Bertemu dengan banyak orang baru adalah sebuah berkat yang seringkali sedikit kita lupakan. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan bertemu si A atau si B atau si C. Kebanyakan dari kita juga tidak memahami mengapa kita dipertemukan dengan orang - orang baru tersebut. Akan tetapi, diri percaya pada suatu kalimat bijak yang berkata bahwa pertemuan selalu memberikan maksud dibaliknya. Bertemu dan berkenalan dengan seseorang tidak hanya terbatas pada keinginan manusiawi untuk memperoleh keuntungan saja. Jika demikian, kita akan pasti bertanya mengapa harus dipertemukan dengan mereka yang tidak menguntungkan bukan? Namun, di situlah cerita kehidupan diwarnai dengan indah oleh Pemberi Hidup. Ia mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri semua hal yang telah diberikan dari yang paling sederhana, seperti nafas dan pertemuan dengan orang - orang baru.
Setelah lama tidak menulis, diri sebenarnya banyak mengalami pengalaman yang luar biasa dan menjadikan diri untuk semakin bersyukur atas segala berkat dan kesulitan yang ditempuh saat ini. Terkait dengan hal itu, diri ingin berbagi tentang pertemuan diri dengan orang baru lagi dalam kehidupan diri, namanya adalah Bapak Timotius Pasang. Dalam mempermudah menulis, diri akan memanggil beliau dengan "Pak Tim". Diri bertemu dengan beliau di kampus Akita. Kebetulan Pak Tim sedang dalam perjalanan riset bersama departemen mesin di sini, sekaligus menjadi dosen tamu untuk mengajar beberapa mata kuliah juga.
Pak Tim adalah associate professor di Auckland Institute of Technology (AUT website), New Zealand. Dilihat dari namanya pasti akan langsung berkata sepertinya orang Indonesia. Yup benar sekali! Pak Tim adalah seorang Indonesia, tepatnya berasal dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ia juga adalah seorang Kristen taat yang lebih banyak habiskan masa sekolahnya di Provinsi Papua sebelum akhirnya pindah dan meneruskan pendidikan di Bandung. Jika diri tidak salah, beliau adalah angkatan 1986 Metallurgical Engineering (Teknik Material) yang lulus pada tahun 1991. Lalu beliau melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Monash University, Australia hingga pada 2001 memperoleh gelar PhDnya. Berdasarkan profil Pak Tim di website AUT, topik penelitian beliau banyak terkait dengan alloy dan material sciences lainnya. Nah, bidang keilmuan ini menjadi spesialisasi Pak Tim yang juga sekarang menjadi kepala departemen di Mechanical Engineering, AUT (lihat profilnya di sini Timotius Pasang). Sebelum pindah ke New Zealand, Pak Tim pernah bekerja di IPTN selama hampir 6 tahun dan di sebuah perusahaan Singapura selama 3 tahun. Terus, bagaimana Pak Tim bisa memiliki karir dan pengalaman yang luar biasa seperti ini?
Dari obrolan singkat dengan Pak Tim, yang bisa diri tangkap adalah takut akan Tuhan menjadi jawabannya. Selain itu, disusul dengan EQ dan IQ. Kemampuan penunjang kecerdasan adalah kemampuan sosial atau yang dikenal sebagai soft skill oleh kita. Dari pengalaman pertama pertemuan dengan beliau, Pak Tim adalah seorang yang sederhana dan ramah. Hal ini mudah sekali untuk diri buktikan. Pak Tim lebih banyak kenal dengan anak - anak asrama yang berasal dari latar belakang negara berbeda, mulai dari China hingga Mongolia dalam waktu tinggal beliau di Akita yang relatif singkat, hanya sekitar 2 bulan. Hal yang cukup berbeda dengan mahasiswa internasional lainnya yang cenderung tidak saling mengenal karena kesibukan pulang malam dan pergi pagi.
Dari Pak Tim, diri belajar beberapa hal lagi yang baru. Saat mendengar pengalamannya tentang bagaimana Indonesia "memperlakukan" Pak Tim dan bagaimana sekarang beliau bekarya dengan lebih nyaman di negara - negara lain. Ini mungkin bagi sebagian kita sudah menjadi hal klasik saat mendengar banyak dari anak - anak bangsa yang tidak mau pulang ketika sudah belajar atau mendapatkan pendidikan di luar negeri. Akan tetapi, diri tidak bermaksud menghakimi di sini. Semua rasanya sudah tahu dan setiap orang pun punya pertimbangan sendiri. Dari Pak Tim, diri belajar dan diingatkan kembali bahwa berbagi itu sebenarnya tidak membutuhkan siapa latar belakang atau kewarganegaraan kita. Meskipun tidak tinggal di Indonesia lagi, Pak Tim masih sering berbagi dengan banyak mahasiswa Indonesia lewat kuliah tamu atau lainnya saat berkunjung ke Indonesia. Ia juga memberikan semangat atau motivasi kepada mahasiswa - mahasiswa Indonesia dalam berkarya untuk bangsa ini.
Nah, bicara tentang motivasi, diri juga bertanya kepada Pak Tim tentang bagaimana menghadapi kehidupan dari kacamata beliau. Hal selanjutnya diri temukan adalah tentang keluarga! Meskipun dikatakan awalnya oleh pihak New Zealand sebagai over qualified, tetapi beliau tetap berkeyakinan untuk pindah dengan catatan "turun pangkat" sedikit. Akan tetapi, Tuhan membuka jalanNya hingga saat ini sejak kepindahan Pak Tim ke AUT. Dari kurun waktu 2004 hingga sekarang, Pak Tim sudah berada pada posisi associate professor dan kepala departemen. Suatu prestasi! Semua itu rasanya belum mengcover semua berkat yang diberikanNya seperti kesempatan penelitian di negara lainnya, konferensi, publikasi jurnal dan lainnya.
Pak Tim berujar semuanya karena berkat Tuhan. Beliau sangat menyukai khotbah dari Joel Osteen. Baginya menghadapi persaingan apapun harus dilakukan dengan memberikan yang terbaik dan biar Tuhan yang bekerja. Do the best, let God do the rest. Punya ambisi boleh sedikit, asal jangan melebihi kemampuan dan kapasitas kita adalah pesan Pak Tim lainnya lewat obrolan kami.
Dari semuanya, diri yakin setiap pertemuan pasti ada maksud kan. Demikian juga pertemuan diri dengan Pak Tim. Tuhan bisa berpesan lewat siapapun, bahkan terhadap orang yang kita anggap musuh sekalipun. Jangan pernah menutup diri. Itu mengapa selalu dipesankan untuk ampunilah orang yang bersalah pada kita, benar tidak?