Monday, May 17, 2010

Saat Melihat

Berbahagialah ketika memang harus berbahagia,
menangislah ketika memang harus menangis,


tawa, duka, suka tidak lebih dari sebuah keinginan.
Mereka ada karena kita yang meminta. Namun mereka juga bisa hilang karena kita yang mengusirnya.


Sulit sekali tersenyum di saat ini, tapi beban apa yang bisa menghantui kita selain diri kita sendiri. Bukannya musuh, tapi penyitaan emosi yang kadang membuatnya menjadi hal yang berbahaya. Tidak ada yang berhenti di tengah kan? Ketika kita ingin menggapai mimpi. Tak ada mimpi yang terlalu jauh untuk diraih, semua bisa tergapai dan jelas keberjalanannya. Semuanya jelas dan begitu sempurna!!!


Rasa sedih, sesal, dan marah. Menyadarkan ku hanya membuat matahari tak pernah terbenam di waktu yang seharusnya, berganti dengan cahaya bulan. Iya, mungkin ini hanya tepat buat pribadi masing-masing di luar akal dan logika sebagai teknik. Tapi benar, ketika amarah, rasa sedih itu tak padam, matahari akan tetap panas.


Hmm, lama kelamaan hanya tersisa sesal kembali. Aneh, emosi yang begitu labil seringkali menjatuhkan orang. Mengapa permainan dasar kehidupan hanya ada di tangan pemain permainan itu sendiri. Dan diakhiri endingnya cuma dua lagi, bahagia atau menangis. Rasa-rasanya semua sama saja.

No comments:

Post a Comment