didesain untuk membentuk postur tubuh anak - anak yang membawa karena bentuknya yang punya rangka massif dan rata sehingga baik untuk tubuh. Selain itu, tas ini juga didesain untuk melindungi para siswa SD jika terjadi kecelakaan. Maklum, anak - anak SD di sini tidak pernah diantar jemput oleh orang tuanya. Dilarang! Penggunaan tas yang hanya dilakukan oleh anak SD, menjadikan tas Nobita ini sebagai salah satu indentitas yang sangat jelas untuk anak - anak SD saat dalam perjalanan. Pertama, setiap hari anak - anak SD di Jepang dididik untuk memiliki postur tubuh yang baik dan menggunakan sesuatu untuk jangka waktu yang lama atau hemat!
caption gambar dari amaliaakusuma.blogspot.com
2) Tidak ada antar jemput sekolah
Salah satu kebijakan di Jepang, setiap anak - anak yang akan sekolah harus mendaftarkan diri pada sekolah yang terdekat dengan rumahnya atau masih dalam 1 area dengan sekolahnya. Seingat diri, jarak maksimal sekolah dan rumah sekitar 5 km. Beda sedikit saja, anak tersebut harus masuk ke sekolah di daerah yang berbeda. Ada satu cerita dari salah satu emak di sini, di mana anaknya bisa masuk di sekolah A, sedangkan tetangga depan rumahnya tidak bisa masuk di sekolah yang sama karena beda beberapa meter saja. Jadilah si anak harus masuk ke sekolah B. Tapi itu lah Jepang. Mengapa ini diberlakukan? Seperti judulnya, karena sejak kelas 1 SD, anak - anak tidak diperkenankan untuk diantar jemput sekolah seperti yang dilakukan di Indonesia. Anak - anak harus berangkat sendiri ke sekolahnya berjalan kaki pada musim apapun dengan membawa seluruh barang kebutuhan sekolahnya, seperti tas randoseru, bento (jika ada halangan dengan makanan di sekolah) ataupun pakaian ganti olahraga mereka. Para anak - anak ini pergi sekolah biasanya berbarengan dengan teman - teman lainnya dan berjalan kaki ke sekolah sekitar pukul 07.30 pagi. Kedua, setiap hari anak - anak SD juga dididik untuk mandiri dalam mengatur dirinya dan pulang pergi sendiri. Amankah? Ya! Pasti, mereka melakukan sendiri saat menyebrang, berjalan pada area yang telah ditentukan dan mengikuti rute yang sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh sekolah untuk pulang perginya. 

Anak - anak SD saat berangkat sekolah
to be continued...