Kembali lagi blog. Maap ya, ditingalkan dalam jangka yang lama lagi.
Banyak hal yang terjadi di minggu - minggu akhir menjelang awal di Februari ini. Semua adalah sukacita. Pada awalnya demikian, dan seharusnya berakhir sebagai sukacita juga. Diri berdoa demikian.
Ketakutan itu muncul kembali. Dia seperti sindrom virus kronik yang tidak pernah mau lepas kecuali antivirusnya datang lebih kuat menantang dia berkelahi sampai mati. Ini bukan berlebihan, tetapi rasanya memang demikian. Sungguh, luar biasa sekali tembok hitam yang membatasi antara diri dan Nya. Jelas, bahwa tembok itu adalah dosa. Dosa dalam segala bentuk yang terus saja diri jalani tanpa henti. Keraguan, Ketidaktaatan, Kebohongan adalah bagian darinya dan tidak pernah henti rasanya menghantui. Dalam gelap, diri tidak menemui apapun di dalamnya lagi. Mencari kesunyian mungkin mulai terasa sesak dalam diri.
Hari ini, diri melukai orang kembali. Semua tetap diawali niat baik untuk belajar dan menolong kepentingan orang - orang yang sudah diri anggap orang tua selama di sini. Akan tetapi, apa yang diri perbuat? Diri memang salah. Di sini diri belajar, tidak semuanya bisa diri lakukan seperti untuk yang lain. Diri punya kapasitas, tanggung jawab, mimpi dan cita - cita. Semuanya harus diri sinergikan dengan seharusnya dan baik di mataNya. Langkah bahagia yang diri ambil pada akhirnya malah di awal ini menyebabkan luka bagi kepercayaan orang - orang yang diri hormati. Ketidaktegasan akan kenyamanan dan kebaikan untuk orang lain menjadi pisau yang melukai diri juga.
Semua ada yin dan yang -nya, seperti sesuatu yang pasti memiliki kondisi bermata dua. Dia bisa jadi berkat atau musibah. Mungkin, ini merupakan pertanda musibah. Atau, hanya diri yang berpikir terus bahwa ini salah dan tidak tepat. Diri sangat ingin menjadi bagian dari komunitas kekeluargaan ini.
Sekarang diri hanya bisa menyalahkan segala sesuatu yang ada dalam diri. Berdiri sebagai pesakitan dan mulai merasa memang kegagalan yang kemungkinan besar akan diraih. Ketidaktepatan ini akankah mengubur cita - cita diri, terutama cita - cita papa. Tidak, Bapa. Tidak, Bapa. Diri mohon tidak.
Diri berjalan dan berusaha dengan keadaan ke depannya. Jelas, sukacita tetap akan ada. Dia tidak akan tinggal diam dan meninggalkan diri.
Tembok pasti runtuh !!!
No comments:
Post a Comment