Rumah kedua, ini sepertinya kata yang tepat untuk menggambarkan apartemen diri selama di Jerman. Apartemen sederhana, bergaya Belanda dan berkayu semua. Suatu sentuhan yang sangat menyenangkan. Ini beberapa pengambilan foto yang sangat menyenangkan. Di sini, diri sempat membangun hati diri dan semangat yang tak akan pernah padam. Di sini juga, diri pernah merasakan yang disebut dengan 'rindu berat'. Di semua tempat mengundang cerita tersendiri.
Kamar punya dua jendelan utama, yaitu di dekat tempat tidur dan tempat makan. Model jendela di sini agak sedikit menyulitkan diri awalnya. Cara membuka jendela dengan ukuran 1 m x 0.7 m ini bisa dengan cara ditarik ke depan, sehingga seolah jendela membentuk huruf V atau dengan menyamping seperti kebanyakan jendela di Indonesia. Diri baru tahu kedua cara membuka ini pun setelah hampir satu minggu tinggal di sini. Dengan berusaha mengutak-atik si pengunci, maka diri menemukan cara konvensional pembukaan jendela yang sangat aman buat diri. Akan tetapi, tidak aman buat keselamatan diri secara umum karena jendela di apartemen tidak sama dilengkapi teralis besi sehingga kemungkinan untuk terjun bebas sangat mudah dan lancar jaya. Dengan dua jendela besar seperti ini memberikan kenikmatan tersendiri bagi diri untuk merasakan angin malam dan udara pagi Potsdam yang tetap dingin meskipun sedang dalam musim panas.
Mungkin jendela seolah modern, tetapi pintu tidak ada modern - modernnya buat diri. Mungkin identiknya apartemen dilengkapi dengan kunci yang tinggal dilaser dan terbuka sudah kamar. Namun, di sini tidak sama sekali. Kuncinya pun masih kunci zaman Belanda dengan ukuran kunci relatif lebih memiliki lekuk 'tubuh' dibandingkan dengan kunci masa kini seperti yang diri pakai di kosan. Pintu masuk utama terdiri dari 2 pintu yang sangat aneh buat diri karena umumnya pintu masuk zaman sekarang pasti terdiri dari pintu kayu dan pintu teralis besi. Tetapi, tidak untuk di sini. Kedua pintu adalah pintu kayu. Pintu kedua adalah pintu asli bawaan si apartemen, sedang pintu baru yang dipasang digunakan agar memberikan rasa aman untuk si pengguna apartemen. Namun tenang, pintu kamar mandi tidak menggunakan model sistem dua pintu ini. Pintu yang menutup kamar mandi relatif lebih tipis kayunya dan tidak menghabiskan ruang serta kalau dikunci cukup sulit untuk dibuka.
Selain properties ini, rumah ketiga diri di Potsdam punya banyak ornamen dan cerita tersendiri yang menarik buat ukuran diri. Kenapa? Karena diri sebelumnya tidak pernah merasakan kamar dengan kelengkapan dan sentuhan eksotis seni melalui lukisan. Lukisan di kamar sepertinya adalah sesuatu yang sangat langka untuk digunakan oleh mahasiswa - mahasiswa kere seperti diri. Di kamar ini, diri merasakan seperti pekerja menengah yang dapat merasakan sederhananya hidup dengan elegan. Di kamar terdapat 2 lukisan yang sebenarnya diri juga tidak mengena pada maksudnya. Lukisan pertama tergantung di dekat tempat tidur diri. Lukisan menunjukkan kemesraan dua manusia tanpa kelamin yang tidak bisa diidentifikasi jelas oleh diri. Mungkin si pelukis ingin menunjukkan cinta itu ada dan bahkan sampai ke tempat tersembunyi atau paling privat sekalipun seperti di kamar. Namun, apadaya, tanpa kelamin yang teridentifikasi jelas, semua bisa menjadi blur atau bahkan aneh. Inilah yang tidak dimiliki diri, yaitu cara menikmati seni. Mungkin harus ada yang mengajari diri atau diri harus kembali banyak bersemedi? Lukisan kedua lebih realitis buat diri dengan gambar kondisi kota meksipun tidak tahu itu dimana dan apa. Dengan sentuhan seperti ini, kamar menjadi lebih eksositik dan tenang rasa diri.
Di pojok kanan kamar dekat jendela, kursi dan meja kecil dipasang. Pertama kali diri datang ke sana, meja kursi ini seperti ruang makan sederhana dengan piring dan gelas kristal yang disusun rapih. Namun sayang, diri bukan datang untuk bulan madu, tetapi untuk mengadu otak ini. Mau tidak mau, semua peralatan di luar kebutuhan harus disingkirkan. Maka, jadillah meja makan romantis menjadi meja belajar dan chatting diri selama di sana. Ide - ide dan data semua keluar dan diperas maksimal sambil menikmati malam yang tetap terang selama diri di Potsdam. Pojokan ini juga bisa menjadi saksi kerinduan diri pada banyak hal, tetapi berusaha mengikari dan ingin sekali tinggal di kota seperti itu lebih lama lagi.
Seberang pojokan atau sebelah kiri kamar, dekat dengan pintu kamar mandi adalah dapur kecil diri. Dapur ini istimewa sekali karena dia menyelamatkan diri untuk bisa menyimpan uang saku lebih banyak lagi agar dapat membeli banyak oleh - oleh. Dapur diri di sini punya alat makan yang asik, peralatan masak yang relatif lengkap dan kompor listrik yang menyenangkan. Pertama kali di sini diri baru menggunakan kompor listrik dan sempat katrok karena tidak dapat menggunakannya sama sekali. Peralatan yang cukup lengkap ini sangat membantu sehari - hari diri selama 14 hari di Potsdam. Di bawah kompor, terdapat dua lemari yang bagian kirinya adalah kulkas dan kanan adalah tempat sampah. Sungguh hal efisien yang baru sekali ini juga diri rasakan. Selama ini, diri barangnya banyak sekali dan tidak pernah rapih untuk itu di kamar.
Kompleks Allexanderstrasse ini sangat istimewa. Ini nama jalan, tempat di mana apartemen tersayang ini. Dengan lokasi yang strategis, yaitu dekat dengan halte tram, bus, dekat pusat kota, supermarket, tempat jualan dkk menjadikan liburan belajar diri sangat menyenangkan. Diri masih menginginkan waktu untuk mengeksplor lagi!