Saturday, August 17, 2013

Hadiah 68 Tahun Indonesiaku!

Selamat ulang tahun Indonesiaku sekali lagi!
Selamat bertambah tua.
Selamat menempuh usia baru dalam ikatan yang masih lama.

Diri ingin memberikan hadiah kepadamu, Indonesiaku. Surat kecil ini tampak tidak akan berarti bagimu (mungkin), tetapi diri sangat ingin bicara padamu melalui kata - kata yang diri telah rangkai. Seluruhnya berasal dari jeritan hati diri melihat dirimu yang kian renta dimakan usia. Diri tidak tahu apa yang terjadi padamu, Indonesiaku karena rasanya dirimu tumbuh seperti manusia yang berumur semakin senja. Apakah demikian Indonesiaku? Senjakah yang sedang kamu datangi? 

Ini surat diri untukmu, Indonesiaku. Hadiah kecil yang ingin menyenangkan hatimu di usia yang tak lagi muda. 
Indonesia, negeri indah di lintas khatulistiwa, tempat diri ini dilahirkan dan dididik menjadi seorang manusia. Indonesia, negeri sejuta warna dalam segala bentuk keindahan. Indonesia, negeri tempat bersemayam para bintang dan matahari. Indonesia, negeri penuh senyuman yang menghangatkan jiwa. Indonesia, negeri seribu lebih pulau yang tidak pernah lelah menampung manusianya. Indonesia, negeri yang merdeka dari bentuk fisik penjajahan bangsa lain. Indonesia, negeri damai yang sangat dinantikan kehadirannya.
Indonesia, apa kabar hari - harimu saat usiamu berjalan 68 tahun? Adakah Ibu pertiwi sedang kembali menangis di pangkuanmu? Indonesia, diri dengar sekarang rupamu tidak seperti yang dulu. Luka batin dan siksa fisik yang terus kau terima tampaknya telah meninggalkan borok yang dalam. Sudahkah kau mulai sembuh? Diri dengar kau pun sekarang mulai lumpuh, benarkah itu? Kaki - kakimu mulai mematah seperti seorang yang terkena lumpuh layu. Perlahan tapi pasti sendi - sendimu mulai digerogoti penyakit menua seperti para manula tak terurus di usia senjanya. Adakah kau demikian Indonesia? Indonesia, adakah kau tersiksa sepanjang waktumu di sana? Masihkah senyum dan matahari menghangatkan sepanjang harimu? Diri dengar, banyak darah yang keluar dari bibir dan kedua telingamu. Adakah mereka menyiksamu seperti saat darahmu digergoti habis oleh para penyamun? Indonesia, seberapa banyak lukamu sekarang? Diri dengar, otakmu pun mulai diserang oleh berbagai bakteri yang tumbuh dari darahmu yang mulai membusuk? Adakah itu benar Indonesiaku? 
Bagaimana hatimu, Indonesiaku? Apakah masih bisa bertahan atas berbagai macam obat yang bisa kau temukan di sekitarmu? Masihkah ia berfungsi baik untuk merombak bagian lainnya yang rusak? Indonesia, adakah yang melukaimu semakin dalam? Mengapa kau menangis? Adakah ini semua semakin menyakitimu? Luka - luka ini apakah jauh lebih parah di saat muda kau berperang? Indonesia, sampai kapan gerilyamu ini akan dipertahankan? Dengan segala luka disekujur tubuh ini, Indonesiaku! Luka medan perangmu saja tidak separah ini, tidak setragis ini! Apakah mereka menggoresnya lebih dalam dengan cara yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya? Katakan Indonesiaku! Katakan!
Tidakkah kau bersedih Indonesiaku? Ibu pertiwi menangisimu dalam doanya, merawat lukamu dalam usia senjanya. Mengapa terus kau biarkan Indonesiaku? Bagaimana membawa kesembuhan pada seluruh lukamu? Haruskah kau dibiarkan mati mengenaskan karena gerogotan penyakit itu? Atau haruskan kau diri bawa ke dalam penyembuhan? Selamat ulang tahun Indonesiaku! Katakanlah kado terindah apa yang ingin kau dapatkan dari diri di tengah seluruh luka ini. Setidaknya, biarkan ada senyummu saat diri temui. Setidaknya, ada rasa nyaman setelah seluruh luka yang mulai membusuk ini, Indonesiaku. Katakanlah! Katakanlah pada diri. Diri mencintaimu Indonesiaku. Kami masih mencintaimu. Doa kesembuhan untukmu tidak akan pernah putus. Tenang Indonesiaku, tidak ada doa yang lebih tinggi selain untukmu. Sembuhlah Indonesiaku. Tetap berjuang untuk kesembuhanmu. 
Tertanda yang mengagumimu,

Diri! 
Semoga lekas sembuh Indonesiaku.