Sunday, February 10, 2013

Cerita Polisi Cepek

Materi ini sudah lama sekali ingin dituliskan, tapi tidak pernah kesampaian. Terlalu sibuk dengan mengganggap semua harus sempurna dan jadi yang bagus – bagu sekali. Hari ini kembali tergugah dengan topik ini. Masyarakat Indonesia. Harusnya bisa menjadi topik yang seru untuk tahu lebih dalam lagi. Kenapa? Hanya di Indonesia semua hal dapat dijumpai. Pengalaman di luar negeri itu menunjukkan banyak sekali bedanya di negara ini. Diskusi – diskusi tentang banyak hal mengenai negara ini dari aspek tak terduga pun menggugah untuk dituangkan. Tampaknya akan semi subjektif karena memang berasal langsung dari pola pikir daku.

Intro lewat sudah! Kita masuk ke cerita yang sesungguhnya.

Aktivitas dan kesibukan kendaraan di sekitar lokasi segitiga macet.
Dalam kamus bahasa Indonesia, (diringkas), polisi itu artinya pelindung publik dalam kehidupan sosial dan sebagai individu. Ada nilai – nilai penegakkan hukum di dalamnya. Tapi, di Indonesia, bapak polisi yang ini berbeda. Dia mungkin terlihat mengatur keadilan hukum, tapi dalam seragam dan pendidikan yang minim. Bedakan, seragam bapak – bapak polisi diperoleh melalui pendidikan khusus bertahun – tahun untuk menjadi pengadil. Polisi ini mantap sekali dalam menjalankan tugasnya. Ya! Polisi cepek. Semua orang paling mudah menemukan bapak – bapak, mas – mas polisi cepek di pertigaan atau putaran yang ramai dan padat lalu lintas. Dengan gaya yang berbeda – beda tiap orang, mereka mengatur jalan dan berusaha untuk mendapatkan rezeki darinya. Rezeki pasti diharapkan karena memang mereka rasanya tidak ada gaji tetap di setiap waktu yang dihabiskan di sana. 

Mari kita analisis keberadaannya. SWOT. Metode analisis yang mulai sekarang kita pakai di semua narasi argumentatif tentang masyarakat Indonesia.

Sebenarnya, keberadaan polisi cepek ini seperti apa posisinya di masyarakat? Mari kita lihat. 

Gambar rada kabur karena diri ga enak memotret orang sedang bekerja. Yang ada nanti menimbulkan virus geer dan berbahaya untuk pengendara di segitiga macetnya. 
Streght >> Keberadaan polisi cepek dapat dikatakan membantu mengatasi kemacetan dengan menjadi penengah di antara pengguna jalan yang semua ingin duluan. Katakanlah kita berada di pertigaan yang padat, seperti di segitiga sumur bandung -catatan, padatnya hanya jam tertentu- keberadaan polisi cepek di posisi ini adalah membantu mengatur mobil yang menerus dari dayang sumbi ataupun dari sumur bandung. Para mas – mas ini bergantian mengatur mobil-motor yang lewat antara sumur bandung, dayang sumbi, taman sari. Setiap pagi, terutama jam sekolah dan kerja dimulai, sekitar pukul 06.45an, sore saat pulang kampus dan kerja, sekitar pukul 17.00an, adalah jam padat di lokasi ini. Mereka mengatur dengan mengganti giliran stop tiap kendaraan dari masing – masing arah. Seringkali daerah ini kosong tanpa mereka dan saat itu juga di jam sibuk, semua tetap berebut untuk maju duluan. Keadaan sabar harus diinisiasi salah satu mobil dari salah satu arah baru kesemerawutan jadi sedikit berkurang. Efeknya kemacetannya bisa melingkar dari di dayang sumbi, sumur bandung dari arah dago-dipatiukur, dan taman sari dari arah kebun binatang. 

Weakness >> Keberadaan polisi cepek ini dapat menjadi ancaman untuk kejahatan. Di satu sisi, cepek menunjukkan bahwa mereka mengharapkan imbalan untuk bantuan ‘meloloskan’ mobil dari putarannya. Status ‘imbalan’ ini dapat mendorong tindakan kriminal terjadi, misalnya pemaksaan, pengerusakan mobil sengaja, dan terburuk adalah perampokan terencana. Bagaimana besaran potensinya? Semua akan kembali kepada subjek yang bekerja. Di acara reality show tentang kehidupan masyarakat terpinggir dan miskin, masih menunjukkan adanya polisi cepek yang hidup dengan tulus. Namun, tetap peluang ini menjadi suatu kelemahan. Di sisi lain, keberadaan polisi cepek juga terkadang mengatasi kesemerawutan pada kondisi sementara waktu atau sesuai keinginan subjek karena tidak ada ikatan aturan yang mengatur keberadaan mereka.  

Oportunity >> Dengan melihat kebutuhan masyarakat terhadap pelayananan jalan yang baik, keberlangsungan polisi cepek dapat saja dipertahankan dengan status pegawai kontrak negara. Mengapa? Keterbatasan dana yang besar untuk teknologi yang sangat maju dalam waktu yang singkat dan melimpahnya sumberdaya manusia yang membutuhkan kehidupan, dapat menjadi suatu alasan untuk memberdayakan masyarakat sebagai ‘pelayan’ masyarakat itu sendiri. Kontrak mengindikasikan penghargaan terhadap pekerjaan tidak tetap yang di dalamnya dapat hidup, tetapi mungkin dapat membantu untuk sementara waktu hingga pekerjaan layak yang sedang diperjuangkan diperoleh. 

Threat >> Keberadaan polisi cepek ‘terancam’ dapat terancam dengan aturan ketertiban umum. Ketidakterimaan masyarakat sekitar lokasi juga bisa menjadi pertimbangan tersendiri dapat menjadi ancaman bagi posisi mereka dalam melakukan kerja tersebut. Masyarakat di sini dapat berupa preman sekitar, orang yang dituakan, dan lainnya.

Mungkin bisa dibilang itu analisis SWOTnya versi argumentatif berdasarkan observasi dan pengumpulan data primer yang terbatas. Jadi, bagaimana keberadaan mereka akan diputuskan? Baikkah mereka ada di antara perjalanan kita atau sebaliknya. Pribadi saja sekali lagi, mereka ada tidak masalah, tapi diakui. 

Dalam syarat perjalanan yang lancar seharusnya akan kembali kepada para pengguna jalan. Ketertiban tumbuh sebagai suatu aksi dari kerelaan hati pengguna jalan untuk mengantri, bergantian, dan mempersilahkan setiap orang lewat. Percaya tidak, semua orang di jalan ingin lekas sampai. Tetapi, ada yang namanya urgent dan important !