Tuesday, April 30, 2013

Untold Stories : Kebersamaan dan Romantisme

Beberapa foto yang diri ambil ini berharap dapat menunjukkan beberapa bagian dari keramaian dan keramahan masyarakat di sini. Menurut diri, ada banyak untold story di Akita, Jepang yang menarik untuk diketahui dan dipahami sebagai refleksi. Kebersamaan, kehangatan, rasa kasih lintas batas dan usia. Diri belajar dengan banyak hal yang ditunjukkan pada Festival Musim Semi di Senshu Park. Pengambilan foto dilakukan pada tanggal 29 April 2013 yang menjadi libur nasional di Jepang yang disebut Golden Week. Saat inilah, pada umumnya masyarakat mulai melakukan "hanami". Dalam bahasa Jepang, hanami berarti melihat bunga. Melihat bunga ini bisa dengan menikmatinya secara keseluruhan ataupun per bagian bunga tersebut saja. Semuanya indah. 

Diri kaget saat datang ke Senshu Park. Saat berada di bagian depan taman, diri mengira taman tidak ada orang. Akan tetapi, berjalan melalui tangga ke bagian atas, keramaian yang menjemput diri. Semuanya tampak berbeda sama sekali. Keramaian dengan keluarga - keluarga, remaja dan para lansia mengisi jalan - jalan setapak taman yang dibuat oleh pemerintah setempat. Di bagian atas bukit ini, banyak sekali pepohonan yang beragam, dengan dominasi sakura yang terasa sekali. Ada kebahagiaan. Ada keceriaan yang sangat terasa di sana. Itulah yang mungkin dikatakan kasih yang lintas batas. Di taman ini juga terdapat sebuah lapangan besar yang pada saat diri datang sedang penuh dengan keramaian panggung, penjual - penjual makanan, mereka yang lalu lalang hingga yang berpiknik menikmati hari. Banyak penjual makanan khas Jepang, dari kue, makanan kecil, gula - gula, takoyaki, daging tumis, dan lainnya yang bahkan diri tidak tahu namanya. hehehe. Maklum bahasa Jepang diri masih D. Semua orang sangat menikmati hanami dengan caranya masing - masing di Senshu. 

Banyak sekali jajanan di Senshu Park. Harganya dari 100 yen sampai 300 yen saja per porsinya. 
Diri lupa ini antrian makanan apa, yang jelas mereka menjual daging dan antriannya panjang sekali. PErhatikan, mereka mengantri dengan teratur sekali tanpa garis pembatas.
Suasana piknik masyarakat Akita. Banyak keluarga datang dan makan bersama dengan bekal yang dibawa.
Berjalan mengelilingi Senshu Park adalah hal yang menyenangkan. Diri banyak melihat dan merasakan bagaimana para bangsa Jepang menikmati libur panjangnya. Diri juga melihat bagaimana mereka menciptakan dan menikmati tiap detik kebersamaannya. Kegiatan piknik seperti ini adalah hal yang biasa dilakukan para keluarga Jepang saat menyambut musim semi maupun musim panas. Setidaknya itulah yang diri tahu dari keluarga Bu Yeni yang mengajak diri berpiknik ria bersama di Senshu Park. Diri menikmati hari - hari di sini dengan melihat tiap kebersamaan yang tercipta. Kebersamaan itu tidak hanya dalam keluarga kecil, yaitu ayah, ibu, dan anak; tetapi juga keluarga besar lainnya, seperti kerabat yang datang dari luar kota, kakek nenek dan semuanya. Kebersamaan yang terjalin juga di antara pemuda - pemudi dan sangat terasa. Pada saat libur seperti ini dijadikan ajang kebersamaan antar laboratorium universitas untuk berkumpul dan berbagi, terutama untuk menyambut dan berkenalan dengan mereka yang baru datang ke Akita. Diri juga punya sesi seperti itu, tetapi sayang diri tidak bisa datang saat itu. Melihat saat ini, seolah membantah ungkapan kalau kebersamaan itu hanya milik bangsa diri. Tidak. Semua bangsa ternyata punya caranya sendiri untuk merasakan kebersamaan itu.

Kebersamaan para muda - mudi Akita.

Kakek sedang memasangkan sepatu cucunya. Mereka datang dalam keluarga besar.
Selain kebersamaan, bentuk romantisme itu sangat terasa untuk diri. Di sini diri juga bisa melihat romantisme pasangan dan romantisme persahabatan itu. Mengapa? Banyak pasangan kakek - nenek yang berjalan bersama dan menikmati makanan bersama di Senshu Park. Berjalan bersama, kadang beberapa membawa anjing peliharaannya, menggandeng tangan pasangannya dan berfoto bersama. Romantisme dalam masa tua yang mungkin tidak semua orang bisa mendapatkannya. Itu yang diri lihat dan rasakan kebanggaan karenanya. Diri berdoa semoga diri pun bisa mengalaminya nanti. Romantisme tidak hanya terbatas dengan pasangan hidup, tetapi romantisme persahabatan itu juga terasa sekali. Diri banyak menemui di antara lalu lalang ini bentuk kebersamaan persahabatan yang tidak dimakan oleh usia, baik muda maupun tua. Semua orang berhak untuk punya sahabat dan menghabiskan waktu bersamanya.

Perhatikan romantismenya kakek - nenek ini. 
Kebersamaan keluarga muda yang membuat iri. 
Keluar berjalan dari Senshu Park di bagian selatan, diri diajak melihat bagaimana sisi lain wajah Akita. Di tengah kota, mengalir sebuah sungai dan kecantikannya pun tidak diragukan. Diri menikmati keramaian yang Akita sajikan. Saat libur, seolah semua Akita keluar menjadi di satu tempat keramaian.  Banyak penduduk Akita yang menikmati harinya di sepanjang libur ini. Burung -burung yang berterbangan di sekitar sungai dan lalu lalang mereka yang bergerak dari dan ke Senshu Park makin menambah semarak kota ini. Diri benar - benar menikmati waktu. Para polisi berusia lanjut pun demikian rasanya. Mereka membantu menjaga kelancaran di tengah keramaian manusia Akita. Sungguh waktu yang tidak biasa sebenarnya di Akita. Kota kecil yang biasanya sepi, seolah menjadi penuh dengan manusia - manusia tak biasanya.

Baiklah, pak polisi sedang mengatur lalu lintas. Terlihat muda dari belakang. 
Saat memberi makanan pada merpati di pinggir sungai. 
Burung Camar terbang tinggi, berpatroli ke seluruh bagian sungai. 
Setiap makhluk punya tempat yang sama untuk berlibur. 
Dari perjalanan ringan seperti ini, diri belajar banyak sekali. Kita kadang tidak tahu apa yang sedang diperhadapkan atau dipersiapkan oleh Tuhan untuk kita. Banyak hal yang mungkin dianggap ketinggalan, tetapi ternyata adalah suatu bentuk ketenangan. Beberapa untold stories tentang Akita dalam kebersamaan dan romantismenya. Diri dengan bangga mempersembahkan kota ini pada semuanya. Selamat mencintai Akita!