Monday, October 20, 2014

Mengapa Indonesia sih?

Bagaimana juga, Indonesia itu sangat bisa untuk dirindukan. Selalu ada banyak hal dan perasaan yang tertinggal jelas dalam memori. Diri merasakan demikian, terlebih saat tinggal berada di Jepang. Menonton film dengan setting Indonesia yang beragam baik film layar lebar maupun FTV menjadi hiburan tersendiri buat diri. 

Indonesia yang sekarang semakin terekspor lebih banyak lagi membuat diri sangat terbantu dalam mengatasi rindunya kekayaan alam negara ini. Luar biasa! Apa sih yang menjadikan Indonesia itu layak selalu dikangenin? Menurut diri, ini beberapa hal yang suka dikangenin.

Pertama, panorama alamnya mulai dari desa, pegunungan, laut sampai kebudayaannya. Luar biasa! Diri sangat bisa mengingatnya melalui petualangan diri sewaktu sebelum diri sakit. Terlebih sekarang diri bisa mengalaminya langsung dengan menonton banyak film – film lokal yang banyak mengekspos Indonesia itu sendiri. FTV misalnya, meski dihujat karena ceritanya yang tampak sangat mudah ditebak, tetapi setting yang diambil di beragam kota memberikan pengalaman tersendiri untuk diri nikmati dari Jepang. Sedikit freak, namun ini menyenangkan. Diri sangat suka setting FTV di Bromo atau tempat eksotis lain yang jarang terekpos sebagai tempat liburan. Beberapa film lokal seperti Arisan 2 yang menyajikan keindahan Lombok dan hikmatnya Waisak juga sangat menyenangkan buat diri. 
livingdaisy.blogspot.com captured for Arisan 2 in Waisak celebration scene.
Kedua, makanan! Siapapun pasti setuju bahwa makanan menjadi bagian yang terpisahkan dari rasa kangen terhadap Indonesia. Indomie biasanya menjadi jawaban standard saat kangen makanan Indonesia. Akan tetapi, rasa kangen indomie sudah lebih mudah terobati karena ekspor yang dilakukan. Di Akita pun, Indomie mudah ditemukan loh! Buat diri banyak makanan lain yang buat diri kangen sekali. Makanan tradisional seperti pepes singkong, putu ayu, kelepon, es kelapa muda dan jajanan tradisional lainnya yang menjadi makanan terfavorit penyebab kangen Indonesia. Dalam hal ini, film tidak bisa menjadi pengobat untuk diri. Mau tidak mau, menunggu pulang yang menjadi solusi. Jika beruntung, ibu – ibu yang memasak makanan tradisional bisa menjadi pelepas rindu juga, tetapi jumlahnya terbatas sekali. Hehehee..

Ketiga, ramenya Indonesia itu jadi penyebab kangen lainnya. Tinggal di sini memiliki atmosfer yang sangat jauh dibandingkan Indonesia, khususnya Bandung dan Jakarta. Terkadang keramaian di kota – kota besar Indonesia memberikan kangen tersendiri meskipun bukan untuk ditinggali dalam waktu yang lama. Ketidakteraturan itu seringkali memberikan feel yang berbeda dan terkadang memberikan kenikmatan tersendiri. Ramenya Indonesia itu teramat unik. Well, kekayaan manusia Indonesia yang membuat ramenya memberikan kangen sesekali.
Ini Jakarta!
Keempat, manusia Indonesia. Kekayaan karakter di Indonesia sungguh memberikan rasa kangen yang luar biasa. Bagi yang mungkin setiap hari di Indonesia atau di tempat yang sama, merasakan itu biasa saja. Akan tetapi, coba saja saat kita terpisah jarak dengan semuanya. Manusia – manusia dengan karakter yang indah dan unik memberikan kebahagiaan tersendiri dan kangennya luar biasa. Di sini diri lebih banyak berinteraksi dengan warga asing. Jumlah orang Indonesia yang sangat bisa dihitung jari pada 1 tangan saja, membuat diri sangat banyak menghabiskan waktu dengan warga negara asing lainnya selama beberapa tahun belakangan ini. Sungguh berbeda rasanya kekayaan karakternya. Bukan berarti tidak bisa beradaptasi dengan budaya lain dari negara lain, tetapi ada keunikan “khas” Indonesia yang tak bisa digantikan. 
Salah satu wajah Indonesia.
Kelima, memori menjadi bagian tak terpisahkan. Meskipun diri tidak akan tinggal lama, tetapi dibesarkan di Indonesia pasti akan selalu membawa banyak memori berbagai macam kemana pun. Itu selalu membuat rindu Indonesia. Tidak selamanya nasionalis itu diukur dengan selalu berada di Indonesia, tetapi bagaimana juga itu semua terkait dengan hati kita. Then this is what nationalism is. I think!
Salah satu yang terbaik ada.
Indonesia itu indah bukan terbatas pada kekayaan alamnya saja, tetapi seluruh yang ada padanya. Ibarat cinta kata muda, menerima seluruhnya dan apa adanya, bukan? Ini hanya padangan subjektif terbatas pada pengalaman anak muda yang masih memiliki emosi bergejolak, meluap tentang banyak hal. That’s what love is.