Resi
adalah anak yang tidak pernah tersenyum dan selalu berpikiran negatif. Dia
selalu berpikir bahwa hidupnya sulit dan tidak bahagia. Sifat selalu
menyalahkan Resi sangat membuat ia tidak memiliki seorang teman. Ayah dan
ibunya bahkan selalu dianggap Resi tidak memiliki kesempatan untuk
membahagiakannya. Apapun yang diberikan oleh orangtuanya adalah bukan yang ia
inginkan dan salah. Bagi Resi, apa yang dimiliki orang lain lebih baik daripada
yang dimilikinya meskipun barang tersebut lebih bagus. Rasa iri hati Resi
menjadikan dia seorang bocah perempuan yang sangat pemurung. Hingga suatu
waktu, saat tertidur ia bermimpi bertemu dengan seorang ayah yang sangat
lembut. Ayah tersebut bersama anak – anak lain seusia dia yang tengah bermain.
Resi melihat semua anak memakai pakaian yang sangat indah dan mainan – mainan
yang bagus. Ia sangat ingin melihatnya dan langsung mengingininya. Seorang anak
dalam kelompok ini menyadari kehadiran Resi yang sedang mengamati mereka
bermain. Anak ini pun menghampiri Resi dan dengan wajah bersinar dan senyum, ia
bertanya pada Resi, “Kamu sedang apa di sini? Kami hanya menerima anak – anak
suka tersenyum.”
“Aku
ingin ikut main dan mau pakaian itu juga.”, kata Resi dengan muka yang tetap
cemberut.
“Tidak
boleh, kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, balas anak
tersebut.
“Buat
apa aku tersenyum? Aku hanya mau mainan dan pakaiannya, itu bagus sekali, aku
tidak punya.”, jawab Resi.
“Tidak
boleh, kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, balas anak
tersebut lagi.
“Aku
mau baju dan mainannya. Kalian tidak perlu punya itu.”, teriak Resi.
“Mengapa
kamu berteriak? Kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”,
jawab anak ini dengan senyumannya.
“Aku
mau mainan itu!”, teriak Resi yang kali ini membuat Sang Ayah melihat dan
menghampiri keduanya. Melihat Sang Ayah datang, si anak berlari memelukNya dan
pergi berkumpul bersama dengan anak – anak lain meninggalkan Resi. Sang Ayah
dengan lembut menghampiri Resi yang penuh kemarahan dan kebencian.
“Mengapa
Resi marah?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Loh,
om tahu darimana nama Resi. Resi tidak bilang ke anak tadi nama Resi.”, jawab
Resi yang mulai bingung.
“Siapa
yang tidak kenal dengan Resi, anak gadis pemarah yang tidak pernah tersenyum?”,
jawab Sang Ayah dengan lembut memandang Resi.
“Resi,
bukan anak pemarah. Resi tidak suka tersenyum.”, kilah Resi setengah berteriak.
“Itu
Resi berteriak lagi, hati Resi penuh dengan kemarahan. Apa yang membuat Resi
marah?”, tanya Sang Ayah.
“Resi
mau mainan dan baju itu! Itu bagus, Resi mau!”, jawab Resi lagi.
“Resi,
mau baju dan mainannya?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Iya,
mau.”, Resi melunak.
“Ayo,
kita lihat di buku ini ya. Kita cari nama Resi ada atau tidak?”, ujar Sang Ayah
sembari mengeluarkan sebuah buku indah dengan pita yang terbuat dari emas.
“Pasti
ada.” Resi berujar santainya.
“Resi,
tidak ada namamu di sini. Maaf Resi, baju dan mainannya berarti tidak ada untuk
Resi.”, kata Sang Ayah lembut.
“Loh,
kenapa tidak ada? Harusnya nama Resi ada di situ! Sini bukunya.”, Resi
berteriak dan mengambil buku tersebut dari Sang Ayah. Sang Ayah pun membiarkan
Resi mencari namanya dalam buku cantik tersebut.
Hampir
seharian Sang Ayah sabar menunggu Resi mencari namanya hingga Resi mulai
kelelahan dan menyerah.
“Mengapa
nama Resi tidak ada?” tanya Resi hampir menangis.
Sang
Ayah pun memeluk Resi yang menangis. “Resi, pernahkah Resi tahu kalau baju dan
maianan itu punya Resi sudah habis diberikan kepada anak – anak lain?”, tanya
Sang Ayah lembut Resi pun menghapus air matanya dan bertanya bingung “Mengapa
dikasih ke anak – anak lain? Itu kan punya Resi.”
“Resi,
ketika Resi mengingini punya anak – anak lain, maka apa yang Resi miliki di
sini. Harus diberikan kepada mereka sebagai gantinya agar adil. Setiap senyum
yang hilang dari Resi juga diganti dengan mainan dan baju Resi di sini.”, kata
Sang Ayah.
Resi
mengingat apa yang selama ini yang ia lakukan. Kebiasaannya iri hati dan tidak
bersyukur terhadap apa yang sudah diberikan selama ini membuat dia kehilangan yang
jauh lebih bagus dan sangat indah. Resi menangis kembali.
“Tapi
Resi mau mainan dan baju itu.”
“Resi,
bisa punya itu lagi selama Resi mau dengar – dengaran dan belajar bersyukur
dengan apa yang Resi miliki.”, ujar Sang Ayah lembut pada Resi yang duduk di
pangkuanNya.
“Resi
bisa punya itu lagi nanti?”, tanya Resi lebih semangat.
“Iya,
Resi. Resi mau tersenyum juga?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Resi
mau!”, tawa Resi dengan riang untuk pertama kalinya keluar dengan alami.
“Pakaian
dan mainannya akan disimpankan untuk Resi.”, kata Sang Ayah.
“Terima
kasih, Om.”, ujar Resi yang sangat bahagia.
“Sama-sama,
Resi.”, jawab Sang Ayah dengan senyum.
Resi
pun kegirangan dan bahagia sekali karena ia tahu akan segera memiliki baju dan
mainan yang sangat indah yang diingininya itu. Ia berjanji untuk mau dengar –
dengaran dan bersyukur atas apa yang ia miliki.
“Om
siapa ya tapi?”, tanya Resi.
“Saya
Tuhan Yesus, Resi.”, jawab lembut Sang Ayah.