Monday, July 12, 2010

Virginitas : Pola pikirkah?

Kembali menemukan artikel yang tampaknya memang terkadang perlu dibahas. Masalah virginitas ini berkaitan banyak hal. Dua di antaranya adalah hubungan dengan pasangan dan pandangan masyarakat.

Tidak tahu mengapa ingin sekali mengomentari hal seperti ini. Karena ku pikir, ketabuan yang diagungkan selama ini malah menjerumuskan kebanyakan remaja seumuranku. Kasihan mereka. Terkadang pendidikan seks itu juga yang menjadi penting diberikan kepada remaja dan mereka yang menjelang dewasa. Penting dan ini menjadi penting untuk ke depannya. Pendidikan seks sama pentingnya dengan pendidikan anti korupsi yang mulai masuk pada kurikulum sekolah.
Ketika rasa penasaran yang tidak terjawab, usia - usia labil cenderung untuk mencari jawabannya sendiri. Pencarian jawaban ini rata - rata dilakukan dengan cara yang salah sehingga berujung pada masa depan mereka nantinya. Akhirnya berujung pada pandangan masyarakat.

Baiklah, jika ditilik dari segi pasangan. Ini lebih menitikberatkan pada mereka yang sudah berkerluarga. Hal ini didukung pada artikel di bawah ini. Coba perhatikan dengan baik. Virginitas bukan jadi ukuran mutlak buat sebuah keperawanan. Oleh karena, banyak hal yang menjadi faktor pendukung.
Diceritakan oleh Prof Dr Junizaf, SpOG(K), pernah ada pria memaksakan istri yang baru beberapa hari dinikahi karena di malam pertama mereka tidak setetes darah pun keluar dari vagina. la merasa tertipu dan mengira keperawanan sang istri sudah hilang sebelum ia menikahinya.

Melalui pemeriksaan, uroginekolog dari FKUI RSCM ini justru mendapati yang sebaliknya. "Selaput dara wanita sangat liat sehingga belum berhasil ditembus di malam pertama mereka," tuturnya. Dan setelah mendapat penjelasan yang benar, pria itu pun memahami kekeliruannya dan mengurungkan niat menceraikan istri barunya itu.

Ketidaktahuan soal keperawanan dan organ reproduksi tak hanya terjadi pada pria. Banyak wanita juga masih memiliki pengetahuan yang sangat minim. Tak heran, redaksi kerap menerima pertanyaan, "Apa berhubungan seks sekali saja, keperawanan bisa hilang?", "Bisakah hamil kalau hubungan intim hanya satu kali?", "Apakah memasukkan jari ke vagina bisa merusak selaput dara?", "Mengapa tidak keluar darah waktu pertama kali berhubungan?" Dan ada banyak pertanyaan serupa.

Bisa robek tanpa seks
Memang tidak mudah menilai keperawanan karena banyak hal yang bisa ikut memengaruhi. Ditegaskan oleh Dr Budi ML, SpOG, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Jatisampurna, virginitas tak bisa diukur dari robeknya selaput dara. Tak bisa juga dilihat secara kasat mata melalui ciri-ciri fisik seperti payudara turun atau pinggul yang mengendur.
"Keperawanan harus dilihat dan diperiksa melalui tes medis yang dilakukan oleh dokter ahli. Tidak bisa dilihat dari fisik saja," ucapnya kepada GHS.
Memang masih terus beredar mitos di kalangan remaja maupun orang dewasa bahwa wanita yang sudah tidak perawan dapat diketahui dari tanda-tanda fisiknya, seperti pantat turun, payudara mengendur, atau cara berjalan yang tidak lagi lurus.

Menurut Dr Budi, mitos tersebut sebenarnya keliru, tetapi karena telanjur diyakini oleh sebagian masyarakat, seolah-olah benar. Begitu juga dengan mitos keperawanan yang diukur dari perdarahan yang timbul akibat pecahnya selaput dara.
"Selama ini masyarakat berpendapat bahwa keperawanan seseorang akan hilang ketika berhubungan seksual, yang menyebabkan pecahnya selaput dara. Padahal, selaput dara kondisinya berbeda antara satu wanita dengan lainnya," ujarnya.
Ada selaput dara yang tipis sehingga lebih mudah robek atau pecah. Ada pula selaput dara yang sangat kuat atau liat sehingga tidak mudah pecah. Yang perlu dipahami juga, pecahnya selaput dara tidak harus melalui hubungan seksual saja.
"Aktivitas olahraga seperti senam, benturan karena jatuh, dan lainnya juga bisa menyebabkan selaput dara sobek," tuturnya. Penggunaan tampon saat menstruasi juga dapat menyebabkan selaput dara robek.

Elastisitasnya berbeda
Jenis selaput dara juga beragam. Jika selaput dara kaya akan pembuluh darah, otomatis ketika pecah akan terjadi perdarahan cukup banyak. "Sebaliknya, jika selaput dara tersebut tidak memiliki pembuluh darah, otomatis ketika pecah juga tidak berdarah," ucap Dr Budi.
Jadi, perdarahan pada saat hubungan seksual tidak bisa dijadikan tolok ukur menilai keperawanan seorang wanita. Justru perdarahan bisa saja terjadi karena pengencangan atau ketegangan pada vagina, yang sering disebut kelainan vaginismus, pada saat hubungan seksual. Kondisi ini menandakan si wanita tidak bisa menikmati hubungan intim, malah bisa saja ia merasa sakit dan tersiksa.

Bila kedua pasangan dapat menikmati hubungan seksual dengan baik sehingga tidak menimbulkan ketegangan pada vagina, kemungkinan terjadi perdarahan sangat kecil, malah mungkin sama sekali tidak terjadi. Itu artinya, tambah Dr Budi, tak hanya suami yang menikmati hubungan seksual tersebut, tetapi istri juga bisa menikmatinya.

Selaput dara, lanjutnya, berupa lipatan mukosa tipis yang mengelilingi jalan masuk vagina. Terdapat beberapa bentuk dan berbeda pada tiap wanita, serta memiliki elastisitas yang berlainan pula.
Itu sebabnya tidak semua wanita mengeluarkan darah pada saat hubungan seksual pertama. Ada yang baru keluar setelah beberapa kali berhubungan, bahkan ada yang tidak keluar darah sama sekali.
"Jangan heran jika ada wanita yang telah berulang kali melakukan hubungan seksual, namun sama sekali tidak pernah keluar darah," tutur dokter spesialis kebidanan dan kandungan ini. (GHS/put/rin)

Sumber: Kompas.com
Nah, yang tidak aman adalah untuk mereka yang belum status pernikahan. Adalah tidak tepat untuk dilakukan. Sangat tidak tepat.
Jadikan pengetahuan yang ada sebagai batasan yang paling mudah dijalani. Di sinilah kekuatan agama dan keyakinan ikut berperan besar. Jagalah kesucian itu dengan baik para wanita.

Melihat pandangan masyarakat, demikian halnya yang ada di Indonesia. Di negara ini, banyak hal masih diukur dengan kebiasaan dan adat yang berlaku dari masa ke masa. Penurunan nilai yang tidak disesuaikan dengan perkembangan zaman memberikan dampak baik dan buruk. Tidak semua nilai - nilai yang ada dalam masyarakat bisa diturunkan dengan cara yang sam a sesuai kondisi waktu itu.
Akan sangat berbeda ketika penerapan suatu kondisi tidak berbarengan dengan penyesuaian lingkungan. Di sisi berbeda, seharusnya nilai, kebiasaan dan adat yang ada juga dapat menjadi kontrol baik pada masyarakatnya dengan menerapkannnya dengan tepat.
Pelaksanaannya melihat konteks ipteks yang dibutuhkan pada kondisi yang seharusnya. Dengan pemikiran dan proses yang tepat serta keterbukaan yang bertanggungjawab bisa membawa pembaharuan yang tepat.
Ada kebiasaan yang seharusnya berubah karena memang tidak bisa selalu sama. Sebenarnya arah komentar ini hanya ingin menegaskan pada kebanyakan orang terutama pria tentang persepsi di paragraf awal artikel tersebut.
Aku hanya merasakan kasihan jika harus diposisi seorang istri seperti itu. Apalagi ancamannya adalah perceraian langsung. Terlalu banyak manusia yang berpikir pendek dan sesaat dalam mengejudge sesuatu ataupun keadaan. Sampai pada akhirnya berujung pada penyesalan ataupun tuduhan tidak beralasan.

Untuk itulah, sebaiknya gunakan kebiasaan yang ada secara logis keilmuan jika dibutuhkan. Meskipun hidup bermasyarakat, tetapi pendidikan yang diterima pun tidak sepatutnya langsung dilupakan.
Ya, engineer.

No comments:

Post a Comment