Sunday, February 10, 2013

Cerita tentang Gie (oleh diri di tahun 2009)

Gie dan Prototipe Mahasiswa

Tahun 2005, GIE terpilih sebagai film terbaik versi FFI (Festival Film Indonesia) 2005. Film GIE yang bergenre ‘sejarah’ ini menggambarkan sosok Gie sebagai tokoh utama dengan segala pemikirannya dan tindakan semasa hidupnya berdasarkan buku hariannya, yaitu Catatan Seorang Demonstran.
Gie merupakan sosok demonstran yang hidup di zaman peralihan orde lama ke orde baru. Keberadaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan sosial pada tahun 66-an. Gie menjadi sosok yang radikal di mata pemerintahan Soekarno. Ia hidup dengan pemikirannya sebagai seorang pemuda yang peduli terhadap ketimpangan dan kemunafikan yang tumbuh subur di kalangan mahasiswa seangkatannya. Sebagai salah seorang mahasiswa, Gie mendeklarasikan sebuah ‘prototipe’ kebebasan yang ideal mengenai kebijakan pada masa itu. Mengapa dikatakan sebagai prototipe? Pada masa itu, Gie hadir sebagai seorang yang berani menentang ketidakberesan yang digombar-gambirkan oleh pemerintahan Soekarno melalui caranya, yaitu tulisan. Ketidakberesan dan kebusukan pemerintahan ‘diusik’nya melalui tulisan-tulisan kritik yang tajam yang dimuat di harian ibu kota pada saat itu seperti Harian Kompas.

Gie tumbuh sebagai pribadi yang konsisten dengan apa yang dia pilih dan yakini. Kemunafikan yang dilakukan oleh teman- teman sejawatnya semasa kuliah merupakan suatu pukulan terhadap dirinya yang terus berjuang demi perubahan. Gincu dan bedak merupakan benda yang ia kirimkan kepada teman-teman seperjuangannya itu dengan pesannya yang pedas “SEMOGA BISA BERDANDAN di DEPAN PETINGGI NEGARA’. Gie hidup tanpa terseret arus kemewahan yang ditawarkan oleh pemerintahan Soekarno saat itu sebagai upaya menutup mulut para demonstran. Gie tidak bodoh dalam melihat ketidakberdayaan mahasiswa yang berjauang dan kekuasaan pemerintahan yang absolut. Pers pun ditekan pada masa itu.

Terlepas dari pribadinya yang cinta tanah air, suatu sikap yang mulai langka dan mungkin akan segera musnah dari muka bumi Indonesia, ia adalah postur nyata seorang demonstran sejati yang dibutuhkan pada masa kini, ZAMAN REFORMASI. Andaikan Gie masih hidup hingga masa ini, ia pasti melakukan apa yang disebutnya sebagai perjuangan melalui tulisan dan kritik yang bertebaran. Zaman reformasi yang lahir tanpa landasan hukum telah membuat para mahasiswa dan pemimpin negara terlena dalam menentukan pilihan dan sikap serta kebijakan yang diterapkan pada rakyatnya. Mahasiswa sebagai pejuang demonstran hadir tanpa meneladani sosok seorang Gie. Mahasiswa tidak memahami sepenuhnya arti perjuangan sesungguhnya. Mereka seolah tumbuh dengan model teman seperjuangan Gie tahun 66-an. Gie lahir dalam pergolakan Pasifik yang memungkinkan berpengaruh pada kehidupannya pada masa remaja hingga dewasa.

Ia dididik dalam keluarga sastra dengan hobinya membaca buku telah membuahkan sebuah pemikiran cemerlang bagi kehidupannya yang gemilang. Ia memilih untuk hidup susah dalam arti berusaha untuk mengenal rakyat Indonesia sesungguhnya yang keadaannya tertutupi oleh sikap Soekarno di mata pemimpin dunia.

Apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh seorang Gie. Sekali lagi, PERUBAHAN. Perubahan yang lebih baik untuk rakyat Indonesia, untuk rakyat yang harus makan kulit mangga dari tong sampah. Ironis, 2,5 km dari pemulung organik itu, raja Indonesia tertawa riang dengan para istrinya, ya PARA ISTRI. Perubahan terhadap suatu pemerintahan sangat dibutuhkan untuk memperbaiki keadaan rakyat dan meningkatkan kesejahteraan bangsa. Hampir seluruh pendemo mahasiswa belum memahami penuh tentang apa itu perjuangan dengan cara demonstrasi.

Gie merupakan sosok demonstran yang dibutuhkan dunia mahasiswa pada masa reformasi. Kehidupan reformasi merupakan cerminan nyata perjuangan Gie pada tahun 66-an. Ekspresi perjuangan Gie terwujud pada awal tahun 2000-an. Namun, perjuangan Gie mulai tersendat pada masa sekarang. Mahasiswa hidup dalam dunianya sendiri yang tampak penuh dengan kekerasan.

Gie lahir sebagai prototipe ideal bagi sebuah kehidupan mahasiswa. Kehidupan mahasiswa pada masa sekarang adalah keberadaan yang perlu diperbaiki demi kelanjutan berbangsa yang lebih bermartabat dan berharga di mata dunia. Permasalahan mahasiswa bagaimana ia memperbaiki citra dan tabiatnya.