Dengan waktu yang dimiliki tidak salahnya untuk berkunjung di sisi lain Ulanbator. Diri mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa area di Ulanbator. Kuil Buddha terbesar di Ulanbator, monumen perang Rusia-Mongolia, acara di lapangan Suukhbaatar dan museum nasional Mongolia, serta tempat perbelanjaan suvenir. Keempat tempat wisata ini menjadi objek menarik untuk dikunjungi di Ulanbator. Pusat oleh -oleh menjadi sangat penting pastinya unutk mendapatkan sesuatu yang dibawa pulang ke negara asal.
.JPG) |
| Kompleks kuil Buddha di Mongolia. |
Perjalanan dimulai dengan mengunjungi kuil Buddha terbesar. Kuil ini sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Tidak ada informasi resmi tentangnya, tetapi semua penganut Buddha di Mongolia akan datang ke sini dan berdoa di kuil yang terletak di antara kepadatan rumah penduduk. Kuil ini memiliki luas yang cukup lumayan dengan sekolah untuk para biksu dan bikuni, tempat sembayang dan ratusan burung merpati yang dipelihara oleh para penghuni di kompleks ini. Setiap pengunjung dari berbagai latar belakang dapat datang di kuil ini. Hanya saja saat melihat peribadatan, sangat dilarang keras untuk memotret. Oleh karena itu, diri lebih menikmati untuk memberi makan ratusan merpati yang sangat ramah dengan para pengunjung. Selain itu, kita tidak perlu membawa makanan dari luar, dengan 500 Mongolian Turikh per bungkusnya untuk mendapatkan makanan merpati.
.JPG) |
| Kegiatan memberi makan burung itu bahagia. |
.JPG) |
| Yuk menikmati jinaknya merpati. |
Sejenak di kuil dan menunggu para peserta lainnya, diri melanjutkan perjalanan ke monumen perang Rusia dan Mongolia. Monumen ini menjadi lambang perdamaian yang dibangun di selatan Mongolia. Dengan ketinggian kurang lebih 300 mdpl, dari atas sini dapat melihat pemandangan kota Ulanbator yang dikelilingi oleh perbukitan dan padang rumput luas. Beberapa penjajah suvernir sudah menjajahkan berbagai macam tawaran yang ada, mulai dari kartu pos, coat, gantungan kunci dan lainnya. Di monumen ini, terdapat beberapa lukisan tentang perjuangan pada masa perang dan dari atas ini pemandangan Ulanbator menjadi daya tarik utama. Area ini tetap menjadi daya tarik wisata untuk warga Mongolia sendiri, terutama para muda mudi.
.JPG) |
| Monumen Rusia-Mongolia. |
.JPG) |
| Pemandangan dari atas monumen. |
Museum nasional dan lapangan Suukhbaatar berada di satu kompleks area. Beranjak dari monumen nasionalnya, diri bergerak ke museum nasional. Biaya masuk museum ini sekitar 5000 Mongolian Turikh. Penggunaan kamera tidak diizinkan atau harus membayar sekitar 10000 Mongolian Turikh di luar biaya masuk. Harga yang cukup mahal tetapi biaya ini cukup pantas untuk melihat keunikan beberapa hal yang dimiliki oleh Mongolia, mulai dari pakain tradisionalnya yang dikenal dengan nama dell hingga sejarah Chinggis Khan di satu ruang besar sendiri. Luar biasa penghormatan mereka terhadap Chinggis Khan meskipun sudah beratus tahun lalu masa kejayaannya. Dengan dipandu oleh pemandu wisata di museum, diri berkunjung dan membaca beberapa hal menarik tentangnya. Beberapa informasi tetap diberikan dalam bahasa inggris.
.JPG) |
| Hormat pada Chinggis Khan. |
.JPG) |
| Museum nasional Mongolia. |
Setelah satu jam, diri melanjutkan wisata singkat di lapangan Suukhbaatar yang kebetulan ada festival tahunan. Di festival ini, beberapa organisasi kemanusiaan dari PBB seperti UNICEF dan UNDP mengadakan pameran dan penyuluhan. Dengan konsep yang sederhana dan lucu, beberapa stand menyampaikan beberapa informasi untuk pengunjung yang ada. Sore hari yang ceria untuk para warga kota Ulanbator.
.JPG) |
| Semacam kaligrafi di Mongolia. |
.JPG) |
| Acara tarian yang ada di pameran. |
.JPG) |
| Beberapa organisasi nirlaba di festival. |