Kalau dengar kata S3 pasti berlebihan yang akan muncul di otak. Paling tidak, hal pertama yang muncul adalah menjadi dosen. Terkadang mau jadi peneliti juga jadi opsi yang keluar saat mendengarkannya. Jawaban lainnya adalah mau jadi apa nanti setelah lulus. Tapi, siapa bilang seperti itu semuanya? Tidak ada yang menjamin masa depan seseorang selain dirinya dan Tuhan pasti.
Kalau hari ini seminar, kata Profesor Mitsuo (semoga spelling namanya benar), the past and present is the key to future. Jadi, apa yang sekarang kita jalani akan jadi masa depan kita apapun bentuknya kan? Jangan berpikiran semuanya harus berakhir dengan kebanyakan apa yang selama ini menjadi opini publik. Diri memang belum menjalani ke depannya, tetapi setidaknya inilah yang diri bagikan berdasarkan cerita dan pengalaman bertemu banyak orang - orang hebat tak terduga.
Cerita seringkali dimulai dengan ketidaktahuan memilih atau terhempas arus publik. Percaya atau tidak, terkadang pergaulan akan membawa kita dalam suatu pilihan yang tidak jauh berbeda. Seringkali akibatnya kita mendengarkan bahwa lingkunganmu adalah dirimu, meskipun TIDAK SELAMANYA opini seperti ini benar. Perjalanan untuk memilih juga diri sebut tidaklah semudah menentukan pakaian pesta. Diri belajar melalui banyak proses dan pengalaman pahit manis. Semuanya berjalan karena Tuhan mengizinkannya untuk mendewasakannya atas diri.
Langsung, cerita sekolah S3 ini berawal dari pertemuan diri dengan calon professor (sekarang sudah professor diri loh. Puji Tuhan!). Pertolongan Tuhan begitu baik dan membukakan jalan yang luar biasa. Seminggu setelah berkenalan, diri dikirimi formulir sekolah. Diri tidak tahu apakah masih mau melanjutkan sekolah setelah selesai S2 yang rencananya waktu itu akan selesai Januari 2013 lalu. Pada akhirnya diri mencoba menolak tawaran sekolah ini dengan berbagai alasan. Saat itu, percobaan penolakan pertama adalah dengan mengatakan diri tidak mempunyai uang untuk pembayaran uang pendaftaran 30.000 yen; umur diri baru 21 tahun saat pendaftaran, sedangkan minimal umur untuk pendaftaran adalah 24 tahun; bidang penelitian diri adalah geotermal. Ketiga alasan ini menjadi semangat diri berasa akan ditolak seperti yang diri doakan pada Tuhan. Akan tetapi, diri diberikan rencana lain oleh Tuhan. Sekali lagi, dalam doa selalu ada jawaban yang pasti di dalam waktu Tuhan. Jangan pernah mengikarinya. Demikian, jawaban email yang datang adalah profesor memberikan kata "TIDAK APA-APA" dan "SAYA AKAN MEMBANTU KAMU". Jawaban yang tidak masuk akal awalnya, tapi itulah rencana Tuhan. Permasalahan keuangan ditanggung oleh profesor. Permasalahan umur pun diurusi oleh profesor sehingga pihak universitas tidak menjadi masalah untuk menerima diri. Meskipun hingga sekarang, diri masih seringkali dipertanyakan masalah umurnya saat mengurusi permasalahan administrasi (*update kondisi loh).
Dengan jawaban doa yang kata Tuhan, diri bergerak lagi kepada tahapan selanjutnya. Diri mengirimkan seluruh berkas dan kebutuhan tambahan dokumen ijazah sejak SD sampai S1 dikirimkan ke Akita, Jepang. Seolah semuanya bak sungai yang jernih, Tuhan melalui pihak universitas mengirimkan letter of acceptance. Jawaban doa seringkali tidak terduga dan terkadang tidak sesuai keinginan hati diri. Diri merasakan Tuhan sedang menuntun jalan diri. Sembari menyelesaikan penelitian S2, diri bergerak dan tetap berdoa pada Tuhan seperti apa rencanaNya. Diri seperti tidak tahu mengapa dan bagaimana. Dalam otak diri, S3 itu tidak semudah yang dipikirkan, diri harus jauh fisik dari lelakiku dan keluarga, belum lagi diri ingin sekali menikah, diri yang masih punya bekas sakit tulang belakang, diri yang blabalablaa.. Banyak sekali kekurangan yang terus saja diri jadikan alasan untuk tidak memikirkan S3. Akan tetapi, sekali lagi doa itu adalah ketenangan.
Fase kedua, selepas menerima letter of acceptance dan beberapa dokumen lainnya, diri masih bersikap "ngeyel", berusaha tidak memutuskan kontak dengan profesor dengan alasan paling tidak masuk akal, yaitu mencari lapangan penelitian. Selain itu, berusaha bahwa profesor akan lupa tentang itu juga. hehehe. Selama itu juga, diri ditanya beberapa kali oleh lelakiku bagaimana ke depannya, mau seperti apa. Masa depan dan pilihan seolah gelap dan tidak ada jawaban. Diri sangat bingung. Kembali, doa yang menentukan. Setelah 2 bulan berpikir, sekitar Januari, diri menemukan alasan lain lagi untuk tidak sekolah S3. Email di pagi hari itu memberikan informasi tentang beasiswa yang sebelumnya diri kira ada dan sudah tersedia. Cara pikir yang benar - benar sedang tidak dalam kondisi baik. Diri diberitahu kalau beasiswa belum ada dan harus mendaftar terlebih dahulu. Dengan rasa bahagia dan mungkin ada sedihnya, diri merasa punya alasan. Diri mengatakan pada profesor dengan semangat bahwa diri tidak bisa datang karena tidak ada dana untuk sekolah. Tidak ada kepastian untuk beasiswa yang mungkin diri terima. Di saat itu, diri pun masih dalam kondisi bingung, antara sekolah atau tidak. Tidak semudah yang diri bayangkan untuk menghadapi pilihan. Sekali lagi, diri diajari oleh lelakiku untuk menyerahkannya pada jawaban Tuhan. Support lelakiku sangat besar dan dia yang mendorong iman diri untuk terus bertumbuh. Diri selalu diingatkan untuk mengucapkan syukur dan meminta yang tepat pada Tuhan oleh lelakiku. Seperti yang selalu kami yakini bahwa doa adalah kekuatan kami. Tuhan menjawab dengan cara yang berbeda dengan apa yang diri harapkan. Profesor mengatakan akan menjadi "sayang sekali kalau kamu tidak melanjutkan sekolah, apakah perlu saya kirimkan uang untukmu?". Jawaban yang luar biasa.
Diri shock dan tidak lagi tahu apa yang harus dikatakan. Diri bercerita pada lelakiku dan mendiskusikannya. Tuhan menjawab doa diri tentang apa yang harus diri lakukan. Sejujurnya, seringkali diri berdoa pada Tuhan dengan langsung meminta "ya Tuhan jadilah khendakMu, bukan khendakku". Tuhan mempersiapkan segala sesuatunya. Demikian semua berjalan, hingga saat semuanya dipersiapkan. Tuhan menyiapkan segala sesuatunya dari mulai tiket, kebutuhan menghadapi cuaca Akita, biaya hidup sementara dan semuanya. Seolah sungai, Tuhan mempersiapkannya. Tidak lupa juga Tuhan mempersiapkan penyelesaian penelitian S2 tepat pada waktuNya. Puji Tuhan, sekarang diri sudah berada di Akita.
Fase terakhir dari fase paling awal ini adalah saat diri datang. Diri dipersiapkan untuk mengikuti tes beasiswa. Program yang diri ikuti pun adalah Leading Program Project. Diri tidak menyangka bahwa hanya diri yang menjadi satu - satunya kandidat doktor dan paling muda. Tuhan membiarkan diri mengikuti tiap langkahNya. JawabanNya yang tidak terduga adalah sesuatu yang terkadang dan memang harus terus diri pelajari. Selama seminggu (langsung setelah tiba), diri mempersiapkan tes beasiswa dengan harap - harap cemas. Tes beasiswa terdiri dari tes tertulis dan tes presentasi atau interview. Selama waktu itu juga, diri mempersiapkan kebutuhan diri tinggal di Jepang, dari urusan legal sampai urusan perut. Puji Tuhan, diri dipersiapkan secara mental dan pengetahuan dengan baik. Diri mempresentasikan rencana penelitian dan mengerjakan tes tertulisnya semaksimal yang diri bisa. Di akhir tes beasiswa, salah seorang Profesor berkata, "kamu jauh dari keluarga kan? Lakukan yang terbaik dan anggaplah kami sebagai keluargamu." Penutup tes yang begitu luar biasa. Kalimat ini setidaknya memberikan kesejukan tersendiri dan rasa terima kasih tersendiri meskipun jika nanti tidak diterima. Namun, jawaban yang keluar pada Jumat mengatakan diri diterima! Diri dianggap sebagai qualified student untuk menerima beasiswa. Betapa bahagianya diri. Betapa bersyukurnya diri. Puji Tuhan! Tuhan benar - benar menunjukkan jalan bahwa diri sekolah S3. Doa adalah jawaban yang terbaik dari semuanya. Dia menuntun kepada jalanNya untuk diri.
![]() |
| Applicant 3. |
Akhirnya, diri resmi menjadi MAHASISWA DOKTOR dengan beasiswa LEADING PROGRAM, bidang economic geology di bawah supervisor Prof AKIRA IMAI.
Rencana Tuhan itu indah dengan jalanNya yang tidak terduga. Doa adalah jawabanNya. Tuhan adalah pegangan kita. Pengharapan diri tetap berada pada Tuhan. Sekali lagi, masa depan itu ada di tangan Tuhan. Sekarang bagian diri adalah mengerjakan sebaik - baiknya apa yang telah Tuhan berikan. Jangan pernah takut ke depannya apapun jawabanNya nanti. Setelah S3, diri mau apa? Kita lihat nanti rencana Tuhan. Diri bahagia belajar. Diri bahagia bersama lelakiku sampai kapanpun yang banyak mengajarkan diri bagian kehidupan yang tidak pernah dilihat oleh orang lain proses dan tujuan baiknya, tetapi sebenarnya hasilnya sekarang bisa dilihat pada diri. Diri yakin Tuhan bekerja juga melalui dia dalam menghadapi ini. Seperti apa kata diri, lingkunganmu dapat membentuk seperti apa dirimu.
