Lelakiku pulang sekitar 1 minggu lalu. Tujuan awalnya adalah wawancara kerja, tetapi berujung pada pemenuhan yang sesungguhnya dari alasan dia cuti urgensi, yaitu urusan keluarga. Blog, diri bersyukur punya lelaki yang hebat. Iya, Tuhan, terima kasih karena telah mengizinkan diri untuk mengenal, menyayangi dan mendampingi lelakiku hingga saat ini.
Banyak hal yang kami lakukan selama cuti singkatnya ini. Salah satunya, dia membantu diri untuk mengurangi rasa malas di kosan. Setidaknya, dengan kepulangan dia, mendorong diri buat tidak bermalas - malasan. Waktu yang ada dimanfaatkan sebisa mungkin untuk mendiskusikan banyak hal. Hal - hal simpel yang sering kami ributkan, hingga mimpi - mimpi yang ingin diri dan lelakiku inginkan juga.
Ada banyak hal yang berkesan di akhir Januari hingga memasuki Februari ini, selama lelakiku cuti. Salah satunya adalah mawar putih! Diri sangat suka. Diri belajar banyak hal juga dalam hubungan ini.
Diri akui masih sangat sering lalai dalam memahami dan mengerti dia. Di sini, diri melihat dan memahami bahwa diam tidak akan menjadikan pasangan kita tahu tentang apa yang kita maksud dan atau inginkan. Selama ini, kebanyakan wanita mengira bahwa prialah harus mengerti keinginan mereka tanpa sebelumnya mereka beritahukan. Hal ini terpatri karena merasa itu adalah suatu kebanggaan bahwa kekasih kita paham dan tahu apa yang kita mau. Akan tetapi, coba perhatikan sekali lagi. Apalagi untuk hubungan jarak jauh yang dilakukan oleh diri dan lelakiku.
Secara logika, ketika saling berjauhan, waktu yang kita punya sebisa mungkin seharusnya dipergunakan untuk membangun dan menjaga kepercayaan itu. Semua dilakukan untuk ke depannya juga. Di sisi lain, jadwal kerja atau kuliah yang padat biasanya pasti akan membuat pria juga untuk beristirahat. Mungkin terdengar egois juga, tapi memang keduanya perlu menekan ego atau pribadi. Jadi, mereka butuh waktu ekstra untuk tahu apa yang wanita mau dengan cara yang terkadang tidak dibukakan pula oleh sang wanita. Ini pasti memperparah. Hal yang baik, coba katakan. Ya, coba komunikasikan apa yang diinginkan dengan cara yang fun. Di satu sisi, egois masing - masing bisa terakomodir dalam kondisi yang positif. Di sisi yang lain, keduanya juga merasa dimengerti dan saling menghargai kondisi di tempat tinggal yang ada. Ini bukan suatu doktrin tapi berdasarkan pengalaman masing - masing pribadi. Setiap pasangan adalah unik. Mereka pasti akan punya masalah dan cara pandang yang berbeda terhadapnya. Jadi, jangan berkecil hati jika diri kita tidak sama dengan orang lain. Keunikan inilah yang menjadi aset untuk berkembang bagi masing - masing pribadi dalam hubungan yang dijalani.
Salah satu pembelajaran yang sangat berharga yang diri dapatkan. Bayangkan, rasa lelah harus ditambah dengan menjadi cenanyang juga. Hal yang menjadi hasil biasanya malah suatu kesalahan. Begitu juga yang pernah diri dan lelakiku alami. Semoga komunikasi yang kami lakukan berkenan padaNya dan bisa lebih baik lagi ke depannya.
Balik lagi ke awal, mawar putih yang diberikan oleh lelakiku sungguh indah. Sekali lagi kuucapkan, diri menyayangimu lelakiku. :))
Mungkin, ada hal lain yang bisa disampaikan. Ya, di postingan berikutnya saja.
mawar putih bagi diri, tanda waktu yang selalu lelakiku rasa. Amin.




No comments:
Post a Comment