Belajar bahasa Inggris kembali! Thanks God!
Diri dapat kesempatan untuk menjadi guest teacher di salah satu tempat kursus bahasa Inggris bernama Kiddy Cat. Informasi tentang kegiatan ini diri dapat di pengumuman yang dipasang di International section universitas. Dengan semangat diri berpikir ini adalah kesempatan baik di waktu libur diri. Rasanya libur sejenak dan berinteraksi dengan murid sekolah dasar akan memberikan warna tersendiri di waktu akhir tahun 2013.
Setelah mendaftarkan ke kantor kemahasiswaannya, diri mendapatkan kontak penanggung jawab kegiatan. Beliau adalah Futada sensei. Futada sensei memulai kegiatan mengajar bahasa Inggris ini sendiri setelah anak - anaknya cukup umur dan bersekolah. Ia membuka tempat les bahasa Inggris untuk kembali berinteraksi dengan bahasa yang pernah dipelajari sewaktu dia belajar di bangku akademi atau semacam D3 di Indonesia. Dengan menyewa sebuah rumah yang cukup strategis dan mengambil lesensi kursus dari Kiddy Cat, Sensei memulai tempat kursus ini. Hingga saat ini belum terlalu banyak murid yang ikut. Jangan bayangkan kursus bahasa Inggris di Jepang memiliki murid yang bisa sangat banyak seperti di Indonesia. Ruang kelas yang dimiliki di tempat ini hanya 1 kelas sehingga cara belajarnya pun cenderung lebih ke tipe belajar kelompok. Murid - murid yang mendaftar memilih kelas sesuai dengan jam yang dimiliki dan mengikuti kelas kecil yang dibentuk seperti belajar kelompok. Setiap murid bisa dikatakan seperti belajar di rumah sendiri. Tata ruang yang dibentuk seperti ruang bermain, membuat murid juga akan merasa nyaman di ruang kelasnya.
| Kelas 1 |
Ide untuk membawa tamu native speaker muncul di benak Sensei untuk mendorong para siswa berinteraksi dengan bahasa Inggris yang dimiliki mereka. Mungkin diri pernah cerita tentang bagaimana siswa di Jepang yang cenderung malu untuk mempraktikan bahasa Inggris mereka. Namun, ini juga cukup wajar karena bahasa Inggris hanya kelas 1x dalam seminggu atau kelas extrakulikuler sehingga tidak heran bahwa penggunaan bahasa ini sangat minim. Sangat berbeda dengan di Indonesia. Kondisi seperti ini dapat menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, era globalisasi menuntun kemampuan berbahasa universal yaitu bahasa Inggris ketika berkomunikasi. Di sisi lain, sistem seperti ini terus mempertahankan kemampuan berbahasa ibu sebagai yang utama sebagai kekuatan budaya nasional. Selain itu, di Jepang kebutuhan menggunakan bahasa Inggris juga tidak terlalu besar. Hampir seluruh bidang atau peralatan atau informasi disampaikan ke dalam bahasa Jepang. Bahkan text book perkuliahan pun tersedia dalam bahasa Jepang. Diri sangat kaget ketika GPS pun memiliki sistem dalam bahasa Jepang. Seluruh hal ini juga didukung dengan harga yang lebih murah dalam keterjangkauannya. Harga operating system komputer dalam bahasa Jepang akan jauh lebih murah dibandingkan dengan yang berbahasa Inggris. Kondisi ini berlaku di hampir banyak hal yang diri temui selama di sini.
Dengan semangat 45, diri datang dan mencoba untuk mengikuti kelas kembali. Setidaknya pengalaman di Higashinaruse telah mengajarkan kepada diri bahwa belajar dengan murid - murid Jepang pasti butuh adaptasi yang cukup waktu. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi diri agar mampu menyampaikan pelajaran bahasa Inggris dengan keberterimaan yang tinggi di para murid. Diri juga punya kesempatan yang bagus sekali lagi untuk mengenalkan Indonesia, negara asal diri kepada para murid sekolah dasar di Jepang. Tidak semua murid - murid di sini tahu di mana Indonesia. Masih kurang populer rasanya. Jangan pernah tanyakan sejarah Jepang menjajah Indonesia. Tidak ada pelajaran bahwa Jepang menjajah. Di sekolah dasar, para murid diberi pemahaman bahwa Jepang memiliki kerja sama dan membantu Indonesia pada masa itu, bukan menjajah. Suatu cara yang mengajarkan siswanya untuk bangga dan percaya kepada bangsanya.
| Kelas kedua |
Hari H tiba dan diri mempersiapkan hati. Futada sensei merupakan orang yang baik dan ramah. Rasanya beliau tidak seperti orang Jepang kebanyakan yang cenderung untuk malu atau benar - benar menjaga sikap. Beliau bercerita tentang latar belakangnya dan jauh lebih terbuka untuk ukuran masyarakat asli sini. Kami memiliki tiga kelas pada hari itu. Kelas pertama dan kedua merupakan siswa kelas 6 SD sedangkan kelas terakhir adalah kelas 4 SD. Konsep pelajaran hari ini sudah didiskusikan. Semua akan dimulai dengan perkenalan (self introduction), bertanya, membaca dan permainan. Di sesi perkenalan, diri memperkenalkan nama dan asal diri. Dalam hal ini, diri berkesempatan mengajak interaksi para siswa. Luar biasa, mereka pun mulai nyaman dengan diri. Siswa Jepang sangat antusias sekali dengan metode belajar menggunakan media dan memperkenalkan pengalamannya. Mereka akan cenderung terbuka karena merasa nyaman dan dihargai keberadaannya. Tanya jugalah mimpinya. Mereka juga biasanya suka ditanya apa yang menjadi mimpi di masa depan, misal negara yang ingin dikunjungi atau menjadi apa di masa depannya.
Di sekolah, para siswa SD memang dididik untuk bisa berekspresi, beretika dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Sistem nilai belum berlaku sepenuhnya karena tujuannya yang berbeda. Mereka diberikan ruang untuk mengembangkan dirinya, belajar percaya diri dan belajar mau tahu dengan semua metode atau alat peraga yang disediakan. Meskipun tampaknya berat tapi sebenarnya metode belajar ini menyenangkan untuk anak - anak. Mereka merasa nyaman ketika mencari tahu dimana Indonesia dalam peta ataupun bola dunia. Setelah merasa nyaman, kemauan mereka untuk mencoba akan semakin terasah. Terbukti, setelahnya ada keberanian dari mereka untuk mencoba kemampuan bahasa Inggrisnya dengan pertanyaan. Jika dibandingkan dengan bahasa Inggris anak SD di Indonesia, mungkin mereka bisa dibilang masih di bawah. Akan tetapi, letak kemauannya itu yang tetap harus dihargai. Dengan saling melempar pertanyaan dan mengkoreksi kesalahannya dengan canda dapat membuat para siswa yang datang menjadi lebih nyaman belajar. Anak - anak di sini cenderung menangkap semuanya lewat tata gerak tubuh. Ini juga terkait dengan kebudayaan yang ada di Jepang. Masyarakatnya tidak terbiasa banyak bicara. Mereka akan belajar melihat jawaban dengan gaya bahasa tubuh dari sang guru. Oleh karena itu, menjadi guru SD tidaklah mudah di sini. Tantangannya menjadi bertambah! Bagaimana bisa menjaga semangat anak belajar dan kenyamanannya di dalam kelas.
| Diri ketika memperkenalkan Indonesia. |
| Permainan pop! |
Setelah itu pelajaran kami lanjutkan dengan kelas membaca. Membaca buku dengan tipe kalimat - kalimat singkat sangat membantu mereka untuk berlatih pronunciation dan kemauan untuk lebih tahu lagi. Bacaan singkat seperti ini juga membantu siswa untuk lebih banyak mendapatkan kosa kata baru yang bisa mereka gunakan sehari - hari. Pelajaran kami tutup dengan permainan fukuwarai dan pop. Permainan membuat boneka salju dengan mata tertutup dan dipandu oleh salah satu teman dalam grup adalah pilihan pertama yang kami lakukan. Dalam permainan ini, diharapkan para siswa dapat membantu temannya dan memahami informasi tentang arah seperti up, down, left and right. Permainan yang cukup seru meskipun seringkali siswa masih kesulitan tetapi ada pemahaman yang tampak dari hasil permainan kami. Sebelum kelas berakhir kami bermain pop semacam rollet angka. Peserta yang mendapatkan jumlah 10 koin pertama akan menjadi pemenang. Ketika mendapatkan kartu bertuliskan pop, peserta harus kehilangan seluruh kartunya. Di setiap koin tertulis angka 1 - 10. Setiap siswa harus menyebutkan angkanya ketika membuka koin yang diambil. Ini juga menjadi latihan bagi para siswa untuk mengingat angka dalam bahasa Inggris. Dari ketiga kelas yang diri ikuti, seluruh siswa sangat menyukai permainan ini.
| Reading time |
| Games membuat snowman. |
Kelas diakhiri dengan pembagian hadiah natal dan tahun baru kepada seluruh siswa. Bahagia sekali ketika melihat mereka semua tertawa dan berkata see you again and thank you! Diri mau datang lagi
| Kelas ketiga |