Baru saja membuka email yang bertumpuk - tumpuk dengan obrolan, cerita, tawaran dan kawan - kawannya lah.
Membuka email di folder e-RH ku dan menemukan perkataan baik hari ini. Ya, kalimat sederhana yang sarat makna dari Bunda Teresa.
>>>
"Banyak orang menjengkelkan dan mementingkan diri sendiri. Walau begitu, ampunilah mereka. Jika Anda berbuat baik, orang bisa curiga. Walau begitu, tetaplah berbuat baik. Jika Anda jujur, orang akan mencurangi Anda. Walau begitu, tetaplah jujur. Kebaikan Anda hari ini mungkin sudah terlupakan besok pagi. Walau begitu, teruslah berbuat baik. Sebab segala sesuatu merupakan urusan Anda dengan Allah. Bukan dengan manusia. Maka, berikan selalu yang terbaik."
>>>
Kalimat - kalimat di atas sederhana. Namun, jika dipertanyakan pelaksanaannya dalam kehidupan sehari - hari, pasti tidak semua mampu menjawabnya. Ya, memang demikian adanya.
Manusia mempunyai kebutuhan utama. Rasanya, salah satu kebutuhan itu adalah aktualisasi diri. Eksistensi selalu dicari manusia untuk dikenal dan menjadi popular secara tidak langsung di antara lingkungannya. Tidak perlu mengejudge seseorang yang lain ketika membicarakan hal seperti ini. Karena menurut saya, manusia mempunyai kebiasaan untuk membenarkan apa yang dilakukan meskipun pelakunya pun tahu apa yang dilakukan itu salah.
Sejalan kehidupan saya, bukti dari ketidakpedulian manusia terhadap yang lain sudah sering saya lihat, rasakan langsung. Saya akui secara terbuka, memang saya bukan orang yang cukup peduli. Saya masih kurang peduli terhadap lingkungan kehidupan ini secara utuh.
Dari keluarga inti saja, saya sangat bersyukur memiliki ayah yang menunjukkan sebuah pembuktian apa yang dikatakan Bunda Teresa tadi. Terima kasih Papa. Papa saya selalu mengatakan untuk melakukan apa yang ada kepada orang lain secara tulus tanpa mengharapkan imbalan dan tidak memanfaatkan kelemahan orang untuk memperoleh keuntungan. Profesi papa sebagai seorang dokter, sebenarnya bisa menjadi peluang untuk mengumpulkan pundi - pundi uang jika dia berpikiran picik.
Akan tetapi, apa yang ditunjukkan Tuhan pada saya jauh melebihi dari yang saya lihat saja. Masih tersisa orang seperti papa. Saya di sini bukan untuk melebihkan apa yang yang terjadi. Hanya saja, saya menuliskan apa yang saya lihat dan rasakan secara langsung.
Papa pernah berujar, jangan pernah mengambil dari apa yang bukan milikmu, apalagi dari orang yang sedang sakit dan menderita. berikanlah apa yang kamu bisa. Toh, nanti Tuhan membalas dengan lebih luar biasa.
Ini memang terjadi pada keluarga saya. For your information, keluarga saya dulu benar - benar tidak memiliki apa - apa. SEMUA DIMULAI DARI NOL. Orang tua saya membangun semua yang saya dan adik - adik dengan semangat dan ikhlas itu. Tidak ada yang menyangka saya bisa merasakan semua kemewahan dan kenyamanan dalam beberapa tahun ke depan, perbaikan kehidupan keluarga saya sangat membaik hingga sekarang. Saya tidak pernah membayangkan bisa tinggal di rumah ini, punya mobil lebih, punya gadget ini itu, punya pakaian dan aksesoris dan lain - lain yang semuanya lebih dari cukup. Bisa membayari sekolah orang dan membantu mereka yang kurang. Semua diberikan dan dilakukan orang tua saya untuk anak - anaknya. Semua begitu indah dibayarkan Tuhan bagi keluargaku. Dengan kondisi ini, saya tahu tidak ada yang abadi dan roda bisa berputar kembali ke bawah. Inilah yang selalu diingatkan papa dan mama. BERSYUKURLAH, nak.
Sejalan kehidupan saya memasuki kuliah, pernyataan itu semakin sulit untuk dilakukan oleh banyak orang termasuk saya. Saya bukan orang yang sabar. Banyak orang juga demikian. Terlalu mencari kenikmatan dalam waktu sesaat dan 'menginjak' orang lain untuk kesenangan pribadi saja.
Kepentingan itu memang abadi tampaknya. Persahabatan dan persaudaraan pun bisa disikatnya bahkan rasa sayang pun bisa jadi korban.
Dunia ini tidak seindah itu jika dilihat dari sisi kejahatan manusia. Terlalu banyak manusia yang mengkanibalkan manusia lainnya demi kepentingannya. Mungkin yang saya lihat baru sebatas dunia kuliah dan organisasi tingkat universitas serta persahabatan yang tidak kekal ini, tapi saya sudah merasakan kebalikan dari perkataan ibu Teresa tadi.
Saya tidak berhak menyalahkan orang lain dan menyudutkan diri sendiri. Akan tetapi, pada dasarnya saya hanya mengungkapkan apa yang saya lihat dan rasakan. Saya hanya golongan minoritas di bagian abu-abunya dunia. Saya tidak hitam. Saya tidak putih. Banyak orang seperti saya. Ketika mereka berontak, mereka akan 'disikut' untuk keluar dari arena permainan. Jika mereka diam, mereka sama saja dengan pelakunya.
Menurut saya, semua yang melakukan apa yang seperti disebutkan Bunda Teresa pasti akan mengalami namanya penganiayaan dunia. Ya, saya sebut sebagai penganiayaan dunia. Dunia ini sekarang semakin tidak kompromi dengan namanya kebenaran, kejujuran dan keadilan. Hanya kepentingan yang diutamakan dan diperhatikan. Ya tadi, semua dikanibalkan saja. Kebanyakan mereka yang beridealis seperti itu akan ditendang dan ditekan hingga kepentingan orang - orang lain itu terpenuhi. Mereka yang tidak kuat mental, ya akan bertindak seperti yang lain. Akan tetapi, mereka yang kuat, akan menerima tuaian yang setimpal dari Bapa.
Memang adanya ini kan dunia. Tampaknya biasa saja dengan ketidakbenaran. Semua dimaklumi dan pada akhirnya selalu menjadi hukum rimba.
Sampai kapan ini terjadi?
Sampai kapan ini terjadi?
Kiamat kecil sepertinya sedang berlangsung dan tidak ada yang mau peduli juga. Toh, selama dia tidak terusik. Tidak akan ada suara dari dirinya. Terkadang menutup mata, telinga, mulut dan hati menjadi pilihan yang utama di tengah ketidakpastian dan keinginan untuk selalu nyaman.
Ya, sejauh apa kita peduli sebenarnya?
Ya, sejauh apa kita peduli sebenarnya?
Sejauh apa kita bisa bertahan terhadap apa yang kita yakini?
Manusia macam apa yang seharusnya menjadikan diri kita itu sendiri tanpa selalu mengingat bahwa kepentingan kita duluan yang harus terpenuhi?
Semua orang pasti punya pembelaan tersendiri.
Menjadi orang baik seperti Ibu Teresa itu tidak gampang. Menjadi seperti papa sendiri saja, saya belum mampu. Saya hanya mengusahakan apa yang saya yakini dan cita-citakan tanpa harus melukai orang yang tidak seharusnya menderita. Itu saja.
Saya juga bukan manusia sempurna.
No comments:
Post a Comment