Sunday, September 12, 2010

Suratku untuknya

Pagi sayang,

Deru hujan ini masih belum mampu mengantar tidurku. Aku masih terjaga di depan alat elektronik ini. Ia membantuku menyalurkan segala rasa terpendam. Ohya, aku dipukul atau diingatkan tentang orientasiku sepertinya, sayang. Dia sangat baik sebenarnya tapi caranya masih belum jadi hal yang maklum buatku. Sisi dari diriku masih sering terpancing selalu. Aku masih tidak stabil berubahnya sayang. Semua seperti ada dua orang dalam diriku. Di satu sisi, aku merasakan aura negatif, pikiran negatif, kecurigaan, emosi berlebih terus menerus dan kawan - kawannya. Namun, aku juga merasakan sisi berbeda yang terus tertekan keberadaannya. Dia baik, mau berpositif, sabar dan menelaah dulu lalu mengampuni.
Kenapa ya sayang semuanya kayak gini. Masih saja aku gampang terpancing emosinya. Mungkin benar apa katamu kalau sebenarnya memang terlihat dekat tapi aku jauh. Aku masih seperti ini dan belum berubah.

Sayang, maap ya, aku belum tidur sampai sekarang. Aku tidak memperhatikan kesehatanku. Aku belum bisa menentukan prioritas kegiatanku secara utuh. Aku yakin kalau kamu tahu pasti kamu akan sangat marah. Aku ngga inginkan itu. Aku ngga ingin menambah beban emosimu hari apapun. Sayang, aku menyayangimu karena kamu dan tidak ingin pernah menambah apapun emosi karena aku. Dari awal juga, aku hanya ingin menyayangimu saja. Selebihnya, aku hanya tahu Tuhan yang punya jawabannya. Jika aku diberi kesempatan untuk disayangi, itu adalah kasihNya padaku melalui kamu. Terima kasih kalau memang benar kamu yang dijadikanNya perantara. Jikapun tidak, aku tetap harus bersyukur karena merasakan kasihNya dan bisa mengasihi orang lain.

Sayang, kamu gimana di sana? Orang - orang melukaimu ya setiap hari? Semangat ya. Aku memang bukan motivator yang baik. Secara verbal dan perbuatan pun tidak tampak secara nyata kan. Tapi itulah aku adanya. Aku hanya bisa berdoa dan berharap kamu merasakan rasa sayangku padamu. Itu saja. Mungkin aku dibilang berlebihan atau narsis atau tidak tahu diri atau apapunlah, tapi tetap aku sampai sekarang masih menyayangimu. Lewat doa dan semangat diriku sendiri yang bisa ku lakukan. Aku masih ingat ketika kamu mengajarkan aku untuk memberi pengaruh yang baik pada orang lain lewat perkataan dan perbuatan kita. Aku tahu itu sedari dulu, tapi kamu mempertegas bagian - bagian tertentu yang seharusnya aku lakukan juga sedari aku tahu. Akan tetapi, aku mohon jangan jadikan itu sebagai alasan untukmu menyimpan segala galau dan ketidaknyamanan apapun itu disebut, sendiri ya. Berusahalah berbagi beban dengan yang kamu percaya, mungkin bukan aku. Mungkin dengan orang - orang terdekatmu yang kamu percaya. Itu jauh lebih baik. Kamu tidak akan menambah beban kok. Kasih yang tulus tidak akan terbebani ketika ada perasaan lain yang ingin tercurah padanya. Ia akan siap mendengarkan, merasakan dan jika mampu siap untuk menjawab pertanyaan.

Sayang, semua ini begitu indah. Terkadang rasa kangen aku padamu memang tampak tak terbendung. Iya, aku akuin demikian. Mungkin ini karena masih di awal saja. Tetapi, aku berharap dan aku percaya ini tidak akan hanya di awal, semoga hingga waktu yang diizinkanNya. Aku menuliskan ini sebagai surat untukmu. Aku merindukanmu. Merindukan segala waktu yang telah dilalui. Aku sadar aku mungkin hanya bagian kecil dalam kenanganmu. Aku tahu seharusnya aku membendung semua perasaan ini dengan baik. Kamu tahu kan alasannya. Aku sendiri sudah pernah bilang padamu secara langsung. Tidak ada yang pasti di dunia ini. Jadi aku seharusnya segera mengantisipasi sesuatu yang berlebihan ini. Seharusnya semua perasaan ini ditata pada tempatnya sehingga ketika pada akhirnya kita menemukan jalan buntu dan harus terpisah, aku tidak akan sangat terluka.

Mungkin (kembali) benar kata sahabatku kalau aku sedari sekarang harus mencari cara untuk obat perasaanku nanti. Jujur, terkadang aku sok kuat di hadapanmu karena aku mau kamu berbahagia dengan yang terbaik sesuai pilihanmu. Meski pada akhirnya mungkin saja aku akan alami rasa sakit itu. Ku akui kamu yang pertama untuk masalah seperti ini. Ohya, definisikan masalah dengan rasa ya. Kenapa disebut masalah karena konotasi lebih tepat saat ini menggambarkan perasaan ini. Doaku hanya satu, kamu benar terasah menjadi berlian yang indah untuk setiap bagiannya. Kamu pasti paham maksudku apa.

Terima kasih ya telah menghias hari - hariku akhir - akhir ini dengan baik. Terima kasih telah menjagai aku secara mental dan fisik. Aku sadar kalau aku belum melakukan apa - apa untukmu. Bahkan membuatmu tersenyum pun belum rasanya. Aku rindu mendengarmu tertawa lepas dan aku belum bisa menggoreskannya padamu. Terima kasih cukup membantuku berubah, mengingatkan aku akan keluarga, menyemangati aku untuk mencapai cita - cita.
Terima kasih bahwa ada semangatku untuk dipanggil Bunda pada waktuNya nanti.

Pagi ini hujan loh sayang di sini.
Aku hanya tertegun untuk mengamati isi tulisan ini. Maap kalau ternyata bagimu aku masih berlebihan untuk masalah ini. Aku hanya ingin melepaskan seluruh rinduku. Itu saja. Perkara tulisan ini jadi permasalahan dalam artian sebenarnya, aku harus siap. Aku hanya mencoba jujur dengan diriku. Aku hanya seorang wanita biasa yang masih belum teratur. Aku punya perasaan yang tidak bisa diikat oleh tradisi ataupun kebiasaan. Perasaanku bebas memilih bagaimana jalannya. Tolong biarkan saja dia apa adanya seperti ini karena aku masih belum menemukan cara untuk mengendalikannya.
Mungkin pada akhirnya akan ada nilai minus yang banyak karena dia terlalu liar. Namun, sejauh ini dia yang membuatku semangat. Perasaan yang ada denganku seperti Tuhan selalu ada ketikaku jauh. Aku masih belajar. Lebih baik jangan mengeluhkan diriku ini, tapi ajari saja bagaimana seharusnya perasaanku berlari dan berjalan baik.

Sayang,
semoga di waktu yang tepat kamu bisa membaca ini. Aku tahu kamu sibuk dengan segala yang ada di sana. Jaga dirimu baik - baik ya. Hanya itu yang bisa ku katakan. Maap, perkataanku tidak ada yang real yang bisa kamu lihat. Percayalah, itu akan terjadi pada waktuNya. Aku sedang berusaha untuk itu.

Sayang, aku menyayangimu seutuhnya, tanpa alasan dan tanpa syarat. Sejauh ini, aku hanya tahu dan merasakan itu. Berusaha memperbaharuinya tiap hari agar ia tumbuh baik dan tahu kapan harus berbuah dengan baik. Tanpa aku tahu pada akhirnya buah macam apa yang akan dihasilkan nanti. Aku hanya menyerahkan padaNya yang menjagai semesta.

Terima kasih kata - kata sayangmu. Terima kasih segala keyakinanmu yang pernah adaku. Terima kasih pernah begitu indah melukis rasa di hatiku. Terima kasih untuk perubahan dan semangat yang kamu berikan.
Hingga pada akhirnya aku berharap kamu mendapatkan yang terbaik. Hanya itu.
Dengan hati dan air mata, aku yakinkan diriku tulus dengan segala apa yang akan terjadi di depan nanti.

Suratku untukmu,
Terkirim di hari Minggu 12 September 2010.

dari yang menyayangimu.
dan hati yang mendoakanmu.

No comments:

Post a Comment