Judul di atas adalah wajar saat ini. Teringat saja ketika menonton televisi tadi tentang larangan rokok kretek di AS.
Suatu hal yang cukup merugikan petani tembakau Indonesia karena 99% rokok kretek di sana adalah produk impor kita.
Secara eksplisit, saya tidak mendukung dan tidak melarang peredaran rokok di mana pun. Sebagai bekas perokok, saya merasakan bagaimana tidak seenaknya ketergantungan itu. Di sisi lain, sebagai seorang yang hidupnya mulai sehat sekarang, saya juga merasakan bagaimana tidak enaknya berdeal setiap hari dengan "asap kematian" itu.
Berdasarkan pengalaman ku pribadi yang teramati dan terlihat selama ini, ada 2 macam manusia yang dapat dibagi dilihat dari sudut pandang rokok.
>> manusia perokok, dan
>> manusia non perokok.
Pada dasarnya, manusia perokok hanya ada 1 tipe, yaitu ya memang mereka perokok saja. Perilaku merokoknya yang mengganggu atau tidak itu diatur oleh pikiran mereka sendiri dan cara mereka melihat orang sekitarnya.
Ada perokok yang cukup menghargai non perokok di sekitarnya saat di merokok. Penghargaan ini ditunjukkan dengan berupaya membuang asap rokok tidak langsung ke orang sekitarnya, merokok sendirian atau di smoking area saja.
Namun, seringkali perokok yang ditemukan adalah mereka yang seenaknya mengganggap semua lahan adalah sah untuk ditabur asap. Perilaku inilah yang memancing timbulnya dua kubu di kalangan manusia non perokok.
Di kalangan manusia non perokok, ada yang disebut dengan "terganggu" dan "nyantai". Nah, inilah pembagian mendasar pada pihak - pihak non pelaku penghisap rokok.
Mengapa demikian?
Hal ini kembali dengan sifat dasar manusia untuk tidak mau diganggu. Pada dasarnya, bagi yang tidak terbiasa dengan asap rokok, rasa tidak nyaman itu sangatlah kentara. Bahkan ada yang sampai terkena gangguan pernafasan. Akan tetapi, pergaulan akan membawa sebagian besar non perokok terbiasa dengan kebiasaaan lingkungannya. Mereka akan dengan santai menanggapi asap rokok yang bertaburan di sekitarnya. Pola pikir seperti ini pun tidak gampang ditumbuhkan pada mereka yang "terganggu". Semuanya membutuhkan kerjasama kedua belah pihak dan pengertian.
Pola non perokok yang santai ini pun perlu diberi peringatan untuk tetap waspada pada kesehatan mereka. Non perokok "terganggu" cenderung lebih konsen terhadap kesehatan mereka dibandingkan non perokok "nyantai" ini. Secara tidak langsung, pihak terganggu seringkali menyebut pihak santai sebagai perokok juga karena cara mereka menanggapi perokok di sekitar mereka.
Ini bukan upaya untuk mengejudge seseorang dan tipikal orang manapun karena setiap orang punya PERSEPSI tersendiri terhadap banyak hal termasuk rokok.
Mengapa perlu diingatkan?
Karena tidak semua non perokok bersifat konsen terhadap kesehatan mereka, seperti halnya kebanyakan perokok.
Bahkan beberapa teman mengatakan bahwa dengan merokok mereka merasa lebih sehat dibandingkan harus menghentikan total. Kemungkinan zat aditif telah meracuni sebagian besar jaringan saraf sakit mereka.
Inilah yang harus dicegah, atau jika perlu diobati agar tidak terlalu lama. Memang ujung dari semuanya adalah kematian. Akan tetapi, umur manusia juga bisa diperpendek dengan kelakuan manusia itu sendiri. Manusia tidak dapat memperpanjang usianya. Itu sudah pasti.
Ini tidak bermaksud bahwa mendeskritkan perokok. Tapi, pada kenyataannya jika dilihat dari sudut pandang kesehatan, Perokok SALAH. Itu tidak dapat dipungkiri.
Bagi yang telah kecanduan lama, perlu ada terapi penyeimbang terhadap kebiasaan buruk ini. Semua dilakukan agar terdapat penyeimbangan dalam tubuh sehingga racun tidak semakin menggerogoti secara tidak langsung dalam jangka waktu yang lama.
Hal yang sama perlu juga dilakukan oleh non perokok santai.
Bagaimana non perokok "terganggu" ? Aku rasa mereka lebih tahu dalam menjaga kesehatan, dan seharusnya demikian. Cara mereka memperlakukan diri untuk sehat adalah salah satu pendukung yang nyata bahwa mereka tidak suka dengan rokok.
Jika dilanjutkan lagi, tipikal ini muncul hanya berdasarkan pengalaman aku. Ini akan menjadi berbeda untuk beberapa orang yang berada di sekitar.
Berdasarkan apa yang terjadi pada diri saya, saya mengakui bahwa merokok bukan gaya hidup yang cocok untuk saya. Saya lebih memilih untuk menjadi non perokok yang nyantai tapi waspada. Hal ini karena adanya gejala bronchypneumonia yang saya alami sejak saya semakin rutin menjadi non perokok nyantai - perokok - non perokok nyantai kembali yang lebih waspada.
Sebaiknya, bawalah teman, sahabat, saudara anda yang perokok untuk menjadi non perokok demi kesehatan mereka dalam jangka waktu ke depan. Larang dengan cara yang bijak.
No comments:
Post a Comment