Friday, September 05, 2014

Senyum Resi

Resi adalah anak yang tidak pernah tersenyum dan selalu berpikiran negatif. Dia selalu berpikir bahwa hidupnya sulit dan tidak bahagia. Sifat selalu menyalahkan Resi sangat membuat ia tidak memiliki seorang teman. Ayah dan ibunya bahkan selalu dianggap Resi tidak memiliki kesempatan untuk membahagiakannya. Apapun yang diberikan oleh orangtuanya adalah bukan yang ia inginkan dan salah. Bagi Resi, apa yang dimiliki orang lain lebih baik daripada yang dimilikinya meskipun barang tersebut lebih bagus. Rasa iri hati Resi menjadikan dia seorang bocah perempuan yang sangat pemurung. Hingga suatu waktu, saat tertidur ia bermimpi bertemu dengan seorang ayah yang sangat lembut. Ayah tersebut bersama anak – anak lain seusia dia yang tengah bermain. Resi melihat semua anak memakai pakaian yang sangat indah dan mainan – mainan yang bagus. Ia sangat ingin melihatnya dan langsung mengingininya. Seorang anak dalam kelompok ini menyadari kehadiran Resi yang sedang mengamati mereka bermain. Anak ini pun menghampiri Resi dan dengan wajah bersinar dan senyum, ia bertanya pada Resi, “Kamu sedang apa di sini? Kami hanya menerima anak – anak suka tersenyum.”
“Aku ingin ikut main dan mau pakaian itu juga.”, kata Resi dengan muka yang tetap cemberut.
“Tidak boleh, kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, balas anak tersebut.
“Buat apa aku tersenyum? Aku hanya mau mainan dan pakaiannya, itu bagus sekali, aku tidak punya.”, jawab Resi.
“Tidak boleh, kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, balas anak tersebut lagi.
“Aku mau baju dan mainannya. Kalian tidak perlu punya itu.”, teriak Resi.
“Mengapa kamu berteriak? Kami hanya bermain dengan anak – anak yang suka tersenyum.”, jawab anak ini dengan senyumannya.
“Aku mau mainan itu!”, teriak Resi yang kali ini membuat Sang Ayah melihat dan menghampiri keduanya. Melihat Sang Ayah datang, si anak berlari memelukNya dan pergi berkumpul bersama dengan anak – anak lain meninggalkan Resi. Sang Ayah dengan lembut menghampiri Resi yang penuh kemarahan dan kebencian.
“Mengapa Resi marah?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Loh, om tahu darimana nama Resi. Resi tidak bilang ke anak tadi nama Resi.”, jawab Resi yang mulai bingung.
“Siapa yang tidak kenal dengan Resi, anak gadis pemarah yang tidak pernah tersenyum?”, jawab Sang Ayah dengan lembut memandang Resi.
“Resi, bukan anak pemarah. Resi tidak suka tersenyum.”, kilah Resi setengah berteriak.
“Itu Resi berteriak lagi, hati Resi penuh dengan kemarahan. Apa yang membuat Resi marah?”, tanya Sang Ayah.
“Resi mau mainan dan baju itu! Itu bagus, Resi mau!”, jawab Resi lagi.
“Resi, mau baju dan mainannya?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Iya, mau.”, Resi melunak.
“Ayo, kita lihat di buku ini ya. Kita cari nama Resi ada atau tidak?”, ujar Sang Ayah sembari mengeluarkan sebuah buku indah dengan pita yang terbuat dari emas.
“Pasti ada.” Resi berujar santainya.
“Resi, tidak ada namamu di sini. Maaf Resi, baju dan mainannya berarti tidak ada untuk Resi.”, kata Sang Ayah lembut.
“Loh, kenapa tidak ada? Harusnya nama Resi ada di situ! Sini bukunya.”, Resi berteriak dan mengambil buku tersebut dari Sang Ayah. Sang Ayah pun membiarkan Resi mencari namanya dalam buku cantik tersebut.
Hampir seharian Sang Ayah sabar menunggu Resi mencari namanya hingga Resi mulai kelelahan dan menyerah.
“Mengapa nama Resi tidak ada?” tanya Resi hampir menangis.
Sang Ayah pun memeluk Resi yang menangis. “Resi, pernahkah Resi tahu kalau baju dan maianan itu punya Resi sudah habis diberikan kepada anak – anak lain?”, tanya Sang Ayah lembut Resi pun menghapus air matanya dan bertanya bingung “Mengapa dikasih ke anak – anak lain? Itu kan punya Resi.”
“Resi, ketika Resi mengingini punya anak – anak lain, maka apa yang Resi miliki di sini. Harus diberikan kepada mereka sebagai gantinya agar adil. Setiap senyum yang hilang dari Resi juga diganti dengan mainan dan baju Resi di sini.”, kata Sang Ayah.
Resi mengingat apa yang selama ini yang ia lakukan. Kebiasaannya iri hati dan tidak bersyukur terhadap apa yang sudah diberikan selama ini membuat dia kehilangan yang jauh lebih bagus dan sangat indah. Resi menangis kembali.
“Tapi Resi mau mainan dan baju itu.”
“Resi, bisa punya itu lagi selama Resi mau dengar – dengaran dan belajar bersyukur dengan apa yang Resi miliki.”, ujar Sang Ayah lembut pada Resi yang duduk di pangkuanNya.
“Resi bisa punya itu lagi nanti?”, tanya Resi lebih semangat.
“Iya, Resi. Resi mau tersenyum juga?”, tanya Sang Ayah lembut.
“Resi mau!”, tawa Resi dengan riang untuk pertama kalinya keluar dengan alami.
“Pakaian dan mainannya akan disimpankan untuk Resi.”, kata Sang Ayah.
“Terima kasih, Om.”, ujar Resi yang sangat bahagia.
“Sama-sama, Resi.”, jawab Sang Ayah dengan senyum.
Resi pun kegirangan dan bahagia sekali karena ia tahu akan segera memiliki baju dan mainan yang sangat indah yang diingininya itu. Ia berjanji untuk mau dengar – dengaran dan bersyukur atas apa yang ia miliki.
“Om siapa ya tapi?”, tanya Resi.

“Saya Tuhan Yesus, Resi.”, jawab lembut Sang Ayah.