Monday, July 04, 2016

Kontrak HP di Jepang

Sambungan telpon dan internet pasti akan menjadi kebutuhan utama buat siapapun yang sedang berkunjung ke negara orang lain, apalagi untuk tinggal. Saat sudah menentukan dimana tujuan berangkat atau tinggal ke depannya. Sebaiknya bagian ini harus segera dipertimbangkan agar persiapan untuk memiliki akses komunikasinya bisa lebih mudah. Di Jepang, komunikasi sangatlah mudah untuk diperoleh. Akses wi-fi ada di mana - mana seperti yang selalu diumumkan oleh pemerintah Jepang melalui promosi turismenya. Kita bisa menemukan wifi gratis hampir di seluruh tempat publik, seperti stasiun, bandara, mal dan bahkan supermarket (kombini) untuk digunakan para turis. Selain itu , untuk mereka yang datang untuk jangka pendek, dalam artian hitungan hari atau minggu, bisa menggunakan sistem penyewaan mode komunikasinya. 

Bagaimana dengan mereka yang tinggal untuk jangka waktu yang cukup panjang, kayak diri yang mahasiswa dulu?

Itu mudah! Jepang terkenal dengan sistem komunikasi yang cukup ketat dan teratur. Tidak ada yang namanya sistem prabayar atau voucher seperti yang Indonesia miliki. Kepemilikan telpon sangat mudah diperoleh, tetapi kepemilikan nomornya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Nomor handphone di Jepang hampir mirip seperti identitas KTP kita. Dengan aturan yang ketat, umumnya warga Jepang hanya memiliki satu nomor telpon saja. Sistem voucer baru saja diluncur di awal 2016 ini, tetapi pembiayaannya sama seperti dengan model pasca bayar yang sudah ada dan aturan kepemilikan nomornya tetap sama seperti aturan yang ada. Nomor yang dimiliki setiap orang akan menjadi identitas dimana pun pengurusan administrasi lainnya, seperti asuransi kesehatan, pendidikan dan lainnya. Dengan adanya sistem komunikasi yang baik ini jugalah, diri pernah terbantu sekali saat ada pengiriman barang ke alamat diri tanpa nama, tetapi hanya dengan nomor telpon saja. Barang yang dikirim semua sampai dan nama diri dituliskan sendiri oleh pihak provider pengiriman. Komplit!

Di Jepang, ada beberapa provider telekomunikasi yang terkenal, seperti Softbank, AU dan NTT Docomo. Semua provider komunikasi memiliki aturan yang kurang lebih sama untuk kepemilikan nomor teleponnya. Hanya kebijakan kontrak kepemilikan telepon yang sedikit bervariasi di antara operator. Tiap operator juga mempunyai kelebihan dan kekurangan masing - masing, baik dari teknis komunikasinya, pengajuan kontraknya, pelayanan di provider workshopnya dan lainnya. Pertimbangan - pertimbangan ini bisa dicari langsung di internet untuk tiap detail providernya. Diri hanya akan menyampaikan apa yang mungkin bisa membantu untuk memiliki telpon genggam dari operator Softbank yang dulu diri pernah punya selama di Jepang. 

Pilihan diri saat di Jepang jatuh kepada menggunakan Softbank sebagai providernya. Diri mengambil kontrak penggunaan telpon selama 2 tahun yang umumnya paling sebentar di Softbank. Apa saja yang perlu disiapkan?
1) Alien Card yang valid atau visa Japan yang menyatakan sampai kapan kita akan tinggal di Jepang. Ini biasanya digunakan untuk pertimbangan pemberian kontrak teleponnya. 
2) Student Card juga dibutuhkan untuk mereka yang mahasiswa agar memudahkan dalam mengajukan kontrak yang paling murah dan dapat diskon untuk mahasiswa. 
3) Rekening Bank yang akan digunakan untuk pemotongan pembayaran bulanan penggunaan hape kita. Sistem pembayaran yang diri dapatkan di Softbank hanya ada sistem debit rekening koran tiap tanggal yang ditentukan. Ini bisa dibicarakan dengan pihak provider. Ada beberapa provider yang bisa menerima pembayaran di kombini atau supermarket.
Cabang softbank terdekat di Akita University ada di Hiroomote (per Maret 2016 ya!)

Menuju cabang Softbank
Semua persiapan data ini penting untuk mendapatkan kontrak handphone yang dibutuhkan. Semua pengurusan GRATIS dan telpon langsung dapat digunakan setelah itu juga. Jika mengalami kesulitan untuk mengurusnya, ada baiknya memiliki teman yang lancar berbahasa Jepang karena ada beberapa bagian kontrak yang harus dinegosiasi seperti lamanya kontrak dan pemutusan kontraknya. Pembayaran bulan pertama akan dilakukan setelah pemakaian bulan tersebut. Misalnya kita pasang teleponnya tanggal 1 April dan pembayaran akan dilakukan pada bulan Mei, pembayaran untuk pemakaian Mei akan dilakukan pada bulan Juni dan seterusnya. 

Setelah dua tahun, kontrak handphone yang diri miliki selesai dan diri tidak kena penalti jika diri mau menutup nomor handphone tersebut atau mengganti dengan handphone yang baru pada akhir kontrak. Jika diri mau melanjutkan penggunaan handphone, maka diri membuat kontrak baru untuk penggunaannnya dan sistem biaya baru pun diterapkan. Diri menggunakan kontrak baru sampai diri pulang ke Indonesia. Nomor handphone yang dimiliki selama di Jepang harus ditutup ketika akan kembali ke negara asal secara permanen. Jika tidak ditutup akan menimbulkan sistem pembayaran tiap bulannya yang terus berjalan. Diri tidak tahu apa konsekuensi hukumnya, tetapi hampir semua orang yang ada akan taat untuk menutup nomor telepon sebelum mereka kembali ke negara asalnya. 

Dalam pengurusan kontrak teleponnya pun kurang lebih sama yang dibutuhkan. Hanya jumlah uang yang disiapkan untuk penutupan nomor akan berbeda tergantung kontraknya sudah selesai atau belum. Jika kontrak sudah selesai, penalti yang dibutuhkan hanya untuk biaya penutupan nomor telepon sekitar 10,800 yen (sudah pajak 8%) plus biaya bulanan terakhir. Jika kontrak belum selesai, maka pembayaran juga ada biaya penutupan nomor handphone, plus biaya bulanan terakhir dan biaya sisa harga telepon yang dipilih.  

Oleh karena itu, silahkan ditentukan yang mana ingin digunakan ke depannya ya. Minimal ada gambaran bagaimana sistem kontraknya ya. 

No comments:

Post a Comment