Wednesday, October 08, 2014

Apalagi yang berbeda dengan anak SD di Jepang?

Seperti postingan sebelumnya tentang pendidikan SD di Jepang, berikut ini beberapa hal lain yang anak - anak SD dapatkan selama pendidikn dasar 6 tahun mereka. 

3) Seragam bebas
Anak - anak SD di Jepang masih memiliki kebebasan untuk menggunakan pakaian kasual yang diatur sendiri dari rumah. Beberapa sekolah di daerah tertentu memiliki seragam khusus. Selama 6 tahun pendidikan dasar, anak - anak menggunakan pakaian yang mereka sukai dan tentunya disesuaikan dengan suhu, serta norma yang ada. Pada umumnya, anak - anak juga tidak memiliki selera yang aneh dalam berpakaian untuk ke sekolah, apapun latar belakang keluarganya. Pada musim panas, mereka cenderung untuk menggunakan celana pendek dan kaos, hanya pada kondisi suhu yang lebih tinggi seperti pada musim gugur atau musim dingin, mereka akan menggunakan jaket tambahan dan boots anti airnya. Pakaian anak - anak disesuaikan dengan kegiatan mereka dan tidak menjadikan mereka tidak bebas bergerak. Jangan kaget untuk melihat anak - anak menggunakan celana super pendek dan legging saat sekolah. Tujuannya bukan untuk gaya, tetapi legging yang digunakan sebagai pakaian hangat. Pada beberapa tempat di Jepang, seragam seperti topi juga disesuaikan dengan kondisi geologinya, seperti di sekitar gunung api Sakurajima, Kyushu. Anak - anak sekolah di sini menggunakan topi yang sebenarnya adalah helm safety untuk melindungi mereka dari kejatuhan kerikil yang secara berkala dimuntahkan oleh gunung api aktif tersebut. Jadi, pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kenyamanan gerak dan fisik pada generasi muda mereka.
Anak - anak SD di Sakurajima
4) Pelajaran bahasa Inggris
Beberapa postingan sebelumnya dalam blog ini, diri sudah menginformasikan bagaimana mereka belajar bahasa lain selain bahasa Jepang. Pendidikan bahasa Jepang telah diberikan sejak SD kelas 1 secara bertahap. Bahasa Inggris menjadi satu - satunya bahasa asing yang diajarkan di pendidikan formal Jepang. Porsi belajar bahasa Inggris bisa dikatakan hanya sebagai mata pelajaran tambahan saja di sekolah. Pada umumnya, bahasa Inggris hanya diajarkan 1 - 2 jam seminggu oleh guru yang telah ditunjuk. Di beberapa sekolah, guru bahasa Inggris yang mengajar adalah orang asing atau native english. Akan tetapi, kombinasi sifat pemalu siswanya dan keinginan belajar yang juga seringkali tidak tinggi, membuat bahasa Inggris memang menjadi kelas tambahan saja di Jepang. Anak - anak tidak diwajibkan sama sekali untuk mengerti atau bisa. Model pendidikan bahasa Inggris yang diberikan cenderung pasif, yaitu dimana guru meminta membaca dan menulis saja, Akibatnya, kemampuan percakapan anak - anak Jepang seringkali terhambat. Ketidakmampuan ini tidak menjadi masalah untuk mereka karena berbagai hal di Jepang baik buku sekolah dan bacaan lainnya sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang. 

5) Jam pelajaran dan buku sekolah
Jam pelajaran SD di Jepang bisa dikatakan hampir sama dengan Indonesia. Mereka memulai hari dari pukul 08.30 hingga menjelang pukul 15.00 setiap senin hingga jumat. Pelajaran yang diajarkan pun di SD tidak seberat apa jika dibandingkan dengan Indonesia untuk kelas yang sama. Anak - anak kelas 1 misalnya bertahap hanya belajar mencari perbedaan antara 2 gambar yang terlihat sama sebagai salah satu materi semester awal. Seingat diri, di Indonesia, semester awal saja, diri sudah harus belajar tambah, kurang dan perkalian. Mungkin sebenarnya tujuannya sama, hanya saja cara penyampaiannya yang lebih bertahap dan interaktif untuk siswanya. 
Buku - buku pelajaran mereka dibuat dalam bahasa yang sesederhana mungkin dan penuh dengan ilustrasi. Perbandingan tulisan dan gambar bisa dikatakan 20% tulisan dan 80% gambar ilustrasi. Sebagai contoh, buku pengetahuan alam siswa kelas 3, lebih banyak disampaikan dalam bentuk gambar yang interaktif untuk tiap tahapan pekerjaan sebuah percobaan dibandingkan tulisan. Hal ini sangat mempermudah anak - anak untuk mengikuti tahap demi tahap pekerjaan praktikum sederhana yang ada.

6) Usia sekolah
Di Jepang, sistem sekolah lebih awal atau lebih muda tidak dikenal. Setiap anak harus masuk sekolah pada usia yang sudah ditentukan, misalnya SD minimal 5 tahun pas, tidak boleh kurang bulan. Hal ini bahkan untuk masuk TK sekalipun berlaku. Sekolah PAUD di Jepang ada beberapa macam dan penerimaan umurnya pun disesuaikan seperti di Indonesia. Di kelas regular sekolah dasarnya pun, Jepang tidak mengenal sistem akselerasi. Berdasarkan buku yang diri baca, sistem sosial Jepang yang sudah terbangun sejak dulu mendorong segala sesuatu di Jepang diatur berdasarkan umur atau senioritas untuk mengendalikan kondisi sosial. Oleh karena itu, menurut diri, hal ini sudah ditanamkan kepada penduduk muda Jepang sejak mereka mulai masuk pada sistem sosial seperti sekolah. Hal ini juga berlaku untuk penduduk asing yang datang ke Jepang, seperti keluarga mahasiswa misalnya. Anak - anak yang masuk ke sekolah SD ataupun SMP dan SMA, harus mengikuti usia sekolah mereka di Jepang. Seperti contoh adalah anak teman diri dulu, di Indonesia sebelumnya anak pertamanya sudah bersekolah di kelas 4 dan berusia 7 tahun, lalu setiba di Jepang, anak ini harus turun ke kelas 2 karena masih berusia 7 tahun. Secara psikologis, model usia seperti ini juga memiliki pengaruh pada pertumbuhan mentalitas anak. Ini bukan berarti mereka yang sekolah di usia lebih muda tidak sanggup, tetapi akan lebih baik anak - anak bersekolah di kelas yang sesuai dengan umurnya agar mentalitas dapat tumbuh bertahap dan pada lingkungan yang tepat pula. Akan tetapi, banyak hal menjadi pengecualian pastinya.

Ada banyak hal lain yang juga menjadi sedikit berbeda antara anak - anak SD di Jepang dan Indonesia. Diri tidak mengatakan sistem ini baik atau buruk karena pada dasarnya semua sistem memiliki kelebihan dan kekurangan. Itulah yang berusaha diperbaiki terus menerus oleh pemerintah negara Indonesia juga. 

Salah atau tidak pendidikan itu, bisa kita lihat saja dengan produk di masa depan. Setidaknya diri juga adalah produk kurikulum lama di Indonesia, dengan kurang lebih yang ada, terbukti diri masih bisa mengikuti kelas di negara lain. Begitu juga jutaan mahasiswa lainnya yang sekarang sedang menerima beasiswa di negara manapun dalam mengikuti program sekolahnya masing - masing. Pada dasarnya, manusia itu mampu. Pola pikir dijadikan robot atau tidak, itu sangat terkait dengan bagaimana kita mengatur waktu dan berdisiplin di dalamnya.