Friday, September 05, 2014

Ana yang Menari

Ana adalah seorang anak petani miskin di Desa Meriah. Ia, anak yang rajin sekali membantu ayah dan ibunya. Setiap pagi, Ana berjalan kaki selama 1 jam menuju SD Terang Pagi. Sekolah ini adalah satu – satunya sekolah terdekat yang dapat Ana jangkau. Ketika sampai di sekolah, ia bergegas menuju ruang kelas 5, tempat ia menuntut ilmu. Meskipun seorang anak petani, Ana selalu mendapatkan nilai yang bagus di kelasnya. Ibu Ida, wali kelasnya selalu bertanya kepada Ana apa yang dapat terus memacu semangatnya belajar di tengah kekurangan yang ia miliki. Ana selalu menjawab dengan riangnya, “Tuhan Yesus selalu baik dengan Ana, Bu. Jadi, Ana mau kasih hasil yang terbaik juga.” Ana selalu jaid anak yang ceria di kelasnya dan dimanapun ia berada. Ketika jam istirahat, rasa lapar pun ia ganti dengan bernyanyi memuji Tuhan. Uangnya tidak cukup jika harus dibelikan jajanan di pagi hari dan makan siang sebelum pelajaran tambahan. Hanya saja terkadang beberapa temannya selalu memberi makanan pada Ana karena terdorong melihat keceriaan Ana di tengah kesulitan. Salah satunya adalah Rena. Rena sangat menyayangi Ana karena kejujuran hati dan kesederhanaan hatinya.

Namun dibalik keceriaan dan semangat, tidak ada yang pernah menyadari bahwa Ana memiliki sakit yang parah. Rasa sakitnya membuat Ana seringkali kehilangan keseimbangan saat bekerja dan berjalan akhir – akhir ini. Ana membutuhkan waktu 2 jam untuk sekali pulang atau pergi ke sekolah karena kakinya yang seringkali lemas tiba – tiba. Ana tetap tersenyum dan bersyukur. Dalam tawa dan senyumnya, Ia percaya bahwa kakinya sedang dikuatkan oleh Tuhan Yesus. Setiap hari, Ana hanya bernyanyi memuji Tuhan Yesus saat ia sedang terjatuh hingga dapat kembali berdiri untuk meneruskan pejalanannya. 

Hingga suatu malam, sebelum tidur, Ana terjatuh saat akan membereskan makan malam bersama ibunya. Sang ibu kaget dan ayahnya langsung mengangkat Ana. Saat itulah, orang tua Ana baru mengetahui jika selama ini Ana sudah mengalami hal yang sama berulang kali. Ana selalu mengatakan bahwa ia butuh waktu lebih lama untuk ke sekolah karena ingin menikmati hari – harinya yang indah. Ayah Ana hanya bisa menangis melihat putri kecilnya karena tidak mampu untuk membawa Ana ke dokter yang jarkanya saja 1 hari perjalanan. Ana dengan senyumannya dalam pelukan ibunya mengajak ayah dan ibunya berdoa.

“Ayah, ibu jangan sedih. ayo temani Ana berdoa kepada Tuhan Yesus.”, kata Ana dengan senyumnya. 
Lalu dengan tangan terlipat dan iman pasrah pada Tuhan Yesus, mereka berdoa bersama. Doa sederhana dari seorang anak kecil yang sangat percaya, sangat indah. “Tuhan Yesus, Ana terjatuh lagi karena kakinya masih belum kuat lagi. Ayah dan ibu Ana sedih ya Tuhan. Kami sekarang sekeluarga berdoa, percaya kalau Tuhan Yesus akan mengangkat Ana dan Ana akan berjalan dengan kuat lagi. Ana rindu menari selalu untuk Tuhan Yesus. Amin.”Ana pun berdiri kembali dan ia tidak pernah terjatuh lagi. Sakitnya hilang dan sembuh sepenuhnya. Seperti dalam doanya, Ana pun menari untuk Tuhan Yesus. Kini ia melayani Tuhan di gerejanya sebagai penari cilik. Kata Ana selalu, “Tuhan Yesus sudah kuatkan kaki Ana untuk menari bagiNya. Ana bahagia dipilih Tuhan.” setiap ditanya oleh teman – teman grup menarinya di gereja.