Pertanyaan di atas mungkin lebih tepat bukan menjadi sebuah judul
tulisan, tetapi seharusnya menjadi refleksi semua pihak. Mengapa?
Ya, diri merasa dan membuktikan bahwa etika adalah sebuah
pegangan seseorang untuk bersikap, bertindak, dan berekspresi. Ini mungkin
terdengar seperti subjektif karena etika sebuah pelajaran yang sifatnya
personal. Seseorang bisa saja kaya raya, tapi belum tentu dia beretika ataupun
sebaliknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edis ketiga (2005:309),
etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak
dan kewajiban moral. Jika dilihat dari sudut pandang aplikasinya langsung,
etika dapat dikatakan terdiri dari menghargai-menghormati, sopan santun, dan
kelakuannya (attitude).
Aspek pendidikan etika secara tidak langsung akan diterima setiap
anak – anak hingga pemuda – pemudi Indonesia di dalam keluarga, sekolah atau
universitas, dan lingkungan bermainnya. Kesibukan orang tua dan tuntutan
ekonomi, serta gaya hidup yang tinggi mendorong pendidikan etika pun seolah
terlupakan dalam keluarga. Komunikasi antar anggota keluarga yang semakin
menipis mendorong pendidikan informal ini tidak berjalan dengan semestinya seiring
majunya zaman. Akhirnya, seluruh pendidikan ini diserahkan pada lingkungan
sekolah yang menjadi tempat utama anak – anak menghabiskan waktu. Jadi, seperti
apa aplikasi etika sekarang dalam kehidupan generasi bangsa ini ke depannya?
Penghargaan terhadap seseorang di negara ini pada masa sekarang
adalah suatu hal yang sulit. Sikap untuk menghargai dan menghormati orang lain
seolah luntur dalam kehidupan kita sehari – hari. Penghargaan kepada orang lain
bukan sebatas pada piala atau piagam atau uang yang dapat diberikan kepada orang
tertentu karena prestasi, jabatan ataupun kekuasaannya. Penghargaan tidak
sebatas itu! Ini hal yang diri rasakan sangat luntur di antara manusia
Indonesia. Tempat – tempat tadi yang seharusnya lebih terpelihara untuk
penghargaan ini pun belum mampu melakukannya.
Bagaimana aplikasi etika dalam sekolah? Jika boleh jujur, sekolah
pun sekarang penuh dengan ketidakaturan dalam sikap dan perilaku
siswa-mahasiswanya. Aksi tidak beretika yang dilakukan memiliki rupa dan bentuk
yang beragam. Hal paling mudah untuk dilihat adalah penghargaan. Mungkin contoh
di televisi dapat menjadi gambaran paling nyata antara yang menghargai dan
tidak. Pemutaran liputan anak – anak berprestasi dan sekolah yang teratur
seolah menjadi pelega dahaga kita akan harapan bahwa masih ada generasi ini
yang benar di dunia yang bengkok. Akan tetapi, pemutaran liputan tawuran antar
SMA atau SMK beberapa waktu lalu menunjukkan sisi lain bagaimana generasi ini
bersikap. Berdasarkan pengalaman diri sejak SD sampai universitas, ada beberapa
hal kesamaan yang selalu diri temui, yaitu sulitnya seorang anak untuk
menghargai dirinya dan gurunya.
Ya, penghargaan terhadap dirinya dan guru atau dosen adalah sesuatu
yang diri rasakan tidak pernah tumbuh atau sama saja sejak SD sampai
universitas. Bentuk – bentuk tidak menghargai ini beragam yang diri lihat,
yaitu menghina guru atau dosen, mencontek, dan menipu. Penghinaan terhadap guru
yang terbesar saya rasa bukan dari pemerintah atau aspek legal negara ini, tapi
justru berasal dari muridnya sendiri. Guru bagi diri bukan sekadar profesi,
tetapi suatu bentuk pengabdian yang tinggi, sama halnya seorang dokter. Mungkin,
sewaktu kecil kita pernah mendengar bahwa guru adalah Bapak/Ibu kita selama di
sekolah. Ucapan itu bukan sekadar sugesti buat diri sewaktu kecil, tetapi benar
apa adanya yang diri rasakan hingga lulus universitas. Bentuk penghinaan ini
beraneka ragam, seperti pengejekan langsung maupun tidak langsung, penanggapan
bahwa tidak bisa mengajar, penggampangan (sepele) terhadap pelajarannya, dan
sebagainya. Diri rasa semua pasti sering mendengar keluhan anak – anak yang
berujung pada penghinaan atau penyalahan pendidik sebagai dalang mereka tidak
mengerti atau bahkan tidak naik kelas. Ya, mungkin ada beberapa kondisi
demikian, tapi oknum. Sekali lagi, itu oknum. Bagaimana penghargaan mereka
terhadap seorang pendidik? Sesulit itukah hingga sekarang bagi sebuah generasi
yang beruntung untuk menghargai gurunya bahkan di saat banyak anak – anak
merindukan sosok guru di hari – hari mereka. Siapa yang salah? Diri tidak suka
melihatnya dalam sisi kesalahan, tapi mari kita lihat dari sisi bagaimana
sekarang kita akan memperbaikinya dan memutus rantai setan ini.
Suatu sikap menghargai akan berkaitan erat dengan sopan santun
dalam berkelakuan. Keseluruhan rantai ini menjadi sesuatu yang saling
komprehensif dalam praktiknya. Dengan demikian, pemecahan permasalahan seperti
apa yang kita harus lihat. Diri melihat tentang suatu struktur kurikulum yang
lebih keras untuk kembali diterapkan. Ya, kembali mengapa ini harus dipikirkan.
Kita selalu menyalahkan kurikulum pendidikan yang tidak mendukung daya kembang
dan kreatif anak – anak. Akan tetapi, pernah kita mengevaluasi kurikulum ini
dari sisi perkembangan emosional dan kedewasaan seorang anak. Sebagai contoh,
pendidikan anti korupsi yang mungkin baru dipikirkan dan segera diaplikasikan
sejak tingkat korupsi Indonesia semakin naik dengan cepat. Mengapa harus selalu
bentuk preventif dipikirkan di bagian akhir?
Bagi diri, pendidikan menjadi manusia Indonesia yang berbudi
pekerti dan berakhlak seharusnya dari dulu dan dulu sudah diterapkan,
dipikirkan pengembangannya, dan dievaluasi pelaksanaannya. Suka atau tidak,
sekolah menjadi lahan terbesar para anak menghabiskan waktunya dan sudah
seharusnya suatu program yang dikerjakan anak – anak di tempat ini adalah yang
paling besar pengaruh dalam hidupnya. Mulai berantas korupsi adalah dari hal
yang kecil, seperti disiplin waktu, kejujuran bekerja dan belajar, serta
ketaatan terhadap aturan yang telah dibuat. Manusia – manusia seperti ini pada
masa sekarang mungkin akan dianggap kuno dan tidak gaul. Akan tetapi, harus
mulai ditanamkan atau bahkan lebih tepat untuk dipertanyakan, apakah tidak
beretika itu gaul?
Rantai setan ini harus segera diputus! Apakah perlu kita masukkan
mata kuliah atau mata pelajaran etika agar menjadi suatu pelajaran yang wajib
untuk diambil ke depannya, seperti pendidikan anti korupsi? Diri akan katakan
ya. Hal ini perlu untuk dipertimbangkan dan dilebur kembali dalam struktur
kurikulum kita. Pendidikan ini seharusnya dapat menjadi pegangan kita memutus
rantai setan dan kembali menghidupkan manusia – manusia Indonesia. Kehidupan
generasi kita bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi tanggung jawab kita untuk
mempersiapkan mereka tumbuh menjadi manusia Indonesia dewasa.
Dalam aplikasinya, etika harus dipraktikan dan dilakukan oleh
semua aspek pendidikan itu dulu, seperti menteri, para pejabat pendidikan,
guru, kepala sekolah, dosen, asisten akademik, rektor dan lainnya. Belajar tertulis
dan mencontoh langsung adalah hal yang paling tepat. Contoh adalah teguran tak
tertulis yang lebih menyakitkan dan bisa mengubahkan.