Diri masih belum bisa terlelap, katakanlah kejar setoran untuk kepuasan otak diri sendiri. Tulisan ini hanya cerita sederhana tentang bagaimana negara Jepang yang sangat berjuang menjaga para penduduknya pun masih bisa memperlihatkan adanya kemiskinan itu dengan sangat jelas. Foto di bawah ini diri ambil dengan sembunyi dan tanpa maksud apapun. Diri tidak memikirkannya sebagai suatu penghinaan atau upaya menjatuhkan pihak manapun. Tidak sekalipun!
Definisi kemiskinan dalam artikel ini katakanlah memang tidak ada kebutuhan sandang, pangan dan papan yang memadai. Kurang sejahtera mungkin bisa jadi berbeda definisinya untuk diri karena beberapa waktu ini diri sempat sulit membedakan bagian mana mereka yang sejahtera dan miskin di negara asal diri.
Ini kali pertama diri untuk melihat fenomena homeless -istilah sederhana yang seringkali diri dan kawan - kawan di sini gunakan- di Jepang, terutama di Tokyo. Muncul saja banyak pertanyaan tentang negara ini kembali apakah ada yang salah dengan sistem yang mereka terapkan? Atau memang di kota besar semacam Tokyo 'sedikit' lebih sulit untuk memberikan kebaikan? Tokyo memang dikenal dengan salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Di Tokyo, harga sewa apartemen ukuran sekitar 4 m x 5 m saja paling murah sekitar 70.000 yen per bulannya atau sekitar 8 juta rupiah. Nilai itu belum ditambah dengan biaya untuk berbelanja kebutuhan isi apartemen, makan sehari - hari, transportasi dan lainnya. Jadi, mungkin tidak salah kota ini dikatakan sebagai salah satu kota termahal untuk urusan biaya hidupnya. Para pekerja kantoran pun masih ada yang harus rela tinggal di tempat yang sangat kecil seperti rumah kapsul untuk menghemat pengeluarannya kebutuhan hidupnya. Dengan kondisi seperti ini mungkin sangat wajar untuk bertemu homeless seharusnya secara logika. Akan tetapi, diri tergelitik saja dengan pertanyaan mengapa?
Selama di Jepang, diri belajar bagaimana pemerintah Jepang berusaha sangat giat untuk menjamin kebutuhan masyarakatnya melalui pajak ataupun asuransi. Keteraturan dan kenyamanan bagi warganya sangat diupayakan dalam segala aspek mendasar, seperti kesehatan, papan dan pelayanan publik lainnya. Oleh karena itu, ketika mengunjungi Tokyo untuk ke sekian kalinya dan baru diri melihat kehadiran beberapa homeless, pertanyaan dalam hati pun muncul, bagaimana sistem yang sedemikian rupa itu bisa juga kewalahan hingga sangat parah? Opini diri, kecolongan dalam suatu sistem memang suatu hal yang wajar tetapi jika hasil dari kecolongan itu dalam bentuk yang sangat berbeda jauh mungkin bisa jadi ada yang berbeda. Apakah ada distribusi yang tidak merata untuk setiap warga negaranya? Apakah mereka tidak dilindungi negara? Setidaknya diberikan tunjangan hidup hingga mendapatkan pekerjaan untuk hidup layak atau bisa jadi ditransmigrasikan ke area lain di Jepang. Banyak pertanyaan yang diri belum tahu jawabannya. Ini menjadi menarik untuk lebih tahu sistem sosial dan keteraturan di negara sakura.
Kesempatan ini setidaknya membuat diri belajar lagi bahwa negara manapun masih memiliki masalah dengan namanya kemiskinan. Kemajuan industri suatu negara atau pendapatan per kapitanya yang tinggi pun tidak menjamin seluruh bagian masyarakat itu merasakannya. Sederhananya, tidak ada hal yang ideal di dunia ini. Pemerataan itu mungkin bisa dikatakan ada secara umum, tetapi akan selalu ada pencilan atau nugget effects di dalam setiap sistem sepertinya.