Jam kosong menunggu Pak Lilik. Ya, hari ini akhirnya kuliah metnum berakhir. Kehidupan seolah tak lama berjalan. Semuanya berjalan dalam waktu singkat. Ketika bulan Januari, rasanya lama menunggu Februari. Masuk Februari, seolah lama menunggu Maret dan seterusnya. Hingga akhirnya sekarang berada di bulan Mei. Begitu dahsyat waktu berjalan.
ya, dan masih banyak target pribadi yang belum tercapai. Parah ahh,, terutama penulisanku. Aku hanya berpikir kapan akhirnya bisa menelurkan sebuah karya.
Hingga pagi ini, masih saja pikiran ku melayang ntah kemana. Meskipun telah sedikit dikacaukan dengan kuliah Mekanika Tanah, tetap saja pemikiran itu ada. Kenapa wacana hanya sebatas wacana ? Mengapa?
Aku terkadang ingin menyesali waktu yang ada, yang terlewat tanpa kesan dan karya. Ahh, manusia macam apa aku ini? Semua ingin sempurna. Tetapi, semua menurut pemikiran dan keinginanku saja. ya, tampaknya kehidupan ini tidak adil untuk beberapa orang. Bagiku, hidup sangat adil untukku. Lebih dari yang aku pernah bayangkan ketika kecil. Namun, aku tidak menjadikannya adil ketika aku harus disuruh berpikir mengapa terus-terusan. Ada rasa lelah dan egoisme untuk terus merasakan sempurna. Kenapa ini? Kenapa itu?
Ahh, dunia begitu luas, tapi mengapa hanya sedikit yang aku lihat. Dunia begitu susah, tapi kenapa hanya sedikit bahkan tak ada yang bisa ku bantu? Manusia begitu banyak, tapi kenapa aku sulit sekali untuk punya 10000 teman dalam hidupku? Ahh, hanya itu saja kerjaku. Ya, sebuah keluhan yang tidak pernah berakhir.
Aku kadang mengasihani diri sendiri.
Aku juga kadang merasa super.
Aku kadang merasa rendah diri.
Aku juga, juga kadang merasa tinggi hati.
Maka itulah, aku selalu bertanya. Manusia macam apakah aku ini? Ada ya manusia selabil aku?
ahh, tak akan pernah temukan jawabannya. Hingga sekarang. Lagipula, untuk apa semua pertanyaan ini dijawab. Tak akan ada gunanya kan?
Lagipula, tahu tidak akan menjaminmu bahagia dengan jawaban itu. Super sekali dunia ini.
Kosong. Bukan berarti aku yang kosong dan sekarang labil.
Hanya sebuah judul yang menggambarkan kondisi kuliah saja.
Suatu hal yang jadi kebiasaan saja. Kosong. Kata - katanya simpel tapi dalam sebenarnya jika dialamatkan untuk hal - hal tertentu. Gambaran yang begitu sensitif buat banyak keadaan.
Tapi setidaknya, aku tidak sendiri. Meskipun kosong itu ada.
Coba tanya pada sapapun, penyair pun akan sulit mendefinisikan kata kosong ini. Tidak ada untungnya memikirkan makna secara berlebihan. Lagipula, aku bukan sastrawan, aku bukan mahasiswi sastra Indonesia.
Hanya mungkin kebetulan saja, kondisinya sama dengan kata ini. Tidak ada yang salah kan kalo udah gitu keadaannya. Coba lihat sekelilingmu.
Aku ada di situ.
No comments:
Post a Comment