Tuesday, February 01, 2011

Pemanjaan Diri vs Kemalasan

Masih ada hasrat untuk menulis lagi. Diri rasa tidak ada salahnya menjadi produktif dengan cara yang penulis punya, bukan mengikuti tuntutan untuk dikenal atau kesombongan hati yang ingin dikenal. Rasanya tidak perlu demikian. Diri hanya ingin blog menjadi sumber berkat bagi yang membacanya dan bisa mengambil yang baik tentang apa yang diri bagikan. Diri sadar isinya tidak meningkat dari dulu. Semua isi blog masih berisi kehidupan diri. Akan tetapi, satu hal yang membuat diri bangga bahwa blog ini adalah gambaran dari diri yang pernah mengalami ini itu, segala pengalaman pahit, buruk, baik, dan manis dalam menjalani hari - hari. Sekarang, blog punya nama Hidup saya yang sempurna. Nama ini diri gambarkan sebagai syukur diri kepadaNya yang sempurna. Diri baru mulai mau melihat sisi lain kehidupan diri sendiri, semua begitu sempurna ditataNya. Melihat dari luar kotak memang sangat dibutuhkan bagi setiap pribadi yang merasa bahwa kehidupannya adalah monoton dan tidak ada peningkatan atau selalu membawa sial atau tidak pernah diberkati.

Seperti biasa, diri akhirnya melantur ke topik yang berbeda dari pemikiran diri sebelum menulis. Diri hanya ingin membagi apa yang pernah diri alami. Harapannya hanya satu, yaitu semoga yang baik bisa terulang bagi yang membaca dan yang buruk tidak terulang.
Diri pun lupa dan tidak paham, semangat menulis kembali turun ketika mengetik ini. Diri terlalu terbiasa dengan hal - hal yang bisa dikatakan sebagai pemanjaan diri yang jauh lebih buruk dari kemalasan. Mengapa jauh lebih buruk dari kemalasan? Jawabannya sederhana. Ketika diri dalam kondisi yang terlena dalam kemanjaan, akan jauh lebih sulit menerima kondisi paksaan apapun yang dirangsangkan agar keluar dari tempat tersebut. Hal ini akan berbeda dengan kemalasan. Rasa malas masih memiliki toleransi dengan apa yang disebut dengan paksaan atau kewajiban dan kebutuhan. Sebagai contoh, ketika orang malas keluar kosan untuk mencari makan. Pada akhirnya, rasa malas akan kalah dengan rasa lapar atau lebih parahnya dengan rasa sakit pada lambung yang ditimbulkan.

Hal berbeda ketika pemanjaan diri diidap. Sebagai contoh adalah diri. Di awal minggu kuliah, diri sangat membiarkan kondisi mental makin menjatuh dengan sikap ini. Semua apa yang tidak ingin diri lakukan, diri biarkan saja. Semua kebutuhan ataupun kepentingan seakan hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Konteks ini juga termasuk pada kondisi lapar yang sering diri alami di masa - masa tersebut. Kebodohan dan kemalasan hanya sebagian dari kondisi ini. Kombinasi ini memiliki akibat efek jangka panjang jika terus dibiarkan. Salah satunya adalah sikap anti sosial yang diri rasakan. Ya, kemalasan dalam segala aspek membuat diri mengisolasi diri sendiri secara fisik dan psikis secara langsung dan telaten.

Efek terburuk dari kemalasan kronis ini adalah halusinasi dan bayangan akan diri sendiri yang cenderung bersifat negatif. Manusia seperti ini dibiarkan seolah hidup dalam dunia yang dia setting dengan aturannya tanpa ada yang bisa mengganggu dan mengharuskan dia berada dalam kondisi nyaman. Tidak ada kepedulian yang terlintas. Akibatnya, ketika terjadi sedikit saja tentang pikiran negatif, dia akan terganggu secara keseluruhan. Diri mengalami apa yang disebut dengan segala ketakutan dari semua aspek kehidupan nyata yang ditinggalkan. Diri menjadi dihantui oleh perkara - perkara yang sebenarnya tidak ada, tetapi bisa saja menjadi ada karena hasil ketakutan diri tadi.

Apakah mau seperti ini?
Pengalaman diri menunjukkan bahwa ini adalah siksaan dalam arti yang paling gampang dilakukan, dibuat sendiri dan diciptakan dalam segala waktu yang dimiliki.

Bagaimana menyembuhkannya?
Semua kembali pada diri kembali. Kemampuan menentang seluruh pikiran negatif yang menjadi syarat utama. Maju ke arena perperangan dengan segala pikiran negatif yang menjadi penyakit. Bayangkan bahwa ini adalah harga diri dan kehidupan ke depannya. Senjata utama adalah keinginan akan SUKACITA dan SENYUM serta BERKAT bagi orang lain.
Belajar berulang memang juga jadi kunci keberhasilannya dalam jangka panjang maupun dekat. Wajar jatuh di awal, tapi jangan makin terseret dalam pemanjaan ini. Hal ini akan menjadikanmu pribadi yang gelap dan merasakan beban yang sangat.
Gunakan perisai iman dan doa.

No comments:

Post a Comment