Saturday, May 04, 2013

Makan - Makan di Apartemen


Paling kurang kerjaan di sini adalah memposting makanan yang dikonsumsi selama di Potsdam. Pengalaman yang sudah lalu, tetapi tetap memiliki kesan yang mendalam. Setiap hari, diri memasak di sini. Iya, semua demi pengematan yang akan berujung pada berbelanja :D.


Memasak adalah salah satu solusi yang ditawarkan di sini untuk mahasiswa sarjana kere seperti diri saat itu. Kenapa begitu? Karena sebenarnya masih ada solusi lain untuk kondisi ini, yaitu makan hemat atau makan nebeng. Nah, untuk kedua solusi ini sangat tidak pas untuk diri yang berpenyakit maag kronik dan/atau temannya bukan teman dekat di sini - daku bukan oportunis yaa. Makan di sini bisa sangat murah tergantung pada kondisi kosan atau apartemen yang punya dapur atau tidak, kemampuan belanja, dan mampu paham bahasa yang ada. Pertama, perhitungan yang menarik akan terjadi sebagai kombinasi dengan kondisi kedua. Ketika apartemen atau kosan kita punya dapur, artinya suatu penghematan sedang di depan mata. Mungkin, untuk ukuran bayarnya pasti mahal, sangat tidak dipungkiri untuk ini. Asumsi digunakan untuk ini adalah mahasiswa sarjana kere yang artinya semua pembayaran ditanggung plus diberikan uang saku lagi. Cara di postingan ini adalah bagaimana  berusaha menghemat uang saku tersebut. 

Perhitungan yang diri lakukan selama di sini adalah berdasarkan survei di toko makanan terdekat dengan apartemen dan ditambah kondisi lokasi yang berupa daerah pariwisata tota - tengah kota. Asumsi setiap hari makanan yang sangat diperlukan adalah nasi dan lauk-sedikit buah. Sedikit say goodbye dengan sayur di sini karena harganya selangit. Kondisi survive versi aku ini adalah makan 3x sehari. Hingga saat ini, makanan termurah yang dapat diri temukan dalam pembeliannya adalah beras, daging, keju, susu, yogurt, buahan lokal, dan beberapa bebumbuan lokal tentunya. Kondisi ini membuat aku sedikit terpaksa untuk menjadi seorang pemakan daging sejati. Akibatnya, tema kesehatan selama di sini adalah sehat dengan hewani. Kondisi ini sangat lokal dan tidak bisa diterapkan pada semua orang.


Dengan uang saku terbatas, diri memutuskan untuk memasak - setelah melakukan perhitungan tentunya. Berikut rincian kasar diri yang telah dilakukan dan sedang dijalankan proses penghabisan bahan pangannya:
= Pembelian beras ukuran 500gr untuk 8x makan >> 0.49 euro
= Daging ayam bagian sayap 8 biji untuk 8 x makan >> 3.36 euro (tergantung berat yg diambil)
= Keju mozarella isi 20 bijih >> 2.99 euro
= Bebuahan lokal >> 2.99 - 4.99 euro 
= dedagingan isi 8 biji untuk 8 x makan >> 2.99 euro (bisa yg lebih murah)

Kalau semuanya ditotalkan, harga untuk semua pembelanjaan, sekitar 14 euro, tapi semua untuk 8x makan. Catatan tambahan, setiap makan punya daging 1 dan ayam 1, plus keju dan buahannya. Mari kita bagi 14 euro dengan 8x makan, artinya tiap kali makan sekitar 1,63 euro. Mahal? Buat diri ini sudah paling murah karena jika makan di luar, minimal adalah 2.5 euro untuk satu menu makanan. Jadi, untuk 3x makan bisa habis 7.5 euro - 12 euro sehari. Dengan prinsip hemat tadi, diri membuat 12 euro tersebut harus bisa buat 3-4 hari makan :D. Ini penghematan yang sehat, bukan pelit yaa. Ada yang 1 euro, yaitu kopi atau teh :D, tapi sayangnya diri bukan peminum saja, tapi butuh makan :D. Harga ini dapat semakin berkurang jika diri hanya makan 2x sehari dan lauk pauknya hanya satu. Perhitungan diri, setiap makan hanya butuh sekitar 1 euro untuk 8x makan - 4 hari. Akan jadi lebih hemat lagi, tetapi tidak ingin dilakukan hal tersebut karena masih suka kelaparan. Sebenarnya ide ini, kurang baik karena makanan di sini banyak ragamnya dan sangat menyenangkan jika bisa dicicipi semua. Akan tetapi, menjadilah bijak jika kondisi keuangan pas-pasan dan punya keinginan banyak seperti aku :D.

Ketiga, perhatikan kondisi bahasa di sini. Tidak semua bisa berbahasa Inggris, tetapi semua bisa bahasa tubuh. Lakukan pembahasan itu saja lebih dari cukup untuk membantu berkomunikasi di kondisi darurat. Akan tetapi, ingat, tidak semua orang baik, jadi perlu perhatikan apakah mereka benar - benar baik dan waspada dengan apa yang dimiliki. 

Menjadi sehat dengan hewani tetap harus memperhatikan pergerakan tubuh. Dengan suhu yang dingin di sini, menjadikan tubuh senang sekali untuk makan dan minum berlebih. Perhatikan asupan kalorinya supaya tidak terjadi hal yang paling tidak ingin terjadi, yaitu penggemukan badan. Sehari - hari sekarang, saya makan keju, daging-ayam, dan yogurt. Susu juga ada, tapi lagi malas karena harus langsung dihabiskan itu susu. Oleh karena itu, bergerak bebas dan tidak stress akan menjadikan bumbu komplit untuk sehat dengan hewani.