Thursday, July 07, 2016

Kedatangan Rektor ITB di Akita

Setelah tahun sebelumnya mahasiswa mendapat kunjungan dari Bang Andrea Hirata, Kak Meda Wayu dan Kato-sama, kali ini kunjungan dari rektor ITB menjadi salah satu yang istimewa untuk mahasiswa Indonesia. Di akhir September 2015, kunjungan dosen dan rektor ITB untuk WFURS menjadi salah satu kunjungan penting setelah beberapa kunjungan dari para expert di bidangnya sejak awal 2015 seperti Dr. Hedenquist, Dr. Joerg Matschullat dan lainnya. Jelang akhir September 2015, Akita University menjadi tuan rumah untuk WFURS (World Forum Universities on Resources and Sustainability) 2015. Konferenci WFURS diadakan tiap 1 tahun sekali dan diikuti oleh sekitar puluhan petinggi universitas di seluruh dunia. Ntah ini kebetulan atau tidak, pembimbing diri adalah salah satu executive committee board di WFURS sebagai bendahara. Setiap universitas yang berkeinginan bergabung juga dapat melakukan registrasi dan akan disetujui oleh sidang anggota WFURS setiap tahunnya. Setelah Akita di 2015, forum akan dilaksanakan di Rusia pada September 2016. Informasi lengkapnya tentang forum ini ada World Forum Suistainability. Siapa tahu universitasmu ingin registrasi sebagai bagian dari WFURS juga. 

Setelah jadwal yang ditentukan ada, para mahasiswa Indonesia di Akita berbagi jadwal untuk menjadi LO dan staf di WFURS. Di kesempatan ini, diri mendapat bagian keduanya sekaligus. Diri menjadi staf komite di WFURS untuk mengurus jalannya acara. Tugas pertama diri adalah menjemput para utusan di Bandara Akita yang datang sehari sampai 2 hari sebelum acara. Sehari sebelum acara menjadi waktu yang paling sibuk untuk kedatangan para petinggi universitas tamu di bandara Akita, termasuk diri yang menunggu para tamu dari pagi hingga malam. Terima kasih lelakiku yang sangat baik menemani selalu. Rektor ITB, Bapak Prof. Kadarsah Suryadi dan guru besar teknik pertambangan ITB, Bapak Prof. Rudi Sayoga berkesempatan sebagai wakil langsung dari ITB untuk WFURS 2015 datang sehari sebelum acara. Perjumpaan pertama diri dengan para wakil kampus almamater diri setelah hampir 2 tahun bersekolah di Akita University akhirnya terjadi di September 2015. 
Para peserta WFURS 2015 Akita University.
Hari - hari selanjutnya diisi dengan beragam agenda WFURS, mulai dari konferensi hingga field trip. Selain itu juga ada pertemuan antar petinggi kampus yang datang dan Akita University. Sungguh kesempatan yang asik! Beberapa mahasiswa dari jurusan geologi mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam poster presentation sebagai bagian dari konferensi WFURS 2015. Seluruh staf juga ikut serta dalam seluruh rangkaian acara, bahkan field trip. Selama 2 hari penuh, para peserta konferensi mengikuti acara dari pukul 09.00 hingga 17.00 yang diisi dengan presentasi, diskusi dan dialog antar universitas, termasuk sidang terbuka untuk kebijakan tahun selanjutnya. Para petinggi universitas yang ramah juga ikut ambil bagian dalam poster session mahasiswa Akita University untuk memberikan ide dan masukan tentang riset yang dilakukan. Setelah seluruh rangkaian acara konferensi selesai, seluruh mahasiswa Indonesia berkesempatan untuk makan malam bersama dengan para tamu dari ITB. Acara makan malam yang meriah di restoran sushi yang sudah disiapkan oleh salah satu mahasiswa dan sekaligus dosen Teknik Pertambangan ITB yang sedang menempuh pendidikan di Akita University, Pak Fadila. Obrolan ringan dan diskusi santai kami mengalir selama makan malam, ada banyak informasi baru yang diri dapatkan dari para petinggi universitas ini dan diri yakin akan berguna ke depannya. 
Diri bersama dengan para tamu dari Indonesia.
Hari selanjutnya, diri ikut dalam field trip ke beberapa destinasi sekitar Akita. Kesempatan field trip menjadi ajang yang paling menyenangkan karena tujuan field trip ke berbagai tempat processing plant mineral milik Dowa Mineral dan tempat tambang historis Osarizawa Mine. Seluruh petinggi universitas yang terlibat pun terlihat sangat menikmatinya. Kesempatan yang jadi ajang paling menyenangkan adalah melihat dan memegang langsung emas murni dan perak murni yang merupakan hasil dari processing plant milik Dowa di Kosaka. Processing plantnya menggunakan e-waste seperti handphone, laptop dan berbagai elektronik lainnya untuk diambil mineral berharga di dalamnya. Osarizawa Mine yang sudah tutup dan dikelolah sebagai tempat wisata juga menjadi tempat tujuan yang menyenangkan. Para petinggi universitas yang ikut pun terpesona dengan pengelolahan bekas tambang yang berkelanjutan sebagaimana tujuan dari WFURS sendiri. Hari ditutup dengan makan malam di bekas kantor administrasi Kosaka Mine yang kini sudah menjadi museum.
Suasana field trip di Osarizawa Mine.
Diri mencoba mengangkat emas batang murni, 19 kg!
Perjalanan yang menyenangkan selama WFURS ditutup sengan kesempatan dan banyak pelajaran berharga dari berbagai universitas dan instansi yang dikunjungi. Puji Tuhan, diri mendapatkan kesempatan yang menyenangkan seperti ini. Terima kasih juga lelakiku yang begitu baik untuk terus menemani diri selama perjalanan dan pekerjaan diri sebagai staf. Terima kasih sudah datang mengunjungi kami, bapak - bapak. 

Laskar Pelangi di Akita

Pertengahan November 2014, menjadi kesempatan yang bagus untuk WNI dan juga warga negara Jepang lainnya di Akita untuk bertemu dan berdiskusi dengan salah seorang penulis kenamaan Indonesia, Andrea Hirata. Novel tetralogi Laskar Pelangi yang sudah diterbitkan di Indonesia sejak tahun 2005 memberikan dampak besar bagi dunia pendidikan dan pengembangan daerah Belitung sebagai objek wisata nasional. Laskar Pelangi sebagai novel pertama kali diterbitkan sudah diterjemahkan ke lebih dari 35 bahasa di lebih dari 134 negara oleh penerbit - penerbit terkemuka. Bang Andre, begitu beliau dipanggil, juga menerima banyak penghargaan sastra bergengsi dunia karena tetralogi Laskar Pelangi. Salah satunya adalah doctor honaris causa dari University of Warwick, Inggris yang sangat bergengsi. 
Foto bersama dengan Meda Wayu dan Bang Andre.
Kesempatan langka ini kami dapatkan saat kunjungan Bang Andre dalam rangka mempromosikan buku Laskar Pelangi yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Dr. Hiroaki Kato dan Dr. Shintaro Fututake dari Sophia University, Tokyo. Kato-sama juga melakukan penerjemahan lagu ost Laskar Pelangi yang dinyanyikan oleh kak Meda Wayu. Melalui perantara salah satu WNI, kak Tina S. dan Prof. Miyake di departemen linguistik, Bang Andrea Hirata, kak Meda Wayu dan Hiroaki Kato dapat datang ke Akita menyampaikan diskusi singkat tentang Laskar Pelangi dan menyajikan pertunjukkan lagu - lagu ost Laskar Pelangi. Dalam kesempatan yang sama, sekaligus menjadi official peluncuran buku Laskar Pelangi versi bahasa Jepang di Akita. Acara dilangsungkan tanggal 13 November 2014 di departemen linguistik Akita University. Hal yang menyenangkan adalah acara diskusi ini terbuka untuk umum dengan bahasa pengantar bahasa Jepang, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Oh iya, Miyake sensei sangatlah fasih berbahasa Indonesia sehingga diskusi kami menjadi lebih seru. 
Postet pengumuman acara diskusi buku.
Acara dimulai pukul 16.30 sore. Kak Tina dan Miyake Sensei sudah stand by menjemput rombongan bang Andre dari Akita station. Kami berkumpul semua di lokasi acara langsung dan bersiap untuk ikut acara diskusi buku Laskar Pelangi. Acara diskusi berjalan lancar dan baik dengan semua bantuan yang bisa kami miliki. Seorang teman asal Filipina bertindak sebagai dokumentasi acara ini dari awal hingga akhir. Selain itu, beberapa mahasiswa dari departemen linguistik juga membantu dalam persiapan acara diskusi ini. Acara diskusi dimoderatori dan langsung diterjemahkan juga oleh Miyake sensei dan juga Kato-sama. Selain membahas isi buku, bang Andre, kak Meda dan Kato juga melakukan pertunjukkan musik singka yang diambil langsung dari ost Laskar Pelangi. Para peserta diskusi yang datang pun semakin terhibur dan semangat untuk mengikuti acara hingga selesai. Hasilnya banyak pertanyaan selama diskusi berlangsung karena para peserta begitu bersemangat untuk mengenal Indonesia dengan segala keunikannya. 
Bang Andre membuka sesi dengan memperkenalkan Indonesia dan Belitung.
Miyake Sensei sebagai moderator.

Acara diskusi berlangsung selama 2 jam. Setelah acara selesai, peserta dapat membeli buku yang sudah diterjemahkan langsung kepada tim seharga 2000 yen per bukunya. Kesempatan yang baik untuk sekaligus mendapatkan tanda tangan dan foto bersama yang menulis dan menerjemahkannya. Bagi mereka yang tidak kebagian, buku Laskar Pelanginya pun dapat dibeli langsung di toko - toko buku atau pun amazon.jp. Praktis! Acara jamuan di rumah Miyake sensei juga dilakukan setelah acara diskusi langsung. Diri dan Kak Tina juga berkesempatan untuk ikut dalam acara jamuan di rumah Miyake sensei, bahkan kami sempat menginap karena keesokan harinya mengantar tim ke stasiun keesokan untuk menuju kota promo berikutnya. Malam hari di rumah Miyake sensei diisi dengan diskusi ringan, bernyanyi bersama dan penyerahan kenang - kenangan kecil untuk tuan rumah. Menurut diri, Bang Andre, kak Meda dan Kato adalah orang - orang yang humble. Dari sini juga, diri mendapatkan kesempatan untuk membuat proyek kecil yang bisa mendukung museum kata milik bang Andrea Hirata di Belitung. Diri berkesempatan untuk ikut ambil bagian di bagian museum mini geologi yang mereka miliki. Puji Tuhan apa yang diri lakukan bisa bermanfaat untuk yang lainnya.
Pertunjukan sederhana dari tim di rumah Miyake Sensei.
Kak Tina, Kak Meda dan diri di tengah badai Akita.
Di tengah dinginnya musim dingin Akita, diri dan Kak Tina mengantarkan tim berangkat ke stasiun. Hanya bang Andre dan kak Meda yang berangkat belakangan setelah Kato berangkat pada malam hari setelah acara jamuan. Sembari menunggu di stasiun, kami menyempatkan diri untuk mencicipi kopi khas Akita, kopi Hiroomote di stasiun dengan obrolan ringan tentang pendidikan, cita - cita dan mimpi. Puji Tuhan semua berjalan baik dan hingga waktunya bang Andre dan kak Meda harus berangkat. Di kesempatan lainnya, kami akan bertemu kembali. Perjumpaan singkat yang berkesan. Terima kasih Tuhan, terima kasih semuanya. 
Bang Andrea, kak Meda dan diri.

Tuesday, July 05, 2016

Farewell Party with Kiddy Cat

Sebelumnya diri juga pernah bercerita kalau diri memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengajar bahasa Inggris untuk anak - anak Jepang. Nama kursusnya adalah Kiddy Cat yang berdiri relatif baru di Akita sendiri. Lokasinya yang dekat dengan Menara Serion, diri berkesempatan untuk mengajar kembali sebelum akhirnya diri pulang. Ini juga menjadi semacam farewell party untuk diri dengan anak - anak yang diri pernah ajar sejak 2.5 tahun yang lalu. Meskipun tidak rutin, diri tetap senang dan selalu mendapatkan memori yang berkesan saat bisa mengajar ke Kiddy Cat.
Welcome to the party!
Setelah selesai sidang, diri berkesempatan untuk mengunjungi Kiddy Cat kembali. Waktu yang juga pas dengan kehadiran lelakiku di Akita sehingga diri bisa mengajak dia untuk dikenalkan kepada anak - anak didik diri. Anak - anak Jepang, bahkan ibu - ibunya selalu excited ketika tahu ada orang asing yang datang dan masih muda sudah menikah. Setidaknya itu kesan yang selalu diri dapatkan ketika datang. Mereka senang sekali menanyakan apakah diri sudah berpasangan atau belum, meskipun bertanya dengan malu - malu awalnya. 
Foto dengan calon model dan manga artist.
Farewell party yang diadakan oleh Futada Sensei kali ini masih mengangkat tema musim dingin karena waktu itu masih di sekitar Februari atau puncaknya musim dingin. Futada sensei menunggu sampai saat diri bisa datang di tengah semua persiapan diri untuk sidang sebelumnya yang cukup menyita waktu diri hari lepas hari. Setelah sepakat harinya, diri dan lelakiku datang ke tempat Kiddy Cat dijemput oleh Futada Sensei. Kami juga mengajak teman kami, Thomas dengan harapan dia akan menjadi next teacher di Kiddy Cat ke depannya menggantikan diri. Futada sensei menjemput kami di depan kampus dan langsung dengan kendaraan pribadinya meluncur ke Kiddy Cat. Seperti biasa, kami sampai selalu lebih awal untuk melakukan briefing dan persiapan acara. Saat itu masih pukul 13.00 sedangkan acara dimulai pukul 14.30 karena di hari sabtu, anak - anak ada banyak kegiatan extrakurikuler di sekolah. 

Hari ini, kami memulai tepat waktu acaranya. Satu per satu dari mereka datang diantarkan oleh orang tuanya. Wajah - wajah bahagia itu menyenangkan memang untuk dilihat. Awal mulai, kami melakukan perkenalan kembali untuk lekakiku dan Thomas. Rasanya senang sekali saat melihat anak - anak excited mengenal dua guru baru mereka hari itu. Acara utama dimulai. Kami membacakan buku cerit abergambar dalam bahasa Inggris bergantian dan dilanjutkan dengan permainan, juga membuat kerajinan tangan. Anak - anak dilatih untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris meskipun sederhana saat mereka membuat kerajinan tangan berupa pajangan kepala santa claus! Lelakiku sibuk membantu para anak - anak yang umurnya lebih kecil, sedangkan Thomas harus menjaga satu anak, Kenta, yang sangat aktif dalam mengerjakan bagiannya. Diri juga sibuk membantu anak - anak yang usianya lebih tua. hehehehee...
Foto dengan karateka dan balerina. Hana, akita bijin.
Selesai acara dan semua bersiap foto.
Selesai membuat kerajinan tangan, kami melanjutkan ke permainan BINGO dengan menggunakan peralatan mainan yang sudah disiapkan oleh Futada Sensei. Seperti sebelum - sebelumnya, anak - anak selalu senang belajar sambil bermain. Dengan setiap angka yang keluar, anak - anak diminta menyebutkan angka tersebut dalam bahasa Inggris. Juara permainan ini akan mendapatkan hadiah berupa stiker yang disukai kebanyakan anak - anak Jepang. Buat mereka yang tidak juara, seperti diri juga, tetap dapat stiker tetapi dalam jumlah yang berbeda dan bentuk yang berbeda pula. Selesai permainan, kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto dan membagikan bingkisan kecil untuk setiap anak yang sudah disiapkan oleh Futada Sensei. Anak - anak selalu senang saat mendapatkan bingkisan hadiah setelah selesai belajar. Lelakiku pun sangat excited untuk bermain dengan anak - anak, ia dengan telaten menjawab tiap pertanyaan anak - anak yang bertanya kepadanya dalam bahasa Inggris sederhana bercampur dengan bahasa Jepang. Luar biasa! Pengalaman hari itu yang membuat semua orang tertawa senang karena farewell party berjalan lancar. Kenta yang awalnya tidak nyaman pun karena kakak kesayangannya tidak bisa hadir bersama dengan dia pun bisa menikmati acara hingga selesai. Diri senang sekali bisa berbagi dengan anak - anak di Kiddy Cat, apalagi expresi bahagia lekakiku di sana. 
Lelakiku membagikan bingkisan kepada anak - anak.

Pindahan Barang dari Jepang

Nah ini pasti akan berguna buat siapapun yang akan pulang dari Jepang setelah cukup lama menetap. Beruntunglah diri sebagai WNI, ada banyak pilihan untuk mengirimkan barang dari Jepang. Kerjasama antar negara yang sangat membantu ini membuat diri bisa mengirimkan barang dengan lebih mudah dan yang pasti harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan kawan - kawan lain yang tidak ada kerjasamanya. Setelah menetap hampir 3 tahun di Jepang, diri harus kembali ke Indonesia, termasuk perintilan yang diri miliki selama di sini pun mau diri bawa pulang. hehehe..terima kasih lelakiku. Puji Tuhan berkatNya sangat banyak selama diri tinggal dan sekolah di Akita, mulai dari peralatan rumah tangga, sampel, bahan ajar, buku - buku, peralatan lainnya sampai boneka pun Tuhan berikan sangat banyak. Kalau saja Tuhan mengizinkan, mungkin diri bisa membawa seluruh isi rumah tanpa ada yang dijual, tapi tidak semuanya bisa berjalan demikian kan. Total 16 kardus yang bisa diiizinkan oleh Tuhan kirimkan saja sudah membuat diri senang. Itu masih di luar total sekitar 6 koper yang diri bawa dengan menggunakan pesawat. Terima kasih lelakiku..sekali lagi..
Persiapan packing. Satu dari 16 kotak yang dibawa.
Dengan barang sebanyak itu, bagaimana bisa semuanya dikirimkan? Tenang, ada banyak jalan menuju ke Roma dan kali ini menuju rumah di Indonesia. Terlebih Jepang adalah salah satu negara dengan komunikasi barangnya aka sistem pengiriman barangnya sangat bagus dan efisien. Beberapa pilihan tersedia bagi WNI untuk urusan pindahan seperti ini. 
1) Pengiriman via JP Post. Pengiriman dengan metode ini pun masih ada beberapa pilihan yang tersedia. Sebagaimana yang ditawarkan dari pihak JP Post, ada 3 macam paket yang tersedia dengan kecepatan sampai barang dan harga jasa yang harus dikeluarkan pastinya. Paket kilat 5 hari sampai di tempat tujuan atau EMS adalah paket paling mahal yang bisa digunakan. Biaya pengirimannya dihitung per kg dan maksimal satu boxnya adalah 30 kg saja. Per 30 kgnya akan dikenakan biaya hingga 26500 yen untuk tujuan negara - negara Asia. Harga juga bervariasi dengan negara lokasi tujuan EMS (Air Mail). Cek ratenya di JP Post EMS Rate. Pilihan paket kedua adalah Economy Air (SAL) yang dijamin barang akan sampai dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Pengirimannya masih menggunakan pesawat tetapi prioritasnya tidak sama dengan EMS. Harga yang diterapkan juga masih cukup mahal jika berencana mengirimkan banyak barang. Variasi harganya bisa dicek di JP Post SAL Rate. Per 30 kgnya akan dikenakan biaya sekitar 16000 yen untuk tujuan negara - negara Asia Tenggara. Pilihan paket terakhir yang juga paling murah adalah Surface Mail. Biaya yang dibutuhkan untuk 30 kgnya adalah 11300 yen dengan waktu tunggunya mencapai kurang lebih 3 bulan hingga sampai di tempat tujuan karena pengiriman menggunakan kapal dan moda transportasi termurah di negara tujuannya. Cek kepastian ratenya di JP Post Surface Mail Rate

2) Pengiriman via kargo. Di Jepang, ada beberapa operator kargo yang menyediakan jasa pengiriman barang ke Indonesia. Mereka umumnya berada di port - port besar seperti Yokohama dan Kobe. Salah satu operator kargo yang kemarin sangat membantu diri dan lelakiku adalah Kami Gumi, Ltd. Perusahaan kargo yang berkantor pusat di Kobe ini sudah bekerja sama mengirimkan barang - barang milik WNI yang akan pindahan ke Indonesia kembali sejak 1985 dan menurut diri memang mereka sangat terpercaya. Pengiriman dengan menggunakan kargo ini akan dilakukan secara kolektif dan memiliki jadwal yang cukup ketat. Hal ini semata - mata untuk memperlancar pengurusan administrasi dan penghitungan detail biaya dan tempat yang digunakan. Di Jepang semuanya harus bisa tepat waktu dan efisiensi dalam mengurus segala sesuatunya. Tiap tahunnya, operator Kami Gumi menerima pengiriman barang dua kali pada bulan April dan Oktober. Namun, pendaftaran untuk pengiriman memiliki beberapa persyaratan yang harus dipatuhi dan diikuti, seperti mereka yang permanen pulang ke Indonesia lah yang bisa mengirimkan barangnya via kargo, mengurus surat - surat ke KJRI, kantor pusat di Kobe dan Jakarta, juga mengurus administrasi lanjutannya setelah tiba di Jakarta untuk ke beacukai. Namun, semuanya akan terasa mudah karena pihak dari Kami Guminya pun sangat membantu dalam banyak hal selama kita mengikuti prosedur yang ada. 

Pendaftaran sebagai pengirim biasanya sudah dibuka sekitar 4-5 bulan sebelum batas akhir pengiriman kargo ke Indonesia. Setelah mendaftar, para peserta akan dibagi ke dalam kelompok - kelompok dan membuat masing - masing dafatr bawaannya yang detail dan sejujur - jujurnya. Jadi, para pengirim sudah harus tahu 2-3 bulan sebelumnya barang - barang apa saja yang akan dibawa secara detail di dalam tiap kotaknya. Itu semua pun tidak boleh diubah kembali jika sudah dilegalisir oleh pihak KJRI. Tiap kesalahan atas ketidakcocokan daftar dan isi kotak saat diperiksa akan menjadi tanggung jawab pihak pengirimnya. Harga yang ditetapkan adalah berdasarkan satuan meter kubik, sehingga pembiayaannya cenderung lebih murah. Batas maksimal sekitar 25-30 kg per kotak yang dikirimkan. Ada beberapa ketentuan detail untuk barang - barang khusus, seperti alat olahraga dan alat musik yang semuanya juga sudah dikirimkan kepada setiap peserta untuk dipelajari sesaat setelah terdaftar. Harga per April 2016, biaya kirim per meter kubiknya dari port Yokohama ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta sekitar 25000 yen, belum termasuk dengan biaya pajak, dokumen, premi asuransi dan pengiriman hingga alamat tujuannya. Jadi pembiayaan disesuaikan dengan tujuan akhir barang dan berapa meter kubiknya total kardus yang dibawa. Opsi ini yang sangat diri sarankan untuk yang ingin pindahan permanen aka pulang kampung agar tidak menghabiskan banyak biaya. Pihak Kami Gumi mengizinkan pembawaan hampir semua barang, kecuali kendaraan dengan sparepartnya, makanan, material pornografi dan beberapa lainnya. Jika hanya barang - barang umum keperluan penetap sementara seperti kulkas, mesin cuci, pemanggang, alat olahraga dan lainnya, biasanya tidak akan jadi masalah. 

3) Barang bisa dibawa dengan menggunakan paket extra baggage airline. Ini adalah opsi yang biayanya cukup mirip dengan opsi pengiriman metode surface mail. Namun, kelebihan yang didapatkan adalah waktu pengiriman yang singkat karena barang akan sampai bersamaan dengan yang membawa di airport tujuan akhir. Opsi ini bisa digunakan dengan catatan hanya untuk operator airline yang menghitung extra bagasinya sebagai per piece koper (23 kg), bukan dihitung per kg additionalnya. Contoh airline yang bisa menerima sistem ini adalah Korean Air dan ANA. Kedua, opsi ini bisa digunakan dengan lebih murah jika tiket yang digunakan adalah tiket terusan dari domestik lalu internasional misalnya dari Akita, langsung Haneda dan Jakarta sebagai tujuan akhir. Pindah pesawat dilakukan dengan operator yang sama sehingga tidak ada collecting bagasi kembali dan biaya kelebihan bagasi hanya dibayarkan sekali sampai bandara tujuan akhir. Biaya yang dibayarkan per bagasinya untuk ANA sekitar 10000 yen (23 kg tiap 1 kopernya) dan 100US$ untuk Korean Air. Jika terpaksa harus collecting bagasi, pengiriman dengan Takyubin atau Kuroneko 1-2 hari sebelum keberangkatan ke bandara internasional juga dapat dilakukan sehingga dapat lebih menghemat biaya kelebihan bagasi untuk penerbangan domestik yang umumya 5000 yen per piecenya. Biaya pengiriman koper ke Haneda/Narita umumnya akan lebih murah, tergantung dari mana titik pengirimannya, serta barang juga dapat langsung diambil di airport tujuannya pada jam yang disepakati. Barang - barang yang akan dikirimkan ke airport juga dapat diambil langsung ke rumah oleh pihak Kuroneko sehingga sangat menghemat waktu dan biaya taxi untuk membawa berapapun barang yang akan dikirimkan. 

Itu tadi beberapa pilihan buat siapapun yang akan segera pulang ke Indonesia. Berhubung Jepang sangat variatif, diri yakin masih banyak opsi lainnya yang mungkin akan terus tumbuh ke depannya. Selamat memilih. 

Akita University Museum

Sekolah di Jepang, kebanyakan pasti memiliki fasilitas museum. Terlebih buat sekolah - sekolah yang punya jurusan geologi atau tambang. Beberapa kampus yang diri tahu ada fasilitas museum adalah Akita University, Hokkaido University dan Kyushu University. Hampir semuanya adalah museum tentang geologi dan tambang karena memang sekolah - sekolah ini memiliki program unggulan di bidang tersebut. Museum geologi atau tambang di Akita University berada tepat di bukit belakang Akita University. Museum yang bertingkat 3 ini memiliki beberapa eksibisi yang menggambarkan fenomena alam, dari sampel batuan dan mineralogi, maket pertambangan dan minyak bumi, juga beberapa fosil berharga. Seluruh sampel berasal dari berbagai negara, juga dari pastinya dari Akita. Akita merupakan salah satu laboratorium alam yang masih sangat terjaga. Selain eksibisi, museum juga mempunyai fasilitas tambahan untuk analisa sampel bagi mahasiswa yang sedang melakukan riset. Gedung yang digunakan, langsung terletak di sebelah gedung pameran utama museum. 
Salah satu sampel batuan dari koleksi yang ada.
Singing rocks.
Tiket masuk museum untuk umum hanya 100 yen per orang dan gratis untuk mahasiswa Akita University, cukup dengan menunjukkan KTM saja. Selain pameran sampel bebatuan dan mineral yang disusun berdasarkan cerita terbentuknya, pengunjung juga dapat mencoba langsung beberapa alat peraga dan menonton video terkait dengan proses pembentukan alam. Ada alat peraga dari batuan yang bisa mengeluarkan bunyi alunan musik karena bagian tengah batuan yang kosong ataupun maket besar yang menunjukkan sebaran tambang di seluruh Jepang. Saat diri terakhir mengunjungi, di museum baru saja ada alat peraga semacam PS3 untuk belajar memplanning penambangan bawah tanah. Museum juga memiliki satu ruang audiotorium besar yang biasanya digunakan untuk kuliah umum atau presentasi terbuka bagi publik yang ingin belajar tentang geologi. Biasanya museum ini memiliki kegiatan tahunan untuk memberikan semacam kelas bagi masyarakat umum untuk mengenal apa itu geologi dan tur keliling museum untuk belajar apa saja yang disajikan di museum. Banyak masyarakat umum yang ikutan loh dalam program ini, terutama anak - anak dan orang tua.
Alat peraga pertambangan.

Alat peraga lainnya.
Bonus trek jalan ke atas bukit, tempat museum didirikan, pengunjung bisa melihat pemandangan Akita sepanjang mata memandang. Jika kita datang saat cuaca cerah, pengunjung bisa menikmati pemandangan pinggir Laut Jepang dengan instalasi pembangkit listrik tenaga anginnya yang sedang aktif beroperasi.