Saturday, August 17, 2013

Indonesia: Bagaimana Bahasa Indonesia kita?

Selamat ulang tahun Indonesia! Selamat untuk kemerdekaan atas penjajahan fisik 68 tahun lalu. Bagaimana kabarmu Indonesia hari ini? 

Dalam esai ini, diri ingin bicara tentang bahasa Indonesia. Esai ini terinspirasi dari perbincangan dengan adik diri yang sedang berkutat resah dengan pelajaran bahasa Indonesia di kelas XII. Adik diri sedikit merasa khawatir dengan pelajaran EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Menurut diri, ketakutan ini sangat wajar. Mengapa? EYD bukanlah hal yang umum dibicarakan dalam pergaulan pelajaran siswa bahkan mahasiswa. Diri yakin ketika menanyakan EYD pasti semua akan menjawab "Mau masuk sastra Indonesia?" atau "Buat apa belajar EYD?" dan sebagainya. Jadi, apakah benar belajar EYD itu tidak ada gunanya? 

Menurut diri, jawaban yang tepat adalah SANGAT BERGUNA! Meskipun dalam esai ini, diri tidak menggunakan EYD dengan baik dan benar. Mohon maaf sebelumnya. 

EYD merupakan salah satu jiwa dari Bahasa Indonesia. Seluruh tulisan dalam Bahasa Indonesia seharusnya berdasarkan pada tata bahasa yang tertuang di dalam EYD. Kita dapat mengenali kata baku, peletakkan tanda baca, huruf kapital dan sebagainya. Selama ini, terutama di media sosial, kita menggunakan seenaknya tata bahasa yang digunakan. Terkadang bahkan kita tidak tahu dimana seharusnya meletakkan tanda baca hingga singkatan. Akan tetapi, sesuatu yang penting seperti ini menjadi objek lupa atu objek keluhan kita. Diri ingat sekali, ujian pertama mengenai EYD, lebih dari 90% mendapatkan nilai 0, sisanya mendapat nilai minus. Luar biasa! Anak SMA yang sebentar lagi mau lulus, tetapi tidak paham dengan penggunaan EYD. Miris? Seharusnya! Bagaimana dengan mahasiswa? Diri pernah membaca tata bahasa skripsi mahasiswa beberapa pendahulu diri dan banyak juga yang tidak sesuai dengan EYD! Hal yang lebih miris adalah masih ada pendidik yang tidak memahami EYD. Bahasa itu bukan untuk terlihat cantik semata saat dibaca, tetapi harus mengandung keteraturan karena dia mengantarkan pesan kepada pembaca. 

Tulisan ini sebenarnya ingin membawa refleksi tentang Bahasa Indonesia. Seberapa kenal kita dengan bahasa kita? Kita mungkin bicara Bahasa Indonesia, tetapi apakah dengan cara yang baik dan benar? Selain ketidakteraturan kita dalam menggunakan Bahasa Indonesia, keingintahuan tentang bahasa untuk itu juga berada dalam tingkatan minimal. Seberapa banyak dari kita ingin belajar atau katakanlah ikhlas dalam belajar EYD? Keingintahuan terhadap bahasa ini seolah terkubur dengan bergeraknya zaman. Terkadang mungkin pernah mendengar lebih banyak anak bangsa ini lebih fasih berbahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia. Terbukti dalam ujian nasional, nilai rata - rata pelajara Bahasa Indonesia cenderung lebih rendah dibandingkan Bahasa Inggris. Bagaimana bisa? Siapakah kita?

Selain keingintahuan terhadap EYD yang jauh terjatuh, semangat menggunakan Bahasa Indonesia pun jatuh ke dasar jurang terdalam. Berapa banyak dari kita yang berbicara dengan bahasa ini? Generasi kita cenderung berbahasa gaul atau bahasa daerah ketika berbicara dengan saudara sebangsanya. Plesetan dari Bahasa Indonesia jauh lebih banyak jumlah penuturnya dibandingkan dengan mereka yang fasih Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bukan tidak mendukung menggunakan bahasa daerah, tetapi apakah setiap waktu menggunakan bahasa daerah menjadi tameng untuk melupakan bahasa sendiri. Kita memang kaya dengan bahasa daerah, hampir 700 jenis bahasa kita miliki, tetapi jangan jadikan itu alasan untuk kita tidak tertarik dengan bahasa pemersatu ini.

Ketidakingintahuan akan Bahasa Indonesia menunjukkan betapa bangsa ini terus menjajah dirinya sendiri. Selama ini seolah berlindung dibalik kita yang dijajah dalam bentuk fisik maupun mental, tetapi sebenarnya penjajah itu juga ada di dalam bangsa ini! Menurut diri, mereka yang mengeluhkan Bahasa Indonesia adalah calon penjajah negaranya! Lebih baik mengumpulkan semangat untuk mempelajarinya bukan mengeluhkannya. Mereka yang mau berjuang untuk bangsanya sudah memberikan kontribusi dalam bentuk yang berbeda. Kita tidak harus menjadi seorang penemu atau bahkan seorang presiden sekalipun untuk berkontribusi kepada bangsa ini. Akan tetapi, dengan mau belajar Bahasa Indonesia tanpa mengeluhkannya, kita sudah berkontribusi bagi bangsa ini. Jangan pernah merasa tidak gaul ketika berbicara Bahasa Indonesia! Ini juga seringkali menjadi kendala. Permasalahan gaul ini tidak terbatas pada lingkungan antar negara, tetapi bahkan di dalam suku sendiri. Seringkali mereka yang tidak fasih berbahasa daerah justru dikatakan sebagai tidak gaul atau tidak perhatian! Atas dasar apa mengatakan mereka yang tidak berkomunikasi dengan bahasa daerah sebagai bentuk ketidakgaulan. Bahasa daerah memang penguat kedaerahan kita, tetapi bukan (sekali lagi) menjadi ajang untuk menghina atau tolok ukur tingkat keIndonesiaan atau kedaerahan kita. Kita ini bangsa Indonesia, bukan bangsa berdasarkan suku. Ini sudah diproklamirkan sejak 28 Oktober 1928, bahkan sebelum Indonesia merasa merdeka secara fisik dari penjajahan.

Segala sesuatu harus ditempatkan pada pada porsinya. Kita tidak punya hak menghakimi, tetapi hanya berhak mengingatkan. Jangan sampai negeri indah ini akhirnya diklaim oleh bangsa lain sebagai bagian dari budayanya. Rasa cinta bukannya akan menimbulkan kebiasaan yang akhirnya tumbuh menjadi budaya yang diresapi dengan hati. Marilah menjadi Indonesia yang santun, seperti para pemuda dan pejuang kemerdekaan bangsa ini. Tuturkan Bahasa Indonesia!